"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Bersuara
Setelah Liam menjelaskan kondisi ayahnya, suasana menjadi canggung namun hangat. Ameera, yang kini sudah jauh lebih tenang dan dewasa dalam balutan jilbab yang rapi, merasa harus menunjukkan sesuatu. Ia ingin membuktikan bahwa semesta tidak gagal mendidiknya meski ia dijauhkan dari pesantren.
"Liam," panggil Ameera. Ia tidak lagi menatap dengan mata yang menantang, melainkan dengan ketulusan yang murni.
"Kau tahu? Selama setahun ini, aku tidak pernah berhenti. Aku terus mengulang apa yang kau dan Syifa ajarkan."
Liam masih berdiri tegak, tangannya memegang papan klip medis. Kepalanya masih tertunduk, namun telinganya menangkap setiap getaran suara Ameera.
"Aku sudah melewati Iqra enam, Liam. Aku sudah mulai membaca Al-Baqarah sekarang. Aku membaca artinya, aku meresapi setiap katanya. Ternyata benar, Al-Qur'an itu bukan sekadar dompet yang berisi uang, tapi harta yang membuatku merasa kaya meski duniaku sedang runtuh."
Ameera menceritakan prosesnya dengan sangat bersemangat. Ia bercerita bagaimana ia menghafal surat-surat pendek di tengah kemacetan Jakarta, bagaimana ia tetap mengenakan jilbab meski ibunya mengancam akan menghapus namanya dari daftar warisan. Ia bercerita dengan bangga, seolah-olah ia sedang memamerkan medali kemenangan di depan gurunya.
Tiba-tiba, sesuatu yang langka terjadi.
Mungkin karena rasa haru yang tak terbendung, atau mungkin karena kekaguman yang selama ini dipendamnya meledak, Liam perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap Ameera. Bukan sekadar lirikan singkat, tapi sebuah tatapan yang cukup lama. Mata tajam di balik kacamata itu tampak berkaca-kaca, memandang wajah Ameera yang kini memancarkan cahaya iman yang tulus.
Untuk beberapa detik yang terasa abadi, waktu seolah berhenti. Dalam tatapan itu, Liam seolah berkata, Aku bangga padamu.
Deg.
Jantung Ameera berdegup kencang. Ia terpaku mendapat tatapan itu. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap.
"Liam!" sebuah suara wanita yang jernih memanggil dari arah belakang.
Seorang wanita cantik mengenakan jilbab modern dengan warna yang sangat serasi dengan pakaiannya berlari kecil menghampiri mereka. Wanita itu tampak sangat khawatir. Di pelukannya, ada seorang bayi mungil yang berusia sekitar 6-7 bulan, yang sedang merintih pelan.
Yang membuat dunia Ameera serasa runtuh dalam sekejap adalah apa yang ia lihat selanjutnya. Wanita itu dengan santainya memegang lengan Liam, menarik jas putih dokter itu dengan akrab.
"Liam, tolong... suhu tubuhnya naik lagi sejak tadi sore. Dia lemas sekali," ucap wanita itu dengan nada mendesak.
Ameera membeku di tempatnya. Matanya yang tadi berbinar kini meredup seketika. Ia memperhatikan bagaimana Liam tidak membuang muka saat menatap wanita itu. Liam justru menatapnya dengan penuh perhatian, bahkan menyentuh dahi sang bayi dengan lembut.
"Dia... sudah menikah?" batin Ameera. Perih yang ia rasakan jauh lebih menyakitkan daripada saat ayahnya membentaknya setahun yang lalu.
Ameera memperhatikan interaksi mereka. Cara wanita itu bersandar pada Liam, cara Liam merespons dengan sigap, dan bagaimana bayi itu tampak begitu akrab dalam jangkauan mereka.
Segala asumsi buruk mulai memenuhi kepala Ameera. Ia merasa bodoh. Bagaimana mungkin ia mengira pria sesempurna Liam masih melajang? Tentu saja pria saleh dan sukses sepertinya sudah memiliki pendamping yang setara.
Liam tampak sangat sibuk. Ia segera menggendong bayi itu dari tangan sang wanita. "Bawa ke ruang observasi sekarang, Kak. Jangan panik, biar aku yang tangani," ujar Liam tegas.
Ameera tersentak mendengar kata itu. Kak? Namun di tengah hiruk-pikuk perasaannya, ia tidak yakin apakah ia salah dengar atau itu hanya panggilan akrab antara suami-istri. Namun, melihat betapa posesifnya wanita itu pada Liam, Ameera lebih memilih percaya pada ketakutan terburuknya.
Liam tidak menjelaskan apa-apa lagi pada Ameera. Fokusnya sepenuhnya beralih pada bayi yang sedang demam itu. Ia melangkah pergi dengan terburu-buru, menggendong bayi itu di pundaknya yang tegap, diikuti oleh wanita cantik tadi.
Tinggallah Ameera sendirian di koridor. Kebanggaannya saat bercerita tentang Al-Qur'an tadi menguap begitu saja, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa. Ia merasa seperti orang asing yang kembali tersesat.
"Ternyata... dia sudah punya dunianya sendiri," bisik Ameera pada dinding rumah sakit yang bisu.
Ia merasa malu. Malu karena selama setahun ini ia menjaga hatinya hanya untuk pria yang ternyata sudah memiliki keluarga. Ia merasa harga dirinya runtuh. Baginya, pemandangan Liam yang memegang tangan wanita itu adalah bukti bahwa jarak yang selama ini Liam bangun di pesantren hanyalah karena Ameera bukan siapa-siapanya.
Ameera terduduk di kursi tunggu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kali ini, ia menunduk bukan karena menjaga pandangan, tapi karena ingin menyembunyikan air matanya yang mulai jatuh membasahi kerudungnya.
Ameera tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa wanita itu adalah Farah Al-Gazhi, kakak kandung Liam yang baru saja pulang dari luar negeri. Bayi itu adalah keponakan kesayangan Liam yang sedang menderita demam pasca-imunisasi.
Liam tidak sempat menjelaskan, karena bagi seorang dokter, nyawa dan kesehatan pasien terlebih keluarganya adalah prioritas utama. Ia tidak sadar bahwa tatapan lamanya tadi telah memberikan harapan setinggi langit bagi Ameera, namun kepergiannya bersama Farah telah menjatuhkan Ameera ke dasar jurang kesalahpahaman.
Di dalam ruang observasi, Liam memeriksa keponakannya dengan teliti, namun pikirannya sesekali melayang pada Ameera. Ia mengagumi perubahan gadis itu. Ia ingin sekali mengatakan betapa cantiknya Ameera dalam balutan iman yang baru.
Namun, Liam tetaplah Liam, pria yang lebih banyak bicara lewat doa daripada kata-kata.
Sementara itu, di luar, Ameera sedang menguatkan hatinya. Ia mengambil mushaf kecil dari tasnya. Dengan tangan gemetar, ia mulai membaca.
"Wa 'asa an takrahu syai'an wa huwa khairun lakum..."
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..."
Ameera menutup matanya. Jika memang Liam bukan takdirnya, ia harus belajar ikhlas. Al-Qur'an yang ia pelajari mengajarkannya untuk mencintai Allah di atas segalanya. Meski hatinya hancur melihat Liam bersama wanita lain, ia bertekad untuk tidak meninggalkan jalan hidayah yang sudah susah payah ia temukan.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰