Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 - dingin seperti baja
Dingin malam menembus jubah tipis Qing Lin saat ia berjalan menyusuri koridor Sekte Batu Awan. Angin pegunungan menggigit kulitnya, namun tubuhnya tidak lagi gemetar seperti dulu. Qi dalam dirinya telah tumbuh, Sutra Darah Sunyi menyesuaikan diri dengan ritme baru, memberi ketahanan fisik dan refleks yang lebih tinggi. Namun ada sesuatu yang berbeda—perasaan yang sebelumnya tidak ia kenal perlahan muncul di hatinya: ketenangan yang dingin, hampir tanpa emosi.
Ia berhenti di balkon tertinggi, menatap ke bawah arena luas yang sekarang kosong setelah ujian kedua. Suara tawa murid dan sorak sorai penonton masih terdengar samar, tapi Qing Lin tidak merespons. Mata polosnya dulu kini tampak jauh, menatap dunia seperti pengamat, bukan peserta.
“Mengapa aku merasa… berbeda?” bisiknya pelan, suaranya hampir tenggelam di antara desiran angin.
Mentor Bayangan muncul di belakangnya tanpa suara. “Itu efek alami dari pertumbuhanmu, Qing Lin. Sutra Darah Sunyi tidak hanya memperkuat tubuh. Ia mulai mempengaruhi emosimu—menyeimbangkan, menajamkan, dan terkadang, membuatmu lebih dingin terhadap dunia yang keras.”
Qing Lin mengangguk pelan, tanpa kata. Ia menyadari sesuatu yang ia tolak sebelumnya: dunia Sekte keras, kejam, dan penuh persaingan. Menjadi polos tidak selalu cukup. Untuk bertahan, ia harus belajar menahan perasaan yang tidak perlu—rasa kasihan, takut, atau emosi yang bisa mengganggu fokusnya.
Keesokan harinya, pelatihan dimulai lebih awal dari biasanya. Qing Lin berjalan ke hutan latihan sendirian. Beberapa murid lain menyapanya, ingin berdiskusi tentang pertarungan kemarin, tetapi Qing Lin hanya menatap mereka sebentar, lalu pergi tanpa sepatah kata. Wajahnya datar, langkahnya mantap, hampir seperti… tidak ada yang bisa mengganggunya.
“Apa yang terjadi dengan Lin?” bisik seorang murid luar kepada temannya. “Dia… berbeda. Dingin. Seperti tidak peduli dengan apa pun.”
Mentor Bayangan mengamati dari kejauhan. “Perubahan itu penting. Dunia tidak menunggu yang lemah atau polos. Ia harus menyesuaikan diri, atau ia akan tersingkir.”
Di tengah hutan, Qing Lin duduk bersila, memusatkan napas. Ia mulai mengulang Siklus Darah Sunyi—tidak hanya sebagai latihan, tapi sebagai percobaan untuk merasakan batasnya sendiri. Qi berputar di tubuhnya lebih cepat dari sebelumnya, mengalir ke setiap sendi, memperkuat refleks, otot, dan ketahanan. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda: Sutra Darah Sunyi mulai merespons tekanan emosinya. Semakin ia menahan perasaan, semakin kuat energi yang berdenyut di tubuhnya.
Ia menutup mata. Bayangan murid-murid yang kalah di ujian kemarin muncul di pikirannya. Tidak ada rasa senang. Tidak ada rasa kasihan. Hanya fakta sederhana: mereka kuat, ia harus lebih kuat. Sutra Darah Sunyi berdenyut lebih cepat, menyesuaikan aliran energi dengan ketenangan dan dinginnya hatinya.
“Ini… bukan aku yang dulu,” gumamnya. “Tapi ini… membuatku lebih kuat.”
Tiba-tiba, suara langkah cepat terdengar di balik pepohonan. Seorang murid dalam tingkat menengah, Yan Fei, muncul dengan ekspresi terkejut. “Qing Lin! Aku menantangmu pertarungan persahabatan. Kau—”
Qing Lin membuka mata, menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak ada waktu untuk persahabatan,” katanya datar. Suaranya dingin, tajam, tetapi tidak kasar.
Yan Fei terdiam sejenak, terkejut dengan perubahan sikap Qing Lin. “Apa… apa yang terjadi padamu?”
Qing Lin hanya menatapnya sebentar, lalu melangkah maju, tubuhnya mulai bergerak mengikuti ritme Siklus Darah Sunyi. Setiap gerakan kaki dan tangan presisi, bereaksi sebelum Yan Fei sempat menyerang.
Pertarungan dimulai. Yan Fei menyerang dengan teknik cepat, kombinasi pukulan dan tendangan yang mematikan. Qing Lin hanya menahan dan menghindar, setiap gerakan disesuaikan oleh Sutra Darah Sunyi. Tidak ada rasa takut, tidak ada amarah, tidak ada kebingungan. Hanya ketenangan yang dingin.
Setiap pukulan yang mengenai tubuhnya terasa minimal, Sutra Darah Sunyi menyerap momentum serangan, menyalurkan energi ke tubuhnya. Yan Fei terkejut. Ia mencoba memancing Qing Lin, membuatnya emosional, tapi tidak berhasil. Qing Lin tetap datar, setiap gerakan sempurna, namun tidak membahayakan lawan.
Akhirnya, satu gerakan sederhana dari Qing Lin memanfaatkan momentum Yan Fei sendiri, menahan lawan, dan menurunkannya ke tanah tanpa cedera serius. Yan Fei terengah-engah, terpana.
“Dia… dingin. Tapi… dia sangat cepat dan kuat…” gumamnya.
Qing Lin menatap lawannya sebentar, lalu melangkah pergi, tidak ada kata selamat atau ucapan terima kasih. Sikapnya yang dingin membuat murid lain terkejut, tapi mereka tidak bisa menyangkal kemampuan luar biasa yang baru saja mereka saksikan.
Malamnya, Qing Lin kembali ke gubuknya. Bibinya menatapnya khawatir, melihat perubahan sikap yang mulai muncul. Qing Lin tersenyum tipis, tapi tidak ada emosi panas di matanya.
“Lin… kau terlihat berbeda,” kata bibinya lirih. “Apa yang terjadi di Sekte?”
Qing Lin hanya menggeleng pelan. “Aku belajar menahan… dan mengendalikan diri. Itu saja.”
Bibinya menghela napas. “Hati-hati, Nak. Jangan sampai kau kehilangan dirimu sendiri.”
“Aku tidak akan,” jawab Qing Lin datar, meskipun ia sendiri mulai merasakan sedikit perubahan dalam hatinya. Dingin ini bukan untuk menolak dunia, tapi untuk melindungi dirinya sendiri dan orang yang ia pedulikan.
Mentor Bayangan muncul di ambang pintu, menatapnya dengan senyum tipis. “Qing Lin… kau telah melangkah ke tahap baru. Dingin, fokus, terkontrol. Dunia Sekte mulai melihatmu dengan cara berbeda. Tapi ingat, dingin bukan berarti kehilangan kemanusiaan. Tetap gunakan hati untuk membimbing kekuatanmu.”
Qing Lin mengangguk pelan. Mata polosnya dulu kini digantikan tatapan dingin, menembus setiap situasi dengan fokus penuh. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dadanya, semakin kuat seiring dengan perubahan emosinya.
“Aku masih polos… tapi dunia ini terlalu keras untuk tetap hangat,” gumamnya pelan. “Jadi aku harus dingin… untuk bertahan.”