Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelapan Sesungguhnya
Ozora berdiri di depan cermin besar di kamar mandi utama, membiarkan jubah sutranya jatuh ke lantai tanpa suara. Ujung jarinya yang dingin meraba perlahan tato bunga lili di perut bagian bawahnya, sebuah tanda yang Sky puji sebagai lambang kesucian yang kini ia miliki.
Ozora tersenyum, namun matanya tidak menunjukkan kehangatan. Dia sudah tahu. Dia tahu tentang Sky, tentang rasa jemu yang mulai menggerogoti pria itu, dan dia tahu bahwa Sky menganggapnya sebagai Obsesi yang sudah selesai.
"Kau memujaku dulu, Sky," bisik Ozora pada bayangannya sendiri. "Kenapa sekarang kau merasa bosan? Baiklah... akan ku tunjukkan apa itu rasa bosan yang sebenarnya."
Dia keluar dari kamar mandi. Kamar tidur itu hanya diterangi oleh nyala api dari perapian dan lampu remang-remang yang memberikan bayangan panjang di dinding.
Mansion kelurga Bellvania...
Ozora melangkah melewati hamparan karpet beludru yang dingin, mengabaikan kemewahan kamarnya sendiri yang kini. Dia berjalan menuju sudut ruangan yang tersembunyi di balik Mansion mewah itu, lemari kayu jati berukir kuno. Dengan satu tekanan halus pada panel dinding yang tersembunyi, pintu berat itu bergeser tanpa suara, mengungkap sebuah tangga spiral sempit yang menuju ke lantai bawah tanah.
Jika Sky memiliki foto-foto Ozora, di sini Ozora memiliki peta kehancuran Sky.
Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi tunggal yang menghadap ke sebuah monitor besar yang menampilkan setiap sudut apartemennya dengan Sky melalui kamera tersembunyi.
Ozora duduk di kursi itu, jemarinya kini tidak lagi gemetar. Dia memperhatikan layar yang menunjukkan Sky sedang meneguk wiski di ruang kerja, tampak gelisah namun bosan, persis seperti predator yang kehilangan minat pada mangsa yang terlalu jinak.
"Kau pikir aku adalah lili yang suci, Sky?" bisik Ozora sambil menyentuh layar, tepat di wajah pria itu. "Lili seringkali tumbuh subur di atas tanah pemakaman. Dan kau baru saja menggali liang lahat mu sendiri dengan merasa bosan padaku."
Dia mengambil sebuah botol kecil berisi cairan merah pekat dari laci meja. Itu bukan racun yang membunuh raga, melainkan sesuatu yang akan menghancurkan kewarasan. Dia akan memberikan Sky apa yang pria itu inginkan, permainan baru. Namun kali ini, Ozora yang memegang kendali bidaknya.
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang mengerikan. Cinta bagi Ozora bukan lagi tentang pelukan hangat, melainkan tentang kepemilikan mutlak.
Beberapa Jam Kemudian...
Ozora kembali ke apartemennya, memasuki ruang kerja Sky. Pria itu duduk di balik meja mahoni besar, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong yang menghina. Botol wiski di tangannya hampir tandas.
"Sky," panggil Ozora lembut, hampir seperti desahan.
Sky tidak menoleh. "Aku sedang tidak ingin bicara, Ozora. Kembalilah ke tempat tidur."
Ozora tidak mundur. Dia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat tenang, dia menuangkan isi botol merah itu ke dalam gelas wiski Sky yang masih tersisa sedikit. Logam bertemu kaca, dentingannya terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
Ozora menjatuhkan dirinya ke pangkuan Sky yang mulai kehilangan kesadaran motoriknya. Dia melilitkan lengannya ke leher Sky, "Sekarang kita akan bermain, Sayang. Di ruang bawah tanahku. Di tempat di mana tidak ada cahaya, tidak ada kebosanan, hanya ada kau, aku, dan rasa sakit yang akan membuatmu ingat bahwa aku adalah satu-satunya oksigen mu."
Dunia di sekitar Sky Remington runtuh menjadi kepingan bayangan hitam sebelum akhirnya benar-benar padam.
Sky terbangun bukan karena rasa sakit, melainkan karena aroma parfum Ozora yang memabukkan—campuran lili dan kayu cendana yang tajam. Dia menyadari tangannya terikat ke sandaran kursi beludru hitam dengan borgol berlapis bulu halus. Ini bukan penyiksaan; ini adalah singgasana.
Di depannya, Ozora berdiri dengan keanggunan seorang ratu. Cahaya lilin di ruangan itu memantul di matanya yang berkilat obsesif.
"Kau bangun, Sayang," bisik Ozora, jemarinya yang lentik menyisir rambut Sky yang sedikit berantakan.
Sky tidak marah. Sebaliknya, seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang berdarah. Matanya menatap Ozora dengan lapar—tatapan seorang pria yang baru saja menemukan harta karun yang ia kira telah hilang.
"Ruangan ini..." Sky mengedarkan pandangan ke dinding yang penuh dengan foto-fotonya, jadwal kegiatannya, bahkan rekaman suara detak jantungnya. "Kau mencuri semua ini dariku, Ozora? Sejak kapan?"
"Sejak pertama kali kau mengunci pintu kamar untukku, Sky," jawab Ozora sambil duduk di pangkuan Sky, mengabaikan fakta bahwa pria itu terbelenggu. Dia menempelkan pisau kecil yang dingin ke leher Sky, namun gerakannya lebih mirip sebuah belaian. "Kau bilang kau bosan malam ini. Apa aku kurang gelap untukmu?"
Sky tertawa rendah, sebuah suara yang menggetarkan dada Ozora. "Bosan? Aku hanya memancing mu, Ozora. Aku ingin melihat sejauh mana lili suciku ini akan layu dan berubah menjadi duri yang menusukku. Dan kau... kau jauh lebih indah saat kau gila seperti ini."
Sky menyentakkan tangannya. Bunyi logam beradu terdengar nyaring, namun ia tidak berniat lepas. Ia hanya ingin merasakan tekanan borgol itu.
"Kau pikir hanya kau yang punya ruang rahasia?" Sky berbisik tepat di depan bibir Ozora. "Di bawah Mansion Remington, ada sebuah brankas yang hanya berisi satu hal, rekaman setiap napas mu saat kau tidur. Aku terobsesi padamu hingga ke tahap di mana aku benci saat kau berkedip, karena itu artinya aku kehilanganmu selama satu milidetik."
Ozora terpaku. Rasa hangat yang aneh menjalari tubuhnya. Ternyata, mereka berdua adalah dua sisi dari koin kegelapan yang sama. Dia menjatuhkan pisaunya ke lantai, lalu merogoh sebuah kotak kecil.
Bukan pelacak yang kasar, melainkan sepasang cincin platina dengan ukiran nama mereka di bagian dalam, namun di sisi tajamnya terdapat jarum.
"Jika kita memakai ini," ucap Ozora dengan nada posesif yang romantis, "detak jantungmu akan terhubung dengan jam tanganku. Jika jantungmu berhenti, duniaku juga akan berakhir. Kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku, bahkan dalam kematian."
Sky menatap cincin itu dengan pemujaan yang murni. "Pasangkan padaku, Ozora. Tandai aku sebagai milikmu, sebagaimana aku telah menandai mu di setiap inci jiwaku."
Ozora memasangkan cincin itu, membiarkan jarum kecilnya menyatu dengan kulit Sky sebuah ikatan darah yang manis. Dia kemudian melepaskan kunci borgol Sky. Begitu bebas, Sky langsung menarik pinggang Ozora, menguncinya dalam pelukan yang menyesakkan napas.
"Jangan pernah katakan kata bosan lagi," ancam Ozora lembut.
"Aku tidak akan pernah bosan dengan kegelapan yang secantik dirimu," balas Sky menciumnya dengan intensitas yang seolah ingin menelan seluruh keberadaan Ozora.
Di ruang bawah tanah yang tersembunyi itu, mereka tidak lagi membutuhkan dunia luar. Mereka adalah penguasa, pelayan, dan penjara bagi satu sama lain.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰