NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberanian yang langsung mengubah sikapku

Setelah sarapan selesai, ia berdiri lebih dulu sambil membawa piring ke dapur.

“Kamu mandi dulu,” katanya tanpa menoleh. “Nanti kita berangkat.”

Aku yang masih duduk sambil memeluk gelas susu yang tinggal setengah mengerucutkan bibir.

“Kok rasanya males banget, Mas…” rengekku pelan.

Ia menoleh, satu alisnya terangkat. “Males?”

Aku berdiri, melangkah mendekatinya dengan wajah pura-pura lesu. “Iya… mandiin dong.”

Hening.

Ia menatapku.

“Zahra.”

Nada suaranya datar, tapi jelas ada peringatan di dalamnya.

Aku tak bisa menahan senyum. “Bercanda, Mas!”

Sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, aku sudah berlari kecil menuju kamar mandi, tertawa pelan. Dari belakang terdengar ia menghela napas panjang.

“Dasar…”

Aku menutup pintu sambil masih tersenyum sendiri.

Air hangat mengalir perlahan membasahi rambutku. Entah kenapa pagi ini terasa ringan. Mungkin karena suasana di antara kami tak setegang semalam. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya aku berani sedikit menggoda tanpa takut ia akan marah.

Setelah selesai mandi, aku berdiri di depan lemari.

Di sana tergantung pakaian yang ia belikan kemarin. Gaun sederhana berwarna lembut, tidak terlalu mencolok, tapi elegan. Bahannya jatuh dengan ringan.

Aku menyentuhnya pelan.

Ia membelikannya tanpa banyak komentar, hanya berkata, “Ini cocok buat kamu.”

Sekarang aku memakainya dengan perasaan aneh. Campuran malu dan penasaran.

Setelah rapi, aku menatap diriku di cermin.

Berbeda.

Bukan karena bajunya mahal. Tapi karena aku tahu ada seseorang yang memilihkannya untukku.

Aku menarik napas kecil, lalu keluar kamar.

Ia sedang berdiri di ruang tamu, memeriksa sesuatu di ponselnya. Saat mendengar langkahku, ia menoleh.

Tatapannya berhenti.

Beberapa detik.

Aku melangkah mendekat, berputar kecil di depannya.

“Gimana, Mas? Cocok gak bajunya?”

Ia terlihat seperti butuh satu detik lebih lama untuk menjawab.

“Iya,” katanya akhirnya. “Cocok. Pas banget bajunya di kamu… kelihatan cantiknya.”

Aku berhenti berputar.

“Berarti yang sebelumnya aku gak cantik?” tanyaku cepat.

Wajahnya langsung berubah.

“Apa? Enggak—enggak gitu maksudnya!”

Aku menahan senyum, tapi pura-pura memasang wajah kesal.

“Oh jadi selama ini aku gak cantik?”

“Bukan begitu!” Ia terlihat benar-benar panik sekarang. “Maksudku kamu memang sudah cantik dari awal. Bajunya cuma… ya cuma mendukung.”

Aku menyilangkan tangan.

“Astagfirullah…” gumamnya pelan. “Kamu marah?”

Aku mendekat satu langkah.

“Iya, aku marah. memangnya kenapa?”

Ia tampak benar-benar kebingungan sekarang. Tangannya yang tadi memegang ponsel turun begitu saja.

“Yaudah… aku minta maaf ya.”

Aku menggeleng pelan. “Gak mau.”

Ia menatapku, semakin bingung. “Loh?”

“Cium dulu baru aku maafin.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan seketika itu juga aku sadar—aku terlalu berani.

Wajahnya membeku.

“Apa?”

Aku berusaha tetap memasang wajah serius walau jantungku berdetak cepat. “Katanya minta maaf.”

Ia menelan ludah. “Zahra… jangan bercanda.”

“Siapa yang bercanda?”

Ia terlihat panik. Benar-benar panik. Tangannya mengusap tengkuknya sendiri seperti orang yang sedang mencari jalan keluar.

“Kamu ini…” gumamnya.

Aku hampir tertawa melihat reaksinya, tapi kutahan.

Beberapa detik kami hanya saling menatap.

Lalu ia menghela napas pelan.

“Dekat sini.”

Sekarang justru aku yang terdiam.

“Katanya marah?” katanya lagi, suaranya lebih lembut.

Aku mendekat setengah langkah. Jarak kami tinggal beberapa senti. Aku bisa merasakan udara hangat dari napasnya.

Jantungku semakin cepat.

Ia mengangkat tangannya perlahan.

Aku menutup mata refleks.

Tapi yang kurasakan hanya sentuhan lembut di puncak kepalaku.

Sebuah kecupan ringan di sana.

Bukan di bibir.

Bukan seperti yang kubayangkan.

Tapi entah kenapa… justru membuat dadaku terasa penuh.

“Sudah,” katanya pelan. “Sekarang sudah maafin?”

Aku membuka mata.

Wajahnya masih sedikit tegang, tapi tatapannya hangat.

Aku menahan senyum yang hampir pecah.

“Iya…” jawabku pelan.

Ia menggeleng kecil. “Kamu ini bikin jantung orang gak tenang aja.”

Aku tertawa kecil. “Mas juga panikan banget.”

Ia mengambil kunci mobil dari meja.

“Ayo. Nanti keburu siang.”

Aku mengangguk, tapi sebelum melangkah keluar, aku melihat sekeliling rumah itu sekali lagi.

Rumah besar dengan dinding bersih dan cahaya pagi yang masuk dari jendela tinggi. Beberapa jam lalu terasa asing. Sekarang… sedikit lebih ramah. Sedikit lebih hidup.

Lalu kami keluar.

Mobil melaju pelan meninggalkan halaman.

Beberapa menit pertama hanya diisi suara mesin dan radio yang diputar pelan. Aku duduk di kursi penumpang, menatap jalanan yang mulai ramai.

Tiba-tiba ia membuka obrolan.

“Kamu bisa nyetir mobil gak?”

Aku menoleh cepat. “Sayangnya mana?”

Ia langsung menoleh padaku dengan wajah benar-benar bingung. “Hah?”

“Iya,” kataku santai. “Sayangnya mana?”

Ia mengerutkan kening. “Gimana maksudnya?”

Aku menahan tawa. “Iya, sayangnya mana? Harusnya kan pertanyaannya gak gitu.”

Ia semakin kebingungan. “Zahra… kamu ini ngomong apa sih?”

Aku bersandar santai di kursi, lalu menoleh ke arahnya sambil tersenyum kecil.

“Harusnya pertanyaannya gini… sayang, kamu bisa nyetir mobil gak?”

Rem mobil sedikit diinjak mendadak—tidak sampai berhenti, tapi cukup membuat tubuhku sedikit terdorong.

Ia menatapku cepat, lalu kembali fokus ke jalan.

“Mau dipanggil sayang?” tanyanya pelan.

“Iya,” jawabku ringan. “Emangnya kenapa, Mas? Keberatan?”

Ia terdiam.

Benar-benar terdiam.

Hanya suara mesin mobil dan napasnya yang sedikit berubah.

Aku memperhatikannya dari samping. Rahangnya mengeras sedikit, bukan karena marah—lebih seperti menahan sesuatu.

“Kamu serius?” tanyanya lagi.

“Kenapa? Gak boleh?”

.................

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!