Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Luka dibalik tawa
Malam itu, kamar Aluna terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia merebahkan tubuhnya, namun matanya sulit terpejam. Rasa penasaran yang menyiksa membuatnya kembali meraih ponsel di atas meja rias. Dengan jantung berdebar, ia membuka aplikasi media sosial dan mencari nama yang paling ingin ia hindari sekaligus ia rindukan.
Tangannya gemetar saat melihat ada lingkaran merah di foto profil Brian, tanda bahwa Brian baru saja mengunggah cerita baru. Tanpa pikir panjang, Aluna menekannya.
Napasnya tertahan seketika.
Di sana, Brian mengunggah foto dirinya bersama Clarissa di sebuah kafe. Brian tersenyum lebar ke arah kamera, sementara Clarissa menyandarkan kepalanya di bahu Brian. Ada tulisan kecil di pojok bawah foto itu: "Found peace here."
Aluna merasakan dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di kamarnya tiba-tiba menghilang. Ia segera menelepon Bara dengan suara yang sudah pecah oleh tangis.
"Bar, kamu udah lihat postingan Brian yang baru?" tanya Aluna begitu panggilan tersambung.
Bara di seberang telepon terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab dengan nada berat. "Sudah, Lun. Baru aja gue lihat."
"Kenapa secepat itu, Bar? Apa aku
bener-bener udah nggak ada artinya buat dia?" rintih Aluna, ia menutup wajahnya dengan bantal agar isak nya tidak terdengar sampai ke luar kamar.
Bara menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya sendiri. "Lun, dengar aku. Mungkin itu cuma caranya buat manas-manasin kita. Kamu jangan terlalu dipikirin, inget pesan aku tadi sore, jangan sampai sakit."
"Tapi sakit banget, Bar. Dia kelihatan bahagia banget sama Clarissa, sementara kita di sini hancur," sahut Aluna lagi, air matanya membasahi bantal.
"Iya, aku tahu itu sakit. Tapi kita nggak bisa maksa dia buat peduli lagi sekarang," ujar Bara dengan nada pasrah. "Sekarang mending kamu taruh HP-nya, coba tidur. Aku temenin lewat telepon sampai kamu tenang, ya?"
"Iya bar, makasih ya kamu selalu ada buat aku," bisik Aluna lirih.
"Iya," jawab Bara pelan.
Malam itu, Aluna tertidur dengan ponsel yang masih menempel di telinga, membawa luka yang semakin dalam setelah melihat Brian benar-benar telah membuka lembaran baru bersama orang lain.
Belum kering air mata Aluna setelah melihat postingan Brian, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar ponselnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat nama pengirimnya. Clarissa.
Dengan tangan gemetar, Aluna membuka pesan itu. Sebuah foto dikirimkan oleh Clarissa. foto candid Brian yang sedang tertawa sambil memegang botol minuman, terlihat sangat lepas dan tanpa beban.
Clarissa: "Hai Aluna, cuma mau bilang makasih ya."
Aluna mengernyitkan dahi, air matanya tertahan di pelupuk mata. Dengan jari yang kaku, ia membalas.
Aluna: "Makasih buat apa?"
Clarissa: "Makasih karena udah lepasin Brian. Kalau kamu nggak bikin dia kecewa, mungkin dia nggak akan pernah sadar kalau ada orang yang bisa bikin dia jauh lebih bahagia dan tenang. 'Found peace here' itu beneran, Lun. Dia bilang sendiri ke aku kalau dia ngerasa bebas sekarang.
Dada Aluna sesak. Rasanya seperti dihantam godam berkali-kali.
Aluna: "Maksud kamu apa kirim pesan kayak gini ke aku?"
Clarissa: "Nggak ada maksud apa-apa, kok. Cuma mau saranin, mending kamu berhenti ngejar-ngejar atau chat dia lagi. Kasihan Brian, dia lagi coba buat bahagia. Jangan diganggu sama drama kamu lagi ya, Lun.
Kasihan juga kan Bara kalau harus terus-terusan jadi pelampiasan kamu?"
Aluna tidak sanggup lagi membalas. Ia melempar ponselnya ke ujung kasur dan terisak sejadi-jadinya.
Ia segera meraih ponselnya kembali dan menelepon Bara sambil menangis histeris.
"Bar... Clarissa DM aku..." adu Aluna di sela tangisnya.
Di seberang telepon, suara Bara langsung berubah tegang. "Dia bilang apa, Lun? Jangan dibaca, mending kamu hapus aja!"
"Dia bilang aku cuma kasih drama ke Brian... dia bilang Brian lebih bahagia sama dia... Bar, aku jahat banget ya?"
"Enggak, Lun! Jangan dengerin dia. Clarissa cuma mau manasin kamu. Kamu dengerin aku, jangan dibalas, blokir aja kalau perlu!" sentak Bara, terdengar sangat marah namun berusaha tetap menenangkan Aluna.
"Tapi kata-katanya bener, Bar... Brian kelihatan beda banget sekarang..."
Bara terdiam sejenak, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di kamarnya. "Iya, aku tahu. Tapi bukan berarti kamu harus dengerin omongan orang asing kayak dia. Udah ya, Lun, stop buka sosmed malam ini. Aku nggak mau kamu semakin hancur."
Kemarahan Bara sudah tidak bisa dibendung lagi. Pagi itu, sesampainya di sekolah, Bara tidak langsung menuju kelasnya. Ia berdiri di koridor dekat tangga, menunggu Clarissa lewat.
Begitu sosok Clarissa muncul dengan gaya angkuhnya, Bara langsung mencegatnya. Langkahnya yang lebar dan tatapan matanya yang tajam membuat beberapa siswa yang lewat menoleh ketakutan.
"Clarissa! Berhenti lo!" bentak Bara, suaranya menggelegar di koridor.
Clarissa terlonjak kaget, ia mencoba bersikap tenang meski wajahnya sedikit pucat. "Apaan sih, Bar? Datang-datang kok marah-marah?"
"Nggak usah pura-pura bego," desis Bara tepat di depan wajah Clarissa. "Gue tahu lo DM Aluna semalam. Maksud lo apa, hah? Mau jadi pahlawan di mata Brian dengan cara rendah kayak gitu?"
Clarissa melipat tangan di dada, mencoba membela diri. "Gue cuma ngomong kenyataan, Bar. Aluna emang cuma bikin Brian susah. Emangnya salah gue kalau gue kasih tahu dia yang sebenernya?"
"Urusan Brian sama kita itu urusan pribadi! Lo itu orang baru, nggak usah sok tahu soal hidup kita!" sentak Bara lagi, jarinya menunjuk ke arah Clarissa. "Sekali lagi lo berani ganggu Aluna, atau lo kirim pesan sampah lagi ke dia, gue nggak akan tinggal diam. Gue nggak peduli lo cewek atau bukan, jangan pernah lo sentuh Aluna lagi!"
Tepat saat itu, Brian muncul dari arah belakang dan melihat keributan tersebut. Ia segera menarik Clarissa ke belakang punggungnya.
"Bar! Lo apa-apaan sih nyerang cewek?" bentak Brian, matanya menatap Bara dengan penuh kebencian.
Bara tertawa getir, menatap sahabatnya yang kini benar-benar buta oleh keadaan. "Tanya sama cewek lo ini, Bri. Apa yang dia lakuin ke Aluna semalam. Kalau lo emang benci sama kita, benci aja sendiri! Jangan bawa orang lain buat jadi 'alat' lo buat nyakitin Aluna!"
Brian tidak menjawab, ia justru menggenggam tangan Clarissa semakin erat. "Pergi lo, Bar. Sebelum gue bener-bener hilang kendali."
Bara menatap mereka berdua dengan rasa jijik yang amat sangat. "Iya, gue pergi. Tapi inget, Bri... suatu saat lo bakal sadar siapa yang beneran tulus dan siapa yang cuma cari muka di atas luka orang lain."
Bara berbalik dan berjalan pergi dengan napas yang memburu. Di ujung koridor, ia melihat Aluna yang berdiri mematung menyaksikan kejadian itu dengan mata berkaca-kaca.
Mereka pun berjalan menjauh, meninggalkan Brian dan Clarissa yang masih berdiri di sana, sementara hubungan mereka bertiga kini benar-benar telah menjadi puing-puing yang tak mungkin bisa disatukan lagi.
Bersambung,.......
Jangan lupa like dan rating lima ya kakak 😌 🙏 🙏 🙏 🙏