Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Kehidupan Aris berbanding terbalik dengan mantan istrinya. Shafira mulai mempersiapkan untuk segera membuka usaha kecil-kecilannya bersama kedua sahabatnya.
Shafira berdiri di depan sebuah ruko yang baru saja mereka sewa. Pandangannya melayang pada papan nama yang terpasang dengan rapi di atas pintu, Rasa Rindu Catering-nama yang mereka pilih bersama. Ruko itu sederhana, namun cukup luas untuk memulai usaha katering mereka. Meski bangunan ini tak mewah, suasana di dalamnya sudah terasa penuh dengan harapan dan mimpi-mimpi besar.
"Gimana, Ra? Bagus kan?" tanya Vinna dengan wajah ceria, matanya berbinar penuh semangat.
Shafira mengangguk pelan, masih menatap ruko itu dengan perasaan campur aduk.
"Iya, Vinna, bagus. Tapi ini... nyata banget ya? Ini bukan cuma rencana lagi, ini benar-benar dimulai. Gue gak tahu kenapa rasanya sedikit takut."
Nita yang sejak tadi berdiri di samping Shafira tersenyum lembut.
"Wajar kalau ada rasa takut, tapi lo tenang aja, kita akan memulai ini bersama-sama, jadi Lo gak sendiri." ujar Nita diangguki oleh Vinna.
Shafira menarik napas panjang.
"Kalian benar. Tapi apa benar kita siap? Ini ruko bukan murah, dan usaha katering ini... nggak gampang."
Vinna menyentuh bahu Shafira.
"Tenang saja, kita sudah rencanakan ini dengan matang. Kita punya keahlian, kita punya semangat, dan yang terpenting, kita punya satu sama lain. Kita bisa melakukannya."
Shafira tersenyum, sedikit merasa lebih tenang.
"Lo benar, Vin. Gue gak bisa ngelakuin ini sendirian. Gue senang ada kalian."
Mereka bertiga pun mulai masuk ke dalam ruko. Dengan sedikit alat masak yang dibawa, mereka mulai mengatur dan membersihkan ruangan yang akan menjadi tempat usaha mereka. Ada dua bagian yang perlu dipersiapkan, dapur dan area makan yang akan disediakan untuk pelanggan yang datang langsung.
Hari pertama membuka usaha katering terasa penuh dengan kegembiraan dan kekacauan yang menyenangkan. Shafira, Vinna, dan Nita memulai pagi mereka dengan menuangkan semua ide untuk katalog makanan yang akan mereka tawarkan.
"Gimana kalau kita mulai dengan menu prasmanan sederhana? Makanan yang mudah, tapi tetap terasa spesial. Seperti nasi liwet atau nasi goreng?" usul Nita sambil menulis di papan tulis.
Vinna mengangguk setuju
"Dan kita tambahkan menu dessert juga! Puding roti dan kue-kue tradisional, yang bisa dimakan bersama-sama, gampang, dan enak!"
Shafira menyimak dan tersenyum.
"Setuju, gimana kalau kita juga punya menu paket hemat? Makanan rumahan untuk acara kantor atau keluarga."
Nita mengangguk.
"Itu ide bagus! Banyak orang yang mencari menu hemat tapi tetap enak untuk makan bersama. Jadi, kita juga bisa menawarkan paket yang sesuai dengan anggaran mereka."
Mereka pun mulai bekerja lebih intens, menyusun daftar menu, menyiapkan bahan-bahan, dan mencari bahan baku terbaik dari pasar.
Tugas mereka tidak berhenti hanya di situ, mereka juga harus mendesain kartu menu, membuat promosi, dan tentu saja, menggunakan jasa online di media sosial mereka.
"Ra, Lo udah ambil foto makanannya belum?
Kita perlu foto yang bagus buat sosial media!" tanya Vinna sambil sibuk dengan ponselnya.
"Aduh, lupa!" jawab Shafira sambil berlari menuju dapur.
"Gue akan foto nasi liwet ini, pasti keliatan enak kalau difoto dengan baik."
"Benar, foto itu penting banget buat promosi.
Kita harus menarik perhatian orang-orang yang gak bisa datang langsung."
Setelah berjam-jam bekerja, mereka akhirnya memiliki set menu yang siap dipromosikan. Mereka berpose di depan papan menu yang sudah mereka buat, dan dengan semangat, mulai membagikan foto-foto mereka di Instagram dan Facebook. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan beberapa pesan masuk, pesanan pertama mereka datang dari sebuah kantor kecil yang ingin memesan catering untuk rapat.
"Dapet order pertama! Nasi kotak untuk 30 orang, pesanannya dari kantor di dekat sini!" teriak Vinna dengan kegirangan sambil memeriksa ponselnya.
"Wah, serius? Cepat banget! Ini baru permulaan guys." jawab Shafira dengan mata berbinar.
"Heh, kamu jangan bisanya hanya ongkang-angking aja dirumah ini! Sana kamu cuci pakaian yang sudah menumpuk dibelakang." semprot bu Ratna ketika melihat Fela duduk santai memainkan ponselnya.
"Apa sih bu, aku juga belum ada setengah jam duduk setelah selesai beberes rumah terus masak. Gantian lah bu, ibu juga gak ngapa-ngapain ini." ujar Fela sewot.
"Enak aja kamu nyuruh-nyuruh ibu, mau jadi menantu durhaka kamu hah? Mau jadi Shafira jilid dua kamu?" bentak bu Ratna sambil berkacak pinggang.
"Aku capek tau bu, lagian kenapa sih dirumah ini gak ada mesin cuci, kolot banget. Sekarang udah zaman modern kali bu, apa-apa tinggal colokin aja, udah beres!" ujar Fela ketus.
Ia pikir menikah dengan Aris bisa membuat hidupnya lebih mudah, tidak perlu bekerja keras lagi. Tapi ini malah membuat hidupnya tidak sebebas dulu, mempunyai mertua yang selalu menyuruh ini itu. Apalagi sekarang ia dan Aris sudah dipecat dari pekerjaannya. Membuatnya semakin susah.
"Ngapain buang-buang uang pake mesin cuci segala. Kamu pikir listriknya gak bayar? udah sana kamu cuci pakaian yang udah kamu rendam itu, nanti keburu baunya kemana-mana." titah bu Ratna tidak mau dibantah.
Sikap lembutnya hilang ketika Fela sudah menjadi istri Aris. Dulu bu Ratna selalu lembut pada Fela kalau mereka sudah bertemu, apalagi Fela sering membelikan bu Ratna barang-barang yang tidak pernah dibelikan Shafira, mantan menantunya.
"Iss.. Dasar nenek lampir! Pantesan si Shafira kelihatan banget bahagianya bisa cerai dari mas Aris. Bisa bebas dari mertua resek begitu." gerutu Fela sambil melempar-lempar pakaian kotor yang sudah menggunung itu.
"Assalamu'alaikum.." Aris pulang dengan wajah lelah, seharian ini ia sudah berkeliling melamar pekerjaan, tapi tidak ada perusahaan yang mau menerimanya.
"Wa'alaikumsalam.." seru bu Ratna menghampiri anaknya yang terduduk lesu.
"Kamu udah dapet pekerjaan lagi kan Ris?"
"Belum bu, perusahaan yang Aris datangi tidak ada yang mau menerima Aris, padahal ada juga yang sedang membuka lowongan pekerjaan, tapi setelah melihat surat lamaran Aris, mereka langsung menolak." keluh Aris mengusap wajahnya gusar.
"Terus gimana sekarang, kamu sama Fela udah gak punya pekerjaan, uang tabungan juga gak ada, terus kita mau makan apa Ris?" ujar bu Ratna dongkol karna bulan ini ia tidak mendapat jatah bulanan dari Aris.
"Mau gimana lagi bu, Aris udah muter-muter cari kerja tapi gak dapet. Ibu tombokin dulu lah untuk sekarang, nanti kalau Aris udah dapat kerjaan Aris ganti semuanya."
"Enak aja, emas ibu yang kamu jual aja belum kamu ganti, sekarang minta ibu yang tanggung semua pengeluaran. Gak mau!" ketus bu Ratna.
"Ibu jangan perhitungan dong, kan selama ini Aris yang penuhi semua kebutuhan dirumah ini, bahkan tiap bulan ibu juga Aris kasih untuk keperluan ibu sendiri." Aris semakin pusing melihat ibunya yang tidak bisa mengerti keadaannya.
"Ya itu kan bentuk bakti kamu sama ibu yang sudah melahirkan kamu. Kalau gak karna ibu, kamu gak akan bisa sampai seperti ini." ujar bu Ratna melotot.
"Iya bu, tapi untuk sekarang ibu dulu yang penuhi kebutuhan dirumah ini. Emas simpanan ibu kan juga banyak. Nanti kalau Aris udah kerja lagi, ibu bisa beli emas lagi." ujar Aris membuat bu Ratna mendengu.
"Enak banget bisa dapat jatah tiap bulan, pantesan emas ibu banyak, pasti itu semua mas Aris yang beliin." gerutu Fela yang diam-diam menguping pembicaraan keduanya.