NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Malam itu, Grand Ballroom Hotel Ritz berdiri megah menyambut acara Annual Gala Dinner para pengusaha papan atas. Lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan, alunan musik jazz mengalun lembut memanjakan telinga, dan aroma parfum mahal yang bercampur menyatu memenuhi udara.

Dalam acara bergengsi ini, membawa pasangan adalah sebuah tradisi tak tertulis untuk menunjukkan keharmonisan keluarga dan relasi bisnis.

Namun, Putra Mahesa Aditama datang sendirian.

Sore tadi, sebelum berangkat, Putra telah memberikan peringatan keras pada Citra di kamar mereka. "Jangan berani-berani menampakkan wajahmu di acara malam ini. Kalangan elit tidak butuh melihat istri dengan etiket kampungan sepertimu. Tetap di rumah dan jangan membuatku malu."

Bukannya sedih, Citra justru mengiyakan perintah itu dengan sangat lega. Baginya, keharusan mendampingi Putra, memakai gaun yang menyiksa napas, dan harus tersenyum palsu berjam-jam di depan kamera adalah sebuah mimpi buruk. Citra sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun pada suaminya itu. Boro-boro cinta, rasa hormatnya saja sudah menguap tak bersisa sejak malam pertama ia dibentak dan disuruh tidur kedinginan di lantai. Bagi Citra, Putra hanyalah majikan arogan, dan pernikahan ini murni transaksi pelunasan utang budi mendiang ayahnya.

Namun, sebuah kebetulan yang sangat ironis membawa Citra ke ballroom yang sama malam ini.

Restoran tempat Citra dulu bekerja ternyata menjadi salah satu vendor catering VIP. Sore harinya, Chika menelepon sambil menangis panik. Tiga orang waitress mendadak keracunan makanan dan manajer mereka kelabakan kekurangan tenaga ahli. Karena Putri dan Kinan sedang berada di luar kota dan Pak Aditama sudah meminum obat tidurnya lebih awal, Citra nekat menyelinap keluar. Selain rindu suasana kerja, bayaran lembur event VVIP ini lumayan besar—uang yang sangat ia butuhkan untuk tabungan pribadinya sendiri, mengingat suaminya yang kaya raya itu tak pernah memberinya uang jajan sepeser pun.

Dan di sinilah Citra sekarang.

Ia mengenakan seragam pelayan berupa kemeja putih yang disetrika licin, rompi hitam ketat, dan rok selutut. Rambutnya digelung rapi ke belakang, wajahnya hanya dipoles makeup tipis sekadarnya. Di tangannya terdapat nampan perak berisi gelas-gelas champagne yang berdenting pelan seiring ritme langkahnya.

Di tengah lautan gaun desainer sutra dan jas bespoke berharga puluhan juta, Citra hanyalah bayangan tak kasat mata. Tidak ada satu pun tamu elit yang menatap wajahnya. Bagi kaum borjuis ini, pelayan tak lebih dari sekadar perabotan berjalan penyedia minuman.

Di tengah denting gelas kristal dan obrolan bisnis bernilai miliaran rupiah, Citra bersyukur hanya menjadi pengamat. Bagi kaum borjuis, malam ini adalah ajang pamer kekayaan. Namun bagi Citra, ini hanyalah ladang uang. Ia bisa membayangkan lembaran rupiah segar dari manajernya nanti—uang nyata yang jauh lebih bisa diandalkan daripada status palsunya.

Saat Citra sedang berkeliling di area tengah, langkah kakinya seketika terhenti.

Di dekat meja buffet utama, berdiri suaminya. Putra tampak luar biasa tampan malam itu. Tuxedo hitam kelam yang membalut tubuh atletisnya membuatnya terlihat seperti dewa Yunani. Aura dominan dan rahangnya yang tegas membuat pria itu otomatis menjadi pusat gravitasi di ruangan tersebut.

Putra sedang dikelilingi oleh setidaknya empat wanita cantik. Ada putri dari rekan bisnis ayahnya, ada model papan atas yang sering wara-wiri di majalah, dan ada pewaris perusahaan kosmetik. Mereka menatap Putra dengan tatapan memuja yang tak ditutupi, tertawa anggun menanggapi setiap ucapan pria itu, dan sesekali dengan sengaja menyentuh pelan lengan jas Putra.

Melihat pemandangan itu, dada Citra sama sekali tidak berdenyut nyeri. Tidak ada rasa cemburu. Yang ada hanyalah rasa geli dan ironi yang luar biasa. Ia melangkah mendekat perlahan, berpura-pura menawarkan minuman pada tamu di meja sebelah, sementara telinganya menajam menangkap percakapan mereka.

"Putra, kudengar kau baru saja menikah secara tertutup beberapa minggu lalu?" tanya seorang wanita bergaun merah marun dengan senyum menggoda yang dibuat-buat. "Kenapa malam ini kau sendirian? Acara sebesar ini kan lebih bagus kalau bawa pasangan."

Wanita lain di sebelahnya menimpali sambil menyesap wine, "Iya, kami semua penasaran setengah mati. Siapa sih wanita beruntung yang bisa menaklukkan Putra Aditama yang dingin ini? Kenapa disembunyikan? Jangan-jangan dia tidak cukup cantik untuk disandingkan denganmu, ya?"

Para wanita itu tertawa kecil, tawa meremehkan yang khas.

Citra yang berdiri hanya dua meter dari mereka mendengus sinis di dalam hati. Wanita beruntung? batin Citra mengejek. Melihat wanita bergaun merah itu nyaris menempelkan dadanya ke lengan Putra, Citra justru menahan tawa. Andai saja sosialita malang itu tahu betapa kejam, dingin, dan kasarnya pria yang sedang ia puja mati-matian, ia pasti akan memutar balik dan berlari ketakutan.

Putra memutar gelas di tangannya dengan raut wajah datar yang tak terbaca. "Kalian terlalu membesar-besarkan. Pernikahan itu cuma formalitas keluarga."

"Lalu di mana dia sekarang?" desak wanita bergaun merah, semakin berani mendekatkan jaraknya pada Putra.

"Di rumah. Dia tidak suka keramaian, dan jujur saja..." Putra tersenyum tipis, senyum yang angkuh dan amat dingin. "...saya juga lebih suka dia tidak ada di sini. Kehadirannya tidak membawa pengaruh apa-apa."

Pada saat yang sama, salah satu wanita itu menjentikkan jarinya dengan gaya arogan, memanggil pelayan yang kebetulan adalah Citra. "Mbak, minta minumannya satu."

Dengan wajah datar dan napas yang tenang, Citra melangkah maju. Tangannya sangat stabil saat ia menyorongkan nampan perak itu ke tengah-tengah lingkaran mereka.

Citra berdiri tepat di depan suaminya. Aroma parfum maskulin Putra menusuk indra penciumannya. Jarak mereka tak lebih dari setengah meter.

Namun Putra, dengan segala keangkuhannya, sama sekali tidak menunduk untuk melihat wajah pelayan yang menyodorkan minuman. Mata elang pria itu tetap menatap lurus ke depan, sibuk meladeni senyuman para sosialita di sekelilingnya. Putra mengambil satu gelas champagne dari nampan Citra tanpa menoleh sedikit pun. Jarinya bahkan tak sengaja menyentuh pelan ujung jari Citra, namun pria itu tak merasakannya sama sekali.

Sentuhan singkat itu terasa sedingin es. Tidak ada desir aneh atau debaran konyol di dada Citra seperti di novel roman. Pria ini benar-benar hanyalah orang asing arogan yang kebetulan berbagi atap dengannya.

"Terima kasih," ucap salah satu wanita tanpa melihat wajah Citra.

"Sama-sama, Nyonya. Silakan dinikmati," jawab Citra lancar dengan nada seprofesional mungkin.

Citra kemudian berbalik dan berjalan menjauh, menembus kerumunan tamu yang berdansa dengan punggung tegak.

Ia adalah istri sah dari pria yang paling dipuja di ruangan ini. Namun, hal itu sama sekali tidak mengganggunya. Biarlah Putra sibuk membual dan dikelilingi wanita-wanita yang merendahkan istrinya. Begitu shift ini selesai, Citra akan mengantongi uang lembur tunai yang lumayan jumlah yang perlahan akan ia kumpulkan sebagai tabungan rahasia demi rencananya kabur dari sangkar emas Aditama suatu hari nanti.

Ya, biarkan saja Putra hidup dengan gengsi, kebohongan, dan keangkuhannya. Bagi Citra, uang tunai malam ini jauh lebih berharga daripada memikirkan cinta, pengakuan, atau validasi dari seorang Putra Aditama.

Mohon klik suka❤❤❤❤❤

1
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!