"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - PEJUANG KECIL
Dara terbangun dengan napas tersengal, seperti habis berlari maraton. Tubuhnya penuh keringat dingin.
"BAYIKU!" teriaknya.
"Kiara, tenang! Tenang!" Arkan memegang bahunya dengan lembut tapi tegas. "Dia selamat. Bayinya selamat."
Dara menatapnya dengan mata liar. "Kode biru... aku dengar kode biru."
"Bukan dia." Arkan mengusap air matanya. "Itu bayi lain di NICU. Bayiku, bayi kita... dia bertahan. Bahkan saat ada kekacauan, dia tetap bertahan."
Dara merosot lagi ke bantal, lega campur lelah yang luar biasa.
"Aku... aku pikir dia..."
"Tidak. Dia lebih kuat dari yang kita kira." Arkan tersenyum... senyum yang tulus, penuh kebanggaan. "Dr. Rahman bilang dalam dua belas jam terakhir, kondisinya membaik. Dia mulai bernapas lebih mandiri. Ventilatornya sudah dikurangi intensitasnya."
"Benarkah?"
"Benar. Kamu mau lihat dia?"
"Sekarang?"
"Aku sudah siapkan kursi roda. Dr. Sinta bilang kamu boleh ke NICU asal tidak terlalu lama. Lima belas menit maksimal."
Dara mengangguk cepat, terlalu cepat sampai kepalanya pusing.
NICU adalah ruangan yang dipenuhi inkubator, masing-masing berisi bayi kecil dengan berbagai kondisi. Beberapa bahkan lebih kecil dari bayinya.
Perawat membimbing kursi roda Dara ke sudut ruangan. Di sana, inkubator dengan label "Baby Girl Adisaputra".
Dara menatap bayinya untuk pertama kali dengan sadar penuh.
Dia masih sangat kecil, kira-kira sepanjang lengan bawah orang dewasa. Kulitnya yang tadinya merah sekarang agak pink. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya, sensor detak jantung menempel di dadanya yang naik turun perlahan.
Tapi matanya...
Matanya terbuka.
Menatap entah kemana dengan tatapan polos bayi yang baru lahir.
"Hai, sayang..." Dara membuka lubang kecil di sisi inkubator, memasukkan tangannya dengan hati-hati. Jarinya menyentuh tangan mungil bayinya.
Dan tangan itu, sekecil ibu jari orang dewasa menggenggam jari Dara.
Genggaman lemah. Tapi ada.
Air mata Dara jatuh, kali ini bukan air mata ketakutan atau kesedihan.
Tapi air mata kebahagiaan yang paling murni.
"Kamu... kamu kuat ya..." bisiknya. "Mama bangga padamu..."
Arkan yang berdiri di sampingnya ikut menangis. "Dia persis kamu. Keras kepala. Tidak mau menyerah."
"Dia juga persis kamu. Matanya. Bentuk wajahnya."
Mereka terdiam, hanya menatap keajaiban kecil di depan mereka.
Dr. Rahman mendekat. "Nyonya Kiara, saya punya kabar bagus. Tes darah terbaru menunjukkan fungsi organnya membaik. Ginjalnya mulai bekerja normal. Hatinya juga. Kalau perkembangan ini terus berlanjut, dia bisa keluar dari NICU dalam dua minggu."
"Dua minggu?" Dara tidak bisa mempercayainya. "Aku pikir bayi prematur harus di NICU sampai seharusnya dia lahir..."
"Biasanya iya. Tapi bayi Nyonya istimewa. Dia berkembang lebih cepat dari prediksi." Dr. Rahman tersenyum. "Saya sudah menangani ratusan bayi prematur. Tapi jarang yang sekuat dia."
Dara menatap bayinya lagi, kali ini hatinya penuh kebanggaan yang meluap.
"Kamu dengar itu, sayang? Kamu pejuang kecil mama..."
Tapi kemudian, alarm berbunyi lagi.
Bukan di inkubator bayinya.
Tapi di pintu masuk NICU.
"ADA PENYUSUP! KODE MERAH!"
Dara langsung waspada. "Arkan..."
"Aku tahu." Arkan sudah berdiri, melindungi Dara dan inkubator bayinya.
Perawat bergegas menutup semua tirai, memisahkan setiap inkubator untuk privasi dan keamanan.
Dara mendengar suara keributan di luar, suara orang berteriak, suara benda jatuh.
Kemudian pintu NICU terbuka kasar.
Seorang pria masuk memakai jas lab putih, stetoskop di leher, masker menutupi sebagian wajahnya.
Tapi Dara mengenali mata itu.
Victor.
"Permisi, saya dokter baru..." Victor pura-pura sopan pada perawat yang mencoba menghalanginya.
"Anda tidak terdaftar di sistem kami..."
Victor mendorong perawat itu dengan kasar, membuat wanita itu jatuh, kepala membentur lemari obat.
"KIARA!" Victor menatap sekeliling... mencari.
Dara memaksa diri berdiri dari kursi roda, mengabaikan rasa sakit di perutnya yang seperti robek.
"Aku di sini, bajingan."
Victor berbalik, menyeringai di balik maskernya. "Akhirnya. Bos Rendra titip salam."
"Bagaimana kamu bisa masuk rumah sakit..."
"Aku menyuap satuan pengamanan. Mudah." Victor melangkah maju. "Sekarang... kamu ikut aku dengan baik-baik, atau aku hancurkan inkubator bayimu satu per satu sampai kamu nurut."
Dara merasakan amarah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Bukan amarah Dara dokter mafia.
Tapi amarah seorang ibu yang anaknya diancam.
"Kamu tidak akan sentuh anakku."
"Oh ya? Coba hentikan aku kalau bisa."
Victor melangkah ke arah inkubator terdekat, mengangkat tangannya untuk menjatuhkannya.
Tapi Dara lebih cepat.
Dia meraih gunting bedah dari meja instrumen medis terdekat, melemparnya dengan presisi dokter bedah yang terlatih.
Gunting itu menancap di bahu Victor, tepat di titik yang akan melumpuhkan tangannya tanpa membunuh.
Victor menjerit... terhuyung.
Arkan memanfaatkan kesempatan dengan menerjang Victor, membantingnya ke lantai.
Mereka bergulat... Victor lebih besar dan terlatih, tapi Arkan punya motivasi lebih kuat.
Dara tidak tinggal diam. Dia meraih alat monitor jantung, benda berat dan memukulkannya ke kepala Victor dari belakang.
BRAK!
Victor pingsan.
Satuan pengamanan rumah sakit akhirnya datang, terlambat tapi setidaknya datang. Mengamankan Victor dengan borgol.
Dara merosot kembali ke kursi roda, tubuhnya gemetar, adrenalin perlahan surut.
"Kiara, kamu berdarah..." Arkan menunjuk perut Dara... jahitannya robek, darah merembes ke baju rumah sakit.
"Aku... tidak apa-apa..." tapi pandangannya mulai kabur.
Dr. Rahman dan tim medis langsung mengerubungi. "Nyonya Kiara, jahitan Nyonya terbuka. Kami harus operasi lagi... sekarang!"
"Tapi bayiku..."
"Bayinya aman. Tapi Nyonya tidak aman kalau terus kehilangan darah seperti ini."
Dara menatap inkubator bayinya untuk terakhir kali. Bayinya masih tidur tenang, tidak tahu ibunya baru saja bertarung untuk melindunginya.
"Aku... aku akan kembali, sayang... mama janji..."
Lalu semuanya gelap.
Keesokan paginya, Dara terbangun lagi di ruang pemulihan dengan perban baru di perutnya dan tubuh yang terasa seperti ditabrak truk.
Tapi yang pertama dia tanyakan,
"Bayiku?"
Arkan tersenyum lelah, dia tidak tidur semalam. "Dia baik. Malah kondisinya semakin membaik. Dr. Rahman bilang dia kuat sekali, sama seperti ibunya yang baru habis operasi kedua tapi masih sempat membanting orang."
Dara tertawa lemah lalu meringis karena sakit.
"Jangan ketawa dulu. Jahitanmu baru selesai."
"Bagaimana dengan Victor?"
"Ditangkap polisi. Kali ini benar-benar ditangkap. Ada saksi mata, CCTV, dan dia tertangkap basah mencoba menyerang pasien rumah sakit." Arkan menggenggam tangannya. "Dan yang lebih penting, dia bicara. Dia memberikan lokasi persembunyian Bos Rendra sebagai deal pengurangan hukuman."
Dara tersentak. "Benarkah?"
"Polisi akan gerebek malam ini. Regan sudah koordinasi dengan tim khusus yang bersih, tidak ada yang korup. Mereka akan tangkap Bos Rendra sekali untuk selamanya."
"Aku mau ikut..."
"Tidak." Arkan tegas. "Kamu baru saja operasi. Dua kali. Dalam dua hari. Kamu butuh istirahat."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Biar aku dan Regan yang urus. Kamu fokus pada satu hal... sembuh. Supaya bisa gendong bayi kita."
Dara menatapnya, melihat tekad di matanya.
Tekad pria yang sudah berubah.
Yang sudah belajar melindungi keluarganya.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi kamu harus janji, kamu pulang dengan selamat. Aku tidak mau jadi janda sebelum bisa membawa pulang bayiku."
Arkan mencium keningnya. "Aku janji. Aku akan pulang. Kita akan membawa pulang anak kita bersama-sama."
👻👻👻👻