NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12 - Yang Tinggal di Masa Lalu

...“Ada orang yang datang membawa masa lalu, tapi ada juga yang membuatmu yakin untuk tidak lagi menoleh.”...

Happy Reading!

...----------------...

Sore itu pelan-pelan berubah jadi malam. Lampu teras rumah Kak Ben menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning hangat di lantai keramik yang mulai dingin oleh malam.

Suasana masih ramai, tapi tak lagi seberisik tadi. Obrolan mengalir santai, tawa muncul sesekali, tanpa tekanan.

Shaira duduk di salah satu kursi teras, memeluk lututnya. Angin malam menyentuh kulitnya, dingin tipis tapi menenangkan.

Raven duduk tak jauh darinya, bersandar santai di tiang teras. Seperti biasa, tidak banyak bicara. Tangannya memegang ponsel, tapi matanya sesekali terangkat, memastikan semua baik-baik saja. Keberadaannya tenang—tidak mencolok, tapi selalu terasa.

Nafiz datang agak telat sore itu. Begitu melihat Raven, ia langsung menghampiri dengan senyum lebar dan menjatuhkan diri di kursi sebelahnya.

“Gila, jarang banget ya kita nongkrong rame begini,” kata Nafiz. “Biasanya lo paling cepet cabut.”

Raven mengangkat bahu ringan. “Kadang.”

“Kadang?” Keno tertawa kecil. “Atau sekarang aja betah?”

Arkan ikut nimbrung, senyum jahilnya khas. “Iya, Rav. Biasanya lo misterius, sekarang kok rajin nongol.”

Raven menghela napas pelan, malas menanggapi terlalu jauh. “Ribet.”

Shaira memperhatikan dari kejauhan. Ada sesuatu yang berbeda saat Raven berbincang dengan Nafiz—lebih lepas, lebih natural. Tapi sebenarnya wajar. Mereka memang kenal sejak SMP, jauh sebelum semua ini.

Nafiz nyender ke kursi, nada suaranya berubah lebih santai. Pandangannya sempat melirik Shaira sekilas, lalu kembali ke Raven.

“Eh, Rav. Raena kemarin nanyain lo.”

Kalimat itu terdengar ringan. Santai.

Tapi sunyi di kepala Shaira langsung pecah.

Arkan refleks nengok. “Raena? Yang temen SMP lo itu?”

“Iya,” jawab Nafiz. “Satu circle dulu.”

“Ohhh…” Keno mengangguk panjang. “Yang katanya dari dulu naksir Raven?”

Shaira tetap diam. Senyumnya masih ada, tapi tangannya perlahan menggenggam ujung jaketnya.

Teman SMP. Masa lalu. Cerita yang terjadi jauh sebelum aku pernah masuk dalam hidupnya.

Nafiz melanjutkan, tanpa sadar, “Dia kaget liat story Raven akhir-akhir ini.”

Shaira menunduk, pura-pura sibuk membuka ponsel. Dalam kepalanya, potongan-potongan mulai tersusun sendiri.

Pantes.

Pantes semua orang kayak tau sesuatu yang aku nggak tau.

Shaira masih menunduk. Layarnya gelap. Tapi ia biarkan saja, seolah benar-benar sibuk.

“Dulu Raven tuh sempet suka sama Raena,” lanjut Nafiz, kali ini lebih pelan. “Tapi Raena malah pacaran sama cowok lain.”

Shaira menelan ludah.

Raven diam.

“Raven mundur,” Nafiz melanjutkan. “Bener-bener mundur. Nggak maksa. Nggak drama.”

Arkan mengangguk. “Iya, itu sih Raven banget.”

“Terus Raena putus,” Nafiz menghela napas kecil. “Dan sekarang… baru nyesel.”

Dada Shaira terasa sedikit sesak. Bukan sakit. Lebih ke… sadar.

Raven akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya datar, suaranya tenang.

“Udah,” katanya singkat. “Ganti topik.”

Nada itu tidak keras. Tidak emosional. Tapi final.

Nafiz terkekeh kecil. “Oke, oke. Santai.”

Keno langsung nyengir. “Siap, Yang Mulia.”

Arkan ikut ketawa. “Oke, oke. Salah.”

Obrolan pun bergeser. Tawa muncul lagi, topik berubah, tapi Shaira tetap terdiam beberapa detik lebih lama—menyimpan perasaan yang belum sepenuhnya ia pahami.

Dan Raven… tetap di sana. Dekat. Diam. Seolah memastikan, tanpa perlu banyak kata, bahwa pembahasan itu tidak akan berlanjut lebih jauh.

Nara yang sejak tadi duduk di samping Shaira menyenggol lengannya pelan. “Lo kenapa?”

Shaira menoleh, tersenyum kecil. “Enggak. Capek aja.”

Nara mengangkat alis, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Capek apa kepikiran?”

Shaira terdiam sebentar, lalu berbisik, “Kalau… ada orang yang kenal Raven dari dulu banget, itu wajar kan?”

Nara langsung paham. Ia tersenyum miring. “Yang itu?”

“Lo tau?” Shaira berbisik balik.

“Sedikit,” jawab Nara jujur. “Tapi Raven-nya sendiri cuek dari dulu. Dari SMP juga gitu.”

Shaira mengangguk pelan. Ada lega kecil di dadanya, tapi tidak sepenuhnya menghilangkan rasa aneh itu.

Di sisi lain teras, Arkan kembali mulai jahil. “Sha, lo kenal Raena nggak?”

Shaira menoleh, senyumnya rapi. “Belum.”

Dan itu jujur. Terlalu jujur.

Raven melirik Arkan sekilas. “Udah. Jangan ke situ.”

Nada suaranya tetap datar, tapi tegas.

Arkan mengangkat tangan. “Oke, oke.”

Suasana kembali ramai. Tawa muncul lagi. Obrolan berganti. Tapi Shaira jadi sedikit lebih pendiam.

Raven menyadarinya.

Tanpa banyak kata, ia bergeser sedikit, duduk lebih dekat. Tidak menyentuh. Tidak menatap lama. Hanya cukup dekat untuk memberi rasa aman.

“Kamu capek?” tanyanya pelan.

Shaira menoleh, sedikit terkejut. “Enggak.”

Raven mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Dan justru itu yang membuat dada Shaira terasa penuh.

Karena di tengah semua cerita lama, semua nama dari masa sebelum dirinya, Raven tetap memilih duduk di sini. Di sampingnya. Diam-diam menjaga agar obrolan tidak melukainya terlalu jauh.

Satu per satu teman mulai pamit. Arkan, Keno, dan Fadly pulang lebih dulu. Nafiz menyusul, menepuk bahu Raven sebelum pergi.

“Besok ketemu di sekolah,” katanya.

Raven mengangguk. “Hati-hati.”

Nara ikut berpamitan, meninggalkan Shaira dan Raven berdua di teras.

“Kamu mau pulang sekarang?” tanya Raven.

Shaira mengangguk. “Iya.”

Raven mengambil helm dan menyerahkannya. “Aku anter.”

Perjalanan pulang hening, tapi tidak canggung. Lampu jalan berderet, suara motor stabil, angin malam mengisi jeda.

Banyak hal ingin Shaira tanyakan. Tentang Raena. Tentang masa lalu. Tentang posisinya sekarang. Tapi ia diam.

Motor berhenti di depan rumah Shaira. Lampu teras menyala redup.

“Sha,” panggil Raven sebelum ia melangkah.

Shaira menoleh.

“Kalau ada omongan yang bikin kamu nggak nyaman,” ucap Raven tenang, “bilang.”

Shaira tercekat. “Kamu tau?”

Raven mengangkat bahu kecil. “Keliatan.”

Itu saja. Tidak ada klarifikasi panjang. Tidak ada pembelaan berlebihan.

Tapi cukup.

“Makasih,” ucap Shaira pelan.

Raven mengangguk. “Istirahat. Jangan begadang.”

Ia pergi.

Shaira berdiri beberapa detik di teras rumahnya, memandangi punggung Raven yang menjauh. Dadanya terasa penuh—hangat, bergetar, dan sedikit bingung.

Cemburu itu ada. Halus. Tidak berisik.

Dan mungkin… itu tanda bahwa ia sudah melangkah lebih jauh dari yang ia berani akui.

...----------------...

Pagi itu sekolah terasa biasa saja. Terlalu biasa, sampai Shaira sempat berpikir mungkin perasaan semalam hanyalah sisa capek.

Sampai ia melihat Raven berhenti melangkah.

Di depan kelas, seorang perempuan berdiri dengan tas selempang cokelat, rambut hitamnya terurai rapi, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sekadar menyapa teman lama.

“Raven.”

Suaranya lembut, tapi jelas.

Raven menoleh. Sekejap. Bahunya menegang nyaris tak terlihat, sebelum kembali santai.

Dan Shaira tahu—tanpa perlu diperkenalkan—ini pasti Raena.

Karena cara Raven berdiri berubah. Bukan kaku. Bukan canggung. Lebih ke… siap. Seperti seseorang yang sudah sering berada di situasi ini.

“Oh,” ucap Raven singkat. “Raena.”

Hanya nama. Tidak ada embel-embel. Tidak ada senyum berlebihan.

Raena tersenyum tipis. “Lama nggak ngobrol.”

Shaira berhenti beberapa langkah di belakang mereka, bersama Nara. Ia tidak berniat menguping, tapi jaraknya terlalu dekat untuk berpura-pura tidak dengar.

“Kenapa ke sini?” tanya Raven.

“Sekalian lewat,” jawab Raena santai. Padahal Shaira tahu, kelas Raena berada cukup jauh—bahkan sudah terlewati sebelum kelas mereka.

Sekalian lewat.

Kalimat yang terdengar ringan, tapi terasa penuh maksud.

Raena baru menyadari keberadaan Shaira. Matanya bergeser pelan, menilai—tanpa terang-terangan. Senyumnya tetap ada, tapi terasa berbeda.

“Oh,” katanya. “Lo Shaira, ya?”

Shaira sedikit terkejut. “Iya.”

“Gue Raena.” Ia mengulurkan tangan. “Temannya Raven.”

Teman. Kata yang netral. Aman. Tapi entah kenapa terasa berat.

Shaira menyambut jabatan tangannya. Hangat. Percaya diri.

“Shaira,” ucapnya kembali, agak canggung.

Raena melirik Raven sebentar. “Gue sering denger cerita tentang lo.”

Alis Raven sedikit berkerut. “Dari siapa?”

Raena tertawa kecil. “Dari banyak orang.”

Jawaban itu menggantung.

Nara yang berdiri di samping Shaira berdehem pelan. “Kita masuk ke kelas dulu, Sha.”

Shaira mengangguk. Tapi sebelum melangkah, Raena kembali bicara.

“Kalian… dekat ya?”

Nada suaranya datar. Tidak menyudutkan. Justru itu yang bikin Shaira sulit menjawab.

Raven mendahului. “Iya.”

Satu kata. Tegas.

Raena mengangguk pelan, seolah sudah menduga. “Pantes.”

Shaira melangkah pergi bersama Nara. Dadanya terasa aneh—bukan marah, bukan sedih. Lebih ke… sadar posisi.

“Gila,” bisik Nara begitu mereka menjauh. “Auranya kerasa banget.”

Shaira mengangguk. “Dia… tenang.”

“Dan itu bahaya,” jawab Nara cepat.

...----------------...

Jam pelajaran berjalan lambat. Shaira beberapa kali melirik ke arah pintu, separuh berharap Raena muncul lagi, separuh berharap tidak. Ia hanya sedikit penasaran.

Istirahat kedua, harapannya terjawab. Raena berdiri di depan kelas mereka.

“Raven,” panggilnya.

Semua mata langsung menoleh.

Raven bangkit dari kursinya tanpa banyak tanya. “Kenapa?”

Raena tersenyum kecil. “Bisa ngobrol bentar?”

Shaira menunduk, pura-pura membaca catatan. Tapi jantungnya berdetak tidak karuan.

Mereka berdiri agak menjauh, di dekat tangga.

“Gue denger lo sekarang sering nongkrong sama anak-anak sini,” kata Raena, suaranya santai.

“Kadang,” jawab Raven.

“Termasuk sama Shaira,” lanjutnya.

Raven menatap Raena. “Iya.”

Raena menarik napas pelan. “Lo tau gue nggak suka kejutan.”

Raven diam sebentar. “Gue nggak pernah janji apa-apa ke lo.”

Kalimat itu tidak dingin. Tidak juga lembut.

Hanya jujur.

Raena tersenyum, tapi ada sesuatu yang retak di sana. “Gue tau. Dari dulu juga.”

Ia melirik ke arah kelas, ke arah Shaira—sekilas. “Cuma… rasanya aneh aja liat lo berubah.”

Raven mengikuti arah pandangnya. “Gue nggak berubah.”

“Berubah,” bantah Raena pelan. “Lo sekarang kelihatan… milih.”

Raven diam beberapa detik lebih lama dari sebelumnya.

Raena menangkap itu. Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, suaranya turun.

“Gue tau,” katanya pelan. “Dulu gue yang nggak milih lo.”

Raven mengangkat pandangannya.

“Waktu itu gue ngerasa lo selalu ada,” lanjut Raena. “Jadi gue pikir… nanti juga ada lagi.”

Ia tersenyum kecil, pahit. “Ternyata nggak.”

Raven tidak menyangkal. Tidak juga membenarkan.

“Dan sekarang?” tanya Raven.

Raena menarik napas dalam. “Sekarang gue cuma nyesel telat.” Ia melirik ke arah kelas, ke arah Shaira—kali ini tanpa menilai. Lebih ke… menerima.

“Dia beda,” kata Raena pelan. “Lo nggak pernah keliatan setenang itu dulu.”

Raven menjawab tanpa ragu. “Karena dulu gue nunggu.”

Raena terdiam.

“Sekarang gue jalan,” lanjut Raven. “Itu bedanya.”

Hening.

Raena tersenyum tipis. Bukan senyum menang. Tapi senyum orang yang akhirnya paham.

“Pantes,” katanya lagi. Kali ini nadanya berbeda. Lebih ikhlas.

Raven menghela napas. “Raena—”

“Tenang,” potong Raena cepat. “Gue nggak mau ribut. Gue cuma pengen lo tau, gue masih di sini.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.

Raven mengangguk.

“Udah,” kata Raena sambil melangkah mundur. “Itu aja.”

Ia pergi, langkahnya tetap tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Raven kembali ke kelas.

Shaira pura-pura fokus, tapi ia bisa merasakan kehadirannya di dekat.

“Sha,” panggil Raven pelan.

Shaira menoleh.

“Maaf,” ucapnya singkat.

“Kenapa minta maaf?” tanya Shaira.

Raven menatapnya beberapa detik. “Karena kamu jadi kepikiran.”

Shaira menelan ludah. “Aku nggak—”

“Aku tau,” potong Raven lembut. “Tapi tetap.”

Hening sebentar.

“Dia penting buat kamu?” tanya Shaira akhirnya.

Raven tidak langsung menjawab. “Dia bagian dari masa lalu.”

“Dan aku?” suara Shaira hampir bergetar.

Raven menatapnya serius. “Kamu sekarang.”

Shaira menunduk, menarik napas dalam-dalam.

Ia akhirnya mengerti.

Bukan karena Raena kalah. Tapi karena Raven tidak lagi menoleh ke belakang.

Cemburu itu masih ada.

Tapi kini tidak menyesakkan.

Karena ia tahu—Raven tidak memilihnya sebagai pelarian. Ia memilihnya sebagai tujuan—dan untuk pertama kalinya, Shaira tidak takut berjalan ke arah yang sama.

...----------------...

..."Raven — akhirnya memilih arah."...

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!