NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMBISI AYAHNYA DAN OBSESI DIPTA

Matahari pagi telah tinggi, namun bagi Keyla, cahaya yang masuk melalui celah gorden terasa seperti ancaman. Ia masih meringkuk di sudut tempat tidur, matanya sembab dan tubuhnya terasa remuk. Kursi yang ia gunakan untuk mengganjal pintu semalam masih berada di posisinya.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang tegas membuyarkan keheningan.

​Tok! Tok! Tok!

​"Keyla, bangun. Sudah jam sembilan. Sarapan sudah siap," suara Dipta terdengar dari balik pintu.

​Keyla membeku. Suara itu... suara itu begitu datar, tenang, dan tanpa beban. Tidak ada nada penyesalan, tidak ada permintaan maaf. Seolah-olah kejadian traumatis semalam—saat Dipta nyaris menghancurkannya—hanya bagian dari mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.

​"Keyla? Aku tahu kau sudah bangun. Buka pintunya," perintah Dipta lagi, kali ini dengan nada otoriter yang biasa ia gunakan di kantor.

​Keyla bangkit dengan amarah yang mendidih di dadanya. Ia berjalan menuju pintu, namun tidak membukanya. "Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu!"

​Hening sejenak di luar sana. "Jangan kekanak-kanakan. Kita ada jadwal bertemu desainer untuk jas dan gaun wisudamu hari ini. Keluar sekarang."

​"Gaun wisuda?" Keyla berteriak parau, suaranya pecah. "Setelah apa yang Anda lakukan semalam, Anda masih bisa bicara soal gaun? Anda hampir memp3rk0saku, Dipta! Anda memperlakukanku seperti sampah!"

​"Aku sedang mabuk, Keyla. Dan tidak terjadi apa-apa, bukan?" sahut Dipta dari balik pintu, suaranya tetap sedingin es. "Berhenti mendramatisir keadaan. Itu hanya kesalahpahaman kecil."

​Mendengar kata 'kesalahpahaman kecil', Keyla menarik kursi pengganjal itu dengan kasar dan membuka kunci pintu. Ia berdiri di ambang pintu dengan rambut berantakan dan mata yang memerah karena kebencian.

​Dipta berdiri di sana, sudah rapi dengan kemeja biru navy yang elegan, tampak segar seolah tidak pernah menenggak sebotol wiski semalam.

​"Kesalahpahaman?" desis Keyla. "Anda kasar, Anda menyakitiku, dan Anda bilang itu drama?"

​Dipta menatap memar merah di pergelangan tangan Keyla selama satu detik, sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke mata gadis itu. "Aku sudah bilang, aku akan menjagamu. Tapi kau terus memancing amarahku dengan pemberontakanmu."

​"Aku ingin pulang," potong Keyla tegas.

​Dipta menyipitkan mata. "Apa?"

​"Pulangkan aku ke rumah orang tuaku. Sekarang! Aku lebih baik hidup melarat, aku lebih baik melihat Ayah dipenjara daripada harus tinggal satu atap dengan monster seperti Anda!"

​Dipta melangkah maju, masuk ke dalam area privat kamar Keyla, membuat gadis itu mundur hingga terpojok ke dinding. "Kau lupa perjanjiannya, Keyla? Jika kau pergi, dana untuk perusahaan ayahmu akan kuhentikan detik ini juga. Kau mau melihat ayahmu terkena serangan jantung karena jatuh miskin dalam semalam?"

​"Anda jahat..." rintih Keyla.

​"Aku adalah kenyataan yang harus kau hadapi," balas Dipta sembari mengusap pipi Keyla dengan ujung jarinya, gerakan yang membuat Keyla bergidik ngeri. "Kau tidak akan pulang. Kau akan tetap di sini, bersiap-siap, dan bertingkah seolah kita adalah pasangan paling bahagia di dunia. Mengerti?"

*

Keyla tidak bergeming. Ia menepis tangan Dipta dengan sentakan kasar, matanya menyala oleh amarah yang bercampur dengan rasa muak.

"Hentikan ancaman itu, Dipta! Hentikan!" teriak Keyla, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Ayahku mungkin sudah menjualku, tapi aku masih punya sisa harga diri! Jika Anda ingin membunuh perusahaan ayahku, lakukan! Lakukan sekarang! Aku lebih baik melihat semuanya hancur daripada harus bernapas di udara yang sama denganmu!"

Dipta tertegun. Ia terbiasa melihat orang-orang gemetar di bawah ancamannya, tapi kali ini ia melihat sesuatu yang berbeda pada Keyla. Ada keputusasaan yang begitu dalam sehingga rasa takutnya pun hilang. Gadis itu tampak hancur, namun tegak dalam kehancurannya.

Keyla mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam tas kecil dengan gerakan kalap. "Aku tidak peduli lagi dengan uang Anda. Aku tidak peduli dengan kemewahan ini. Pulangkan aku, atau aku akan melompat dari balkon ini sekarang juga!"

Dipta melihat Keyla berlari menuju pintu balkon. Untuk pertama kalinya, rasa panik yang nyata menyambar ulu hati pria berusia 35 tahun itu. Ia sadar ia telah bertindak terlalu jauh. Pengaruh alkohol semalam mungkin sudah hilang dari darahnya, tapi dampaknya baru saja menghantamnya tepat di wajah.

"Keyla, berhenti!" Dipta menahan lengan Keyla, kali ini dengan gerakan yang jauh lebih lembut, hampir seperti memohon.

"Jangan sentuh aku!" Keyla menjerit histeris, tubuhnya gemetar hebat seolah sentuhan Dipta adalah api yang membakar kulitnya.

Dipta menarik napas panjang, mencoba mengendalikan egonya yang setinggi langit. Ia menatap wajah gadis 18 tahun itu—wajah yang semalam ia kagumi dalam tidurnya, kini penuh dengan luka yang ia ciptakan sendiri.

"Baik," ucap Dipta lirih. "Baik, kau menang. Pulanglah."

Keyla terhenti. Ia menatap Dipta dengan tidak percaya, mencari-cari kebohongan di mata elang itu. "Anda... Anda melepaskanku?"

"Untuk sementara," sahut Dipta, kembali ke nada suaranya yang dingin meski matanya menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan. "Aku akan meminta Bayu menyiapkan mobil. Kau boleh kembali ke rumah Atmadja hari ini."

Dipta berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak di ambang pintu tanpa menoleh. "Tapi ingat satu hal, Keyla. Pertunangan ini tidak batal. Aku memberimu ruang untuk bernapas karena aku tidak ingin memiliki mayat di rumahku. Tapi jangan pernah berpikir untuk melarikan diri."

Keyla tidak menjawab. Ia hanya terus memeluk tasnya, air matanya jatuh tanpa suara.

**

Perjalanan menuju rumah keluarga Atmadja berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Dipta bersikeras ikut di dalam mobil, duduk di samping Keyla namun tetap menjaga jarak.

Keyla menempelkan keningnya di jendela mobil, menatap jalanan yang terasa seperti jalan menuju kebebasan, meski ia tahu itu hanya fatamorgana. Di sampingnya, Dipta terus menatap ponselnya, namun pikirannya jelas tidak ada pada pekerjaan.

"Jangan katakan apa pun pada ibumu soal semalam," ujar Dipta tiba-tiba saat mobil hampir sampai.

Keyla tertawa sinis, tawa yang terdengar terlalu tua untuk usianya. "Kenapa? Anda takut reputasi pria terhormat Anda hancur? Atau takut Ayahku sadar dia baru saja menyerahkan anaknya pada seekor binatang?"

Rahang Dipta mengeras. Ia menoleh, menatap Keyla dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan. "Aku melakukan itu karena aku tidak ingin mereka semakin mempersulit posisimu, Keyla. Gunakan waktumu di rumah untuk berpikir. Aku akan menjemputmu untuk wisuda minggu depan. Jangan sampai aku harus menyeretmu."

*

Saat mobil berhenti di depan pagar rumah Atmadja, Keyla langsung keluar bahkan sebelum Bayu sempat membukakan pintu. Ia berlari masuk ke rumahnya tanpa menoleh sekali pun, meninggalkan Dipta yang hanya bisa menatap punggungnya dari balik kaca mobil yang gelap.

Keyla berlari melewati gerbang rumahnya seolah-olah dikejar oleh setan. Begitu pintu utama terbuka, ia hampir menabrak Kirana yang sedang menyesap teh di ruang tengah. Melihat putrinya pulang dengan keadaan berantakan—rambut kusut, mata bengkak, dan wajah sepucat kapas—Kirana menjatuhkan cangkir porselennya hingga hancur berkeping-keping.

"Keyla? Sayang! Kenapa kau pulang jam segini? Mana Dipta?" Kirana menghampiri, mencoba memegang bahu anaknya.

Keyla langsung menghindar, napasnya tersengal. "Jangan tanya soal dia, Ma. Aku mohon, jangan sebut nama itu di depanku."

Kirana mengikuti Keyla masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan rapat. Ia melihat Keyla melempar tasnya ke lantai dan meringkuk di sudut tempat tidur, gemetar hebat.

"Apa yang terjadi? Apa dia menyakitimu? Apa dia melakukan... hal yang tidak-tidak?" suara Kirana bergetar antara cemas dan takut akan konsekuensi bisnis mereka.

Keyla mendongak dengan tatapan kosong yang membuat Kirana merinding. "Apa itu penting bagi Mama? Bukannya yang penting perusahaan Ayah selamat? Bukannya yang penting kita tetap bisa tinggal di rumah besar ini?"

"Keyla, jangan bicara begitu! Mama peduli padamu—"

"Ma!" jerit Keyla akhirnya. "Dia memperlakukanku seperti wanita jalang yang biasa dia sewa! Dia kasar, dia mengurungku, dan dia nyaris..." Keyla tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia hanya bisa menunjuk pergelangan tangannya yang memar kebiruan.

Kirana menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir. "Oh Tuhan... Dipta... Kenapa dia bisa sekasar itu?"

"Ma, aku tidak mau kembali. Tolong, batalkan ini semua. Aku takut, Ma. Aku benar-benar takut mati di tangannya," isak Keyla, ia memegang tangan ibunya, memohon dengan sangat.

Kirana terdiam. Ia memeluk Keyla, namun matanya menatap ke arah pintu kamar kerja Alan. Ia tahu, jika ia memihak Keyla sepenuhnya, suaminya akan hancur. Tapi melihat putrinya seperti ini, nuraninya terkoyak.

"Key... Ayahmu... dia sudah menerima dana itu. Saham perusahaan mulai stabil pagi ini karena nama Dipta Mahendra ada di belakang kita. Jika kau membatalkannya sekarang, Dipta akan menghancurkan Ayah dalam semalam. Kau tahu betapa kejamnya dia dalam bisnis."

Keyla melepaskan pelukan ibunya dengan kasar. "Jadi... pergelangan tanganku yang memar dan ketakutanku tidak lebih berharga dari saham Ayah? Itu yang Mama katakan?"

"Bukan begitu, Sayang... Mama hanya... Mama akan bicara pada Dipta. Mama akan memintanya untuk lebih bersabar," ujar Kirana ragu.

Pintu kamar terbuka kasar. Alan berdiri di sana dengan wajah yang tidak menunjukkan simpati sedikit pun. Ia baru saja mendapat telepon dari Bayu bahwa Keyla dipulangkan karena "sedikit perselisihan".

"Kenapa kau di sini, Keyla? Bayu bilang kau membuat ulah di apartemen Dipta!" bentak Alan.

Keyla berdiri, menatap ayahnya dengan keberanian yang lahir dari rasa benci. "Aku tidak membuat ulah, Yah. Aku hampir dip3rk0sa oleh orang yang Ayah sebut 'investor' itu."

Alan terdiam sejenak melihat memar di tangan anaknya, namun egonya lebih besar. "Dia tunanganmu! Dia hanya ingin menunjukkan kasih sayangnya, mungkin caranya saja yang salah karena dia sedang banyak pikiran di kantor. Jangan jadi anak kecil yang manja, Keyla! Kau harusnya bersyukur dia mau menerimamu!"

Keyla tertawa getir, air matanya kering seketika. "Bersyukur? Baik. Jika itu yang Ayah mau, aku akan tetap di sini sampai hari wisuda. Tapi jangan harap aku akan memberikan senyuman pada pria itu lagi."

Alan mendengus dan pergi meninggalkan kamar, sementara Kirana hanya bisa duduk di tepi ranjang, meratapi nasib putrinya yang kini benar-benar terjepit di antara ambisi ayahnya dan obsesi Dipta.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!