Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Deo dan kedua orang tuanya menghampiri Vania. Pria itu sejenak mengibaskan rambutnya. Ia dengan antusias menggeret kopernya dan berlari kecil ke arah Vania, seakan-akan rindunya telah terobati.
Deo hendak memeluk Vania, namun gadis itu segera menghindar dan menggelengkan kepalanya sebagai kode jika gadis itu tidak nyaman berpelukan di tepat ramai seperti ini. Deo mendengus kecil kemudian menatap Vania karena reaksi gadis itu.
" Jangan di sini," ujar Vania.
Kedua alis Deo menukik." Kenapa? Kamu gak kangen sama aku?" tanya Deo.
"Kangen, tapi gak harus peluk juga kan?"
" Loh kenapa? Kamu kan tunangan aku."
" Aku tahu tapi bukan berarti kita bisa bebas melakukan apapun, aku malu."
" Kok kamu gitu? Biasanya aku peluk dimana aja kamu gak pernah protes," ujar Deo dengan wajah kecewa.
Wajah Vania yang semula serius kemudian berubah, gadis itu tersenyum pada kekasihnya itu. " Aku cuma bercanda," ujarnya kemudian perhatiannya beralih pada orang tua Deo. " Halo om, tante. Apa kabar?" Vania menghampiri kedua orang tua Deo dan menyalami mereka.
Ibu Deo tersenyum hangat pada calon menantunya itu." Halo sayang, tante dan om baik-baik aja. Kamu apa kabar? Sudah lama kamu gak main ke rumah."
" Vania senang mendengar tante dan om baik-baik aja, Vania juga baik-baik aja om."
" Syukurlah kalau calon menantu tante baik-baik aja. Tante kangen banget sam kamu," ujar Ibu Deo lantas memeluk erat Vania.
Vania meembalas pelukan Ibunya Deo, cukup lama kemudain ia mengulurkan pelukannya. " Tante pasti lapar kan? Kalau begitu aku mau ajak tante ke restoran yang paling enak di sini."
" Tau aja tante lagi lapar, kamu memang anak yang pengertian. Yasudah, kita mampir ke restoran yang kamu maksud itu."
Dengan santun Vania mempersilahkan orang tua Deo agar berjalan terlebih dahulu, sedangkan dirinya dan Deo berjalan di belakang. Deo melirik sekilas kekasihnya itu, kemudian tangannya terulur hendak menggandeng tangan Vania. Menyadari hal itu, Vania segera mengambil koper Deo dan berinisatif menggeretnya. Deo jelas kesal dengan sikap Vania yang terlihat jelas tengah menghindarinya.
" Kenapa kamu kesannya kayak menghindar dari aku? Atau jangan-jangan kamu masih kesal karena podcast aku itu?" tanya Deo yang peka terhadap sikap aneh Vania.
Vania menoleh sebentar ke arah Deo. " Bahas itu nanti aja, sekarang kamu dan orang tua kamu istirahat dulu," jawab Vania seraya tersenyum.
Deo menghela napasnya." Hari ini sikap kamu aneh, makanya aku khawatir. Biasanya kalau kita ketemu, kamu pasti langsung peluk aku terus bilang kangen. Hari ini, jangankan peluk atau bilang kangen. Kamu malah terkesan menghindar."
Vania tersenyum kecil. " Sikapku gak aneh, aku juga kangen kamu. eum.. aku punya kejutan buat kamu."
" Kejutan apa?"
" Namanya kejutan gak akan aku kasih tahu sekarang dong. Nanti kamu bilang mau ajak aku jalan-jalan kan?"
" Iya, aku mau ajak kamu ke suatu tempat, aku juga punya kejutan buat kamu."
Vania tersenyum." Asyik, pas banget kalau gitu. sekarang kamu istirahat aja dulu dan jangan mikir yang aneh-aneh."
Vania menepuk- nepuk pundak kekasihnya itu agar tenang. Sementara Deo hanya tersenyum dan cukup merasa bingung dengan sikap Vania hari ini.
..
Matahari baru saja naik di ufuk timur, mengecat langit dengan semburat jingga dan merah muda saat Deo dan Vania tiba di tempat wisata alam itu. Udara segar bercampur dengan aroma tanah yang baru saja disiram embun pagi, menciptakan sensasi yang menyegarkan. Di depan mereka, gunung menjulang tinggi, puncaknya kadang-kadang tersembunyi oleh awan tipis yang melintas perlahan.
Di sekeliling lokasi, pepohonan hijau tumbuh lebat, dedaunannya bergerak-gerak lembut ditiup angin pagi. Sesekali, suara burung terdengar merdu, menambah keasrian pemandangan. Jalan setapak yang mereka lalui dipenuhi dengan kerikil kecil dan daun-daun yang gugur, membuat setiap langkah mereka terdengar khas dan menyatu dengan alam.
Di beberapa tempat, pengunjung lain juga tampak menikmati keindahan alam, ada yang sedang berjalan-jalan, ada pula yang duduk di bangku kayu yang tersedia sambil mengabadikan pemandangan dengan kamera. Vania, dengan mata yang berbinar, terlihat takjub dan terus mengamati detail gunung dan kehijauan yang ada di sekelilingnya.
Saat itu cahaya matahari tidak hanya mencerahkan hari, tapi juga menghangatkan udara di pagi hari ini. Keindahan alam ciptaan Tuhan ini sejenak bisa memenangkan diri Vania.
Vania memejamkan matanya seraya menghembuskan napasnya, seolah hembusan itu berhasi mengangkat sedikit beban pikirannya. Begitu Vania membuka mata, ia melihat Deo berlari kecil sembari membawa buket bunga berukuran cukup besar. tidak lupa di belakangnya juga terdapat sekelompok orang yang menyanyikan lagu khusus untuk mereka berdua.
Dulu mungkin Vania akan terharu, tersenyum senang dengan dada yang berdebar atas perlakuan romantis Deo. Namun hari ini, tidak sedikitpun ada rasa haru dalam dirinya. Jangankan untuk merasa bahagia, bahkan wajahnya pun terpasang tanpa ekspresi dan terkesan santai, seolah tidak lagi memancarkan cinta terhadap kekasihnya itu.
Deo terengah-engah bergitu berada di hadapan Vania. Ia lantas memberikan buket bunga kepada kekasihnya. Di samping keduanya sekelompok orang kembali menyanyikan lagu romantis. Dengan cuaca yang cerah dan lagu romantis, seharusnya momen ini menjadi momen yang membahagiakan untuk Vania. Apalagi orang-orang di sekitar, termasuk kedua orang tuanya tengah menyaksikan kebersamaan mereka berdua.
" Aku minta maaf untuk yang kemarin. Jujur, aku gak bermaksud apa-apa soal pembahasan di podcast itu, apalagi berniat menyudutkan kamu dan kedua orang tua kamu. Waktu itu aku cuma sekedar sharing supaya perempuan ada baiknya tidak memberatkan mahar kepada laki-laki."
" Tapi laki-laki yang baik akan berusaha dan memberikan mahar yang terbaik untuk perempuannya kan?"
" Tentu saja, aku akan berusaha memberikan mahar terbaik untuk kamu Vania." Deo kemudian tersenyum." Aku dan kedua orang tuaku udah nentuin tanggal pernikahan kita."
"Oh, bagus. Justru lebih cepat lebih baik kan?"
Deo mengangguk." Iya, kamu benar. Eum,, kamu bilang ada kejutan buat aku."
Vania menoleh ke sekitarnya, ternyata orang tuanya dan orang tua Deo, juga beberapa orang tengah memperhatikan mereka berdua.
" Sebaiknya kita cari tempat lain, ya? Aku gak mau bicara disini."
Deo menunjuk ke sekelompok orang yang sedari tadi bernyanyi untuk mereka dan berkata." Tapi mereka lagi nyanyiin kita loh. Kenapa kamu gak bicara di sini aja?"
" Karena yang akan aku tunjukan menyangkut masa depan kita dan tentunya cukup kita yang tahu, hubungan kita bukan untuk konsumsi publik."
"Oke, gimana kalau kita ke san aja?" Deo menunjuk ke tempat yang tak jauh dari mereka berdiri sekarang.
Vania mengangguk. Sejenak Deo meminta kelompok band itu untuk menghentikan nyanyian mereka dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka. Sementara Vania berbincang sebentar dengan kedua orang tuanya.
Deo mengajak Vania ke tempat yang indah, tentunya juga jauh dari jangkauan banyak orang. Vania menghela napasnya guna menyiapkan mentalnya. Lain halnya dengan Deo yang justru salah tingkah karena sedang berduaan bersama Vania.
Vania menatap cincin yang tersemat di jari manisnya. Embun pagi sudah sirna seiring berjalannya waktu, namun mata Vania justru yang kini berembun. Meski begitu, ia pantang memperlihatkan bahwa dirinya lemah dihadapan Deo.
" Masih soal podcast itu? Oke, aku minta maaf. Jangan terlalu diambil hati."
Vania berdecih mendengar ucapan Deo. " Jangan diambil hati katamu? Aku dan orang tuaku bahkan belum pernah membahas soal mahar ke kamu dan orang tuamu. Tapi kamu sudah bicara sana sini seolah aku dan orang tuaku membebani kamu soal mahar itu. Aku gak nyangka kamu bisa lakuin ini. Asal kamu tahu, gara-gara pembahasan mahar kamu itu, aku dan orang tuaku jadi sasaran netizen, mereka sebut aku cewek matre," protes Vania.
" Netizen doang, gak perlu kamu pikirin. Kan aku udah bilang, aku cuma sekedar Sharing seputar mahar."
" Sharing soal mahar? Gak masalah, tapi bisa kan jangan bawa-bawa mamah dan papahku! Kalau kamu keberatan soal mahar, kamu bisa bicara baik-baik. Atau kamu manfaatin hal itu supaya jadi viral dan aku terkena hujat? Mau bikin drama di media sosial? Katamu cinta tapi kok terkesan mojokin aku dan orang tuaku."
" Kamu ini ngomong apa si? Aku bisa bisa kok kasih mahar yang layak buat kamu. Aku cinta sama kamu Vania, jadi aku akan lakuin apapun untuk kebahagiaan kamu," ujar Deo.
" Kamu yakin dengan apa yang kamu ucapin itu?"
Vania berdecak,dengan gemetaran saat melepas cincin di jari manisnya. Setelahnya dia memberikan cincin itu pada Deo.
" Gak perlu pura-pura lagi, Deo."