Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Radiasi Gosip
"Javier... saya tahu itu kamu. Tukang plafon mana yang pake sepatu sneakers edisi terbatas seharga gaji saya tiga bulan?!"
Javi akhirnya menyerah. Dia turun dari tangga dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah tangga bambu itu adalah tangga panggung Grammy Awards. Dia melepas masker dan topinya.
"Ya, ini saya," ucap Javi tenang.
Mbak Widya pingsan di tempat untuk kesekian kalinya, gorengannya berhamburan ke lantai. Para tetangga kos mulai keluar dari kamar masing-masing, memegang HP dan mulai melakukan siaran langsung.
"Javier! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu di sini?!"
Manajer Han hampir menangis.
Javi merangkul bahu Aruna di depan semua kamera HP warga kos.
"Saya di sini untuk memperkenalkan Ujang kepada Anda semua. Dan saya di sini untuk memastikan bahwa Majikan saya tidak merasa kesepian karena gayungnya patah."
"Ujang?! Majikan?!"
Manajer Han memegang kepalanya.
"Kita harus pergi sekarang! Wartawan sudah di jalan!"
"Saya tidak akan pergi," ucap Javi tegas.
"Kecuali Aruna diizinkan menjadi asisten pribadi saya di agensi. Sebagai pakar es mambo dan konsultan daster."
Aruna melongo.
"Eh? Apa-apaan..."
"Setuju! Apa pun! Asalkan kamu balik ke mobil sekarang!"
Manajer Han menarik lengan Javi.
Javi menahan diri sejenak. Dia menoleh pada Aruna yang masih berdiri mematung di tengah kekacauan itu. Javi mendekat, lalu di depan Manajer Han, bodyguard, dan tetangga kos yang sedang live TikTok, dia mencium kening Aruna dengan sangat lembut.
"Sinkronisasi selesai," bisik Javi.
"Sampai jumpa di pusat kendali yang lebih mewah, Aruna. Jangan lupa bawa kacamata renang saya."
Javi akhirnya ditarik paksa masuk ke dalam van hitam. Mobil itu melesat pergi, meninggalkan debu dan kerumunan warga kos yang histeris.
Suasana di koridor kos Griya Widya pagi ini jauh lebih panas daripada panci mie instan yang lupa dimatikan. Setelah insiden Konferensi Pers Gayung Merah semalam, nama Aruna mendadak naik kasta. Bukan kasta bangsawan, melainkan kasta Tersangka Utama Skandal Idola.
Aruna, dengan rambut yang dicepol asal-asalan menyerupai sarang burung emprit dan kacamata yang melorot sampai ke ujung hidung, mencoba melewati lorong menuju gerbang. Di tangannya, dia memeluk tabung gambar berukuran besar seolah itu adalah tameng pelindung dari serangan nuklir.
"Aruna! Aruna sayang!" suara melengking Mbak Widya menghentikan langkah Aruna tepat di depan jemuran daster.
Mbak Widya muncul dengan daster motif macan tutul yang warnanya sudah agak pudar, tangannya memegang sapu lidi yang digoyang-goyangkan dengan ritme mencurigakan. Di belakangnya, ada Bu RT dan Mbak Ida penghuni kamar sebelah yang hobinya dengerin lagu galau keras-keras.
"Aduh, Mbak... Aruna telat! Ada asistensi Layouting, kalau telat nilai Aruna bisa jadi telur ceplok!"
Aruna mencoba kabur.
"Bentar dulu! Itu tadi malem si Ujang... eh, Mas Javier... beneran cium kening kamu?!" tanya Mbak Widya dengan mata berbinar-binar penuh asupan gosip.
"Mbak sampe nggak bisa tidur, Ar! Mbak mikir, apa daster yang dia pake kemaren itu yang bikin dia jatuh cinta sama penghuni kos ini?"
"Mbak, itu cuma akting! Mas Javier itu emang suka drama, mungkin dia kebanyakan minum cairan pembersih kaca!" sahut Aruna asal.
"Tapi Ar,"
Mbak Ida ikut menimpung,
"tadi pagi di grup WA warga, ada yang bilang kamu itu sebenarnya agen rahasia yang lagi nyamar jadi mahasiswi buat jagain aset negara. Bener ya?"
Aruna menghela napas berat.
"Mbak Ida, satu-satunya hal rahasia tentang saya adalah gimana cara saya bertahan hidup dengan uang sepuluh ribu di akhir bulan. Udah ya, permisi!"
Di dalam angkot yang sesak, HP Aruna tidak berhenti bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal yang dia tahu pasti itu kerjaan Javi mengirimkan pesan bertubi-tubi.
0812-XXXX-XXXX: Majikan Aruna, sistem saya merasa sangat tidak stabil hari ini.
0812-XXXX-XXXX: Manajer Han menyita kacamata renang saya. Dia bilang itu alat komunikasi ilegal dengan alien. Tolong kirimkan foto gayung merah sebagai penguat sinyal saya.
0812-XXXX-XXXX: Apakah daster pink kamboja Anda sudah kering? Saya merasa ada kegagalan fungsi pada mesin cuci agensi karena tidak ada aroma sabun curah.
Aruna membaca pesan itu dengan wajah datar. Dia tidak membalas satu pun. Fokusnya sekarang adalah sebuah kertas kalkir raksasa di dalam tabungnya. Baginya, Javier adalah gangguan sistem tingkat tinggi yang bisa membuat IPK-nya terjun bebas ke inti bumi.
Kuliah, Kopi, dan Bayang-Bayang Ujang
Sesampainya di kampus, suasana tidak jauh berbeda. Aruna merasa seperti buronan internasional. Teman-temannya di studio DKV menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aruna,"
Genta mendekat, kali ini tanpa mawar, tapi dengan wajah yang masih agak biru di bagian rahang.
"Itu... yang semalam... lo beneran pacaran sama Javier LUMINOUS?"
Aruna membanting tabung gambarnya ke meja studio dengan bunyi BRAK! yang sangat memuaskan.
"Genta. Denger ya! Gue nggak peduli mau dia Javier, mau dia Ujang, mau dia Power Ranger Pink. Gue punya tugas Layouting 40 halaman yang harus dikumpulin dua jam lagi. Kalau lo nanya soal dia sekali lagi, gue bakal pake penggaris besi gue buat ngukur lebar lubang hidung lo. Paham?!"
Genta mundur teratur.
"S-santai, Ar... gue cuma nanya..."
Aruna duduk di kursinya, mulai menyalakan laptop dan membuka aplikasi desain. Namun, setiap kali dia melihat kursor di layar, dia teringat gerakan Javi saat menyeka debu di meja gambarnya. Saat dia melihat palet warna pink, dia teringat daster yang diperdebatkan mereka.
"Sial," umpat Aruna pelan.
"Kenapa radiasi dia kuat banget sih sampe ke aplikasi desain?!"
Sore harinya, Aruna pulang dengan kondisi raga yang hampir meninggalkan jiwa. Matanya merah, punggungnya pegal karena seharian membungkuk di depan komputer. Saat dia berjalan memasuki gang kosan, dia melihat sosok pria tinggi memakai jaket hoodie hitam dan topi hitam sedang berjongkok di balik pohon kamboja depan gerbang.
Aruna menghela napas. Dia tahu persis siapa itu dari cara jongkoknya yang sangat estetik namun konyol.
"Jang, kamu ngapain lagi sih? Mau jadi ulet pohon?" tanya Aruna sambil berdiri di belakang pria itu.
Pria itu meloncat kaget, hampir terjungkal ke parit. Dia membuka sedikit topinya, menampakkan kacamata hitam yang dipasang terbalik.
"Majikan Aruna! Ssst! Jangan keras-keras!" bisik Javier.
"Saya sedang melakukan prosedur infiltrasi tingkat tinggi. Manajer Han memasang detektor suara di mobil saya, jadi saya ke sini naik ojek pangkalan dengan menyamar sebagai karung beras."
"Karung beras?!"
Aruna memijat pelipisnya.
"Pantesan tukang ojek depan gang tadi bingung kenapa ada beras yang bisa minta berhenti di depan pohon kamboja."
"Saya hanya ingin memberikan ini,"
Javier mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik jaketnya.
"Ini adalah alat komunikasi cadangan. Tanpa kabel, tanpa pulsa, hanya menggunakan frekuensi batin."
Aruna membuka kotak itu. Isinya adalah dua buah gelas plastik yang dihubungkan dengan benang kasur yang sangat panjang.
"Ini... telepon kaleng, Javi," ucap Aruna datar.
"Bukan! Ini adalah 'String-Phone Luminous Edition'. Saya sudah mengetesnya dengan Rian. Jika Anda menarik benangnya di kosan, saya akan merasakannya di Menteng," ucap Javi dengan wajah sangat serius.
"Jang, jarak Menteng ke sini itu berkilo-kilo meter. Benang kasur kamu bakal nyangkut di truk sampah atau dimakan kucing liar di tengah jalan!"
"Sistem saya tidak mengenal logika jarak, Aruna. Sistem saya hanya mengenal logika kerinduan," sahut Javi, lalu dia memberikan satu tarikan pelan pada benang itu ke arah dada Aruna.