NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Tawa yang tadi meledak perlahan surut, menyisakan kehangatan yang menjalar hingga ke relung hati.

Rengganis menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi yang empuk, napasnya mulai teratur, dan beban di pundaknya seolah menguap bersama sisa tawanya.

Dengan sisa senyum yang masih tersungging, ia kembali memejamkan matanya, membiarkan kantuk yang kini datang dengan jauh lebih lembut.

Permadi tidak melepaskan genggaman tangannya.

Ia terus memandangi wajah istrinya di bawah cahaya temaram lampu kabin.

Dalam tidurnya, Rengganis tampak begitu tenang. Namun, sesekali sudut bibirnya berkedut, dan sebuah tawa kecil yang halus keluar dari sela bibirnya.

Rupanya, bayangan tukang nasi goreng yang melempar wajan terbawa hingga ke alam bawah sadarnya.

Melihat itu, hati Permadi berdesir. Ia merasa menang karena berhasil mengusir mendung yang sempat menutupi mata Rengganis sore tadi.

Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak membangunkan sang "Putri Tidur," Permadi mengangkat tangan Rengganis yang berada dalam genggamannya.

Ia mendaratkan sebuah ciuman lembut dan lama di punggung tangan istrinya.

"Mimpi indah, Sayang," bisiknya sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh deru mesin pesawat yang stabil.

"Di Labuan Bajo nanti, aku pastikan hanya ada tawa seperti ini. Tidak akan ada air mata lagi."

Permadi kemudian membetulkan letak selimut sutra yang menutupi tubuh Rengganis, memastikan istrinya tetap hangat.

Setelah itu, ia ikut menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sambil tetap menggenggam tangan wanita yang kini telah menjadi dunianya itu.

Pesawat terus membelah kegelapan malam, membawa mereka menuju ufuk timur, di mana matahari baru dan petualangan yang jauh lebih manis telah menunggu untuk segera dimulai.

Roda pesawat jet pribadi itu menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Komodo dengan mulus.

Begitu pintu kabin terbuka, embusan udara laut yang hangat dan segar langsung menyergap indra penciuman, membawa aroma garam dan kebebasan.

Rengganis menghirup napas dalam-dalam, merasa jauh lebih hidup setelah perjalanan panjang di atas awan.

"Selamat datang di surga, Sayang," bisik Permadi sambil merangkul pinggang istrinya saat mereka menuruni tangga pesawat.

Sebuah mobil mewah sudah menunggu di tepi landasan untuk membawa mereka langsung menuju resort eksklusif yang telah dipesan oleh kedua orang tua mereka sebagai hadiah kejutan.

Selama perjalanan, Rengganis tak henti-hentinya menatap pemandangan perbukitan gersang yang eksotis dan birunya air laut Labuan Bajo dari balik jendela.

Sesampainya di lobby hotel yang berdesain terbuka dengan pemandangan langsung ke arah laut lepas, Permadi menggenggam tangan Rengganis dengan protektif. Namun, langkah mereka terhenti saat seorang pria jangkung dengan seragam manajer hotel yang elegan berjalan cepat ke arah mereka.

Pria itu tampak terkejut, namun sedetik kemudian matanya berbinar cerah.

"Rengganis? Dokter Rengganis?" tanyanya dengan nada tidak percaya.

Rengganis mengerutkan kening sejenak, mencoba mengenali wajah di depannya.

"Affan? Kamu, Affan, kan?"

"Ya Tuhan, ini benar kamu!" Tanpa diduga, pria bernama Affan itu langsung melangkah maju dan menarik Rengganis ke dalam pelukannya.

Sebuah pelukan yang terasa sangat akrab dan hangat, seolah mereka adalah kawan lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

Permadi terpaku. Tangannya yang tadi menggenggam Rengganis terlepas begitu saja.

Ia berdiri membeku di tempatnya, menatap pemandangan di depannya dengan mata yang menggelap.

Dadanya terasa sesak, dan jantungnya berdetak kencang bukan karena lelah, tapi karena api cemburu yang tiba-tiba membakar seluruh akal sehatnya.

"Ganis, aku tidak menyangka kamu akan menginap di sini! Kamu sama sekali tidak berubah," ucap Affan sambil melepaskan pelukannya, namun tangannya masih memegang kedua bahu Rengganis dengan ramah.

Rengganis tertawa kecil, tampak benar-benar senang.

"Sudah lama sekali, Fan! Sejak kapan kamu jadi manajer di sini?"

Permadi berdeham sangat keras, sebuah suara yang penuh dengan peringatan.

Ia melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di samping Rengganis, lalu dengan gerakan posesif ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dengan erat.

"Maaf, tolong epaskan tanganmu dari istri saya? Kami datang ke sini untuk beristirahat, bukan untuk reuni."

Suasana di lobby yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sangat tegang.

Affan tampak tersentak, baru menyadari kehadiran pria berwajah sangar di samping Rengganis.

Wajah Affan seketika berubah canggung saat menyadari aura permusuhan yang terpancar kuat dari pria di depan Rengganis.

Ia melepaskan tangannya dari bahu Rengganis dan berdehem.

"Ah, maaf. Saya hanya terlalu bersemangat melihat teman lama. Saya Affan, manajer di sini sekaligus teman SMA Ganis dulu."

Permadi tidak menyambut uluran tangan Affan. Matanya menyipit, menangkap kilat memori di mata Affan yang bukan sekadar 'teman biasa'.

Ia tahu jenis tatapan itu. Itu adalah tatapan seorang pria yang pernah memiliki sejarah.

"Bukan cuma teman, kan?" sindir Permadi tajam.

"Mantan kekasih cinta monyet, maksudmu?"

Rengganis menyenggol lengan Permadi. "Mas, sudah. Itu sudah belasan tahun yang lalu."

"Belasan tahun atau baru kemarin, dia baru saja memeluk istriku di depan umum," sahut Permadi dingin.

Ia kemudian menatap Affan dengan tatapan meremehkan.

"Terima kasih sambutannya, Manajer Affan. Tapi kami ke sini untuk bulan madu, bukan untuk reuni cinta monyet yang gagal."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Affan untuk membela diri atau bagi Rengganis untuk protes, Permadi tiba-tiba merunduk dan menyusupkan lengannya di bawah lutut serta punggung istrinya.

"Mas! Apa yang kamu lakukan?!" seru Rengganis kaget saat tubuhnya melayang di udara.

Permadi membopong Rengganis dengan gaya bridal style di tengah lobby hotel yang luas.

Ia tidak memedulikan tatapan para tamu lain maupun wajah Affan yang terpaku di tempatnya.

"Kita masuk ke kamar sekarang. Aku tidak mau sisa udara di sini tercemar aroma masa lalumu," ucap Permadi tegas sambil melangkah lebar menuju lift privat yang akan membawa mereka ke Penthouse Suite.

"Turunkan aku, Mas! Malu dilihat orang!" bisik Rengganis sambil menyembunyikan wajahnya di leher Permadi karena sangat malu.

"Biarkan saja mereka lihat. Biar semua orang tahu, termasuk si manajer itu, kalau kamu milikku sepenuhnya. Jangan harap ada reuni-reunian selama aku di sini," gerutu Permadi.

Jantung Rengganis berdegup kencang. Ia bisa merasakan dada Permadi yang bidang naik turun karena emosi yang tertahan.

Ternyata, singa muda ini jauh lebih mengerikan saat cemburu daripada saat ia sedang marah karena urusan bisnis.

Sisi posesif Permadi benar-benar keluar, dan Rengganis tahu, malam ini di Labuan Bajo tidak akan dimulai dengan tenang.

Baru saja Permadi menurunkan Rengganis di tengah kamar suite mewah mereka dan menutup pintu dengan bantingan halus yang menunjukkan kekesalannya, suara ketukan kembali terdengar dari luar.

Tok! Tok!

"Selamat malam, ini Affan. Saya membawakan welcome drink spesial untuk pasangan pengantin baru," ucap Affan dengan suara yang sangat sopan dari balik pintu, namun di telinga Permadi, itu terdengar seperti tantangan perang.

Permadi membuka pintu dengan sentakan kasar. Benar saja, Affan berdiri di sana membawa nampan dengan dua gelas minuman segar berwarna gradasi merah dan kuning.

"Ini resep khusus dari hotel kami untuk menyegarkan tubuh setelah perjalanan jauh, Ganis. Semoga Anda suka—"

Belum sempat Affan menyelesaikan kalimatnya, Permadi sudah menyambar nampan tersebut.

Tanpa berkata-kata, ia mengambil gelas pertama dan meminumnya hingga tandas dalam sekali teguk.

Tak berhenti di situ, ia menyambar gelas kedua yang seharusnya untuk Rengganis dan menghabiskannya juga tanpa sisa.

Rengganis yang berdiri di belakang Permadi menutup mulutnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang hebat menahan tawa yang nyaris meledak melihat tingkah suaminya yang sangat kekanak-kanakan namun menggemaskan.

Permadi mengembalikan gelas kosong itu ke atas nampan dengan denting yang cukup keras.

Ia menatap Affan dengan tatapan puas sekaligus memperingatkan.

"Terima kasih minumannya. Sangat segar. Sekarang, boleh kami istirahat? Ini masih tengah malam dan kami punya agenda pribadi yang sangat padat," ucap Permadi dengan nada kesal yang tidak ditutup-tutupi.

Sebelum Affan sempat membalas, Permadi langsung menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat.

Ia berbalik dan mendapati istrinya sudah terduduk di pinggir ranjang sambil tertawa terbahak-bahak hingga matanya berair.

"Hahaha! Mas! Itu tadi dua gelas besar, lho! Apa perutmu tidak kembung?" tanya Rengganis di sela tawanya.

Permadi mendengus, berjalan mendekat sambil melonggarkan kancing atas kemejanya.

"Lebih baik aku kembung daripada membiarkan dia punya alasan untuk bicara lebih lama denganmu. Lagipula, apa-apaan dia membawakan minuman tengah malam begini? Itu strategi kuno!"

Rengganis menarik tangan Permadi agar duduk di sampingnya.

"Mas, dia itu cuma manajer hotel yang menjalankan tugasnya. Kamu cemburu sampai segitunya?"

Permadi menatap Rengganis tajam, lalu menarik pinggang istrinya hingga tak ada jarak di antara mereka.

"Bukan cuma cemburu, Ganis. Aku tidak suka ada pria lain yang merasa punya 'sejarah' denganmu. Sejarahmu sudah selesai saat kamu menikah denganku. Sekarang, yang ada cuma masa depan."

Permadi mengecup leher Rengganis dengan posesif, membuat tawa wanita itu perlahan berganti menjadi embusan napas yang tertahan.

1
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
Fitra Sari
makasihh Thor ...update selalu ..pkoknya lope2 seneng banget 🤣🤣😍
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 🤣😍😍😍😍
my name is pho: ok kak
sabar 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel2 up donk ..syuka banget sama karya2 KK ...seru banget pkok ya greget banget 🤣😍😍
my name is pho: ok kak
🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk 😍😍😍
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
Sherin Loren
lanjut thor😎
Fitra Sari
lanjut KK ...serius bagus banget ..doubel2 pkoknya 🙏🙏😘
Fitra Sari
lanjut doubel donk KK
my name is pho: sudah kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!