Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Lotus Effect
Ballroom Hotel Royal Ambarrukmo malam itu berkilauan seperti galaksi buatan.
Lampu gantung kristal memantulkan cahaya ke ribuan permata yang menghiasi leher para nyonya sosialita Yogyakarta.
Aroma parfum high-end, campuran musk, jasmine, dan keringat para old money, menggantung tebal di udara, bercampur dengan denting gelas kristal dan gesekan sutra mahal.
Sekar berdiri di sudut, memegang gelas jus jeruk yang mulai hangat.
Matanya bukan menatap kemewahan itu dengan kagum, melainkan dengan tatapan predator yang sedang membedah mangsa.
Analisis lingkungan, batin Sekar.
Suhu ruangan 18 derajat celcius. Kelembapan 45%.
Akustik ruangan dirancang untuk memantulkan suara tawa palsu agar terdengar lebih renyah.
Dia mengenakan kebaya kutubaru beludru hitam sederhana tanpa payet, dipadukan dengan kain batik tulis motif Truntum.
Rambutnya disanggul modern tanpa hiasan emas.
Di tengah lautan gaun malam karya desainer Paris dan kebaya bertabur swarovski, kesederhanaan Sekar justru mencolok.
Seperti titik tinta hitam di atas kertas putih.
"Mbak Sekar?"
Sebuah suara bariton yang dibuat-buat ramah menyapa.
Sekar menoleh.
KMA Rangga Wisanggeni berdiri di sana, memegang gelas red wine dengan gaya flamboyan.
Di sebelahnya, GKR Dhaning tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
"Gusti Rangga. Gusti Dhaning," sapa Sekar, menunduk sedikit.
Standar protokol.
"Saya dengar kamu menyumbang sesuatu untuk lelang amal malam ini?" tanya Rangga, matanya menyapu penampilan Sekar dengan tatapan merendahkan.
"Atas nama... Ibu Rahayu?"
"Betul, Gusti."
"Semoga bukan hasil bumi lagi, ya," Rangga terkekeh, suara tawanya menarik perhatian beberapa orang di sekitar.
"Ini acara charity dinner untuk restorasi situs budaya, bukan pasar sayur. Jangan sampai tamu-tamu asing kita bingung kenapa ada singkong di panggung lelang."
Dhaning menyentuh lengan Rangga pelan, gestur 'menahan' yang jelas-jelas palsu.
"Jangan begitu, Dimas Rangga. Niat itu yang utama," ucap Dhaning lembut.
Dia menatap Sekar. "Apapun itu, kami menghargai usaha rakyat kecil untuk... berpartisipasi."
Kata 'rakyat kecil' diucapkan dengan intonasi yang seolah-olah itu adalah penyakit menular.
Sekar tersenyum.
Senyum yang sangat sopan, namun matanya sedingin nitrogen cair.
"Terima kasih atas pengertiannya, Gusti. Saya yakin, barang itu akan... cukup menghibur," jawab Sekar tenang.
Tunggu saja, batinnya.
Kalian tidak akan tertawa lima menit lagi.
Acara lelang dimulai.
MC yang ceriwis mulai menawarkan barang-barang koleksi.
Sebuah keris era Mataram awal terjual lima puluh juta.
Lukisan abstrak karya seniman ISI terjual tiga puluh juta.
Sebuah set perhiasan berlian terjual seratus juta.
Suasana memanas.
Ego para orang kaya sedang dipertandingkan di sini.
"Dan sekarang, item nomor 42," suara MC terdengar sedikit ragu saat membaca kartu di tangannya.
"Sumbangan dari Ibu Rahayu."
Lampu sorot bergerak ke tengah panggung.
Dua orang asisten membuka kotak kayu sederhana dan mengeluarkan selembar kain.
Mereka membentangkannya.
Hening.
Bukan hening kagum, tapi hening bingung.
Kain itu berwarna putih gading polos.
Tanpa motif batik.
Tanpa sulaman benang emas.
Tanpa lukisan prada.
Hanya kain putih sepanjang dua meter yang tampak... biasa saja.
"Apa itu?" bisik seorang nyonya di meja depan.
"Taplak meja?"
"Sprei?" timpal yang lain.
Terdengar tawa tertahan dari beberapa sudut.
Rangga, yang duduk di meja VIP, tertawa paling keras.
Dia sengaja mengangkat gelasnya ke arah Sekar yang berdiri di pinggir ruangan.
"Dua meter Kain Tenun Serat Buana," baca MC, berusaha tetap profesional meski suaranya datar.
"Dibuat dengan teknik tenun tangan tradisional. Buka harga... satu juta rupiah."
Hening lagi.
Tidak ada yang mengangkat paddle, papan nomor penawar.
Satu juta rupiah untuk kain putih polos?
Di Tanah Abang mungkin harganya lima puluh ribu.
"Lima ratus ribu!" seru seseorang dengan nada mengejek.
"Seratus ribu buat lap mobil saya!" seru Rangga lantang, disambut gelak tawa seisi ruangan.
Wajah Sekar tetap datar.
Detak jantungnya stabil di angka 72 bpm.
Sabar.
Biarkan mereka merasa di atas angin.
Rangga berdiri.
Dia berjalan menuju panggung dengan langkah sedikit sempoyongan, akting mabuk yang buruk.
"Biar saya lihat dulu kualitasnya," kata Rangga keras-keras.
"Kalau bahannya kasar, kasihan mobil sport saya nanti lecet."
MC tidak berani melarang kerabat keraton itu naik ke panggung.
Rangga mendekati kain yang dibentangkan oleh dua asisten itu.
Dia meraba kain itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang gelas anggur yang penuh.
"Hmm... Tipis," komentar Rangga, suaranya menggema lewat mic podium.
"Licin. Ini plastik atau kain?"
Sekar menyipitkan mata.
Dia melihat otot biceps Rangga menegang.
Kalkulasi gerak, batin Sekar cepat.
Sudut kemiringan gelas 45 derajat. Pusat gravitasi tubuh condong ke depan.
Dia akan melakukannya.
"Ups!"
Benar saja.
Kaki Rangga 'tersandung' kabel sound system.
Tubuhnya limbung ke depan.
Tangan kanannya terayun.
Isi gelas itu, anggur merah Cabernet Sauvignon yang pekat dan sarat tanin, terlempar keluar dalam satu gerakan busur yang sempurna.
BYUR!
Cairan merah darah itu menyiram tepat di tengah bentangan kain putih suci itu.
Penonton memekik kaget.
"Astaga!"
"Hancur sudah!"
Dhaning menutup mulutnya dengan tangan, menyembunyikan senyum kemenangan.
Kain itu tamat.
Noda anggur merah pada kain putih adalah vonis mati.
Tidak ada laundry manapun yang bisa menghilangkannya 100%.
Rangga menegakkan tubuhnya, memasang wajah menyesal yang berlebihan.
"Waduh! Maaf, maaf! Saya tidak sengaja," serunya, meski matanya berkilat jenaka.
"Yah... sayang sekali."
"Kainnya jadi kotor. Nanti saya ganti rugi seratus ribu deh."
Dia menoleh ke arah Sekar, menantang.
Tapi Sekar tidak marah.
Gadis itu justru melangkah maju dari bayang-bayang, masuk ke lingkaran cahaya lampu sorot.
"Tidak perlu ganti rugi, Gusti," suara Sekar tenang, namun terdengar jelas di keheningan ruangan yang syok.
"Coba Gusti lihat lagi kainnya."
Rangga mengerutkan kening.
"Lihat apa? Sudah basah—"
Kata-katanya terhenti di tenggorokan.
Mata semua orang di ruangan itu membelalak.
Di atas kain putih itu, cairan anggur merah tidak meresap.
Sama sekali tidak.
Cairan itu... berkumpul.
Molekul-molekul air di dalam anggur itu saling tarik-menarik dengan kuat, menolak berikatan dengan permukaan serat kain.
Mereka membentuk butiran-butiran bola merah sempurna.
Persis seperti air raksa yang jatuh ke lantai, atau air hujan di atas daun talas.
Bola-bola cairan merah itu bergoyang-goyang di permukaan kain yang miring.
Lalu, karena gravitasi, mereka menggelinding turun.
Gelinding... Gelinding...
Pluk.
Pluk.
Satu per satu bola cairan itu jatuh ke lantai panggung, meninggalkan kain itu...
Kering.
Bersih.
Putih suci tanpa noda sedikitpun.
The Lotus Effect, batin Sekar.
Sudut kontak air lebih dari 150 derajat.
Sifat super-hydrophobic akibat struktur nano pada permukaan serat bio-polimer.
Hukum fisika tidak bisa dibohongi oleh drama murahan.
Hening yang terjadi kali ini berbeda.
Ini adalah keheningan magis.
Rangga melongo.
Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
Dia mengusap kain itu dengan tangannya.
Kering.
"Hah?" desisnya bodoh.
Sekar naik ke atas panggung.
Dia mengambil botol air mineral dari meja MC, membuka tutupnya, dan dengan santai menyiramkannya ke seluruh permukaan kain.
BYUR.
Air itu meluncur turun seperti air terjun mini, membawa serta debu-debu mikroskopis yang mungkin menempel, membuat kain itu justru terlihat semakin bersinar.
Tidak ada satu tetes pun yang tertinggal.
Kain itu tetap kering total.
"Kain Tenun Serat Buana," ucap Sekar, suaranya bergema penuh wibawa.
"Anti air. Anti noda. Anti bakteri."
"Tidak perlu dicuci dengan deterjen keras. Cukup dibilas air, dia akan membersihkan dirinya sendiri."
Dia menatap para hadirin yang masih ternganga.
"Bukan plastik. Ini serat organik murni. Bernapas, sejuk di kulit, tapi memiliki ketahanan setara baja ringan."
Sekar menoleh ke Rangga yang masih bengong di sampingnya.
"Terima kasih atas demonstrasinya, Gusti Rangga. Anggur merah tadi adalah uji coba yang sangat... ekstrem."
"Tapi hasilnya memuaskan, bukan?"
Wajah Rangga memerah padam, semerah anggur yang kini menggenang di sepatunya yang mahal.
Dia baru saja menjadi sales marketing gratis untuk Sekar.
Di meja VIP, senyum GKR Dhaning lenyap.
Gelas di tangannya retak karena cengkeraman yang terlalu kuat.
"Sepuluh juta!"
Teriakan itu memecah keheningan.
Seorang kolektor kain tua berdiri dengan gemetar.
"Saya tawar sepuluh juta!"
"Lima belas juta!" seru seorang istri pejabat.
"Itu akan sempurna untuk dijahit jadi kebaya saat lebaran nanti! Bayangkan tidak perlu takut ketumpahan kuah opor!"
"Dua puluh juta!"
"Tiga puluh!"
"Lima puluh juta!"
Suasana menjadi kacau.
Orang-orang yang tadi menertawakan kain 'taplak meja' itu kini berebut seperti orang kesurupan.
Mereka melihat keajaiban.
Bagi mereka ini sihir, tapi bagi Sekar, ini sains.
Sekar mundur selangkah, membiarkan MC mengambil alih kegilaan itu.
Harga terus merangkak naik.
"Enam puluh lima juta... tujuh puluh juta...!"
Rangga turun dari panggung dengan langkah cepat, menunduk malu, berusaha menghilang dari pandangan.
Sekar berdiri di pinggir panggung, mengamati angka-angka yang diteriakkan itu.
Biaya produksi: Nol Rupiah karena bahan dari ruang spasial.
Waktu pengerjaan: 3 jam.
Potensi ROI: Tak terhingga.
Tatapannya bertemu dengan GKR Dhaning di seberang ruangan.
Sekar tidak tersenyum mengejek.
Dia hanya mengangguk kecil, anggukan hormat yang sangat sopan, namun pesannya jelas: Skakmat.
"Delapan puluh lima juta! Terjual kepada Ibu Walikota!" teriak MC sambil mengetukkan palu.
Tepuk tangan membahana.
Sekar menghela napas panjang.
Bukan napas lega, tapi napas persiapan.
Dia tahu, mulai malam ini, dia bukan lagi sekadar gadis desa penjual melon.
Dia adalah ancaman nyata bagi hegemoni bisnis keluarga Dhaning.
Dan ancaman biasanya... dilenyapkan.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄