"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 9
Di sebuah ruangan raksasa, tampak seorang gadis cantik yang tengah duduk di atas sofa. Gadis itu tak lain adalah Yiyue, ya saat ini dia sedang berada di ruang tamu. Kedua netranya menatap fokus pada sebuah layar ponsel di tangannya. Hingga kemudian dia berusaha berpikir untuk memecahkan sebuah teka-teki yang mengganjal di benaknya.
'Bagaimana bisa orang lumpuh, rajin minum obat tapi tidak ada hasil sama sekali? Padahal pergi kontrol pun juga rutin, lalu apa yang menjadi penyebab si kulkas tujuh pintu itu tidak bisa sembuh,' batin Yiyue yang terus berpikir keras.
Yiyue menghela napas beratnya. "Aneh! Seperti ada yang mengganjal, tapi tunggu apa benar obat yang diminumnya itu benar-benar dari Dokter? Takutnya kan seperti di drama, ternyata obatnya justru menghambat proses kesembuhannya."
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal ini begitu saja. Aku harus menyelidiki ini semua." Lanjutnya yang sudah bertekad untuk menyelidiki perihal obat yang dikonsumsi oleh suami kulkasnya.
🥕🥕🥕
Yiyue berjalan masuk ke dalam kamar suami kulkasnya itu, lalu menutupnya dengan pelan. Kedua netranya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, namun tatapannya berhenti kala dia melihat sang suami sedang terbaring di atas ranjang king sizenya. Yiyue berjalan dengan pelan sekali, bahkan dia sampai berjinjit tanpa memakai sandal rumah yang biasa dia pakai. Dia lakukan itu agar langkahnya tidak mengusik sang suami yang sedang terlelap.
Kini, Yiyue sedang duduk di bibir ranjang. Tangannya terulur untuk melambai di wajah suaminya.
"Sepertinya dia benar-benar tidur," gumam Yiyue yang masih memperhatikan wajah suami kulkasnya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya sembuh? Kasihan sekali, pasti dia merasa tersiksa." Yiyue kembali bergumam sambil berpikir mencari cara agar suaminya lekas sembuh.
Yiyue menatap suami kulkasnya. Terlihat jelas raut wajah yang begitu damai dan tenang saat lelaki itu terlelap. Yiyue mengagumi wajah tampan yang bertatus suaminya itu. Sosok lelaki yang memiliki rahang tegas, mata sipit, bulu alis tebal, hidung mancung, dan bibir tipis yang bervolume. Sungguh sebuah pahatan tuhan yang begitu indah dan sayang jika dilewatkan, begitu pikir Yiyue. Meski usia mereka terpaut sepuluh tahun, namun tetap saja tak mengurangi kecocokan keduanya.
"Ternyata tampan juga suamiku ini." Yiyue tersenyum menatap wajah yang telah berhasil menghipnotisnya.
"Sadar Yiyue, dia hanya sebatas suami diatas kertas saja, tidak lebih! Ingat sampai kapanpun dia tidak akan pernah menganggapmu sebagai seorang istri, apalagi mencintaimu. Sungguh hal yang mustahil dan tak mungkin terjadi," lirih Yiyue yang tanpa sadar telah mengelus lembut kepala suaminya.
"Suami lumpuhku saja menolak kehadiranku, apalagi keluargaku. Mama dan kakak begitu membenciku, bahkan dia sama sekali tak mengaharapkanku." Yiyue terkekeh meratapi nasibnya.
"Setelah dia sembuh, tugasku pun selesai seperti apa yang telah aku tanda tangani dalam surat itu. Dan setelah ini aku akan pergi kemana?" Gumamnya yang begitu pelan.
Lama mengoceh hingga membuat Yiyue terlelap di atas ranjang, tanpa sadar jika Yiyue tidur berbantalkan tangan besar suaminya.
Disisi lain lelaki yang ada di atas ranjang itu ternyata berpura-pura tidur, itu pun tanpa diketahui oleh Yiyue. Tujuan Qiaoyan berpura-pura tidur supaya gadis itu tidak lagi mengganggunya seperti tadi dan segera pergi dari kamarnya. Eh ternyata Yiyue malah ikut tidur di atas ranjang bersamanya.
Sebuah lengkungan indah menghiasi wajah Qiaoyan saat dia teringat atas curahan hati istri kecilnya. Tentu saja Qiaoyan mendengar semua apa yang dikatakan Yiyue padanya.
'Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu gadis kecil. Kau telah masuk ke dalam kehidupanku, dan aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu. Jadi, kau harus bertanggung jawab untuk selalu berada di sampingku.'
Setelah mengatakan itu, Qiaoyan kembali memejamkan matanya. Dia ingin beristirahat sejenak setelah tadi berkutat dengan berbagai laporan yang dikirim oleh asistennya lewat email. Tentu saja, hal itu telah menguras pikirannya untuk mengurus laporan tersebut.
Meskipun dia lumpuh dan tidak datang ke kantor, tetap saja dia dapat bekerja dari rumah. Dia hanya menunggu beberapa laporan yang dikirimkan oleh Fan Zhi kepadanya untuk ditinjau ulang agar segera selesai.
🥕🥕🥕
Sore itu, Villa di tepi danau berubah menjadi tempat perlindungan paling tenang. Langit yang semula biru terang perlahan meluluh, berganti warna menjadi oranye tebal berpadu ungu, melukiskan refleksi dramatis di atas permukaan danau yang tenang. Dari balkon villa, siluet pegunungan tampak menawan, berdiri kokoh membatasi cakrawala.
Saat matahari benar-benar hilang, lampu-lampu taman villa mulai menyala kuning hangat, mengusir dingin yang perlahan menyelimuti. Angin sepoi-sepoi berdesir halus diantara pepohonan, membawa aroma khas danau dan tanah basah. Suasana begitu intim, diiringi suara jangkrik yang mulai bersahutan, menandakan malam sedang menyapa.
Di sebuah ruangan raksasa, tampak seorang gadis cantik yang masih terlelap dengan berbantalkan tangan besar seorang lelaki di sampingnya. Dua insan itu tak lain adalah Yiyue dan Qiaoyan yang merupakan pasangan suami istri. Tak berselang lama Yiyue mengerjapkan mata, perlahan lepas dari lelap yang dalam. Kesadaran pertamanya bukanlah jam dinding, melainkan kehangatan kokoh di bawah lehernya, lengan besar suaminya yang masih terlelap. Napas teratur sang suami terdengar seperti irama penenang, membuatnya enggan beranjak.
Namun detik selanjutnya, mata Yiyue membulat sempurna ketika dia tahu bahwa lengan itu milik suami kulkasnya. Lebih parahnya lagi, saat dia sadar jika dia tidur dekat dengan suaminya.
"Astaga! Kenapa aku bisa ketiduran?" Secepat kilat Yiyue bangkit.
"Bagaimana jika si kulkas tujuh pintu itu tahu kalau aku tidur beralaskan tangannya? Bisa-bisa dia mengamuk lagi." Lanjutnya yang langsung menjauhkan diri dari tubuh besar suami kulkasnya.
"Dasar bodoh! Kenapa kau harus ketiduran segala?" Tak hentinya Yiyue mengumpat dan merutuki kebodohannya.
"Kasihan sekali, tangannya pasti terasa sakit karena kepalaku yang keras." Kedua netra Yiyue menatap sendu pada suami kulkasnya dengan perasaan yang bersalah.
"Maaf, maafkan aku Tuan Muda. Seharusnya aku tidak tidur di lengan mu, tapi ... aku benar-benar tidak sengaja." Pungkasnya yang kemudian memijit lengan Qiaoyan yang masih terlelap.
Yiyue menghela napas beratnya. "Sebaiknya aku menyiapkan makan malam untuknya."
Segera mungkin Yiyue berjalan dengan pelan menuju pintu kamar. Gadis cantik itu tidak ingin membangunkan suami kulkasnya. Bahkan saat tidur saja wajah murka suaminya terlihat jelas apalagi bangun, sungguh mengerikan.
Setelah Yiyue pergi, Qiaoyan mengerjapkan mata. Tampak lelaki itu tersenyum geli melihat tingkah menggemaskan istri kecilnya. Sumpah demi apapun, gadis itu terlihat imut dan lucu. Andai saja Qiaoyan tidak lumpuh, sudah pasti dia akan menerkam istrinya saat itu juga.
🥕🥕🥕
"Apa yang kau lakukan Tuan?"
.
.
.
🥕Bersambung🥕