Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Menuju Balas Dendam
Fajar menyingsing dengan cahaya pucat yang menyapu halaman Sekte Awan Giok. Kabut tipis masih menggantung rendah, seolah dunia belum sepenuhnya siap untuk bangun.
Qiu Liong berdiri di tengah lapangan latihan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia datang lebih awal dari siapa pun.
Bukan karena diperintah.
Bukan karena ingin membuktikan sesuatu.
Melainkan karena ia telah membuat keputusan.
Balas dendam.
Kata itu dulu terasa pahit dan penuh emosi liar. Ia ingin membalas hinaan, tawa, tatapan merendahkan.
Namun kini, setelah melalui kehampaan dan luka batin yang tak terlihat, maknanya berubah.
Balas dendam bukan lagi tentang kemarahan.
Melainkan tentang keadilan.
Tentang mengembalikan harga diri yang pernah diinjak-injak.
Langkah kakinya mantap saat ia mengambil pedang latihan kayu.
Pedang yang dulu terasa berat, seolah mengejek kelemahannya sendiri.
Ia mengangkatnya perlahan.
Tidak ada getaran di tangannya.
Tidak ada keraguan.
Ia mulai bergerak.
Satu tebasan.
Satu tarikan napas.
Satu langkah maju.
Gerakannya tidak cepat, namun presisi. Setiap ayunan pedang mengikuti aliran qi yang kini jauh lebih stabil di dalam tubuhnya.
Ia tidak lagi membiarkan Inti Kekosongan bergerak liar.
Ia mengendalikannya.
Mengarahkannya.
Seperti arus bawah tanah yang mengalir tenang namun tak terhentikan.
Bayangan masa lalu muncul di benaknya.
Tawa murid inti saat pedangnya terlepas.
Darah di tangga batu.
Tatapan dingin yang meremehkan.
Wajah seorang pemuda bernama Gu Shen murid inti yang paling sering menjadikannya bahan ejekan.
“Kau tidak cocok berada di sini.”
Kata-kata itu dulu terasa seperti vonis.
Kini, terdengar seperti kesalahan besar.
Pedang kayu di tangannya bergerak lebih cepat.
Udara berdesir.
Beberapa murid yang mulai berdatangan terdiam melihatnya.
“Apa itu Qiu Liong?”
“Gerakannya…”
Bisik-bisik kembali muncul.
Namun kali ini bukan tawa.
Melainkan kebingungan.
Dan sedikit… kewaspadaan.
Qiu Liong berhenti perlahan, menurunkan pedangnya.
Ia merasakan tatapan-tatapan itu.
Namun tidak lagi menusuk.
Ia menoleh ke arah aula dalam, tempat para murid inti biasa berlatih.
Di sanalah Gu Shen sering berdiri, dikelilingi pengikutnya.
Jantung Qiu Liong berdetak stabil.
Ia tidak akan menyerang secara gegabah.
Ia tidak akan membiarkan emosinya memimpin.
Balas dendam yang lahir dari amarah hanya melahirkan penyesalan.
Ia ingin sesuatu yang lebih dari sekadar kemenangan sesaat.
Ia ingin pengakuan.
Ia ingin dunia yang dulu menolaknya menyaksikan sendiri kebangkitannya.
Langkahnya bergerak menuju papan pengumuman misi sekte.
Sebuah daftar baru terpampang.
“Misi Pengawalan Wilayah Utara Terbuka untuk Murid Inti dan Murid Luar Tingkat Atas.”
Wilayah Utara.
Daerah yang berbatasan dengan klan luar yang sering berselisih dengan sekte.
Gu Shen selalu memilih misi berisiko tinggi untuk menunjukkan kekuatannya.
Qiu Liong menatap daftar nama yang sudah terdaftar.
Benar saja.
Gu Shen ada di sana.
Perlahan, Qiu Liong mengangkat tangan dan menambahkan namanya.
Beberapa murid di sekitar terdiam.
“Kau yakin?” tanya salah satu dari mereka tanpa sadar.
Qiu Liong hanya menjawab singkat, “Sudah waktunya.”
Bukan hanya untuk menghadapi Gu Shen.
Namun untuk menghadapi dirinya yang lama.
Saat ia melangkah pergi, Mei Lanyue berdiri di ujung koridor, menatapnya.
“Apa ini tentang balas dendam?” tanyanya pelan ketika ia mendekat.
Qiu Liong berhenti.
Angin pagi menggerakkan ujung rambut mereka.
“Ini tentang menutup luka,” jawabnya tenang.
Mei Lanyue menatapnya lama, mencoba membaca isi hatinya.
“Aku tidak melihat amarah di matamu,” katanya akhirnya.
“Karena aku tidak lagi bertarung dengan amarah.”
Ia tersenyum tipis.
“Jika aku ingin berdiri di puncak suatu hari nanti, aku tidak bisa terus berlari dari bayangan masa lalu.”
Mei Lanyue tidak menghalanginya.
Namun tatapannya menyimpan kekhawatiran yang tak terucap.
Qiu Liong berjalan menjauh, menuju persiapan misi.
Langkahnya mantap.
Ia tahu perjalanan ini bukan sekadar tugas sekte.
Ini adalah panggung pertamanya.
Langkah pertama menuju balas dendam yang tidak didorong oleh kebencian
melainkan oleh tekad untuk membuktikan bahwa pecundang yang mereka hina
telah berubah.
Dan kali ini,
ia tidak akan menunduk.
jangan bikin kecewa ya🙏💪