NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

“Makanlah, Alisha. Kau tidak perlu menatap sendok perak itu seolah ia akan menggigitmu,” ucap Raina Sagara memotong denting halus pisau dan garpu di ruang makan utama. 

Ruangan itu sangat luas dengan langit-langit yang dihiasi lampu kristal raksasa. Meja makan panjang dari kayu ek gelap itu bisa menampung dua puluh orang. Namun malam ini, hanya ada empat orang yang duduk di sana, dipisahkan oleh jarak yang terasa bermil-mil jauhnya. Alisha hanya mengaduk sup krim di depannya tanpa selera.

“Terima kasih, Nyonya. Saya hanya tidak merasa lapar,” jawab Alisha tetap menunduk.

“Tentu saja. Perubahan lingkungan yang drastis seringkali mengejutkan sistem pencernaan kelas bawah,” sindir Raina.

Damian yang duduk di ujung meja seberang ibunya meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan pelan. 

“Ibu, kita di sini untuk makan malam, bukan untuk membedah kelas sosial.”

“Aku hanya menyatakan fakta, Damian.” Raina menyapukan serbet kain ke bibirnya yang merah darah. Ia kemudian mengalihkan pandangan tajamnya pada Alisha. 

“Jadi, Alisha. Kudengar kau hanya seorang asisten desainer sebelum melarikan diri ke desa nelayan itu?”

“Saya bekerja sebagai penjahit mandiri selama enam tahun terakhir,” jawab Alisha tegas.

Raina tertawa kecil yang terdengar seperti gesekan amplas. “Penjahit mandiri. Istilah yang manis untuk pengangguran terselubung. Katakan padaku, berapa banyak hutang yang kau miliki hingga kau memutuskan untuk menjual anak ini kembali pada putraku?”

Alisha tersedak nafasnya sendiri. Ia mendongak dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena amarah. 

“Saya tidak menjual Arka. Damian yang membawa kami ke sini dengan paksa.”

“Semua orang punya harga, Sayang. Hanya saja mungkin kau sedang menunggu tawaran yang lebih tinggi,” lanjut Raina tanpa belas kasihan.

Arka yang sejak tadi sibuk memotong daging steaknya dengan presisi yang menakjubkan tiba-tiba berhenti. Ia meletakkan pisaunya dengan posisi paralel yang sempurna di tepi piring. Bocah itu menatap neneknya dengan mata cokelat yang jernih namun sedingin es.

“Nenek, apakah Anda sedang melakukan proyeksi psikologis?” tanya Arka dengan suara yang tenang.

Ruangan itu mendadak senyap. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan nafas mereka. 

Raina mengedipkan matanya berkali-kali, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut seorang bocah lima tahun.

“Apa yang kau katakan, Nak?” tanya Raina dengan nada meremehkan.

“Proyeksi psikologis,” ulang Arka tanpa ragu. “Anda menuduh Ibu menginginkan uang karena Anda sendiri tidak bisa membayangkan hubungan manusia tanpa nilai transaksi ekonomi. Berdasarkan teori perilaku, Anda sedang memindahkan rasa tidak aman Anda pada orang lain.”

Damian hampir tersedak anggurnya. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, berusaha keras menahan tawa yang ingin meledak. Ia melihat wajah ibunya yang memerah, sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi dalam sejarah keluarga Sagara.

“Arka, jangan bicara seperti itu pada orang tua,” tegur Alisha dengan suara lemah.

“Aku hanya menyatakan kebenaran logis, Bu,” sahut Arka. 

Ia kembali menatap Victoria. “Ibu tidak punya hutang. Aku yang menghitung laporan keuangan kedai jahit Ibu setiap bulan. Kami punya surplus tabungan yang cukup untuk hidup sepuluh tahun lagi di pesisir tanpa bantuan Tuan Damian.”

Raina mengepalkan tangannya di atas meja. “Kau mengajari anak ini untuk menjadi kurang ajar, Alisha?”

“Dia tidak kurang ajar, Ibu. Dia cerdas,” potong Damian cepat. “Dia adalah seorang Sagara. Dan seorang Sagara tidak akan membiarkan argumen yang salah menang hanya karena faktor usia.”

“Dia terlalu berbahaya untuk dibiarkan tumbuh dengan pendidikan jalanan!” seru Raina.

“Pendidikan jalanan tidak mengajarkan terminologi psikologi, Nenek.” Arka menyela lagi sambil menyuap potongan daging kecil ke mulutnya. 

“Saya belajar itu dari ensiklopedia medis di perpustakaan Tuan Damian sore tadi. Sangat efisien.”

Raina bungkam seribu bahasa. Ia menatap Arka dengan campuran rasa benci dan kekaguman yang aneh. Ia menyadari bahwa bocah ini adalah senjata yang sangat tajam. 

Jika ia bisa dikendalikan, Arka akan menjadi pemimpin masa depan yang luar biasa. Namun jika tidak, ia akan menjadi ancaman bagi otoritas Raina di rumah itu.

Alisha merasakan ketakutan yang merayap di punggungnya. Ia melihat cara Raina menatap Arka. Itu bukan tatapan kasih sayang seorang nenek, melainkan tatapan seorang kolektor yang menemukan barang langka yang berharga.

“Damian, kita perlu bicara tentang sekolah asrama di Swiss,” ujar Raina mencoba mengalihkan pembicaraan. 

“Dia butuh lingkungan yang setara dengan genetikanya.”

“Dia tidak akan pergi ke mana pun,” jawab Alisha dengan suara yang lebih keras.

“Kau tidak punya hak suara di sini, Alisha,” balas Victoria tajam. “Kau hanyalah ibu biologis tanpa status hukum yang jelas di keluarga ini.”

“Status hukumnya akan segera menjadi sangat jelas, Ibu,” ujar Damian tiba-tiba.

Semua mata kini tertuju pada Damian. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi besar. Aura kepemimpinannya memenuhi seluruh ruang makan. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sangat serius, tatapan yang biasanya ia gunakan saat akan melakukan akuisisi perusahaan besar.

“Apa maksudmu?” tanya Raina dengan perasaan tidak enak.

“Aku sudah memerintahkan tim pengacaraku untuk membatalkan semua kontrak perjodohan dan pertunangan dengan Clarissa Aditama,” ujar Damian dengan nada bicara yang sangat santai.

Prang!

Raina menjatuhkan garpu peraknya ke atas piring porselen hingga menimbulkan suara dentuman nyaring. 

“Kau gila! Clarissa adalah kunci merger antara Sagara dan Aditama Group! Kau tidak bisa membatalkannya hanya karena wanita penjahit ini!”

“Ini bukan tentang Alisha,” bohong Damian, meski matanya sempat melirik ke arah Alisha sejenak. 

“Ini tentang memperbaiki garis keturunan Sagara. Aku sudah melihat buktinya di depanku.”

Damian menunjuk ke arah Arka.

“Arka adalah bukti bahwa genetika terbaik Sagara hanya muncul jika aku memilih pasanganku sendiri,” lanjut Damian. “Aku tidak akan mempertaruhkan masa depan perusahaan dengan memiliki anak dari wanita yang dipilihkan oleh kontrak bisnis. Clarissa tidak akan pernah bisa memberikan pewaris secerdas Arka.”

“Kau menghina keluarga Aditama! Mereka akan menghancurkan saham kita besok pagi!” teriak Raina.

“Biarkan mereka mencoba,” tantang Damian. “Aku lebih suka kehilangan sepuluh persen saham daripada kehilangan kontrol atas ahli warisku sendiri.”

Alisha merasa kepalanya berputar. Ia bukan lagi seorang manusia di mata mereka. Ia hanyalah sebuah wadah. Sebuah mesin penghasil pewaris berkualitas tinggi yang baru saja divalidasi oleh Damian. Pengumuman itu tidak membuatnya merasa bahagia atau terlindungi. Sebaliknya, ia merasa semakin terjebak.

“Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Damian,” bisik Alisha.

Damian menatap Alisha dengan intensitas yang sulit dibaca. “Aku sedang memastikan posisimu dan Arka tidak tergoyahkan di rumah ini, Alisha. Kau harusnya berterima kasih.”

“Dengan cara memicu perang?” balas Alisha.

“Kadang, perdamaian hanya bisa dicapai setelah perang besar terjadi,” sahut Damian dingin.

Raina berdiri dari kursinya dengan nafas yang memburu. Wajahnya yang biasanya sangat terkontrol kini tampak berantakan karena kemarahan yang meluap. Ia menunjuk ke arah Damian dengan jarinya yang dihiasi cincin berlian besar.

“Kau akan menyesali ini, Damian! Aditama tidak akan tinggal diam. Dan wanita ini.” Raina menatap Alisha dengan kebencian murni. “Aku akan memastikan dia pergi dari rumah ini sebelum fajar tiba, dengan atau tanpa persetujuanmu!”

Raina melangkah keluar dari ruang makan dengan langkah yang menghentak. Kepergiannya meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruangan itu. 

Pelayan-pelayan segera menundukkan kepala, takut terkena percikan amarah sang nyonya besar.

Arka kembali meraih garpunya dan menatap ayahnya. 

“Tuan Damian, secara strategis, pengumuman Anda tadi sangat impulsif. Anda memicu konflik sebelum memiliki benteng pertahanan yang cukup kuat untuk Ibu.”

Damian tertegun. Ia menatap putranya dengan rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan. 

“Mungkin kau benar, Arka. Tapi terkadang, menyerang adalah pertahanan terbaik.”

“Tergantung pada siapa yang menjadi tamengnya,” balas Arka sambil kembali makan.

Alisha menatap kedua pria itu bergantian. Ia menyadari bahwa di rumah ini, ia dikelilingi oleh singa-singa yang siap saling menerkam. Arka bukan lagi sekadar anak kecil yang ia lindungi di pesisir. 

Di sini, Arka sedang berubah menjadi salah satu dari mereka. Dan Alisha takut, suatu saat nanti, ia tidak akan lagi mengenali putranya sendiri di tengah kemewahan yang mematikan ini.

“Aku ingin kembali ke kamar,” ujar Alisha dengan suara lirih.

Ia berdiri dan segera meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban Damian. Langkah kakinya terasa berat di atas lantai marmer. Ia merasa setiap kamera pengawas di rumah itu sedang menertawakan kemalangannya. Ia telah lari dari badai di laut, hanya untuk terjebak dalam samudra yang penuh dengan hiu berjas mahal.

Damian menatap punggung Alisha yang menghilang di balik pintu besar. Ia tahu ia baru saja melemparkan wanita itu ke tengah api. Namun di dalam pikirannya yang penuh dengan rencana bisnis, ia yakin bahwa hanya dengan cara inilah ia bisa memiliki Alisha seutuhnya.

“Pelayan, siapkan pengawalan tambahan untuk Nona Alisha!” perintah Damian pelan. “Dan pastikan Clarissa tidak bisa mendekati rumah ini dalam radius satu kilometer.”

Arka memperhatikan ayahnya dengan tatapan yang sangat dewasa. 

“Anda sangat menyukai kekuasaan, bukan?”

“Aku menyukai apa yang bisa dilakukan oleh kekuasaan, Arka,” jawab Damian.

“Kekuasaan tidak bisa membuat Ibu tersenyum lagi,” sahut Arka telak.

Bocah itu turun dari kursinya dan berjalan menyusul ibunya, meninggalkan Damian sendirian di ujung meja panjang yang dingin. 

Damian meraih gelas anggurnya, namun kali ini rasanya terasa sangat pahit di lidahnya. Ia baru saja memulai sebuah permainan yang taruhannya adalah nyawa dan hati dari dua orang yang paling ia inginkan di dunia ini.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
Lianty Itha Olivia: ya bgtu baguslah Thor keluar dari zona yg semakin rumit dan bikin pusing 💪💪
total 2 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!