"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegagalan Raisa
"Argh!" erang Rangga terbangun dari tidurnya.
Menekan pelan kepala yang masih berdenyut, matanya melirik sadar, mendapati diri dalam kondisi telanjang.
Perlahan mendongak, menatap langit kamar hotel yang bahkan belum dia pesan.
Potongan pakaian berserakan di atas lantai, ingatannya kabur, entah apa yang terjadi sampai dia tak sadarkan diri.
Rangga bangkit duduk bersandar sebelum menoleh ke sisi lain dan mendapati seorang gadis tidur memunggunginya,
"Kenapa aku ga inget apapun?" gumam Rangga mengernyit, tak mau ambil pusing selagi rencananya berhasil.
Berpikir kalau dia sudah menghabiskan malam bersama Nila,
Tangannya terulur, menepuk pelan lalu membalikkan punggung tersebut. Namun siapa sangka, yang terlelap di sana malah wanita lain.
"Hei! Bangun!" Rangga mengernyit kesal, menepuk kasar pipi Raisa.
"Ng? Kamu sudah bangun?" ucap Raisa terdengar letih,
Terbangun karena rasa sakit yang mengejutkan pipi. Dengan santai Raisa meregangkan tangan lalu beranjak duduk,
Sembari memegang selimut yang menutupi tubuhnya, Raisa bersandar dan tersenyum manis menyapa Rangga.
"Apa yang kamu lakukan? Dimana Nila--kenapa kamu yang di sini? tanya Rangga kebingungan,
Menyadari ulah yang tak pernah direncanakan. Pantas ingatannya buram, pasti ini efek obat yang juga dicampurkan ke dalam gelasnya.
Sorot mata Rangga melesat tajam, dibuat geram oleh penampilan Raisa.
Rambut acak-acakan serta riasan wajah yang tak terhapus rata membuat Rangga jijik,
"Kenapa sih cuma Nila yang kamu tanyakan? Dia sudah ada di tempat yang tepat--lupakan saja dia," menyahuti dengan muka masam,
"Aku siap menjadi istri yang baik---jangan khawatir, aku pasti bisa memuaskanmu."
Berlagak manja, begitu percaya diri bisa merayu hati seseorang. Raisa mendekat, hendak bersandar namun ditepis kasar.
"Istri? Jangan pikir setelah berhasil menjebakku kamu mau menjadi anggota keluarga Wijaya? Mimpi!" ketus Rangga meremehkan,
Beranjak turun dari ranjang dan mengutip celana pendek yang tergeletak di atas lantai.
"Begini saja sudah untung buatmu! Malah sok mau jadi istri. Dasar ga tahu malu!"
"T-tapi bukannya kamu sendiri yang bilang mau menjadikan Nila istri? Kenapa aku tidak bisa..." gadis itu mendekat meminta penjelasan.
Jangan sampai kehilangan kesempatan untuk mengangkat derajatnya.
Raisa dengan segala upaya langsung memelas, sayangnya hal itu tak cukup kuat dalam meluluhkan Rangga.
"Hei bodoh, jangan bandingin kamu sama Nila!" cibirnya mecengkram kuat pipi Raisa hingga membuat kesakitan.
"Kamu itu ga bisa menyaingi Nila walau cuma seujung kuku!"
Menghempas tubuh Raisa hingga terhuyung mundur,
"Nila, jutaan persen lebih cantik darimu. Dia juga lebih pintar!"
"Sadar diri...kamu itu cuma kerikil jalanan! Kerikil sepertimu ga pantas menjadi menantu keluarga Wijaya," ujar Rangga terus memberi cibiran.
"Sial! Padahal tinggal sedikit. Tapi, semuanya gagal gara-gara jalang ini."
Rangga mengacak-acak rambutnya, melampiaskan amarah.
"Dimana Nila sekarang?"
Raisa hanya menunduk, mematung tanpa sahutan.
"Katakan, dimana Nila? Apa yang kamu lakukan padanya?" menjambak kuat rambut Raisa hingga mendongak,
"Aku menjualnya ke tempat prostitusi." sahut Raisa mengernyit kesakitan,
"Apa?!" Rangga terkejut dibuat geram oleh kebodohan gadis itu. Tak rela kalau Nila sampai disentuh pria lain,
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berdatangan dari arah pintu, tampak berkumpul keramaian di luar sana.
"Kenapa ada wartawan di sini?"
Rangga menoleh dengan kedua mata membulat, menatap Raisa untuk meminta penjelasan.
"Aku ga ngapa-ngapain, bukan aku yang manggil mereka..." menggeleng cepat agar terbebas dari tuduhan.
BRAK! Pintu terbuka paksa dari luar.
Benar saja, sudah ada puluhan wartawan berbaris membawa kamera di tangan. Semuanya begitu antusias melihat penampilan Rangga yang hanya memakai celana pendek,
"Itu beneran Pak Rangga! Jadi benar kalau dia berselingkuh dan suka ganti-ganti wanita." celetuk salah satu wartawan sibuk mengambil foto,
"Cepat! Foto juga pasangannya,"
"Stop! Jangan foto aku." pekik Raisa merasa risih, sigap menutupi wajahnya.
Dalam sekejap seluruh kamar dipenuhi silau cahaya dari kamera mereka.
CEKREK!
CEKREK!
CEKREK!
Sedangkan Rangga tak ingin tinggal diam, menunduk cepat mengambil kembali bajunya lalu menyelinap pergi, selagi para wartawan sibuk menyudutkan Raisa.
"Hentikan. Sudah cukup, jangan memfotoku lagi!"
"Pergi dari sini!" usir Raisa memekik keras,
"PERGI!"
Di sisi lain,
Nasib pria mesum yang tak sengaja membeli Nila sungguh memprihatinkan. Dia duduk tersungkur dalam kondisi wajah babak belur,
Berharap siksaannya berhenti setelah mendapat ratusan pukulan keras yang menemaninya sepanjang malam.
"Apa kalian tahu siapa ayahku? Dia dewan direksi perusahaan Wijaya. Salah satu pemilik saham terbesar," ucapnya dengan suara gemetaran.
Berusaha menunjukkan kuasa agar berhenti dipukuli. Namun sikap angkuhnya justru menambah kekesalan Herman,
Dijambaknya kuat kepala sandera hingga dia mendongak. "Ayahmu tidak akan bisa berbuat apapun!"
"Apa kamu tahu DaungGroup? Perusahaan yang masuk urutan teratas di seluruh dunia. Pimpinan DaungGroup adalah orang yang kulayani, lalu wanita yang sudah kamu sentuh itu---adalah istrinya!"
"Apa...?" Dia terbelalak,
Tak percaya jika dirinya telah membangunkan sang singa.
"Maaf kan aku! Aku tidak tahu kalau dia orang penting."
"Aku hanya bersenang-senang dan membeli gadis yang ditawarkan padaku, itu saja!" jawabnya membela diri, memohon untuk diampuni.
"Aku tidak bersalah,"
"Aku mohon, lepaskan aku. Aku akan memberikan semua yang aku punya!"
"Tapi sayang sekali, kamu sudah kehilangan segalanya."
BUAK!!
Satu pukulan lagi, menumbangkan kembali tubuh yang hendak bangkit.
"Tunggu saja. Pagi ini, seluruh tv dan koran akan dipenuhi berita tentang bangkrutnya keluarga Kusuma."
"Jadi, tak ada lagi yang bisa kamu berikan kepadaku..."
"Oh ya, aku hampir lupa! Tuanku meminta kedua tanganmu. Sebagai hadiah,"
"Syukurlah...sepertinya masih ada barang berharga yang bisa kamu berikan untukku."
"Dengan begini, kamu bisa segera bebas."
Herman menyeringai licik, mengacungkan telunjuknya ke bawah sebagai isyarat.
Membuat kedua pengawal bergerak. Mereka berdiri menginjakkan satu kaki, di masing-masing tangan pria yang terbaring di atas lantai.
"Jangan, jangan."
"Aku mohon maafkan aku---" ketakutan melihat telapak tangannya bersiap untuk ditarik.
"Aku akan cari cara lain. Biarkan aku bertemu bosmu! Aku siap berlutut, bahkan mencium kakinya..."
"Tunggu dulu. Jangan..."
"AAA!!!!!"
Jangan lupa tinggalkan komen ya/Pray//Kiss/
Komen kalian menambah semangat author dalam menulis, biar lebih sering updatenya. Hehe...