Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pagi yang cerah berubah aneh
Syren pun bernyanyi-nyanyi kecil di koridor kantor yang sudah sepi, sesekali melompat kegirangan sampai kuncir rambutnya bergoyang. "Ohhh yesss! Lima juta di tangan! Arisan fiktif membawa berkah!" serunya tertahan agar tidak gema di lorong.
Drt... drt... HP Syren bergetar di saku celananya.
Mama.
"Halo, Ma?" sapa Syren sambil menekan tombol lift.
"Halo sayang, kamu belum pulang ya?" tanya Mama dari seberang telepon.
"Ini baru mau pulang, Ma. Kenapa?"
"Oh, nggak apa-apa. Mama sama Papa kayaknya satu minggu lagi baru pulang. Papa kamu masih disuruh bosnya buat menangani proyek di sini," ucap Mama berbohong, padahal bos yang dimaksud adalah Papa sendiri yang sedang sibuk mengurus ekspansi bisnis industri miliknya.
"Oh, iya Ma. Titip salam buat Papa ya, jangan capek-capek. Dadah Mama!" Syren menutup telepon dengan senyum lebar.
Syren merasa lega, setidaknya kalau besok ia dijemput Julian untuk makan malam, ia tidak perlu menyusun skenario rumit untuk menjelaskan pada orang tuanya. Ia segera memacu Scoopy-nya membelah malam menuju rumah, membayangkan esok hari ia akan tampil cantik demi bayaran lima juta rupiah.
"Keren sih Papa, waktu belum bangkrut dia bosnya, sekarang jadi asistennya," gumam Syren pelan sambil menghidupkan mesin Scoopy-nya. Ia tersenyum tipis, merasa bangga pada sosok Ridwan yang tetap gigih bekerja meski dalam pikirannya sang Papa sekarang hanya menjadi bawahan orang lain.
Syren dan Ardi memang benar-benar bisa dikibulin. Padahal, Ridwan hanya ingin putra-putrinya belajar hidup mandiri dan tidak manja dengan kekayaan. Strategi "pura-pura bangkrut" itu sukses besar; Syren dan Ardi tetap tangguh walau sudah satu tahun ini mereka harus hidup sederhana di rumah yang sekarang.
"Untung aja gue sama Ardi bisa diajak hidup agak susah walaupun berat," batinnya lagi sebelum melaju membelah jalanan malam.
Begitu sampai di depan rumah, Syren mengernyit melihat deretan motor terparkir rapi. "Pasti ardi lagi main sama temen-temennya nih," tebaknya tepat sasaran.
Syren melangkah masuk ke rumah, dan benar saja, ada empat orang laki-laki yang sedang asyik nongkrong di ruang tamu.
"Eh, Mbak Syren udah pulang!" sambut Ardi dengan cengiran khasnya.
"Udah," jawab Syren singkat. Matanya beralih menatap tiga teman Ardi yang tampak sopan.
"Kalian udah lama?" tanya Syren ramah.
"Udah Mbak," jawab mereka serempak. Mereka pun satu per satu menyalami tangan Syren dengan hormat. "Malam, Mbak!"
"Malam. Ya udah, lanjutin aja mainnya. Jangan berisik ya, Mbak mau istirahat," pesan Syren sebelum melangkah menuju kamarnya.
Setelah mencuci muka dan berganti dengan kaos santai, Syren keluar kamar menuju dapur untuk mengambil camilan di kulkas. Saat melewati ruang tamu, ia berhenti sebentar menatap Ardi dan kawan-kawannya yang masih asyik nongkrong.
"Di, besok pagi bangun pagi ya, kita jogging bareng. Eh, kalian bertiga mau ikut nggak?" tawar Syren sambil mengunyah keripik.
"Boleh, Mbak!" jawab mereka serempak dengan semangat, lumayan bisa jogging bareng mbak-mbak cantik.
"Ya udah, gue masuk dulu," ucap Syren sembari melambaikan tangan.
Syren pun merebahkan dirinya di kasur empuk serba birunya. Ia meraih ponsel dan segera mengirim pesan singkat ke grup atau kontak pribadi sahabatnya itu.
Syren: "Besok jangan lupa jogging, jam 6 berangkat ya."
Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar.
Gaby Ceret: "Oke. Gimana tadi sama Pak Bos lo?"
Syren: "Cuma disuruh bantuin mendata aja." (Syren sengaja tidak cerita soal tawaran 5 juta dan insiden jatuh di pelukan Julian tadi, bisa heboh tujuh keliling si Gaby).
Gaby Ceret: "Yaudah, malam Ren. Jumpa besok lagi."
Syren: "Okey, bye!"
Syren meletakkan ponselnya di nakas. Pikirannya melayang pada rencana makan malam besok. Uang 5 juta memang menggiurkan, tapi menghadapi Oma Arum dan tatapan tajam Julian di rumah besarnya pasti butuh tenaga ekstra.
"Duh, moga-moga besok nggak ada drama kepleset lagi," gumam Syren pelan sebelum akhirnya memejamkan mata, bersiap untuk
bangun pagi demi janji jogging-nya.
Pagi yang cerah menyambut semangat Syren. Setelah mencuci muka dan sikat gigi, ia mengenakan kaos biru favoritnya yang dipadukan dengan celana training hitam. Rambutnya dikuncir tinggi ala ponytail, memperlihatkan leher jenjangnya yang segar.
Begitu keluar kamar, ia melihat Ardi sudah rapi dan siap tempur. Mereka langsung melangkah ke depan rumah, dan benar saja, "pasukan" sudah lengkap berkumpul di sana. Ada Gaby yang sibuk melakukan pemanasan, Lea yang tampak manis dengan setelan sporty-nya, serta ketiga teman Ardi yang sudah siap siaga.
"Ayokkkk kita ke Lapangan Merdeka!" seru Ardi dengan semangat berapi-api sambil merangkul pundak Lea dengan protektif.
"Idihhh... sumpah Di, gue jijik sama tingkah lo! Masih pagi udah tebar kemesraan aja!" sewot Syren sambil memutar bola matanya, membuat Gaby tertawa terpingkal-pingkal.
Rombongan kecil itu pun mulai berjalan santai menuju Lapangan Merdeka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Suasana pagi yang sejuk diisi dengan candaan Ardi dan ketiga temannya. Syren dan Gaby berjalan di belakang, asyik mengobrolkan rencana mereka hari ini.
"Eh Ren, serius nanti malem lo nggak ada acara?" pancing Gaby lagi, masih penasaran soal Julian.
"Gak ada, Gaby sayang... gue cuma mau rebahan abis jogging ini," bohong Syren lagi. Ia tidak mungkin bilang kalau malam ini ia punya "proyek" senilai 5 juta bersama sang Bos Peot.
Sesampainya di lapangan, mereka bergabung dengan keramaian orang yang juga sedang berolahraga. Syren mulai melakukan pemanasan dan lari-lari kecil, menikmati udara pagi yang segar.
Mereka menghabiskan waktu dengan berbagai aktivitas fisik, dari lari, stretching, hingga bermain bola basket ringan dengan teman-teman Ardi. Tawa dan semangat memenuhi suasana. Setelah merasa cukup berolahraga, mereka memutuskan untuk mencari sarapan bersama di warung dekat lapangan.
Di tengah perjalanan menuju warung, Syren tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang membuatnya sedikit terkejut melihatnya di pagi hari ini.
"Rendi?" Syren menghentikan langkahnya, menatap sosok pria yang juga mengenakan pakaian olahraga di depannya.
Rendi tersenyum lebar, tampak senang bertemu Syren di pagi buta seperti ini. "Eh, Syren! Nggak nyangka ketemu di sini. Kamu rutin jogging di sini juga?"
"Nggak juga sih, Ren. Ini lagi nemenin Ardi sama temen-temennya aja," jawab Syren sambil menunjuk ke arah Ardi yang masih asyik bercanda dengan Lea di kejauhan.
"Oh... gitu." Rendi mengangguk, namun matanya tampak mencari-cari sesuatu. "Kemarin... pria yang bareng kamu di sekolah itu... dia beneran cuma bos kamu, kan?"
Syren sempat tertegun sejenak. Belum sempat ia menjawab, Gaby tiba-tiba menyenggol lengannya sambil berbisik jahil. "Cieee, ada yang dicemburuin Pak Guru nih!"
"Diem lo, By!" desis Syren pelan. Ia kembali menatap Rendi. "Iya, dia cuma bos aku kok. Kemarin dia cuma kebetulan lagi ada waktu luang aja."
Rendi tampak sedikit lega mendengar jawaban itu. "Syukur deh. Oh iya, Ren, soal ajakan aku semalam... kalau kamu nggak ada acara malam ini, gimana kalau kita—"
"Maaf Pak Rendi, Syren nanti malam ada urusan sama saya."
Sebuah suara bariton yang sangat familiar tiba-tiba memotong ucapan Rendi. Syren, Gaby, dan Rendi serempak menoleh ke arah sumber suara.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui