Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Misteri Lana.
Lorong kelas itu terbentang panjang seperti usus naga tua. Dindingnya terbuat dari batu abu-abu yang lembap, dengan lilin-lilin kecil meneteskan lelehan putih seperti air mata. Di beberapa titik berdiri obor beton yang menyala redup, apinya berwarna jingga pucat dan berkedip-kedip seolah takut pada bayangannya sendiri. Udara berbau debu kapur, lilin terbakar, dan sesuatu yang samar… seperti kain basah yang lama ditinggal.
Langkah Chika dan Princes menggema pelan.
klok… klok… klok…
Chika berhenti mendadak.
“Eh, Princes… lihat itu.”
Di depan mereka berdiri tiga obor beton, sejajar dan sangat berdekatan, seperti tiga penjaga yang sedang baris-berbaris.
Princes memiringkan kepala, matanya menyipit penuh curiga.
“Kenapa obornya kayak pasukan upacara bendera?”
Chika menggaruk pipinya dengan ujung sarung tangan.
“Iya, aneh banget… kenapa harus sejajar gitu?”
Princes berpikir keras, lalu tiba-tiba matanya berbinar.
“Mungkin… ini buat main petasan?”
Chika langsung tersedak udara.
“Hah?! Petasan?! Di sekolah sihir berhantu?!”
Ia menepuk pinggangnya sendiri.
“Aduh… aku lupa bawa petasan… dan… helm knight-ku juga masih ketinggalan di pemandian Havenload…”
Princes menutup mulut menahan tawa.
“Kesatria tanpa helm… terus mau main petasan… kamu itu pahlawan atau badut kerajaan?”
Chika mengangkat bahu pasrah.
“Multitalenta.”
Mereka melihat sebuah papan kayu kecil di samping obor. Tulisan kapurnya miring-miring dan sebagian terkelupas.
Chika mendekat, membungkuk, lalu membaca keras-keras.
“‘Bakar salah satu obor dari tiga obor ini untuk menuju ruangan.’”
Princes menelan ludah.
“Cuma… salah satu?”
Chika mengangguk pelan.
“Hmmm… baiklah.”
Ia mengambil sepotong kayu kering dari sudut lorong, menyalakannya dengan api lilin.
FUSSS…
Cahaya kecil muncul di ujung kayu, bergetar seperti jantung ketakutan.
Chika mendekati obor pertama.
“Kalau salah… kita kabur ya.”
Princes langsung bersembunyi setengah badan di balik jubah Chika.
“Janji!”
Chika menyentuhkan api ke obor pertama.
WHOOM…
Api obor menyala lebih besar. Tiba-tiba lantai di depan mereka bergeser pelan.
GROOOOK…
Sebuah lorong baru terbuka, jauh lebih gelap, seperti mulut gua tanpa dasar.
Angin dingin menyapu wajah mereka.
HUUUU…
Princes merinding.
“Lorongnya… kayak tenggorokan monster…”
Chika menarik napas dalam-dalam.
“Ayo. Kalau kita mundur sekarang, hantu-hantu itu bakal ketawa.”
Mereka melangkah masuk.
Semakin jauh, cahaya obor makin redup. Bayangan mereka memanjang dan terdistorsi di dinding, seperti dua makhluk aneh yang berjalan tertatih. Dari kejauhan terdengar suara lirih…
krssss… krssss…
Tiba-tiba, sesosok bayangan melayang keluar dari dinding kelas. Bentuknya seperti murid berseragam, tapi wajahnya kabur, matanya kosong, dan kakinya tidak menyentuh lantai.
Princes menjerit kecil.
“Itu… itu siswa hantu!!”
Chika refleks menghunus pedang Lumina dan mengangkat perisai Lumina.
“Tenang! Aku di depan!”
Hantu itu melayang maju, tangannya terulur.
WUUUUU…
Chika melompat ke depan, memutar pedangnya.
“Serangan Lumina: Cahaya Tebasan!”
SWIIING!
Pedang bercahaya biru menghantam tubuh hantu.
FSSSHHH!
Hantu itu terbelah jadi kabut abu-abu dan menghilang dengan suara seperti kertas terbakar.
SSSS…
Lorong kembali sunyi. Hanya napas Chika yang terdengar berat.
“Hah… hah…”
Princes keluar dari balik jubahnya.
“Chika… kamu keren…”
Chika tersenyum bangga.
“Hehe… latihan tiap hari.”
Di dekat dinding, mereka melihat secarik kertas kecil tergeletak di lantai. Warnanya abu-abu, seperti diselimuti debu roh.
Chika memungutnya.
“Catatan?”
Ia membaca nama yang tertulis samar.
“Lana…”
Tulisan lainnya hampir tak terbaca, seperti memudar bersama waktu.
Princes mendekat, menatap kertas itu.
“Ini… milik murid yang hilang?”
Chika mengangguk pelan, lalu menyimpannya di dalam kantong bajunya tanpa sadar.
“Entah kenapa… refleks aja.”
Lorong di depan mereka kembali gelap, lebih dalam dari sebelumnya. Api obor di belakang mereka berkedip-kedip, seakan ragu apakah ingin tetap menyala.
Princes memegang tangan Chika.
“Kita… lanjut?”
Chika menatap ke depan, matanya serius.
“Iya. Kalau Lana benar-benar murid yang hilang… mungkin kita makin dekat sama jawabannya.”
Langkah mereka kembali terdengar.
klok… klok…
Dan di balik kegelapan lorong itu, sesuatu seperti sedang mengawasi.
...----------------...
Chika dan Princes kembali ke lorong tiga obor itu. Api obor pertama masih menyala kecil, mengeluarkan suara krek… krek… seperti kayu tua mengeluh.
Chika menghela napas lega.
“Jadi… hantu di sini bisa ditebas juga ya.”
Princes mengangguk cepat-cepat, masih memeluk lengan Chika.
“Iya… bisa… tapi tetap aja serem banget!”
Chika mengangkat kayu yang tadi ia pakai.
“Oke, kita nyalakan obor kedua—”
Belum sempat api menyentuh sumbu, hidung Chika berkerut.
“Eh… kamu cium nggak?”
Princes mengendus.
“Cium apa?”
Chika menoleh ke arah lorong besar tempat Beatrix tadi masuk.
“Bau… kebakaran.”
KRIIIK…
Pintu batu di lorong itu terbuka sedikit, dan dari dalam keluar asap tipis keabu-abuan.
Chika menegang.
“Princes! Ayo kita cek dulu!”
Princes mengangguk lugu, lalu berlari kecil sambil menahan jubahnya agar tidak terseret lantai.
“Iya! Jangan sampai sekolahnya meledak!”
Mereka masuk ke ruangan besar yang mirip perpustakaan laboratorium. Rak-rak buku tinggi menjulang, tapi di tengah ruangan ada tumpukan buku yang hangus, masih mengeluarkan asap tipis. Bau kertas terbakar bercampur bau besi panas.
Di depan tumpukan itu berdiri Beatrix, dengan dua asisten iblis kembar di sampingnya: Tina yang wajahnya pucat dan Tinasya yang berdiri dengan tangan di pinggang.
Beatrix menendang satu buku hangus dengan ujung sepatu botnya.
“HA!! Percuma saja aku menciptakan alat secanggih ini kalau tidak ada donasi!”
Tina mengecilkan bahu.
“A-anu… Beatrix… k-kenapa harus… dibakar…?”
Beatrix melambaikan tangan dengan kesal.
“Hah… bodoh amat. Kamu diam saja, wajah merah.”
Tinasya menyeringai.
“Oy, Beatrix. Bisa jadi dananya dikorupsi pihak sekolah.”
Beatrix mendengus.
“Gorila… mungkin kamu benar.”
Chika dan Princes masuk sambil terengah.
“Ada kebakaran!!”
Mereka berhenti mendadak. Api sudah padam, tapi buku-buku itu gosong hitam seperti arang. Beatrix berbalik cepat, langkahnya menghentak lantai.
Ia mendekat ke Chika dan langsung menunjuk dada zirahnya.
“Hei!! Sudah kubilang! Jangan masuk ke ruanganku!! Dasar gorila besi!”
Chika mengembungkan pipi.
“Hmph! Tiba-tiba aku dipanggil gorila! Padahal kamu belum pernah ketemu aku sebelumnya!”
Princes menarik ujung baju Chika.
“T-tapi… Chika… Hero Sword bereaksi! Lihat… dia bersinar di tubuhmu!”
Chika menoleh ke dadanya yang mulai memancarkan cahaya biru lembut.
“Iya sih… aku tahu kalau Beatrix ini Hero ketiga yang ditakdirkan oleh Hero Sword! Tapi dia UDAH MANGGIL AKU GORILA DUA KALI!!”
Beatrix tiba-tiba memukul-mukul helm imajiner Chika—karena helmnya memang tidak ada—tok tok tok.
“BERHENTI TERIAK DI RUANGANKU! SENYUM BODOH!! GORILA!!”
Tina langsung mengangkat tangan gemetar.
“T-tunggu, Beatrix… kamu tidak dengar perkataan Chika…? Dia… pemilik Hero Sword…”
Beatrix berhenti, mundur selangkah.
“Hmph! Palingan replika. Hero Sword muncul setelah Pahlawan Kaden menghilang. Dan seluruh kesatria Gurial Tempest tidak pernah bisa mencabut pedang itu dari batu pusaka.”
Chika menyilangkan tangan.
“Kamu nggak percaya, ya? Tunggu bentar.”
Ia mengangkat tangannya ke udara.
WOOOM…
Cahaya biru menyala, dan Hero Sword muncul melayang di depan mereka. Pedang energi biru muda berkilau, kristal belah ketupat di gagangnya memancarkan cahaya lembut seperti bintang kecil.
Chika tersenyum lebar.
“Gimana, Beatrix? Bagus, kan!!”
Beatrix langsung mengambil kaca pembesarnya dan mendekat, hampir menabrak wajah Chika.
“Hmmm… struktur energi stabil… kristal pusat… ini…”
Matanya membesar.
“Ini… ini asli… Hero Sword asli punya kristal biru. Di dalamnya ada cahaya biru kecil… dan jumlahnya bertambah sesuai jumlah Hero yang ditemukan…”
Ia mendekatkan kaca lebih dekat lagi.
“Dan di sini… ada… dua titik cahaya.”
Beatrix menurunkan kaca pembesarnya perlahan.
“Jadi… tujuan kalian ke sini mencari Hero ketiga? Dan kau, gorila… bilang kalau itu aku?”
Princes maju dan memegang tangan Beatrix dengan kedua tangannya.
“Iya, Beatrix! Kamu orangnya!”
Beatrix menarik tangannya pelan, raut wajahnya ragu.
“Aku… hanya ilmuwan. Aku tidak bisa sihir. Aku cuma bisa membuat senjata dari logam, sumber daya alam, dan sedikit energi sihir dari kristal…”
Chika mengangguk mantap.
“Hero Sword tak pernah salah. Mending kamu ikut kami ke Havenload.”
Beatrix mendesah.
“Hah… tapi sebelum aku pergi… bisa bantu aku?”
Chika dan Princes langsung berbinar.
“Tentu! Apa itu?!”
Beatrix mengeluarkan secarik kertas abu-abu dari saku jasnya.
“Aku ingin tahu apa yang terjadi di sekolah ini. Aku baru menemukan catatan pertama… penulisnya bernama Lana.”
Chika terkejut, lalu mengeluarkan kertas dari sakunya.
“Aku juga nemu ini di lorong obor tadi.”
Ia menyerahkan kertas itu.
Beatrix membacanya cepat, lalu matanya membelalak.
“Ini… lembar kedua.”
Udara ruangan terasa lebih dingin. Rak buku di sekeliling mereka berderit pelan.
kiiiik…
Princes menelan ludah.
“Berarti… Lana meninggalkan petunjuk…”
Chika mengepalkan tangan.
“Dan kita bakal cari semuanya.”
Beatrix menatap mereka bergantian, lalu tersenyum tipis.
“Hmph… baiklah, gorila. Kalau begitu… kita kerja sama.”
Chika langsung protes.
“Hei! Jangan panggil aku gorila terus!”
Beatrix mengangkat bahu.
“Kalau begitu… jangan hancurkan batu kayak binatang.”
Princes menutup mulut menahan tawa.
“Chika… kamu resmi jadi gorila ilmiah sekarang.”
Chika menghela napas panjang.
“Aku… pahlawan… bukan gorila…”
Namun Hero Sword di sampingnya berkilau lebih terang, seolah menyetujui bahwa perjalanan mereka baru saja masuk ke bagian yang jauh lebih aneh, lebih menyeramkan… dan lebih absurd.
...----------------...
Mereka semua duduk melingkar di kursi kayu tua yang berderit setiap kali ada yang bergerak. Ruangan itu diterangi lampu kristal redup di langit-langit, cahayanya berayun pelan seperti takut ikut campur urusan mereka. Di luar, lorong sekolah terdengar kriiik… kraaak… seolah bangunan itu masih bernapas.
Beatrix meletakkan dua lembar catatan abu-abu di atas meja. Dengan gerakan cepat dan penuh percaya diri, ia menepukkan kedua lembar itu menjadi satu.
FWOOSH…
Cahaya tipis muncul di antara kertas-kertas itu, lalu perlahan menyatu, menebal, dan berubah menjadi sebuah buku tipis dengan sampul kusam.
Chika langsung berdiri setengah jongkok di kursinya.
“Eh!! Tadi cuma kertas doang!”
Beatrix menoleh dengan tatapan dingin.
“Diam dikit napa! Kamu cocok aku panggil gorila.”
Chika mengembungkan pipinya sampai kelihatan seperti balon mau meletus.
“Padahal aku cantik…”
Beatrix melirik dari ujung rambut sampai ujung sepatu Chika.
“Cantik sih iya… tapi sekelas ogre.”
Chika langsung berdiri dan berjalan ke pojokan ruangan, menempelkan dahi ke dinding batu.
“Kenapa Hero ketiga sangat rasis sih…”
Princes ikut berdiri dan menepuk-nepuk punggung Chika.
“Sabar, Chika… ogre juga lucu kok.”
“ITU NGGAK MENENANGKAN!” teriak Chika sambil setengah terisak.
Beatrix membuka buku catatan itu. Halamannya mengeluarkan suara srek… srek… seperti daun kering digesek angin.
“Baik, dengarkan. Penulis buku ini hidup seratus tiga puluh empat tahun yang lalu.”
Princes membelalakkan mata.
“Eh… udah lama banget dong!”
Beatrix mengangguk kecil.
“Namanya Lana. Di sini tertulis, dulu sekolah sihir ini sangat terpandang. Lana berasal dari keluarga miskin, tapi dapat beasiswa.”
Chika menoleh dari pojokan.
“Kasihan banget ya… si Lana…”
Beatrix melanjutkan sambil membalik halaman.
“Di awal masuk, dia takut. Orang-orang di sekitarnya menganggap dia anak kumuh, tidak pantas berada di tempat mewah seperti ini.”
Ruangan jadi lebih sunyi. Bahkan Tina dan Tinasya berhenti bergerak.
Beatrix menatap halaman kedua.
“Dan di halaman yang ditemukan oleh si—”
Chika langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Eh! Dia nyebut namaku?!”
Beatrix terbatuk kecil.
“Uhuk… maksudku si gorila besi.”
Chika kembali ke pojokan, menggigit ujung kertas gosong yang tadi ada di lantai.
“Grr… suatu hari aku akan jadi Hero tanpa hinaan…”
Beatrix menarik napas.
“Lana berada di kelas yang isinya orang-orang kaya dan terpandang. Dia sangat pandai. Hampir semua sihir dia kuasai. Tapi teman-teman sekelasnya malah membulinya karena dianggap tidak pantas berdiri sejajar dengan mereka.”
Tina menutup mulut.
“Seram…”
Tinasya mengepalkan tangan.
“Keji.”
Beatrix mengangguk.
“Mereka membuli dari kata-kata sampai fisik. Semakin Lana rajin belajar, semakin mereka benci. Aku baru tahu masa lalu sekolah ini ternyata seperti tikus got… busuk di balik kemewahan.”
Ia membalik halaman lagi.
Flaap.
“…Dan di sini sudah habis.”
Chika menoleh lagi, wajahnya murung.
“Berarti… hantu-hantu itu mungkin… murid yang meninggal karena dibuli?”
Beatrix mengangguk pelan.
“Kemungkinan besar.”
Suasana hening sesaat, sampai Tina mengangkat tangan kecilnya.
“E-eto… kalau Lana orang rajin… mungkin dia sering ke perpustakaan…”
Tinasya langsung menyambung.
“Perpustakaan lantai dua sampai lima. Tempat anak rajin.”
Beatrix menutup buku itu.
“Kita cari di sana.”
Princes mengangkat tinjunya.
“Ayo! Kita cari semua catatan Lana!”
Chika mengangguk penuh semangat, meski matanya masih sedikit berkaca-kaca.
“Iya… kita bantu Lana… dan sekolah ini.”
Beatrix berdiri dan menyampirkan tasnya.
“Hmph. Jangan sampai gorila ini tersesat di antara rak buku.”
Chika langsung protes.
“Aku bukan gorila!”
Tinasya tertawa kecil.
“Tapi gorila yang mau menolong hantu.”
Tina ikut mengangguk.
“I-itu… gorila baik…”
Chika terdiam sejenak, lalu tersenyum pasrah.
“Ya… gorila baik juga pahlawan.”
Mereka pun berjalan menuju tangga perpustakaan, sementara angin dingin berhembus dari lorong, membawa suara samar seperti bisikan:
“La… na…”
Seolah sekolah itu sendiri sedang memanggil mereka untuk mengungkap rahasia yang terkubur selama seratus tahun lebih.
...----------------...
Tangga menuju lantai dua berdiri di hadapan mereka seperti mulut monster yang menganga. Lampu-lampu kristal di dinding berkedip pelan, tik… tik…, seolah sedang ragu apakah mau tetap menyala atau menyerah pada kegelapan. Angin dingin mengalir turun dari atas, membawa bau debu dan sesuatu yang amis, seperti kertas tua yang basah.
Chika melangkah duluan, dadanya dibusungkan.
“Baik! Demi Hero ketiga dan demi… uh… demi tidak dipanggil gorila lagi!”
Beatrix melipat tangan.
“Mimpi.”
Princes berjalan di samping Chika sambil memegang ujung bajunya.
“Chika… kalau ada hantu, kamu duluan ya…”
“Kenapa aku lagi?!” protes Chika.
Tina mengintip dari belakang pilar.
“Ka-kalau ada… aku bisa pingsan duluan…”
Tinasya mengangguk santai.
“Bagus, strategi bertahan: Tina tumbang, kita lari.”
Belum sempat mereka melangkah lebih jauh…
WUUUSSHHH—!
Sesosok putih meluncur turun dari langit-langit tepat di depan mereka. Rambut panjang menutupi wajah, tubuhnya melayang tanpa kaki.
“WAAAAAAAA!!!” teriak Chika, Princes, dan Tina serempak.
Chika refleks mengangkat perisai Lumina setengah jalan, tapi malah tersandung kaki sendiri dan jatuh terduduk. Princes melompat ke punggung Chika seperti koala panik. Tina memeluk tiang sambil gemetar. Tinasya malah berdiri sambil menatap hantu itu.
Hantu itu mengeluarkan suara, “Hiiiiihh…”
Lalu…
POOF.
Menghilang seperti asap.
Hening.
Beatrix menyesuaikan kacamatanya.
“…Itu tadi kuntilanak.”
Chika menelan ludah.
“Kenapa dia cuma muncul buat bilang ‘hii’ terus pergi…”
Princes mengusap dada.
“Dia sopan ya… hantu tapi permisi dulu…”
Tina duduk lemas di lantai.
“Aku hampir mati… padahal belum mati…”
Mereka melanjutkan naik. Anak tangga kayu berderit, kriiit… kraaak…, setiap pijakan terdengar terlalu keras di keheningan.
Sampai akhirnya mereka tiba di depan jalur menuju lantai dua…
dan mendapati jalan itu tertutup balok-balok batu besar yang disusun seperti tembok darurat.
Chika menggaruk kepala.
“Eh… ini sekolah atau dungeon?”
Beatrix mengamati balok-balok itu.
“Ini bukan reruntuhan alami. Ini sengaja dipasang.”
Tinasya menyentuh batu itu.
“Memang begitu. Lantai dua sampai ke atas tidak boleh dilewati.”
Princes mendongak.
“Kenapa?”
Tinasya mengangkat bahu.
“Katanya terlalu berbahaya. Hantu paling banyak muncul di atas.”
Chika menatap batu itu lama. Lalu menatap tangannya sendiri.
“…Kalau kita lewat paksa?”
Beatrix menoleh cepat.
“Jangan bodoh. Batu ini tebal. Butuh alat berat atau—”
Belum sempat kalimat itu selesai…
Chika maju satu langkah, menegakkan badan, menarik napas panjang.
“Oke… aku coba pelan-pelan…”
Ia menempelkan telapak tangan ke batu pertama.
KRRAAAKKK—!
Retakan menyebar seperti jaring laba-laba.
Semua membeku.
Chika tersenyum kikuk.
“Eh… kebetulan retak…”
Lalu ia mendorong sedikit lebih keras.
DOOOOM!!!
Satu balok batu pecah jadi dua, jatuh ke samping dengan suara berat. Debu beterbangan. Tina langsung batuk-batuk.
“Batunya… hancur…” gumam Princes dengan mata berbinar.
Chika menatap tangannya sendiri.
“Eh… kok gampang?”
Ia lalu memukul balok berikutnya dengan kepalan tangan kosong.
BRAKKK! BRAKKK!
Balok demi balok runtuh. Batu-batu besar beterbangan seperti mainan. Dalam beberapa detik, jalan menuju lantai dua terbuka lebar.
Hening.
Debu turun perlahan seperti salju abu-abu.
Beatrix berdiri kaku, kacamatanya sedikit miring.
“…Oke.”
Ia menatap Chika dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
“Sekarang aku yakin.”
Chika menoleh polos.
“Yakin apa?”
Beatrix menunjuk Chika dengan telunjuk lurus.
“Kau memang gorila.”
Chika terdiam.
“…Itu pujian atau hinaan?”
Tinasya tertawa kecil.
“Gorila pembuka jalan.”
Tina mengangguk cepat.
“G-gorila pahlawan…”
Princes memeluk pinggang Chika.
“Chika hebat! Gorila terkuat!”
Chika mengusap kepala Princes sambil tersenyum kaku.
“Kenapa kesimpulannya tetap gorila…”
Mereka pun melangkah melewati puing-puing batu, naik ke lantai dua yang lebih gelap. Di atas sana, lorong panjang terbentang dengan rak buku tinggi di kejauhan.
Angin dingin kembali berembus.
Dan dari atas, terdengar suara pelan, hampir seperti tawa…
hehehehe…
Chika menelan ludah.
“Perasaan… hantu di lantai atas lebih cerewet ya…”
...----------------...
Lanjut.
Chika bersama rombongan berjalan menuju jalur perpustakaan, namun mereka bertemu seorang gadis penyihir senior yang sedang memeriksa lantai dua.
Lalu Chika berkata, hai!.
Lalu gadis itu melihat ke arah nya dan tersenyum lalu berkata, kamu ngapain ke sini?
Lalu Chika berkata, kami mencari misteri Lana!
Lalu gadis itu terkejut dan berkata, Lana! Wah!! Kalian berani sekali ya! Kalau begitu...
Lalu dia mendekat dan berkata, perkenalkan... Nama ku Lena... Dan ini nomor telpon ku... Semisal nya
...----------------...
Perpustakaan lantai dua terbentang di depan mereka seperti medan perang buku. Rak-rak tinggi roboh saling bertumpukan, kertas berserakan seperti salju kusam di lantai, dan batu-batu besar menembus dinding seolah jatuh dari langit-langit. Debu menggantung di udara, membuat cahaya obor tampak berkabut.
Chika melangkah masuk paling depan sambil mengangkat obor.
“Wow… ini perpustakaan apa tambang batu…”
Princes menutup hidung.
“Chika… baunya kayak gudang tua…”
Beatrix mengamati sekeliling dengan mata tajam.
“Kalau catatan ketiga ada di sini, kita harus cari di antara reruntuhan ini.”
Tina menepuk-nepuk tongkat penyembuhannya.
“Aku… aku takut kalau ada hantu buku…”
Tinasya memungut satu buku yang sobek.
“Kalau ada, kita baca dulu sebelum pukul.”
Chika melihat tumpukan buku dan batu yang menghalangi lorong tengah.
“Hm… ribet ya kalau harus geser satu-satu.”
Ia mengangkat obor lebih tinggi.
“Kalau gitu… kita bikin terang aja sekalian.”
Sebelum siapa pun sempat mencegah—
“CHIKA JANGAN—”
FWOOOSH!
Api menjalar cepat di tumpukan kertas dan rak kayu.
“AAAA!” Princes meloncat.
“CHIKA! ITU BUKU!”
Beatrix ternganga.
“KAU MEMBAKAR PERPUSTAKAAN?! GORILA APA KAYU BAKAR?!”
Tina panik mengibaskan tongkatnya.
“A-aku… aku padamkan—!”
Tinasya menutup muka.
“Dia pikir ini perkemahan.”
Api berkobar sebentar, memakan kertas-kertas usang dan rak yang lapuk. Tapi anehnya, setelah beberapa detik… api itu padam sendiri, hanya menyisakan abu hitam dan batu yang kini terlihat jelas.
Di tengah abu itu, ada satu lembar kertas putih bersih. Tidak gosong. Tidak hangus. Bersinar samar.
Semua terdiam.
Princes menunjuk.
“Itu… masih utuh…”
Chika mendekat dan mengambilnya dengan dua jari.
“Lihat? Teoriku benar.”
Beatrix menyipitkan mata.
“Teori apa?”
Chika tersenyum bangga.
“Kertas penting itu kebal api karena… dia punya tekad.”
Tinasya terdiam beberapa detik.
“Logikamu itu… salah tapi entah kenapa berhasil.”
Beatrix merebut kertas itu.
“Sudah, gorila. Serahkan.”
Ia menyatukan kertas ketiga itu dengan dua catatan sebelumnya.
Begitu disatukan—
FWOOM…
Ketiganya menyatu membentuk sebuah buku kecil dengan sampul pudar.
Beatrix membuka dan mulai membaca dengan suara lebih pelan dari biasanya.
“Lana menulis… bahwa satu-satunya teman yang selalu menemaninya… adalah dua ekor tikus.”
Princes mendekat.
“Tikus?”
Beatrix mengangguk.
“Namanya Nana dan Nina. Ia memberi mereka makan sisa roti… dan berbicara pada mereka saat ia sendirian.”
Chika terdiam.
“Kasihan…”
Beatrix melanjutkan, suaranya sedikit mengeras.
“Di hari tertentu… para murid mulai menyerang Lana dengan sihir. Bukan duel… tapi hukuman. Mereka membiarkan Lana tergeletak tak berdaya.”
Ruangan terasa makin dingin.
“Dan keesokan harinya…”
Beatrix menelan ludah.
“Dua bangkai tikus… Nana dan Nina… diletakkan di atas meja Lana.”
Princes menutup mulutnya.
“Ke… kejam…”
Tina memeluk tongkatnya.
“Kenapa… sejahat itu…”
Beatrix mengepalkan tangan.
“Catatan itu bilang… Lana hanya punya dua makhluk itu di sisinya. Setelah itu… tulisannya berhenti beberapa halaman.”
Chika berdiri kaku.
“… Jadi… hantu-hantu di sekolah ini…”
Tinasya menyeringai pahit.
“Mungkin… akibat dendamnya.”
Princes memeluk lengan Chika.
“Chika… Lana pasti sangat sedih…”
Chika mengangguk pelan.
“Iya… dan kita harus tahu… apa yang terjadi setelah itu.”
Beatrix menutup buku kecil itu.
“Masih ada halaman lain. Kita harus cari sisanya.”
Ia menatap lorong gelap di antara rak-rak roboh.
“Kalau misteri ini berhenti di sini… maka sekolah ini tidak akan pernah tenang.”
Chika mengangkat obor lagi, kali ini lebih hati-hati.
“Baik! Kita cari sampai ketemu semua catatan Lana!”
Princes mengangguk kuat.
“Iya… demi Nana dan Nina!”
Tina menarik napas panjang.
“Aku… siap…”
Tinasya mengepalkan tangan.
“Kalau ada yang menghalangi, aku yang maju.”
Dan di antara abu buku dan batu runtuh, mereka melangkah lebih dalam ke perpustakaan, membawa kisah tragis Lana di hati mereka.
...----------------...
Lorong menuju tangga lantai tiga tampak lebih sempit dari sebelumnya. Dinding batu berwarna abu tua dipenuhi retakan seperti cakar, dan obor-obor di sisi tembok berkelip lemah, seakan ragu untuk tetap menyala.
Begitu mereka melangkah satu kaki ke arah tangga—
PLAK!
Semua lampu dan obor mati serentak.
Gelap total.
“Eh…?” suara Princes kecil terdengar lirih.
“Chika…?”
Chika refleks meraih tangan Princes.
“Ada aku, ada aku… jangan lepas ya.”
Beatrix menyalakan layar kecil di pistolnya, memancarkan cahaya kuning pucat.
“Ini bukan mati biasa… ini dipadamkan paksa.”
Tina menelan ludah.
“A-aku dengar… langkah kaki…”
Tinasya mengangkat tangan kosongnya.
“Kalau hantu, aku pukul. Kalau monster, aku pukul dua kali.”
Dari balik kegelapan di ujung lorong, tampak sesosok gadis berdiri. Rambut hitamnya diikat satu ke belakang, tubuhnya hanya siluet. Ia mengangkat satu tangan perlahan.
Chika menyipitkan mata.
“Eh… halo?”
Tidak ada jawaban.
Lalu—
WUUUUSSSHHH!!!
Sesuatu melesat dari sisi lorong.
“KE SAMPING!!” teriak Beatrix.
Mereka berlima meloncat ke dinding. Sebuah makhluk berupa aura hitam pekat dengan dua mata merah menyala melintas di depan mereka, meninggalkan jejak dingin seperti embun.
Princes menjerit kecil.
“ITU APA?!”
“Monster… tapi bukan fisik!” Beatrix berteriak sambil menembakkan hologram kuning. Cahaya menembus tubuh makhluk itu… tapi hanya membuatnya beriak seperti asap.
Makhluk itu berbalik, melayang rendah, lalu—
SSSSHHHH!!
Ia melesat lagi.
“LARI!!” Chika menarik Princes.
“SEMUA LARI!!”
Mereka berlari di lorong sempit yang hanya muat dua orang berdampingan. Rak buku hancur di kiri kanan, kaki mereka terpeleset debu dan abu.
Tina hampir jatuh.
“AKU KESEMPET—”
Tinasya menarik kerah bajunya.
“Jangan mati dulu!”
Tikungan pertama.
Mereka belok tajam.
Tikungan kedua.
Makhluk itu menabrak dinding, meninggalkan bekas hitam.
Tikungan ketiga.
Princes terengah-engah.
“Chika… kakiku pendek…”
“Pegangan!” Chika mengangkat Princes setengah berlari setengah menggendong.
Tikungan keempat.
Makhluk itu meraung tanpa suara, hanya getaran dingin di udara.
Beatrix berteriak sambil berlari.
“Ini lorong jebakan! Dia mau menggiring kita!”
Tikungan kelima—
“MAMPUS, BUNTU!” teriak Tinasya.
Di depan mereka, tangga ke lantai tiga tertutup tirai sihir hitam seperti tembok cair.
Makhluk itu melesat dari belakang, tubuhnya membesar, mata merahnya makin terang.
Princes gemetar.
“Chika… aku takut…”
Chika berdiri di depan Princes, membuka tangan seperti tameng.
“Jangan lihat ke belakang…”
Beatrix mengangkat pistol.
“Kalau dia datang… aku tembak!”
Tina mengangkat tongkat penyembuh.
“A-aku… aku siap…”
Makhluk itu meluncur—
WUUUUSSSHHH!!!
Tiba-tiba—
Princes bersinar.
Cahaya putih keemasan keluar dari tubuh kecilnya seperti lampu yang dinyalakan tiba-tiba.
“A-aku… kenapa terang?” Princes panik.
Satu per satu, obor di lorong menyala.
FWOOOM… FWOOOM… FWOOOM…
Lorong yang tadi gelap kini terang benderang.
Makhluk hitam itu menjerit tanpa suara, tubuhnya pecah seperti asap tertiup angin, lalu—
PUFF.
Hilang.
Tirai sihir hitam di tangga lenyap seperti kabut pagi.
Semua terdiam.
Chika perlahan menurunkan tangan.
“… Princes?”
Princes menatap tangannya sendiri.
“Aku… aku cuma kepikiran… jangan sampai kita dimakan…”
Beatrix menghela napas panjang.
“… Cahaya suci. Monster tipe bayangan memang lemah sama itu.”
Tinasya menyeringai.
“Pendek tapi mematikan.”
Tina memeluk Princes.
“Kamu… kamu keren banget…”
Chika berlutut di depan Princes dan tersenyum lebar.
“Lihat? Pahlawan kecil juga bisa nyalain lampu.”
Princes tersenyum bangga.
“Hihi… aku lampu berjalan.”
Beatrix mengibaskan rambutnya.
“Baiklah, lampu berjalan. Ayo naik. Sebelum ada monster model lain yang lapar.”
Mereka melangkah ke tangga lantai tiga yang kini terbuka, sementara lorong di belakang mereka kembali sunyi—seakan tak pernah ada makhluk bermata merah di sana.