"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - JARINGAN TERSEMBUNYI
Dua minggu setelah pertemuan dengan Lenna, Dara mendapat kabar yang mengejutkan.
Ahli forensik audio, Pak Gunawan menelpon dengan nada serius.
"Nyonya Kiara, rekamannya asli. Tidak ada tanda manipulasi digital. Suara Salma terverifikasi cocok dengan sampel suara dari persidangan sebelumnya. Ini bukti kuat."
"Terima kasih, Pak Gunawan. Bisa tolong kirimkan laporan tertulis ke pengacara kami?"
"Sudah dalam proses. Tapi Nyonya ada yang aneh."
Dara langsung waspada. "Aneh bagaimana?"
"Saat saya analisis metadata rekaman, ada jejak digital yang menunjukkan ponsel yang merekam pernah terhubung dengan jaringan yang sama dengan ponsel lain. Ponsel yang terdaftar atas nama Rani."
Dara merinding. "Rani? Asisten Salma yang kami tangkap?"
"Ya. Artinya ponsel yang digunakan Lenna untuk merekam percakapan Salma adalah ponsel yang pernah berada dalam jaringan komunikasi Salma dan Rani."
"Maksud Bapak, Lenna bagian dari jaringan Salma sejak awal?"
"Kemungkinan besar. Atau setidaknya dia punya koneksi dengan mereka yang lebih dalam dari yang dia akui."
Setelah menutup telepon, Dara langsung memanggil Regan.
"Kita harus bicara dengan Lenna. Sekarang."
Mereka menemukan Lenna di kosan murahan di kawasan Tanah Abang, kamar sempit dengan kasur tipis dan dinding berlumut.
Lenna terlihat shock saat Dara dan Regan muncul.
"Ki-Kiara? Kenapa kalian di sini?"
"Kita perlu bicara. Tentang ponselmu." Dara masuk tanpa diundang, menatap sekeliling kamar yang menyedihkan ini.
"Ponselku? Memangnya kenapa..."
"Ponselmu pernah terhubung dengan jaringan komunikasi Rani dan Salma. Artinya kamu pernah jadi bagian dari jaringan mereka. Jelaskan."
Lenna memucat. "Aku... aku bisa jelaskan..."
"Jelaskan sekarang. Atau aku panggil polisi dan tuduh kamu sebagai kaki tangan Salma."
Lenna jatuh duduk di kasur tubuhnya gemetar. "Baiklah. Aku akan jujur."
Dia mengambil napas panjang.
"Setelah aku kabur dari rumah kalian... aku tidak punya uang, tidak punya tempat tinggal. Aku putus asa. Lalu Salma hubungi aku. Entah bagaimana dia tahu situasiku. Dia tawarkan pekerjaan, membantu dia mengawasi kalian dari jauh."
"Jadi kamu mata-mata Salma?" Regan langsung mengacungkan pistol.
"TUNGGU! Dengarkan dulu!" Lenna mengangkat tangannya. "Aku terima tawarannya di awal. Aku butuh uang. Aku lapor ke Salma tentang rutinitas kalian, tentang pengawal, tentang semuanya. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi aku tidak tahu dia mau gunakan informasi itu untuk bunuh Kiara!" Lenna menatap Dara dengan mata berkaca-kaca. "Aku pikir dia cuma mau mengawasi. Aku tidak tahu dia rencanakan pembunuhan! Dan saat aku tahu, saat dia bilang dia akan bunuh kamu dan buat Kirana yatim... aku tidak bisa."
"Kenapa kami harus percaya padamu?"
"Karena kalau aku masih kerja untuk Salma, aku tidak akan kasih rekaman itu pada kalian! Aku bisa saja diam! Biarkan rencana Salma berjalan!" Lenna berdiri, menatap mereka dengan putus asa. "Aku bawa rekaman itu justru untuk menghentikan Salma! Untuk menebus kesalahanku!"
Dara mengamatinya, mencari tanda kebohongan. Tapi yang dia lihat ketakutan tulus, penyesalan tulus.
"Berapa banyak informasi yang kamu kasih ke Salma?"
"Banyak. Rutinitas kalian. Jadwal dokter Kirana. Nama pengawal. Posisi kamera keamanan." Lenna menunduk malu. "Aku... aku kasih semua yang dia minta. Karena aku masih dendam padamu waktu itu."
"Dan sekarang? Apa kamu masih hubungan dengan Salma?"
"Tidak. Setelah aku tolak untuk bunuh kamu... dia putus kontak. Bahkan mengancam akan bunuh aku kalau aku bocorkan rencananya. Makanya aku bawa rekaman itu sebagai insurance untukku juga."
Regan menatap Dara. "Kak, apa kita tangkap dia?"
Dara berpikir keras.
Di satu sisi, Lenna pengkhianat yang membahayakan keluarganya. Di sisi lain, Lenna sekarang punya informasi yang berguna. Dan dia sudah berbalik melawan Salma.
"Tidak. Belum." Dara menatap Lenna. "Tapi kamu akan kerja untuk kami sekarang. Sebagai penebus dosamu."
"Kerja bagaimana?"
"Kamu masih punya kontak dengan jaringan Salma. Gunakan itu. Cari tahu siapa lagi yang Salma rekrut. Di mana mereka berada. Apa rencana mereka selanjutnya."
"Tapi kalau Salma tahu aku jadi mata-mata ganda, dia akan bunuh aku."
"Lalu berhati-hatilah." Dara menatapnya dingin. "Ini kesempatanmu untuk menebus semua kesalahanmu. Atau..." dia melangkah mendekat, "...aku serahkan kamu ke polisi sebagai kaki tangan percobaan pembunuhan. Pilih."
Lenna menatapnya lama, lalu mengangguk pasrah. "Baiklah. Aku akan bantu."
Seminggu kemudian, Lenna memberikan informasi pertamanya.
Ada tiga orang yang Salma rekrut:
Budi, mantan satuan pengamanan rumah sakit yang dipecat karena korupsi. Sekarang bekerja mengawasi rumah sakit tempat Kirana dirawat dulu.
Siska, perawat di NICU yang punya utang judi besar. Salma bayar utangnya sebagai imbalan untuk memberikan akses ke data medis Kirana.
Joko, tukang parkir di kompleks rumah Adisaputra. Mata dan telinga Salma yang paling dekat dengan keluarga Dara.
"Tiga orang," kata Regan sambil menandai foto mereka di papan investigasi. "Itu yang kita tahu. Mungkin masih ada yang lain."
"Pasti ada yang lain," kata Dara. "Salma terlalu hati-hati untuk cuma rekrut tiga orang. Tapi ini awal yang bagus."
Arkan masuk dengan wajah tegang. "Aku dapat kabar, pengacara Salma mengajukan permintaan sidang baru. Mereka minta pembebasan bersyarat dipercepat dengan alasan 'bukti baru' yang menunjukkan Salma tidak berbahaya."
"Bukti baru apa?"
"Surat dari psikiater yang menyatakan Salma sudah 'sembuh' dari gangguan kepribadiannya. Ditambah testimoni dari beberapa tahanan lain yang bilang Salma 'berubah jadi orang baik' di penjara."
Dara mendengus. "Semua itu dibeli. Psikiater palsu, tahanan yang dibayar untuk testimoni."
"Aku tahu. Tapi hakim mungkin tidak tahu. Dan kalau hakim percaya... Salma bisa keluar dalam sebulan. Bukan tiga bulan."
"Satu bulan?!" Dara merasakan panik merayap. "Itu terlalu cepat. Kita belum siap..."
"Makanya kita harus gerak lebih cepat." Arkan meletakkan dokumen di meja. "Aku sudah hubungi jaksa penuntut. Mereka mau dengar kesaksian kita di sidang banding. Termasuk rekaman dari Lenna."
"Tapi pengacara Salma akan bilang rekaman itu dipalsukan..."
"Makanya kita butuh lebih dari rekaman. Kita butuh saksi hidup. Orang yang bisa bersaksi bahwa Salma masih berbahaya."
Dara menatap foto tiga orang di papan investigasi.
"Budi, Siska, Joko. Kalau kita bisa tangkap salah satu dari mereka dan buat mereka bersaksi..."
"Itu akan hancurkan kasus Salma sepenuhnya," lanjut Regan.
"Tapi bagaimana kita tangkap mereka? Mereka pasti waspada..."
Dara tersenyum, senyum yang membuat Regan dan Arkan merinding.
"Kita tidak tangkap mereka. Kita jebak mereka untuk mengungkapkan diri sendiri."
"Bagaimana?"
"Dengan memberikan mereka target yang terlalu menggiurkan untuk dilewatkan." Dara menatap mereka berdua. "Aku akan jadi umpan. Aku akan keluar dengan Kirana ke tempat umum, tanpa pengawal terlihat. Mereka pasti akan coba sesuatu. Dan saat mereka coba, kita tangkap mereka."
"Itu terlalu berbahaya..." Arkan langsung protes.
"Aku tahu. Tapi ini satu-satunya cara untuk mengakhiri ini cepat." Dara menatapnya dengan tekad. "Kita tidak punya waktu tiga bulan lagi. Bahkan tidak punya sebulan. Kita harus selesaikan ini sekarang, sebelum Salma keluar dan mengeksekusi rencananya."
Arkan menatap Regan mencari dukungan.
Tapi Regan justru mengangguk. "Kak Kiara benar. Ini satu-satunya cara. Tapi..." dia menatap Dara, "...kita akan siapkan backup yang kuat. Penembak jitu, tim pengaman tersembunyi, jalur evakuasi darurat. Kamu tidak akan sendirian di luar sana."
Dara mengangguk. "Baiklah. Kita rencanakan dengan detail. Tidak ada kesalahan. Karena kalau ada kesalahan..."
Dia tidak perlu melanjutkan.
Mereka semua tahu, kalau ada kesalahan, Dara dan Kirana bisa mati.
Dan kali ini tidak akan ada kehidupan ketiga.
👻👻👻👻