Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Kecurigaan Hanin & Aisyah
Pagi di pesantren selalu datang dengan kesederhanaannya sendiri.Tidak dramatis. Tidak tergesa. Tapi penuh keteraturan.
Cahaya matahari masuk perlahan melalui sela jendela ruang belajar, membentuk garis-garis tipis di lantai keramik yang dingin. Suara sapu lidi dari halaman masih terdengar samar, bercampur dengan lantunan hafalan dari kelas kecil di sebelah.
Setelah salat Dhuha, Hanin dan Aisyah kembali ke ruang belajar seperti biasa.
Ruangan itu tidak besar. Hanya cukup untuk beberapa orang duduk bersila. Rak kecil berisi Iqro dan mushaf tersusun rapi di sudut. Di tengah ruangan, alas duduk sudah disiapkan.
Mereka menunggu kedatangan Arsenio. Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat lima puluh.
Aisyah menatap pintu sebentar, lalu beralih pada Hanin yang sedang merapikan buku. “Hanin,” panggilnya pelan.
“Hm?”
Aisyah terlihat ragu sejenak, seperti mempertimbangkan apakah pertanyaannya perlu diucapkan atau tidak.
“Kamu … nggak merasa agak ganjil dengan Arsenio?”
Hanin berhenti merapikan buku. Ia menoleh.
“Ganjil?”
Aisyah mengangguk. “Iya.”
“Maksudnya?”
Aisyah menarik napas kecil sebelum menjawab. “Kenapa dia harus belajar denganmu?”
Hanin mengernyit sedikit. “Kan sudah dijelaskan. Dia direkomendasikan kerabat.”
“Iya, aku tahu,” kata Aisyah cepat. “Tapi tetap saja … agak sedikit janggal."
Ia memiringkan kepala. “Dilihat dari gayanya … dia bukan orang sembarang.”
Hanin diam. Aisyah melanjutkan, “Maksudku … dia terlihat seperti orang yang punya akses ke banyak hal. Kalau mau belajar ngaji, pasti dia bisa bayar ustaz terbaik di kota. Bahkan yang terkenal sekalipun.”
Hanin tidak langsung menjawab. Kalimat itu masuk akal. Ia mencoba mengingat. Mobilnya. Pakaiannya yang sederhana tapi jelas berkualitas. Cara bicaranya yang tenang.
Dan sikapnya yang—walau sopan—terlihat seperti orang yang terbiasa berada dalam kendali. Memang agak mengherankan.
Kenapa seseorang seperti itu datang ke pesantren kecil di pinggiran untuk belajar dari nol?
Hanin menatap lantai sejenak. “Iya juga,” ucapnya pelan.
Aisyah mengangkat alis. “Kamu juga kepikiran?”
“Sekarang … iya.”
Hening sejenak. Suara langkah santri kecil berlari di lorong terdengar sebentar, lalu hilang.
Jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Dan saat itu suara mobil memasuki halaman pondok terdengar jelas dari luar.
Aisyah dan Hanin saling pandang. “Datang,” kata Aisyah pelan.
Tak lama kemudian, langkah kaki mendekat. Lalu ketukan ringan di pintu. “Assalamu’alaikum.”
Suara itu tenang. Seperti biasa.
Hanin membalas, “Wa’alaikumussalam. Silakan masuk.”
Pintu terbuka. Arsenio masuk dengan langkah yang tidak tergesa. Ia menunduk sedikit sebagai tanda hormat sebelum duduk.
“Maaf jika sedikit terlambat,” ucap Arsenio.
“Tidak,” jawab Hanin. “Tepat waktu.”
Beberapa basa-basi ringan terjadi. Tentang cuaca. Tentang perjalanan dan tentang bagaimana hari dimulai.
Beberapa saat bercerita, mereka kembali ke rutinitas. Iqro dibuka. Huruf demi huruf dibaca ulang.
Arsenio belajar dengan keseriusan yang sama seperti sebelumnya. Tanpa gengsi. Dan tak ada keluhan.
Jika salah, ia mengulang. Jika ragu, ia bertanya. Dan seperti biasanya, waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang disadari.
Satu setengah jam berlalu. Ketika sesi selesai, Aisyah berdiri untuk mengambil teh dan kue kecil yang sudah disiapkan.
Ia meletakkannya di tengah. Suasana menjadi sedikit santai.
Arsenio mengucapkan terima kasih pelan sebelum mengambil cangkir. Aisyah memandangi Aesenio. Dia ingin tahu apa yang tadi dipikirkan. Tapi, sepertinya gadis itu sedikit ragu.
Namun akhirnya, ia memberanikan diri. “Mas Arsen … boleh saya bertanya?”
Arsenio menoleh. “Tentu.”
Aisyah tersenyum tipis. “Mas dari kota belajar ngaji ke sini … apakah tidak kejauhan?”
Arsenio tampak tidak langsung menjawab.
Aisyah melanjutkan dengan nada hati-hati, “Tidak capek?”
Ada jeda. Pria itu tak menjawab. Dia terdiam. Arsenio tampak gugup.
Ia menarik napas sebelum menjawab. “Aku … malu belajar dengan ustaz di kota.”
Hanin mengangkat pandangannya. “Kenapa malu?” tanyanya. “Bukankah kita ingin belajar?”
Arsenio tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam cangkir sedikit lebih erat. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan wajahnya.
Seperti seseorang yang sedang memilih kata dengan sangat hati-hati.Namun sebelum ia menjawab, tiba-tiba ia beralih ke pertanyaan lain.
“Apakah Hanin masih sering pulang … ke makam ayah dan ibunya?”
Hanin membeku. Pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba. Ia menatap Arsenio.
“Mas … tahu dari mana kalau kedua orang tuaku sudah meninggal?”
Arsenio jelas terlihat terkejut dengan reaksinya sendiri. Seperti menyadari ia baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.
“Aku … cari tahu.”
Hanin masih menatapnya. “Cari tahu?”
“Iya.”
“Bagaimana?”
Arsenio menelan. “Aku … juga sempat bertanya kepada Ustaz Hamid.”
Ruangan mendadak terasa berbeda. Sunyi, karena ketiganya larut dalam pikiran masing-masing.
Hanin menatap Arsenio dengan pandangan yang tidak sama seperti sebelumnya. Ada sesuatu di sana. Sedikit curiga. Walau tak mengerti apa yang harus dicurigai dari pria itu. Namun, hatinya berkata kalau pria itu menyimpan satu rahasia.
Arsenio menyadarinya. Dan itu membuatnya panik. Ia segera mencari topik lain.
“Besok,” katanya cepat, “aku ingin belajar lebih lama.”
Aisyah dan Hanin saling pandang sekilas.
“Aku akan membayar lebih untuk tenaga kalian.”
Hanin langsung menjawab. “Tidak perlu.”
Arsenio terdiam. Dia pikir kedua gadis itu menolak mengajarinya.
Hanin melanjutkan dengan lembut, “Kami ikhlas.”
Hanin tersenyum kecil. “Jika ingin mengeluarkan uang … mungkin bisa disumbangkan saja untuk musala.”
Aisyah mengangguk setuju. Arsenio tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan.
“Baik.”
Beberapa menit kemudian, ia pamit. “Terima kasih untuk hari ini.” Arsenio pamit. Sebelum meninggalkan ruangan, dia mengucapkan salam.
Hanin membalas salamnya. Pintu tertutup. Dan keheningan kembali mengisi ruangan. Namun kali ini tidak terasa sama.
Sementara itu, di dalam mobilnya Arsenio duduk dalam diam. Mesin menyala. Mobil bergerak keluar dari halaman pesantren.
Ia menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras.
Lalu berbisik pelan, “Aku tak boleh membuat Hanin curiga.”
Ia menarik napas panjang. “Aku harus bisa dekat dulu agar dia bisa sepenuhnya menerimaku, baru aku jujur."
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??