NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Hati Dalam Satu Dada

Malam itu Rizky tak bisa memejamkan mata. Ia berguling ke kiri, ke kanan, tapi bayangan dua wajah terus menghantuinya. Sasha dengan senyum cerianya yang tulus. Ima dengan tatapan sendunya yang penuh arti. Dua perempuan, dua dunia berbeda, dan ia berada tepat di tengah-tengah.

Ponselnya bergetar berkali-kali—pesan dari Ima yang bertanya apakah ia sudah sampai di kost dengan selamat, pesan dari Sasha yang mengingatkan untuk tidak begadang. Rizky membalas keduanya dengan singkat, lalu mematikan ponsel.

Pukul tiga pagi, ia akhirnya tertidur dengan gelisah. Mimpi-mimpi aneh datang silih berganti. Ima dan Sasha bergantian muncul, menarik tangannya ke arah berbeda, hingga ia merasa seperti akan robek.

---

Pagi harinya, Rizky bangun dengan mata sembab dan kepala pusing. Ia bermalas-malasan di kamar sampai hampir terlambat ke sekolah. Wira sudah mengirim belasan pesan bertanya di mana dirinya.

Sesampainya di sekolah, bel masuk sudah berbunyi. Rizky menyelinap masuk ke kelas saat pelajaran baru dimulai. Beberapa siswa menoleh, termasuk Sasha yang langsung menatapnya dengan pandangan khawatir.

Rizky duduk di bangkunya, berusaha fokus pada pelajaran, tapi gagal total. Pikirannya melayang terus ke pertemuan tadi malam dengan Ima. Kata-kata Ima masih terngiang: "Ima cuma minta... jangan buang Ima dari hidup lo."

Istirahat pertama tiba. Rizky baru saja hendak keluar kelas, tapi Sasha sudah menghadangnya di depan pintu.

"Rizky, kita perlu bicara." Suaranya pelan tapi tegas.

Mereka berjalan ke taman belakang—tempat yang sama di mana kemarin Rizky menceritakan semuanya pada Wira. Sasha duduk di bangku, Rizky duduk di sampingnya dengan jarak sedikit renggang.

"Cerita," kata Sasha singkat. "Semuanya."

Rizky menghela napas panjang. Ia menceritakan pertemuannya dengan Ima malam itu. Tentang kondisi Ima yang lebih kurus. Tentang perceraiannya dengan Heru. Tentang pengakuan Ima yang masih sayang padanya.

Sasha mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya berusaha tenang, tapi jari-jarinya yang saling bertaut menunjukkan kegelisahan.

"Jadi... dia minta balikan?" tanya Sasha setelah Rizky selesai.

"Dia nggak minta balikan. Dia cuma minta... jangan dibuang dari hidupnya."

Sasha tertawa getir. "Maksudnya? Mau jadi selingkuhan lagi? Lo ingat, Zky, dia masih istri orang? Meskipun proses cerai, secara hukum dia masih terikat."

Rizky diam. Ia tak memikirkan itu.

"Aku nggak mau jadi orang jahat, Zky. Tapi aku juga harus jaga diri aku sendiri." Sasha menatapnya. "Lo harus pilih."

"Sha..."

"Aku nggak bisa terus-terusan nunggu lo galau. Aku juga punya perasaan." Mata Sasha mulai berkaca-kaca. "Aku sayang lo, Zky. Tapi kalau hati lo masih sama dia, lebih baik lo jujur dari sekarang."

Rizky meraih tangannya. "Sha, gue beneran nggak tahu harus gimana. Gue sayang lo, tapi Ima... dia masa lalu gue yang susah dilupain."

"Aku nggak minta lo lupa dia. Aku cuma minta lo mutusin, mau sama siapa." Sasha menarik tangannya pelan. "Karena aku nggak bisa jadi cadangan. Nggak bisa jadi pilihan kedua."

Mereka diam cukup lama. Angin berhembus pelan, membawa daun-daun kering berterbangan.

"Aku kasih lo waktu seminggu, Zky." Sasha berdiri. "Seminggu buat mutusin. Tapi ingat, kalau lo pilih dia, aku akan pergi. Dan aku nggak akan kembali."

Sasha berbalik dan pergi, meninggalkan Rizky yang terpaku di bangku.

---

Sepanjang hari itu, Rizky tak bisa berkonsentrasi. Nilai ulangannya anjlok, guru-guru menegurnya, tapi ia tak peduli. Pikirannya hanya pada dua pilihan yang harus diambil.

Pulang sekolah, Wira menemaninya ke kantin. Mereka duduk di meja favorit, memesan es teh dan gorengan.

"Gue lihat lo kayak mayat hidup," Wira memulai. "Sasha cerita sedikit. Lo harus pilih, ya?"

Rizky mengangguk lesu. "Gue bingung, Ra. Dua-duanya berarti buat gue."

Wira menghela napas. "Gue tahu ini berat. Tapi lo harus ingat satu hal."

"Apa?"

"Sasha datang saat lo hancur. Dia nungguin lo sembuh. Dia nggak pernah protes meskipun lo masih sering melamunin Ima. Dia terima lo apa adanya." Wira menatapnya serius. "Sementara Ima... dia pergi saat lo paling butuh dia. Dia ninggalin lo tanpa kabar. Dan sekarang dia balik karena dia butuh lo."

Rizky diam, mencerna kata-kata Wira.

"Gue nggak bilang Ima jahat. Tapi lo lihat sendiri, Zky. Siapa yang setia sama lo dari awal sampai sekarang?"

"Tapi Ima... gue punya sejarah sama dia, Ra."

"Sejarah itu masa lalu. Hidup adalah masa depan." Wira menepuk bahunya. "Pikirkan baik-baik. Jangan sampai lo nyesel."

---

Malam harinya, Rizky menerima pesan dari Ima.

"Rizky, Ima mau ketemu lagi. Ada yang mau Ima kasih. Penting."

Rizky menatap layar ponselnya lama. Lalu ia membalas: "Sekarang?"

"Iya. Di rumah. Sendirian."

Rizky menghela napas. Ia berpakaian dan meluncur ke rumah Ima.

Sesampainya di sana, Ima sudah menunggu di teras. Ia memakai daster rumah berwarna krem, rambutnya tertutup hijab tipis. Wajahnya lebih segar dari kemarin, sepertinya sudah lebih istirahat.

"Masuk," kata Ima.

Rizky masuk. Di ruang tamu, ada sebuah kotak kado di atas meja.

"Ini buat kamu." Ima menyodorkan kotak itu. "Sebenernya udah lama Ima siapin. Dari sebelum Ima pindah. Tapi nggak sempat ngasih."

Rizky membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya ada sebuah album foto. Album yang berisi foto-foto mereka berdua—foto saat jalan-jalan ke mall, foto saat masak bersama di dapur, foto selfie di kamar Ima. Semua kenangan indah yang sempat mereka lalui.

Rizky membuka halaman demi halaman. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Di balik halaman terakhir ada surat," bisik Ima.

Rizky membalik ke halaman terakhir. Sebuah amplop putih terselip di sana. Ia membukanya. Surat tulisan tangan Ima.

"Untuk Rizky, cinta pertamaku,"

Kalau kamu baca surat ini, berarti Ima udah jujur sama kamu. Ima minta maaf udah pergi tanpa kabar. Ima minta maaf udah ninggalin kamu di saat kamu butuh Ima. Tapi Ima punya alasan. Ima nggak mau kamu terlibat lebih dalam dengan masalah Ima.

Rizky, kamu tahu nggak? Kamu adalah orang pertama yang bikin Ima ngerasa dicintai dengan tulus. Bukan sebagai guru, bukan sebagai istri orang, tapi sebagai Ima. Sebagai perempuan.

Ima sayang kamu. Sampai kapan pun. Tapi Ima sadar, hubungan kita nggak benar. Ima guru kamu. Ima udah punya suami. Dan Ima udah tua.

Makanya Ima pergi. Biar kamu bisa hidup normal. Biar kamu bisa nemuin cinta yang benar.

Tapi Ima titip satu pesan: Jangan pernah lupain Ima. Simpan kenangan kita di hati. Dan kalau suatu hari nanti kamu bahagia sama orang lain, Ima akan ikut bahagia.

Makasih udah pernah jadi bagian hidup Ima.

Ima sayang kamu.

Ima."

Rizky membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh, membasahi kertas.

"Ima..." suaranya serak.

Ima meraih tangannya. "Rizky, Ima tahu lo sekarang sama Sasha. Dan Ima seneng. Dia kelihatan baik. Ima nggak akan ganggu hubungan kalian."

"Terus lo ngasih ini buat apa?"

"Buat perpisahan." Ima tersenyum getir. "Ima mau pamit beneran. Ima mau kembali ke kampung halaman. Mulai hidup baru di sana."

Rizky terkejut. "Lo mau pergi?"

"Iya. Ima udah nggak ada alasan buat tinggal di sini. Rumah ini juga bakal Ima jual. Ima mau mulai dari nol." Ima mengusap air matanya. "Sebelum pergi, Ima mau pamit sama kamu. Beneran pamit."

Rizky diam. Hatinya perih.

"Rizky, jaga Sasha baik-baik. Dia beruntung punya kamu." Ima berdiri. "Ima pamit."

Ia berbalik, berjalan menuju pintu. Tapi langkahnya terhenti saat Rizky memanggil.

"Ima!"

Ima menoleh.

"Lo... lo nggak usah pergi."

Ima menggeleng. "Harus, Rizky. Ini yang terbaik."

"Tapi—"

Ima kembali mendekat. Ia meraih wajah Rizky dengan kedua tangannya. "Rizky, denger. Ima sayang kamu. Tapi Ima nggak mau jadi penghalang kebahagiaan kamu. Lo pantas dapet yang lebih baik dari Ima. Lo pantas dapet Sasha."

Ia mengecup kening Rizky lembut. Lalu berbalik dan pergi, kali ini benar-benar pergi.

Rizky mematung, menatap pintu yang tertutup. Air matanya terus mengalir. Ia tahu, ini mungkin terakhir kalinya ia melihat Ima.

---

Keesokan harinya, Rizky mendatangi Sasha di kostnya. Sasha membuka pintu dengan wajah kaget.

"Rizky? Lo kenapa? Kok nangis?"

Rizky tak menjawab. Ia langsung memeluk Sasha erat.

"Iya udah pergi, Sha," isaknya. "Ima udah pergi."

Sasha diam, lalu membalas pelukan itu. "Pergi ke mana?"

"Ke kampungnya. Mulai hidup baru. Dia... dia pamit."

Sasha mengusap punggung Rizky. "Lo sedih?"

Rizky mengangguk dalam pelukannya.

"Itu wajar, Zky. Dia pernah jadi bagian penting hidup lo." Sasha melepas pelukan, menatap matanya. "Tapi sekarang dia udah pergi. Dan lo harus move on. Beneran move on."

Rizky menatapnya. "Lo masih mau sama gue?"

Sasha tersenyum. "Aku pernah bilang, aku kasih lo waktu seminggu. Sekarang baru hari kedua. Masih ada lima hari lagi."

"Tapi gue nggak mau nunggu lima hari. Gue mau jawab sekarang."

Sasha menahan napas.

"Gue milih lo, Sha." Rizky menggenggam tangannya. "Gue sayang lo. Ima adalah masa lalu yang indah, tapi lo adalah masa depan gue."

Sasha menatapnya lama. Lalu air matanya jatuh.

"Lo serius?"

"Gue serius. Dan gue minta maaf udah bikin lo nunggu dan bingung."

Sasha memeluknya erat. "Bodoh. Nggak usah minta maaf. Yang penting lo udah milih."

Mereka berpelukan lama di depan pintu kost Sasha. Malam mulai turun, lampu-lampu jalan mulai menyala. Tapi mereka tak peduli.

---

Minggu-minggu berikutnya, hubungan Rizky dan Sasha makin kuat. Rizky benar-benar berusaha move on dari Ima. Ia melepas jam tangan pemberian Ima dan menyimpannya di kotak kenangan. Ia juga berhenti mencari kabar tentang Ima.

Ima sendiri benar-benar pergi. Rumah lamanya dijual, nomor teleponnya tidak aktif. Seperti ia tak pernah ada.

Tapi kadang, di malam-malam tertentu, Rizky masih memikirkan Ima. Bukan dengan rasa sakit, tapi dengan rasa syukur. Karena dari Ima, ia belajar banyak hal. Tentang cinta, tentang dosa, tentang konsekuensi.

Sasha selalu ada saat itu terjadi. Ia tak pernah cemburu, tak pernah marah. Ia hanya memeluk Rizky dan berkata, "Aku di sini. Nggak ke mana-mana."

Dan Rizky tahu, ia membuat pilihan yang tepat.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!