Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.
Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.
Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Rahasia di Balik Kolam Batu
“Ilusi… ini pasti hanya ilusi!”
Lin Zhantian berdiri terpaku di tepi kolam batu, menatap lengannya tanpa berkedip. Untuk beberapa saat yang terasa amat panjang, ia bahkan tak berani bernapas. Jantungnya berdegup keras di dalam dada, seakan hendak meloncat keluar.
Dengan paksa ia memejamkan mata, menarik napas panjang beberapa kali. Dada kecilnya naik turun, berusaha menenangkan gejolak yang mengguncang batinnya. Setelah emosinya sedikit mereda, tangannya yang masih bergetar perlahan terangkat kembali, menyentuh lengan sendiri.
Sentuhan itu membuatnya kembali membeku.
Di bawah jemarinya, kulitnya terasa berbeda.
Bukan lagi selembut dan selemah sebelumnya. Ada kekerasan tipis menyerupai lapisan tanduk yang terbentuk di permukaan. Memang belum sampai pada tingkat keras seperti kayu atau batu, namun dibandingkan keadaan beberapa jam lalu, perbedaannya jelas bagaikan langit dan bumi.
Ini benar-benar tanda akan menembus Tingkat Keempat Tempering Tubuh!
Selama kekerasan itu terus memadat, selama kulit dan ototnya terus diperkuat, maka tahap keempat akan tercapai secara sah dan nyata.
Namun…
Wajah Lin Zhantian berubah pucat lalu memerah kembali, ekspresinya seolah melihat arwah di siang bolong.
Hari ini saja ia baru saja menembus Tingkat Ketiga Tempering Tubuh!
Belum sampai setengah hari berlalu, bagaimana mungkin ia sudah berdiri di ambang Tingkat Keempat?
Keberuntungan yang datang begitu mendadak itu menghantam kesadarannya seperti palu raksasa. Ia berjalan mondar-mandir di sekitar kolam, pipinya merah padam, napasnya memburu.
Jika ia benar-benar memiliki kecepatan kultivasi semacam ini, apalah arti tiga besar dalam kompetisi klan? Bahkan dalam pertemuan sepuluh tahunan Klan Lin yang besar dan agung itu, ia takkan gentar sedikit pun!
Namun setelah gelombang kegembiraan itu berlalu, kewarasan perlahan kembali.
Lin Zhantian memang masih muda, namun kedewasaannya jauh melampaui usianya.
Ia berhenti berjalan. Keningnya berkerut dalam.
“Mustahil… pasti ada sebabnya.”
Ia mulai mengingat setiap detail yang terjadi di gua ini. Namun gua itu tetaplah sama seperti biasanya—sunyi, sejuk, tanpa sesuatu yang tampak mencurigakan.
Tatapannya perlahan beralih dan berhenti pada kolam batu di tengah gua.
“Apakah… kolam ini benar-benar menyimpan rahasia?”
Ia terdiam, lalu menggeleng perlahan.
Sejak kecil, ia telah berendam di sini entah berapa kali. Namun fenomena seperti tadi—pendidihan air, cairan merah menyusup ke tubuhnya—itu baru pertama kali terjadi.
Apa yang berbeda hari ini?
Tak mungkin karena akar ginseng merah satu tingkat yang ia konsumsi beberapa hari lalu. Obat roh tingkat satu paling hanya mampu membantunya mencapai Tingkat Ketiga dalam sepuluh hari—itu pun sudah luar biasa.
Tidak mungkin efeknya melonjak sedemikian rupa.
“Pasti ada sesuatu yang tidak sama…”
Lin Zhantian berjongkok di tepi kolam. Bibirnya terkatup rapat, wajah kecilnya menunjukkan keras kepala yang tak tergoyahkan. Ia tahu betapa pentingnya misteri ini. Jika ia mampu menguaknya, manfaatnya baginya akan tak terukur.
“Hari ini aku memang lebih lelah… tapi bukan pertama kalinya. Pernah juga tertidur di sini…”
Tangannya tanpa sadar mengusap lengannya sendiri.
Tiba-tiba.
Tubuhnya membeku.
Matanya menunduk tajam ke arah bekas luka yang tadi memenuhi kulitnya.
“Darah?”
Cahaya aneh berkilat di matanya.
Ia segera merogoh celah batu di samping kolam dan mengeluarkan sebuah belati kecil yang dulu ia sembunyikan di sana. Dengan hati-hati, ia menggoreskan ujungnya ke ujung jari.
Setetes darah merah tua muncul.
Ia menelan ludah, lalu perlahan meneteskan darah itu ke dalam kolam.
“Tik…”
Suara tetesan itu terdengar begitu jelas dalam kesunyian gua.
Lin Zhantian menatap tanpa berkedip.
Darah itu jatuh, membentuk riak halus yang menyebar perlahan. Warna merah menyebar tipis di permukaan air—
Dan seketika itu juga, kolam yang tadinya tenang mulai bergejolak!
Gelembung-gelembung kecil bermunculan dengan cepat. Di dalam gelembung itu, cairan merah pucat berkilau samar.
Tenggorokan Lin Zhantian terasa kering.
Dengan tangan gemetar, ia memasukkan telapak tangannya ke dalam air.
Gelembung-gelembung itu meletus, dan cairan merah pucat menempel di kulitnya. Seperti sebelumnya, cairan itu meresap melalui pori-porinya.
Dalam sekejap, panas membakar muncul di telapak tangannya.
Sensasi itu sama persis dengan yang ia rasakan saat terbangun tadi.
Namun kali ini, ia sadar sepenuhnya.
Ia bisa merasakan dengan jelas bagaimana cairan merah itu menyusup ke dalam otot dan kulitnya, memadatkan jaringan, memperkuat struktur, membuat kulitnya semakin keras.
“Benar!”
Wajahnya berseri-seri oleh kegembiraan.
Dugaannya tepat.
Air kolam ini baru menunjukkan efek ajaibnya setelah tersentuh darah!
Ia mengepalkan tangan.
Kulit di tangan itu jauh lebih keras dibanding bagian tubuh lain. Dan itu hanya hasil perendaman singkat.
Efek semacam ini…
Bahkan obat roh tingkat tiga yang dijual mahal di Kota Qingyang mungkin tak mampu menandingi!
Namun pertanyaan berikutnya justru lebih menggetarkan.
Mengapa?
Air kolam ini hanyalah air mata air biasa yang merembes dari batu. Ia telah menyelidikinya berkali-kali selama bertahun-tahun. Airnya jernih, sejuk, tanpa ciri istimewa.
Lalu dari mana asal kekuatan luar biasa ini?
Lin Zhantian menghela napas panjang dan merebahkan diri di tepi kolam.
Meski belum memahami asal-usulnya, satu hal jelas—kolam ini adalah anugerah surgawi baginya.
Ayahnya, Lin Xiao, karena luka lama, harus terus mengonsumsi obat roh untuk memelihara tubuhnya. Harga obat roh sangat mahal. Namun dengan sifat keras kepala dan harga diri tinggi, sang ayah menolak bantuan dari keluarga besar.
Ia hanya mengandalkan berburu di gunung atau keberuntungan menemukan tumbuhan obat.
Pendapatan itu jelas tak cukup untuk memberi Lin Zhantian kondisi kultivasi setara dengan sepupu-sepupunya.
Maka dalam keadaan seperti ini, nilai kolam batu ini tak terhingga.
Lin Zhantian mengepalkan tinjunya.
“Rahasia kolam ini harus dirahasiakan!”
Bukan hanya demi dirinya.
Ia tahu, jika kabar ini tersebar, betapa besar keguncangan yang akan terjadi. Bahkan kekuatan lain di Kota Qingyang akan mengincarnya. Dan pada akhirnya, Keluarga Lin bisa terseret ke dalam bencana.
Seorang biasa tak bersalah, namun membawa giok berharga—itulah sumber malapetaka.
Pepatah itu telah ia pahami sejak kecil.
Tatapannya mengeras oleh tekad.
Namun saat hendak bangkit, ia tiba-tiba terdiam.
Sebuah kilatan cahaya samar melintas di atas kolam.
Ia mengerutkan kening.
Dalam keadaan biasa, ia mungkin takkan peduli. Namun kini setiap detail di gua ini terasa penting.
Ia mengangkat kepala, menatap langit-langit gua tepat di atas kolam.
Beberapa saat kemudian—
Kilatan itu muncul lagi.
Kali ini lebih jelas.
Lalu, sebuah titik cahaya jatuh perlahan ke bawah.
Di bawah tatapan Lin Zhantian, titik itu jatuh tepat ke dalam kolam.
Riak kecil terbentuk.
Ia terpaku.
Saat cahaya itu jatuh, ia samar-samar melihat isinya.
Bukan sekadar cahaya.
Melainkan setetes cairan merah tua.
Warna dan bentuknya…
Sama persis dengan cairan merah pucat yang muncul setelah darahnya menetes ke kolam!
Napas Lin Zhantian tercekat.
Matanya bersinar terang.
“Jadi… rahasianya ada di atas sana.”
Ia berdiri, menatap langit-langit gua dengan sorot mata membara.
Di balik kegelapan batu yang membisu itu, tersembunyi misteri yang mungkin telah menunggu ribuan tahun untuk ditemukan.
Dan kini—
Takdir Lin Zhantian perlahan mulai menyentuh rahasia kuno yang tak terbayangkan oleh dunia fana.