NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13: benturan para dewa

Seoul, Pangkalan Militer Tersembunyi di Perbatasan Utara – Pukul 21.00.

Malam itu, langit Seoul tampak seolah terbelah. Tiga helikopter tempur siluman tanpa tanda pengenal mendarat di landasan pacu yang dikelilingi oleh hutan pinus yang sunyi. Dari dalamnya, turun tujuh sosok yang kehadirannya saja mampu membuat hewan-hewan di radius lima kilometer lari ketakutan. Mereka adalah 'The Hound', unit eksekusi rahasia di bawah World Hunter Association (WHA). Di barisan paling depan, berdiri seorang pria dengan zirah emas yang memancarkan aura mana begitu masif hingga udara di sekitarnya tampak berderak. Arthur Pendragon, sang Hunter Kelas SSS yang dijuluki 'The Sword of Humanity'.

"Direktur Choi, Anda terlalu lamban dalam menangani hantu-hantu ini," ucap Arthur dengan nada angkuh saat menyapa Choi Ha-neul yang sudah menunggu di sana. "Jika Crimson Sovereign itu ada di Seoul, maka timku akan menyeretnya keluar dari lubangnya malam ini juga."

Choi Ha-neul hanya menatap tajam pria itu. "Berhati-hatilah, Arthur. Mereka bukan Hunter biasa yang pernah kau hadapi. Mereka tidak memiliki inti mana yang bisa kau deteksi."

"Kita lihat saja," Arthur menyeringai, menghunuskan pedang legendarisnya yang mulai memancarkan cahaya putih menyilaukan.

Sementara itu, di sebuah bukit yang menghadap ke pangkalan tersebut, lima bayangan berdiri di balik kegelapan. Bastian, Hana, Rehan, dan Elara berdiri dalam posisi siaga, sementara Julian memproyeksikan hologram peta tempur di hadapan mereka. Melalui jaringan Blood-Link, mereka semua terhubung langsung dengan Arkan yang sedang duduk tenang di balkon apartemennya, menyesap teh sambil menatap bulan.

'Tuan, 'The Hound' telah tiba di titik penyambutan. Arthur Pendragon membawa enam Hunter Kelas S sebagai pendampingnya,' lapor Julian.

'Bastian, ini panggungmu,' suara Arkan bergema di benak mereka. 'Ingat, jangan gunakan kekuatan Sovereign-mu sepenuhnya. Aku ingin kau memberikan mereka keputusasaan yang cukup agar mereka tahu bahwa mereka hanyalah manusia. Hana, kau kunci jalur pelarian mereka. Rehan, siapkan zona netralisasi mana. Elara, beri tahu Bastian setiap kali Arthur mencoba menggunakan teknik pamungkasnya.'

'Siap, Sovereign!' jawab mereka serempak.

Arthur Pendragon melangkah maju ke tengah hutan, diikuti timnya. Tiba-tiba, ia berhenti. Tanah di bawah kakinya bergetar. Bukan gempa bumi, melainkan tekanan gravitasi yang mendadak meningkat drastis.

BRAKK!!!

Bastian mendarat tepat di depan Arthur, menciptakan kawah sedalam sepuluh meter. Debu beterbangan, dan dari dalamnya muncul sosok pria raksasa dengan zirah hitam-merah yang memancarkan haus darah yang murni.

"Hanya satu orang?" Arthur tertawa dingin. "Kau si Vanguard, kan? Dimana pemimpinmu? Suruh dia keluar dan hadapi aku."

Bastian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, lalu mengepalkannya ke arah langit.

"Sanguine Art, Gravity Well!"

Seketika, tim 'The Hound' yang terdiri dari Hunter Kelas S itu jatuh berlutut. Seolah-olah ada beban seberat gunung yang menekan pundak mereka secara tiba-tiba. Bahkan Arthur pun harus menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak terjatuh. Wajahnya yang tadinya angkuh kini berubah menjadi penuh keterkejutan.

"Tekanan apa ini?! Ini bukan mana!" teriak Arthur.

Bastian melesat maju. Kecepatannya yang dipadukan dengan berat tubuhnya menciptakan daya hancur yang luar biasa. Arthur mencoba menahan dengan perisai cahaya emasnya, namun saat tinju Bastian menghantam perisai itu...

PRANGG!!!

Perisai Kelas SSS itu retak dalam satu pukulan. Arthur terlempar mundur menabrak puluhan pohon pinus hingga tumbang.

Di saat yang sama, tim pendamping Arthur mencoba menyerang Bastian dari belakang. Namun, sebelum mereka bisa bergerak, kabut ungu pekat menyelimuti mereka. Rehan (Plague) muncul dari balik pepohonan.

"Napas kalian terlalu berisik," ucap Rehan pelan.

Siapa pun yang menghirup kabut itu merasakan aliran mana di tubuh mereka mendadak kacau. Paru-paru mereka terasa seperti diisi oleh cairan asam. Para Hunter Kelas S itu terbatuk darah, mencoba memanggil sihir penyembuh, namun racun Rehan telah mengunci sel-sel regenerasi mereka.

Dari langit, ratusan panah cahaya merah menghujani area tersebut dengan presisi yang menakutkan. Elara (Seer) berdiri di puncak pohon tertinggi, matanya yang bersinar merah silang mengunci setiap titik saraf para Hunter tersebut. "Tiga menit tersisa, Kakak. Hana sudah menutup jalur utara."

Arthur Pendragon bangkit dari reruntuhan, matanya kini menyala dengan amarah murni. "CUKUP! AKU AKAN MEMBANTAI KALIAN SEMUA!"

Arthur mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, memanggil teknik terkuatnya, 'Excalibur’s Wrath'. Cahaya putih raksasa berkumpul di bilah pedangnya, siap untuk membelah bukit itu menjadi dua.

'Sekarang,' perintah Arkan melalui Blood-Link.

Bastian tidak menghindar. Ia justru berdiri diam di depan Arthur. Ia melepaskan sedikit segel pada darahnya, membiarkan esensi Sovereign murni mengalir di permukaan kulitnya.

"Sanguine Art ,Absolute Deflection!"

Saat Arthur menebaskan pedang cahayanya, serangan tersebut tidak meledak. Sebaliknya, saat cahaya putih itu menyentuh tangan kosong Bastian, serangan itu seolah-olah ditelan oleh kegelapan merah. Bastian mencengkeram bilah pedang Arthur dengan tangan kosongnya—tangan yang kini berubah warna menjadi merah kristal.

KRAK!

Bilah pedang legendaris milik pahlawan dunia itu retak di bawah genggaman Bastian.

Arthur Pendragon gemetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai Hunter Kelas SSS, ia merasakan ketakutan yang murni. Ia menatap mata Bastian dan menyadari bahwa di hadapannya bukan hanya seorang Hunter, melainkan sesuatu yang jauh lebih tinggi.

"Kau... kau siapa sebenarnya?" bisik Arthur dengan suara pecah.

Bastian mendekatkan wajahnya, memberikan tekanan aura yang membuat Arthur kehilangan kekuatan untuk berdiri. "Aku hanyalah bayangan dari satu-satunya penguasa dunia ini. Dan kau... kau hanyalah debu di bawah kakinya."

Hana (Phantom) tiba-tiba muncul di samping leher Arthur, pisaunya sudah menyentuh kulit sang pahlawan dunia. "Haruskah aku mengakhiri hidupnya, Tuan?" tanyanya melalui transmisi darah.

'Jangan,' balas Arkan dari apartemennya. 'Biarkan dia hidup. Dia harus kembali ke WHA dan memberi tahu mereka, bahwa jika mereka mengirimkan 'anjing' lagi ke Seoul, aku akan memastikan anjing itu tidak akan pernah bisa kembali pulang. Julian, aktifkan pemindahan.'

Seketika, sebuah portal darah besar terbuka di bawah kaki Crimson Eclipse.

"Ingatlah malam ini, Arthur Pendragon," ucap Bastian sebelum ia menghilang masuk ke dalam portal bersama saudara-saudaranya. "Dunia ini bukan lagi milik kalian."

Seoul, Apartemen Arkan – Pukul 22.30.

Arkan meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong. Ia menghela napas panjang, menatap bayangannya di kaca jendela. "Kerja bagus, anak-anak."

Ia bisa merasakan kepuasan dari Bastian dan yang lainnya melalui Blood-Link. Mereka baru saja menghancurkan tim terkuat di bumi tanpa satu pun luka. Namun, Arkan tahu ini baru permulaan. WHA tidak akan tinggal diam setelah pahlawan kebanggaan mereka dipermalukan.

Tiba-tiba, ada ketukan di pintu apartemennya. Arkan tersentak. Tidak ada orang yang pernah berkunjung ke apartemennya di jam segini, kecuali...

Ia membuka pintu dan menemukan Liora berdiri di sana. Wajahnya tampak cemas, dan ia mengenakan jaket tebal yang menutupi piyamanya.

"Arkan... maaf mengganggu malam-malam," ucap Liora pelan. "Aku baru saja melihat berita... pangkalan militer di utara meledak, dan ada laporan bahwa Crimson Eclipse bertarung dengan tim 'The Hound'. Aku... aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Aku tahu kamu bilang kamu sakit, tapi perasaanku tidak enak."

Arkan menatap Liora. Di balik kecemasan gadis itu, Arkan bisa merasakan bahwa insting Liora mulai mendekati kebenaran. Gadis ini terlalu cerdas untuk kebaikannya sendiri.

"Aku baik-baik saja, Liora. Aku baru saja akan tidur," jawab Arkan sambil memberikan senyum lembut yang menenangkan. "Masuklah sebentar, udara di luar sangat dingin."

Liora masuk dan duduk di kursi kecil di ruang tamu Arkan yang sederhana. Ia melihat ke sekeliling—apartemen itu sangat sepi, hampir tidak ada barang pribadi. Namun, hidung Liora menangkap sesuatu. Bau yang sangat samar, namun tajam.

Bau besi. Bau darah.

Liora menatap punggung Arkan yang sedang membuatkan cokelat hangat untuknya. Kenapa bau ini selalu ada di sekitarnya? pikir Liora.

"Arkan," panggil Liora.

"Ya?"

"Jika suatu hari dunia ini benar-benar dalam bahaya, dan hanya kamu yang bisa menyelamatkannya... apa yang akan kamu lakukan?"

Arkan berhenti sejenak, tangannya yang memegang cangkir membeku di udara. Ia menoleh sedikit, menatap Liora dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku akan melakukan apa yang harus dilakukan seorang ayah untuk melindungi anak-anaknya, Liora. Meskipun itu artinya aku harus membakar seluruh dunia."

Liora terdiam. Jawaban Arkan bukanlah jawaban seorang murid SMA biasa. Itu adalah jawaban seorang raja yang lelah namun penuh tanggung jawab.

"Tidurlah, Liora. Besok kita masih harus menghadapi ujian matematika," ucap Arkan sambil memberikan cangkir cokelat itu.

Malam itu, di bawah atap apartemen yang sederhana, dua orang dengan rahasia masing-masing duduk dalam diam. Sementara itu, di belahan dunia lain, para pemimpin besar sedang berkumpul dalam kepanikan, menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan naga yang seharusnya mereka biarkan tidur selamanya.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!