Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Warisan Kehampaan
Suara itu tidak terdengar oleh telinga fisik, melainkan bergema langsung di dalam sumsum tulang dan lipatan terdalam kesadarannya, dingin namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Ye Chenxu mengepalkan tangan, mencoba merasakan tekstur daging dan tulangnya sendiri untuk memastikan ia belum gila.
“Di mana aku?”
“Di ambang kehancuran dan kelahiran kembali,” jawab sosok itu sambil melangkah mendekat, dan seketika ruang di sekeliling mereka beriak hebat seolah-olah realitas hanyalah permukaan air yang dijatuhi batu.
“Ini adalah ujian warisan kehampaan. Di sini, bukan kekuatan ototmu yang diuji, bukan pula luasnya Dantianmu. Di sini, yang dipertaruhkan adalah kesadaranmu.”
Sebelum Ye Chenxu sempat melontarkan pertanyaan lebih jauh, dunia di sekelilingnya tiba-tiba pecah. Suaranya memekakkan telinga, seperti ribuan cermin raksasa yang runtuh bersamaan.
Ketika pandangannya kembali jernih, rasa dingin yang menusuk segera menyapa kulitnya. Ia tidak lagi berada di ruang gelap, melainkan berdiri di tengah halaman kecil kediaman klan Ye.
Salju turun perlahan, menutupi atap-atap bangunan yang angkuh dengan warna putih yang palsu. Angin dingin khas musim gugur akhir menusuk tulang, membawa aroma kayu bakar dan penghinaan yang sudah sangat ia kenal.
Di sudut halaman, seorang wanita paruh baya duduk bersimpuh di depan bak kayu besar. Itu adalah ibunya.
Tangannya yang pecah-pecah memegang papan cuci, gemetar hebat menahan dinginnya air yang nyaris membeku.
Wajahnya pucat, matanya sayu, namun ia tetap menggosok kain demi kain tanpa satu pun keluhan yang keluar dari bibirnya.
Tiba-tiba, seorang murid klan berpakaian sutra mewah lewat. Dengan seringai meremehkan, ia menendang ember air di samping ibunya hingga tumpah membasahi pakaian yang hampir bersih.
“Cepat sedikit, pelayan!” bentak murid itu. “Kau pikir kau masih tamu terhormat di sini? Kau dan anak harammu itu hanya beban bagi klan!”
Ibunya tersungkur ke tanah yang dingin dan basah. “Maaf ... maafkan saya, Tuan Muda ...” bisiknya parau sambil mencoba memungut embernya kembali.
Darah di dalam tubuh Ye Chenxu mendidih. Amarah yang selama ini ia tekan meledak seperti gunung berapi. Ia melangkah maju secara refleks, tangannya terulur.
“Ibu!”
Namun, tubuhnya menembus bayangan ibunya. Tangannya hanya menangkap udara dingin.
Adegan berubah dengan kecepatan yang memusingkan. Ia melihat dirinya yang masih kecil dipukuli di halaman latihan hingga wajahnya tak lagi dikenali.
Ye Chenxu mendengar cemoohan para tetua yang menyebutnya sampah tak berguna. Dia merasakan kembali momen ketika tubuhnya yang penuh luka dilempar keluar gerbang klan Ye dan dibiarkan mati di bawah guyuran hujan lebat.
Semua rasa sakit, setiap tetes penghinaan, dan jurang keputusasaan yang pernah ia lalui mengalir deras kembali ke dalam jiwanya, mencoba menenggelamkan logikanya.
“Kau membenci mereka, bukan?” suara bayangan kuno itu bergema di balik kesadarannya, membujuk dan memprovokasi.
Ye Chenxu menggertakkan gigi hingga rahangnya terasa nyeri. “Ya. Aku membenci mereka lebih dari kematian itu sendiri.”
“Maka bunuhlah.”
Di hadapannya, ruang berdistorsi. Para tetua klan Ye—orang-orang yang memerintahkan penyiksaan terhadapnya dan ibunya di masa lalu—muncul dalam kondisi terikat oleh segel kehampaan hitam.
Mereka berlutut, wajahnya penuh ketakutan yang menjijikkan dan tidak bisa bergerak maupun melawan.
Hanya satu pikiran, satu serangan, dan mereka semua akan lenyap menjadi abu.
Tangan Ye Chenxu bergetar hebat. Ujung jarinya sudah memancarkan aura hitam yang mematikan.
Namun, di tengah gemuruh amarahnya, ia melihat bayangan ibunya di sudut matanya—bayangan wanita yang selalu mengajarkannya tentang martabat, bukan sekadar pembalasan.
Perlahan, ia menurunkan tangannya. Auranya memudar.
“Belum,” ucapnya datar.
“Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan?” tanya bayangan kuno itu.
“Karena jika aku membunuh mereka di sini, dalam ilusi yang diciptakan untuk memuaskan nafsuku, aku tidak berbeda dari kehampaan yang membutakan. Aku tidak akan membiarkan dendamku menjadi rantai yang menyeretku menjadi monster tanpa arah. Aku akan membunuh mereka di dunia nyata, dengan tanganku sendiri, saat aku benar-benar berdiri di atas mereka.”
Keheningan kembali menyelimuti ruang ilusi. Bayangan kuno itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengeluarkan suara yang mirip dengan helaan napas lega.
“Kau menolak kepuasan sesaat demi jalan yang lebih kelam. Kau lulus dari ujian emosi.”
Setelah gema suaranya selesai, adegan itu runtuh dan hancur menjadi debu cahaya.
Dunia berubah lagi. Kini Ye Chenxu berdiri di sebuah ruang batu yang lembap dan dingin—penjara bawah tanah klan Ye.
Ibunya terikat pada sebuah pilar batu yang kasar. Darah mengalir dari keningnya, membasahi wajahnya yang lelah.
Seorang tetua klan Ye yang paling ia benci berdiri di depan ibunya, pedang panjang terangkat tinggi di udara, siap untuk memenggal.
“Berlutut, Ye Chenxu! Berlutut dan serahkan warisanmu, atau ibumu mati di depan matamu!” teriak sang tetua.
Napas Ye Chenxu tersendat. Dadanya terasa seperti diremas oleh tangan besi. Meskipun logikanya berteriak bahwa ini adalah ilusi, rasa takut dan perih di hatinya terasa begitu nyata hingga ia nyaris kehilangan pijakan.
“Ini adalah dilema terakhir,” suara bayangan kuno itu terdengar dingin tanpa belas kasihan.
“Jika kau memilih menjadi pewaris kehampaan mutlak, kau harus melepaskan semua ikatan ini. Kehampaan adalah ketiadaan. Kau akan kehilangan rasa takut, rasa sakit, dan semua emosi ini. Kau akan menjadi dewa yang tak tersentuh, namun kau tidak akan lagi merasakan cinta untuk ibumu. Pilih: kemanusiaan yang lemah, atau kekuatan yang hampa?”
Sunyi menyelimuti ruang itu. Ye Chenxu menatap wajah ibunya yang meski dalam ilusi, tampak menatapnya dengan penuh harap agar ia tetap menjadi anak yang baik.
“Aku tidak ingin hidup sebagai dewa yang tidak lagi mengenal rasa,” bisiknya. “Karena jika aku tidak bisa lagi mencintai ibuku, untuk apa aku membalas dendam? Namun, aku juga tidak ingin mati sebagai manusia lemah yang hanya bisa menangis melihat orang tercintanya disakiti.” jawabnya sambil memejamkan mata
Setelah memberikan jawaban itu, dia kembali membuka mata, kilatan hitam pekat memenuhi pupilnya.
“Aku akan memikul keduanya. Aku akan menjadi kehampaan yang memiliki hati, dan aku akan menjadi kehancuran yang memiliki alasan!”
Bayangan kuno itu terdiam, lalu terdengar tawa pelan yang bergetar.
“Kau serakah, bocah. Kau ingin menelan kutub yang berlawanan ... namun justru karena keserakahan yang murni itulah, kau layak menyandang namaku.”
Ilusi itu pun kembali runtuh.
Gelombang energi kehampaan yang sebenarnya kini menghantam kesadarannya tanpa ampun. Kali ini bukan lagi penglihatan, melainkan rasa sakit fisik yang nyata.
Tubuhnya terasa remuk, setiap selnya seolah ditarik paksa ke dimensi lain. Jiwanya seolah tercabik menjadi jutaan kepingan kecil sebelum disatukan kembali.
Ye Chenxu melihat bayangan dirinya sendiri di masa depan dalam kilasan-kilasan singkat. Sosok yang dingin dan berdiri di atas tumpukan mayat dengan tatapan yang bisa membekukan lautan.
“Ini adalah kemungkinan akhir dari jalanmu jika kau gagal menjaga kesadaranmu. Kau bisa menjadi bencana yang menelan dunia tanpa sadar,” peringat bayangan kuno.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭