"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia paling busuk
"Jangan beri panggung pada iblis di keramaian; karena saat rahasia terucap, darah yang mengalir takkan peduli siapa yang menjadi korbannya."
......................
Penyang menatap Syifa dengan sorot mata yang jauh lebih dalam, seolah ia sedang mencoba melihat menembus kulit cantik itu menuju kegelapan yang mengerak di dalamnya. Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada rendah yang penuh peringatan.
"Jika kamu sudah siap menceritakan kebenaran dari apa yang terjadi padamu, maka aku tidak akan dianggap melanggar sumpah pamali," ucap Penyang berat.
Syifa mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu? Apa itu sumpah pamali?"
"Mencampuri urusan 'bawah'—urusan alam gaib yang sudah mengikat manusia," jawab Penyang. "Jika tidak ada transaksi jual beli, atau jika tidak ada permintaan tolong yang jelas, aku tidak bisa membantumu. Alam akan menganggapku lancang jika aku mencampuri takdirmu tanpa 'pintu' yang kau buka sendiri."
Syifa menelan ludah, ia merasa udara di sekitarnya mendadak mendingin. "Lalu... aku harus mulai dari mana?"
Penyang tidak langsung menjawab. Ia tampak gelisah, matanya bergerak liar memerhatikan sekeliling restoran. Di sana banyak orang yang tertawa, banyak pajangan kristal mahal, dan tumpukan benda pecah belah yang berkilau. Ia tahu benar, jika "sesuatu" di dalam tubuh Syifa berontak saat cerita itu dimulai, seluruh tempat ini bisa rata dengan tanah dalam sekejap. Dan jika itu terjadi, uang lima miliar pun tak akan cukup untuk membayar nyawa orang-orang tak bersalah yang menjadi korban.
"Kita cari tempat sepi. Sejauh mungkin dari peradaban," perintah Penyang sambil bangkit berdiri dengan kasar.
Syifa semakin bingung, alisnya bertaut. "Kenapa harus tempat sepi? Di sini kan kita bisa bicara sambil makan."
Penyang mencondongkan tubuhnya ke arah Syifa, suaranya nyaris seperti bisikan maut. "Karena aku tidak mau mengambil risiko. Aku takut saat kau mulai bercerita dan rahasia itu terucap, kau akan menghancurkan restoran ini beserta isinya."
Syifa tertegun. Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang belakangnya, seolah sang Kukang di dalam darahnya mulai menggeliat, terbangun karena namanya dipAnggil dari kegelapan. Atmosfer restoran yang hangat mendadak berubah menjadi sedingin liang lahat.
Syifa tertegun. Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang belakangnya, seolah sang Kukang di dalam darahnya mulai menggeliat, terbangun karena namanya dipanggil dari kegelapan. Atmosfer restoran yang hangat mendadak berubah menjadi sedingin liang lahat.
Tepat saat ketakutan itu mencekik lehernya, sebuah getaran di genggaman Syifa memutus ketegangan. Ia membuka pesan yang terasa seperti surat dari neraka:
"Nyonya Syifa, rekaman video di toko cendera mata sudah kami amankan. Tidak ada satu pun yang menontonnya. Karena, malam itu orang khusus sudah melakukan sabotase. Semuanya telah tersimpan dalam flashdisk. Pemilik toko sudah memecat penjaga toko itu, dan orang khusus kami sudah mengirimnya pergi jauh ke pulau-pulau tak terlihat ..."
Syifa menelan ludah yang terasa sesak. Ia tahu benar makna di balik kalimat "pulau-pulau tak terlihat" itu; saksi hidup yang melihat wujud aslinya telah dilenyapkan secara permanen oleh tangan-tangan gelap di bawah perintahnya. Ia telah menjadi algojo bagi siapa saja yang berani mengintip rahasianya—kecuali satu pria: Agung.
"Kita bertemu nanti malam saja. Sharelok padaku. Ada hal mendesak yang harus kuurus," ucap Syifa parau pada Penyang, lalu bergegas pergi.
Di dalam mobil yang melaju membelah kota, Syifa menyandarkan kepalanya yang berdenyut. Pikirannya terseret kembali ke malam itu, malam yang seharusnya menjadi mimpi buruk namun berubah menjadi simfoni pemujaan yang paling dalam.
Ia ingat bagaimana Agung merengkuhnya dalam remang lampu kamar yang hangat. Jari-jari pria itu membelai lembut garis rahang Syifa, menatap matanya seolah-olah dunia hanya berputar di sana. Di puncak keintiman itu, saat napas mereka beradu begitu dekat hingga aroma masing-masing meresap ke dalam jiwa, Syifa berbisik dengan getaran yang tak bisa disembunyikan.
"Sayang... jika aku adalah wanita terkutuk, apakah kamu akan tetap sayang?"
Agung tidak menarik diri. Alih-alih merasa ngeri, ia justru mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Syifa, menghirup aroma tubuh wanita itu yang memabukkan.
"Iya," bisik Agung dengan suara berat yang penuh keyakinan. "Jika surga menolakmu, aku akan ikut membangun neraka bersamamu. Aku pun ingin terkutuk bersamamu, Syifa. Karena tanpamu, hidup ini hanyalah kuburan panjang. Aku lebih memilih mati dalam pelukanmu daripada hidup tanpa bayanganmu."
Kalimat pemujaan itu—janji suci yang berbau maut—adalah satu-satunya alasan mengapa Agung masih bernapas hingga detik ini. Di saat saksi lain harus dieksekusi mati karena mengetahui rahasianya, Agung tersisa karena ia telah menyerahkan seluruh jiwanya. Baginya, Syifa bukan sekadar wanita; ia adalah takdir, meski wujud yang ia peluk sebenarnya adalah sang kambe yang haus nyawa.
Mobil Syifa melesat membelah jalanan yang remang, melaju seperti dikejar oleh sesuatu yang tak kasat mata. Sesampainya di hotel, ia nyaris merampas amplop dari tangan staf front office dan mendekapnya erat. Di dalam genggamannya adalah "harta" kecil yang mengandung rahasia paling busuk: rekaman kebrutalan dirinya saat wujud aslinya terkelupas.
Ia mengunci diri di kamar. Suasana mendadak sunyi, hanya deru napasnya yang memburu. Laptop dinyalakan, dan cahaya biru layarnya memantul di mata Syifa yang kuyu.
Deg! Perangkat itu membaca data flashdisk. Sebuah video muncul dengan kualitas hitam putih yang kasar dan penuh noise.
Pemandangan di layar itu benar-benar neraka. Syifa menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ia melihat barang-barang di toko itu terbang secara tidak wajar, hancur berkeping-keping seolah dihantam kekuatan yang sangat haus akan kehancuran. Di tengah pusaran itu, mandau milik Penyang berputar di udara, membelah kegelapan seperti perisai hidup.
Syifa memicingkan mata, bersiap melihat wajah cantiknya luruh menjadi nenek-nenek buruk rupa. Namun, ia tidak menemukannya. Wajahnya tetap cantik, namun ekspresinya bukan lagi milik manusia. Matanya mendelik putih sepenuhnya, dan dari mulutnya mengalir bahasa yang ia yakini adalah bahasa Dayak—suara parau dan berat yang mustahil keluar dari kerongkongan seorang wanita.
Kesadaran mengerikan menghantamnya; Penyang bukan sekadar orang sakti biasa. Dia adalah penerus murni penjaga alam, sang penengah suci yang menjaga keseimbangan antara manusia dengan dunia bawah dan dunia atas. Ia adalah satu-satunya jembatan agar Syifa tidak terseret selamanya ke dalam liang lahat.
Lalu, jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat bagian akhir rekaman. Di tengah amukan benda tajam dan hawa kematian, Agung merangsek maju. Pria itu tanpa ragu menggenggam ujung bilah mandau yang sedang melesat, membiarkan telapak tangannya terkoyak dan darah segar mengalir deras demi melindungi Syifa dari sabetan senjata itu.
Adegan itu begitu tragis. Syifa terisak di depan layar, menyadari bahwa Agung bukan hanya memujanya dengan kata-kata, tapi dengan nyawa.
Tiba-tiba, suhu kamar merosot tajam. Syifa tertegun saat menyadari sesuatu yang janggal pada video yang ia putar. Di layar, sosok dirinya yang sedang berteriak bahasa Dayak itu perlahan menoleh ke arah kamera. Di dalam rekaman hitam putih itu, sosok dirinya menyeringai, dan suara bisikan bahasa Dayak itu kini terdengar nyata keluar dari speaker laptop, tepat di samping telinganya:
"Ikau te jipenkuh!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamus:
Ikau te jipenku artinya kamu adalah budakku.
karena apa coba