Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan Nenek
Perjalanan hari pertama tanpa ada hambatan. Perjalanan hari keduapun dimulai, mereka berharap lancar seperti hari pertama. Semua lancar sampai kejadian tak terduga terjadi di hari yang sudah mulai gelap. Terlihat sekelompok laki-laki berjumlah sekitar empat atau lima orang sedang merundung seseorang dan ada anak kecil yang menangis. Theo tak melihatnya begitu jelas sebab jarak yang cukup jauh.
"Sepertinya Orang itu sedang kesulitan. Bukankah kita harus menolongnya?" Kata kakek sambil menunjuk ke arah depan.
"Kakek benar." Jawab Theo
"Cepat bergegas untuk menolongnya." Sahut nenek. Kakekpun memacu kudanya untuk lebih cepat. Dan Maerin naik ke atas gerobak, sementara Theo mulai berlari mengikuti. Setibanya di lokasi, Theo menanyakan apa yang terjadi sambil melihat ke arah anak laki-laki remaja yang sudah memar di wajahnya dan tampak berantakan, serta seorang anak kecil yang menangis kencang.
"Tuan, tolong kakakku. Mereka berbuat jahat pada kakakku. Tolong kakakku, tuan." Rengek anak kecil itu sambil memegangi baju Theo dengan tangan mungilnya yang gemetaran.
Kakek dan Nenek turun dari gerobak, serta Maerin ikut turun dari gerobak namun menutup kepalanya dengan tudung jubah yang dipakainya. Maerin menyadari penampilannya mencolok, rambut hitam, kulit putih serta mata berwarna abu-abu bukanlah ciri-ciri fisik umum di wilayah kerajaan ini.
Perundung itu berjumlah 5 orang dan mengelilingi remaja laki-laki yang memar dan tampak berantakan itu. Nenek tiba-tiba berjalan mendekatinya ke arah salah satu perundung. "Hentikan, jangan berbuat hal buruk seperti ini. Kalian terlihat seumuran. Seharusnya saling berteman. Jangan seperti ini."
"Diam kau, nenek tua bau tanah." Teriak salah satunya.
"Apakah seperti ini bersikap pada orang tua?!" Kakek marah. Namun tiba-tiba salah satu perundung melayangkan pukulan tepat di wajah kakek. Kakek terjatuh ke tanah. Nenek dan Maerin langsung menolong nenek, sementara Theo menarik kerah baju yang memukul kakek dan melayangkan satu pukulan padanya hingga terjatuh cukup keras. Nenek langsung memegangi salah satu tangan Theo mencoba menahan Theo melayangkan pukulan lain. Theo pun bisa mengontrol dirinya.
"Tak punya sopan santun sama sekali pada orang tua! Cepat minta maaf!" Bentak Theo.
Namun mereka malah beramai-ramai hendak memukul Theo. Theo bisa menangkis beberapa pukulan, namun masih terkena pukulan. Saat dia lengah, salah satu dari mereka mengeluarkan belati, "Arrgggghhh.. mati kau!" Teriaknya.
Tanpa sempat menghindarinya, Theo mengira dia akan tertusuk. Ternyata nenek menyadarinya dan menghadang, meskipun nenek bisa memegangi tangan yang memegang belati dengan kedua tangan nenek. Namun, tenaganya lebih besar daripada tenaga nenek. Dan si nenek tertusuk oleh belati itu. perunding tersebut terkejut dan berlari meninggalkan belatinya tertancap di perut nenek. Theo berteriak kencang, sekencang kakek berteriak.
"Tidakkkk....!" Teriak mereka bersamaan. Kakek hendak menarik belati yang tertancap itu, namun Theo dengan segera menahannya. "Jangan ditarik dulu, kek. Nenek akan semakin kehilangan banyak darah. Biarkan belatinya tetap seperti ini. Kita harus segera cari pertolongan." Kata Theo sambil merobek jubahnya dan melilitkannya disekitar belati supaya tak bergeser dan menahan darah agar tak banyak keluar. Kemudian pelan-pelan memindahkan nenek ke gerobak.
"Nak, kemarilah. Berapa jauh desa tempat tinggal kalian?" Tanya Theo pada remaja laki-laki yang ditolongnya itu.
"Tak begitu jauh, cukup mengikuti jalanan ini, tak lama akan terlihat gerbang desa." Jawab remaja itu sambil menjelaskan.
"Nak, kau bawa nenek ke sana dengan gerobak ini. Jika kau kan nenek saja akan lebih cepat sampai." Kata kakek pada Theo.
"Tapi, kek..." Kata Theo.
"Nenek lebih penting. Saya akan menjaga kakek. Jadi kami akan menyusul. Kami pasti baik-baik saja. Jangan khawatir." Ucap Maerin dengan suara bergetar karena menahan air matanya keluar."
"Anu.. Tuan. Anda bisa mengajak adik saja. Penjaga mengenal adik saya. Ibu saya bekerja di klinik desa. Pasti ibu saya bisa membantu nenek." Kata Remaja itu.
"Dik, kamu ikut tuan dan nenek dan cari ibu. Kakak akan bersama kakek menyusul dari belakang." Bujuk remaja itu pada adiknya. Adiknya mengangguk dan diangkat Theo naik ke gerobak bersama nenek. Theo lalu berpamitan dan memacu kuda untuk berlari kencang, "Tolong, Milo. Larilah dengan kencang." Ucapnya pada kuda yang tak besar itu.
Mereka melaju kencang, dan saat sampai di gerbang desa, penjaga menghentikannya. Karena penjaga mengenali anak kecil yang bersama Theo, tak lama penjaga mengijinkan mereka lewat. Anak kecil itu menunjukkan arah rumahnya. Setibanya di rumahnya, anak kecil itu berteriak-teriak memanggil ibunya. "Ibu...Ibuu..."
Ibunya keluar, "Kenapa teriak-teriak, Lumi?" Ibunya terkejut.
"Cepat ibu, bantu nenek ini... cepatlah obati." Teriak Lumi sambil menangis. Tanpa basa-basi, Ibunya bergegas mengajak Theo membawa nenek ke klinik tempatnya bekerja. Untung saja dokter belum pulang. Lalu mereka menangani dan mengobati nenek. Theo mondar-mandir cemas menunggu di luar ruangan, pikirannya kacau. Sementara Lumi hanya terduduk sambil sesenggukkan mencoba untuk berhenti menangis.
Selang beberapa waktu, dokter keluar. Theo langsung menghampirinya dan menanyakan keadaan nenek. Dokter menjawab, "Nenek anda sesang beristirahat, hal tepat tak mencabut belati, serta pertolongan pertama yang cukup kompeten. Apa anda pernah belajar medis?"
"Ti-tidak... saya hanya pernah membacanya tanpa sengaja." Jawab Theo dengan berbohong.
Dokter sedikit curiga, namun tak menanyakannya lebih jauh.
"Anu, dokter. Untuk biaya pengobatan nenek saya. Apakah saya bisa membayarnya dengan mencicilnya? Uang yang saya miliki tidak banyak. Tapi saya berjanji akan melunasinya."
Dokter hanya tersenyum, "Untuk biaya, kau bisa melunasinya jika sudah punya cukup uang. Sepertinya kau bukan berasal dari wilayah kerajaan Morva ya?"
"Benar saya pendatang. Terima kasih banyak dokter." Jawab Theo.
"Nenekmu harus dirawat beberapa hari lagi di sini. Sebab, saya harus memantau kondisinya." Kata Dokter.
"Baik, dokter. Apapun itu asal yang terbaik untuk nenek saya. Sekali lagi, terima kasih."
Dokter itu mengangguk dan pamit pergi. Theo langsung terduduk di lantai dan bersandar ke dinding. Dia merasa sangat lega, benar-benar lega. Lalu Lumi menghampiri Ibunya dan memeluknya. "Lumi? dimana kakakmu, Lior?" Tanya Ibunya.
"Ah, kakak sedang bersama kakek dan teman Tuan ini. Menyusul di belakang kami, mungkin sebentar lagi tiba." Jawab Lumi.
"Theo, namaku Theo. Cukup panggil Theo saja." Ucap Theo.
"Saya Sophie, Ibunya Lumi dan Lior." Jawab Sophie.
Lumi menceritakan semua kejadian yang dialami sampai berakhir nenek terluka. Ibunya marah sedikit mengumpat pada gerombolan perundung itu. Ternyata salah satu gerombolan perundung itu adalah putra kepala desa di desa sebelah.
"Mereka lama." Gumam Theo.
"Maaf.. Apa maksud anda?" Tanya Sophie.
"Ah bukan, maksudku Maerin dan Kakek. Anu, nyonya. Apakah saya bisa menitipkan nenek saya sebentar? Saya mengkhawatirkan kakek saya." Tanya Theo
"Ya tentu saja. Nenekmu aman di sini." Jawab Sophie dengan ramah.
"Maaf sudah sangat merepotkan anda. Sekali lagi terima kasih. Saya permisi dulu untuk menjemput kakek saya." Kata Theo.
"Aku ikut!" Teriak Lumi.
Theo menoleh ke arah Lumi, "Kamu di sini saja bersama ibumu dan nenek..." belum selesai bicara, tiba-tiba Lumi berteriak, "Ahhh....!!!"
Bersambung....