Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA YANG DI SEMBUNYIKAN
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar yang luas itu, namun suasana di dalamnya terasa sedingin es. Arumi bangkit dari sofa, melipat selimut tipis yang menjadi pelindungnya semalam dengan gerakan rapi. Ia tidak tidur seranjang dengan suaminya. Bagi Arumi, berdebat dengan pria yang sudah menutup mata hatinya adalah kesia-siaan yang melelahkan.
Arumi mendekati ranjang besar tempat Ariya masih terbaring kaku. "Ayo bangun. Aku harus membantumu pindah ke kursi roda agar kamu bisa membersihkan diri," ujar Arumi dengan nada datar, seolah sedang berbicara pada pasien asing di rumah sakit.
Ariya membuka mata, tatapannya langsung menghunus tajam penuh kebencian. "Jangan sentuh aku! Sudah kukatakan berkali-kali, aku muak dengan tanganmu yang munafik itu!"
Arumi tidak mempedulikan cercaan itu. Sebagai seorang dokter, ia tahu emosi pasien pasca trauma memang tidak stabil, namun sebagai istri, hatinya tetap terasa teriris. Tanpa membalas kata-kata, Arumi menyisipkan lengannya di bawah ketiak Ariya, berusaha menarik tubuh pria itu agar terduduk.
"Kubilang berhenti, Arumi! Apa kamu tuli?" teriak Ariya. Ia meronta, namun tenaga kakinya yang lumpuh membuatnya sulit melawan secara efektif.
Dengan napas terengah, Arumi berhasil memindahkan tubuh Ariya ke kursi roda. Saat ia hendak membetulkan posisi duduk suaminya agar lebih nyaman, tiba-tiba sebuah gerakan cepat menghantam wajahnya.
Plak!
Tamparan keras itu mendarat tepat di pipi kiri Arumi. Kekuatan tamparan itu cukup besar hingga membuat kepala Arumi tertoreh ke samping. Keheningan yang mengerikan menyusul setelahnya. Arumi terpaku, telapak tangannya perlahan menyentuh pipinya yang terasa panas dan berdenyut.
"Itu akibatnya jika kamu meremehkan kata-kataku," desis Ariya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Matanya berkilat puas melihat Arumi yang terdiam.
Arumi tidak membalas. Ia justru mundur beberapa langkah, menatap Ariya dengan pandangan yang kosong dan dalam. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah masuk ke kamar mandi. Di balik pintu yang tertutup, Arumi menyalakan keran air dengan deras hanya untuk meredam suara isak tangisnya yang pecah. Ia membasuh wajahnya berkali-kali, namun bekas kemerahan di pipinya tetap tidak mau hilang.
Lima belas menit kemudian, Arumi keluar dengan penampilan yang sudah rapi. Ia mengenakan celana kulot hitam yang dipadukan dengan kemeja biru serta hijab berwarna senada. Tas medis dan jas putihnya tersampir di lengan. Matanya terlihat sedikit sembab, namun ia berusaha menegakkan punggungnya.
Ariya memperhatikannya dari sudut ruangan dengan senyum sinis. "Mau mengadu pada orang tuaku? Silakan. Aku tidak takut."
Arumi meliriknya sekilas, lalu berjalan keluar kamar tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sikap diam Arumi justru membuat Ariya merasa tidak tenang. Ia segera memutar kursi rodanya, keluar dari kamar menuju balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah tangga dan ruang tengah. Ia ingin memastikan apakah Arumi akan memainkan peran sebagai korban di depan ayahnya.
Di bawah, Arumi baru saja menuruni anak tangga terakhir ketika Heny tiba-tiba muncul dan langsung memeluknya dengan erat. Arumi tersentak, bingung dengan sambutan yang begitu emosional.
"Ada apa, Tante? Mengapa Tante menangis?" tanya Arumi dengan suara yang sedikit parau.
Heny tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya terus menggumamkan kata maaf sambil menciumi pipi Arumi berkali-kali. Namun, saat bibir Heny menyentuh pipi kiri Arumi, gadis itu sedikit meringis. Heny melepaskan pelukannya dan menatap wajah menantunya dengan saksama.
Meskipun Arumi sudah berusaha menutupinya dengan bedak tebal, bekas kemerahan berbentuk jari itu tetap terlihat jelas di kulitnya yang putih. Mata Heny seketika beralih ke atas, menatap Ariya yang sedang mengintip dari balkon lantai dua dengan wajah keras.
"Ariya! Apa yang sudah kamu lakukan?" teriak Heny dengan suara bergetar karena marah. Ia hendak melangkah menaiki tangga untuk menghardik putranya, namun tangan Arumi menahannya dengan lembut.
"Tidak, Tante. Ini bukan salah siapa-siapa," potong Arumi cepat. "Pipi saya hanya terbentur pinggiran rak saat saya terburu-buru mandi tadi. Benar, saya tidak bohong."
Heny menatap Arumi dengan pandangan tak percaya. "Terbentur? Tapi ini jelas bekas..."
"Tante, saya benar-benar harus pergi," sela Arumi lagi sambil memaksakan senyum. "Ada panggilan mendadak dari rumah sakit. Pasien saya membutuhkan observasi segera. Saya pamit dulu, Assalamu’alaikum."
Tanpa menunggu jawaban, Arumi bergegas menuju pintu utama dan menghilang di balik mobil yang sudah menunggunya. Ia bahkan tidak sempat menyentuh sarapan sedikit pun.
Ferdiansyah, yang sejak tadi berdiri di dekat ruang makan sambil mengamati dalam diam, berjalan mendekati istrinya. Tatapannya sangat tajam saat ia mendongak menatap Ariya yang masih berdiri di balkon dengan raut wajah tidak peduli. Ferdiansyah tidak berteriak, namun suaranya yang rendah terdengar sangat mengancam.
"Kau akan sangat menyesal setelah mengetahui segalanya, Ariya," ujar Ferdiansyah dengan nada dingin. "Sebelum hari itu tiba, carilah kebenaran dengan matamu sendiri. Jangan sampai semuanya hancur berkeping-keping karena kesombongan bodohmu itu."
Setelah mengatakan itu, Ferdiansyah menuntun istrinya menuju meja makan. Ariya hanya mendengus, memutar kursi rodanya kembali masuk ke kamar dengan perasaan gusar yang tidak bisa ia jelaskan.
Di meja makan, Heny masih terisak pelan. "Pah, Arumi bahkan tidak sempat sarapan. Kenapa Papa membiarkannya pergi begitu saja? Kita harus bicara pada Ariya!"
Ferdiansyah menghela napas panjang, menatap kursi kosong yang seharusnya ditempati Arumi. "Dia sengaja tidak mau sarapan bersama kita agar aku tidak melihat luka di pipinya lebih dekat, Mah. Dia sedang melindungi suaminya dari amarahku."
Heny tertegun. "Maksud Papa? Arumi sengaja berbohong?"
"Tentu saja. Papa tahu itu bukan karena benturan, tapi bekas tamparan anakmu yang sombong itu," jawab Ferdiansyah dengan wajah yang menahan amarah. "Dia tahu kalau aku melihatnya, aku akan sangat marah pada Ariya. Arumi mengorbankan dirinya sendiri agar rumah ini tidak meledak pagi ini."
"Kalau begitu ceritakan saja semuanya pada Ariya sekarang, Pah! Ceritakan kelicikan Lusi agar mereka tidak terus begini," desak Heny dengan penuh harap.
Ferdiansyah menggeleng tegas. "Tidak, Mah. Papa tidak akan bicara. Anak itu tidak akan pernah percaya jika kita bicara tanpa bukti fisik di depannya. Dia pria dewasa, biarkan dia mencari tahu sendiri."
"Tapi kasihan Arumi, Pah," isak Heny lagi.
"Biarkan dia bekerja dengan buktinya sendiri nanti. Jika Papa yang bicara, dia hanya akan menganggap kita membela Arumi karena kasihan. Papa ingin dia sendiri yang merangkak memohon ampun pada istrinya saat dia menemukan kebenaran itu. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang paling bersalah di dunia ini," tutup Ferdiansyah dengan nada bicara yang final.
Sementara itu, di dalam mobil menuju rumah sakit, Arumi menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Pipinya masih berdenyut nyeri, namun nyeri di hatinya jauh lebih dalam. Ia bertanya-tanya, sampai kapan ia harus menjadi tameng bagi pria yang justru paling ingin menghancurkannya?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra