Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Terakhir
Ruangan itu sunyi. Sunyi yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Biasanya, di ruang rawat inap ini selalu ada suara—detak monitor yang setia menemani, desis oksigen, atau sesekali erangan kecil dari ranjang. Tapi malam ini, semuanya diam.
Raka tahu kenapa, tangannya masih menggenggam jemarinya yang dingin. Jauh lebih dingin dari biasanya. Jari-jari lentik yang dulu hangat saat menggenggam, lincah saat merangkai bunga di taman kota, yang dulu dengan sabar mengusap punggungnya saat ia pulang kerja lelah—kini diam, tak bergerak.
Monitor di samping ranjang sudah mati. Layar selama berbulan-bulan setia menampilkan grafik detak jantung kini terlihat gelap. Garis lurus sempat melintang beberapa jam lalu kembali seperti semula. Perawat sudah mematikannya setelah Raka mengangguk pelan.
Ia duduk di kursi plastik yang menemani setiap malam selama tiga tahun terakhir. Kursi yang sama yang membuat punggungnya pegal, kadang ia ubah menjadi tempat tidur darurat. Kursi yang sudah hafal dengan bentuk tubuhnya kurus tak bermaya
Tapi malam ini, Raka tak merasa pegal lagi, tubuhnya sudah lelah untuk mencari arti kata lelah, memandang wajah istrinya
terlihat tenang, sangat tenang jauh lebih tenang dari saat-saat di kemoterapi dulu, ketika tubuhnya menggigil hebat, muntah tak berkesudahan, dan rambut hitam panjangnya rontok bergumpal gumpal di bantal.
Malam ini, tak ada rasa sakit di wajah itu, kerutan di dahi, bibirnya yang pucat sedikit terbuka tidur panjang.
Seperti biasa, laki laki itu hanya bisa berharap menunggu keajaiban dia membuka mata, tersenyum dan berkata lembut, "Mas, masih menyayangi Kinan? Mas tetap disini, jangan pergi jauh."
Raka menyentuh pipinya dingin seperti es, tapi masih terasa lembut seperti saat pertama kali ia menyentuhnya sepuluh tahun lalu di bangku taman kota.
"Kulit kamu lembut banget, Nan, kaya tepung terigu, cium ya."
" Ih gak malu, " Ia memukul lengannya tersipu, wajahnya memerah.
Senyum tipis terbit di bibir Raka saat mengenang kemudian padam. Ia menarik kursinya lebih dekat menempel ke ranjang. mencium keningnya penuh haru, bibirnya merasakan tapi tidak mau ia lepaskan.
"Makasih, Sayang," bisiknya parau, pecah di tengah jalan. "Makasih udah berjuang sejauh ini."
Air matanya jatuh, satu dua membasahi sprei putih di samping wajah tirus tanpa menyeka
Tiga tahun. Tiga tahun mereka berjuang bersama. Tiga tahun Raka melihat wanita yang dicintainya perlahan layu, tapi tak pernah sekalipun ia mendengarnya mengeluh. Dia selalu tersenyum bahkan saat muntah-muntah, "Mas, beliin bubur ayam banyakin sayurnya."Seperti tak terjadi apa-apa.
Raka ingat, suatu malam di tahun pertama, dia bertanya, "Mas gak takut kalau Kinan pergi?"
Ia terdiam. Takut? Ia takut setengah mati. Tapi ia tak mau perasaan hatinya hancur
"Nggak, sayang," jawabnya mengulas senyum. "Kamu nggak akan pergi, mas selalu jagain"
Ia tersenyum, senyuman tulus saat pertama kali Raka jatuh cinta."Janji?"
"Janji."
Dan laki laki itu selalu menepati janji menjaganya siang malam, menggendong tubuhnya ke kamar mandi saat lemah untuk berjalan, mengusap punggungnya ketika muntah. Dan selalu membacakan buku lucu di samping ranjang, menghibur disaat mata lelah untuk terpejam.
Ia menjual apa saja harta yang ada termasuk mobil kesayangannya tanpa ragu. Ia lembur setiap malam, mengambil proyek tambahan, tak pernah mengeluh meski kantongnya menipis. Ia bahkan tak pernah menangis di depan Kinan, tegar dan kuat.
Tapi malam ini, di ruangan sunyi ini, ia menangis terisak isak, air matanya mengalir pelan, tanpa suara seperti ruangan ini sendiri—hening,.
Pintu ruangan terbuka pelan. Seorang perawat muda masuk, matanya sembab. Ia sudah bertahun-tahun kerja, sudah terbiasa melihat pasien pergi. Tapi entah kenapa, melihatnya begitu tegar kini menangis dalam diam... perawat itupun ikut terharu.
"Pak Raka," bisiknya lembut. "Kami harus... membersihkan..."
Ia mengangguk tapi tangannya tak lepas dari jemarinya. "Sebentar, Sus katanya serak. "Sebentar lagi."
Perawat itu mengangguk, mundur, menutup pintu.
" Sayang...tenang di sana ya,," bisiknya ditelinga "Jangan mikirin Mas, Mas insyaallah baik-baik aja."
Bohong. Ia tahu dirinya tak baik-baik saja.
Lima belas menit kemudian, akhirnya ia melepaskan genggaman satu persatu terasa merobek dadanya. Tubuhnya oyong lemas tapi ia kuatkan untuk berdiri.
Perawat masuk kembali. Dua orang. Mereka bergerak cepat, profesional, memasang perlengkapan untuk memandikan jenazah. Raka mundur ke sudut ruangan hanya bisa memandang dari kejauhan.
Saat mereka membalikkan tubuh untuk membersihkan punggungnya, Raka melihat sesuatu di balik baju, ada garis-garis merah bekas ia menggaruk, tubuhnya sering gatal-gatal karena efek obat, tapi ia tak pernah mau merepotkan menggaruk secara diam diam saat suaminya tidur.
Raka menutup mulutnya, tangisnya nyaris pecah lagi.
"Istri Bapak kuat sekali," kata perawat yang lebih senior, setengah berbisik. "Saya sudah 10 tahun di sini, jarang sekali melihat pasien sekuat beliau."
Raka hanya bisa mengangguk.
Satu jam kemudian, semuanya selesai. Kinan terbujur rapi di ranjang, mengenakan baju putih yang dibawakan Ibu Rini dari rumah. Wajahnya tenang.
Raka mendekat lagi kali ini ia tak menangis matanya saja berkaca kaca "Sayang ..sampai ketemu ," bisiknya haru . "Tunggu Mas, titip tempat buat Mas di sana."
Ia mengecup kening melangkah keluar ruangan. Pintu tertutup di belakangnya. Suara klik kecil terdengar, seperti kunci mengunci rapat-rapat kenangan di dalam sana.
Koridor rumah sakit sunyi. Lampu temaram. Bau antiseptik yang dulu membuatnya mual kini terasa... akrab.
Ia melangkah gontai sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. Ia tak tahu harus ke mana. Pulang? Ke rumah kontrakan yang selama ini mereka tinggali? Rumah penuh dengan aroma tubuhnya, penuh dengan barang-barangnya, penuh dengan kehadirannya meski ia tak ada lagi ?
Atau diam di sini, di bangku panjang ruang tunggu, menunggu sesuatu yang tak akan datang?
Raka memilih berhenti di bangku dekat lift duduk memandang lantai merogoh saku jaket, mengeluarkan ponsel. Layar menyala, menampilkan foto mereka berdua di taman kota. Istri nya tertawa lebar, rambutnya masih panjang saat itu, sebelum kemoterapi pertama. Raka memeluknya dari belakang.
Itu foto dua tahun lalu saat mereka masih punya harapan. Ia mematikan ponsel memasukkannya kembali.
Lift di depannya terbuka. Seorang pria tua keluar, diikuti wanita paruh baya yang mungkin istrinya. Mereka melirik Raka sekilas, lalu berjalan cepat menuju ruang rawat. Wajah mereka tegang mungkin ada keluarga yang juga sedang berjuang.
Raka tahu perasaan itu. Ia sudah hidup di rumah sakit ini selama tiga tahun.
Tiga tahun.
Dan sekarang, semuanya selesai.
Di luar jendela koridor, langit mulai memutih. Fajar. Hari baru. Tapi bagi Raka, hari ini tak berbeda dengan kemarin. Tak ada lagi yang ditunggu. Tak ada lagi yang diperjuangkan.
Ia bersandar di bangku, memejamkan mata.
Angin sepoi dari jendela yang sedikit terbuka masuk, membelai wajahnya. Dingin. Tapi anehnya, di tengah dingin itu, Raka merasa ada kehangatan.
Seperti tangan yang tak terlihat, mengusap pipinya lalu berbisik lembut di telinga "Makasih, Ya Mas, Kinan masih disini."
Raka membuka mata disekelilingnya masih terlihat sepi tidak ada siapa pun orang disana. Ia lalu bangkit berjalan menuju lift pulang ke rumah yang sepi dengan hati hancur. Dan kenangan yang tak akan pernah mati.
mampir 🤭