Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 Pergi Ke Monas.
Malam mulai merangkak pelan, di dalam rumah yang cukup megah, Anisa mengusap keringat di pelipisnya, setelah memastikan dapur bersih, serta ruang makan yang baru saja digunakan untuk makan malam.
Saat sudah memasuki kamar, Anisa langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang kecil, rasa lelahnya dari tadi pagi seolah terbayar tuntas dengan hanya beristirahat seperti ini.
Wajahnya yang terlihat lelah menyimpan semua harapan seorang gadis kampung yang hanya ingin hidup mandiri tanpa merepotkan kedua orang tuanya, namun dibalik itu semua tanpa Anisa tahu ada seorang lelaki yang memperjuangkan dirinya mati-matian di luaran sana.
Handphone Anisa berdering, sepertinya ia susah tahu siapa yang menelponnya di jam-jam seperti ini. Dan ya benar sekali nama Zaki muncul di layar handphone-nya.
"Masyaallah, dugaanku selalu tepat," gumam Anisa lalu mengeklik tombol hijau nya.
"Assalamualaikum Anisa ...," sapa Zaki dari seberang sana.
"Walaikum salam Ki," sahut Anisa.
"Gimana malam ini? Kerjaan udah tuntas?" tanya Zaki.
"Alhamdulillah, tuntas tanpa teguran, tidak seperti kemarin," sahut Anisa.
Mendengar jawaban tulus itu hati Zaki merasa lega, untuk hari ini Anisa terlihat aman dan sumringah, meskipun nada suaranya terlihat lemah, namun di dalam hati lelaki itu, mau sampai kapan Anisa berada di dalam tempat kerjanya itu.
"Nis," panggil Zaki pelan.
"Iya," sahut Anisa cepat.
"Besok kita bisa ketemuan gak?" tanya Zaki.
Anisa mengerutkan dahinya, padahal baru satu pekan kemarin mereka melakukan pertemuan. "Kita ketemuan lagi?" tanya Anisa bingung.
"Iya lah, kamu bisa gak," jaga Zaki.
Anisa berpikir sejenak, ia tidak langsung menjawab, kebetulan Minggu besok dirinya mendapatkan giliran cuti full, tapi tidak serta Merta menerima ajakan Zaki begitu saja.
"Memangnya kamu mau ajak aku ke mana?" tanya Anisa memastikan.
"Aku ingin ajak kamu ke Monas," sahut Zaki dengan cepat.
"Monas," ulang Anisa kembali.
Ada jeda setelah ucapan itu, seolah ingin memastikan jika ia tidak salah dengar. Kata Monas, bukan suatu kata yang asing, tempat yang hanya ia lihat dari televisi, bahkan ia tahu keindahan tempat itu hanya dari cerita orang saja, selama merantau ia selalu menghabiskan waktu liburnya untuk beristirahat saja.
"Beneran Ki?" tanya Anisa suaranya nyaris seperti anak kecil yang baru mendapatkan kabar baik.
Zaki yang berada di seberang sana tersenyum pelan. "Iya, kamu belum pernah ke sana kan?"
Anisa menggeleng pelan, lalu sadar jika dirinya sedang di telepon dan cepat-cepat ia menjawabnya. "Belum."
Ada embun dibalik kelopak matanya yang tidak bisa ia sembunyikan, bukan karena tempatnya yang megah dan luas, tapi karena akhirnya ada seseorang yang mengajaknya melihat dunia walau hanya sepetak ibukota.
Tapi beberapa detik kemudian ada ragu di dalam hatinya, ia takut jika akan membuat Zaki menguras kantong. "Ki, tapi biayanya mahal gak?"
Zaki terkekeh kecil. "Gak mahal kok, tenang saja."
"Tapi aku takut, kamu keluar uang banyak," kata Anisa jujur.
"Enggaklah, di Monas itu kita hanya duduk-duduk dan jajan air mineral itu saja,' jelas Zaki.
Anisa pun tersenyum lega, bukannya apa, sebagai seorang gadis yang merasakan bagaimana susahnya mencari uang, ia tidak mau memanfaatkan siapapun, meskipun ia tidak memintanya.
"Ya sudah kalau gitu aku mau," sahut Anisa akhirnya.
"Baiklah kalau gitu sampai jumpa besok ya," kata Zaki.
Telepon terputus, Zaki menatap layar handphone yang sudah padam begitu lama, tanpa Anisa tahu jika besok adalah hari Zaki berpamitan karena ingin bekerja di Tambun.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya, setelah bantu-bantu kedua temannya bersih-bersih, Anisa langsung meminta ijin pada majikannya, dan majikannya memberi ijin.
Untuk kali ini seperti biasa Anisa mengenakan baju yang sopan dengan rambut yang dikuncir rapi. Lalu melangkah pelan ke luar.
Sementara Zaki sudah berdiri di depan pagar tempat Anisa bekerja sejak lima belas menit yang lalu. Ia memilih menunggu di seberang jalan, tidak ingin terlihat terlalu mencolok. Zaki mengenakan kaos oblong bewarna putih dan juga celana pendek, penampilan cukup sederhana tapi rapi dan baju yang dikenakan terlihat baju yang ada harganya.
Beberapa kali ia melihat jam di ponselnya, lalu pintu pagar itu terbuka. Anisa keluar dengan tas selempang kecil di bahunya. Langkahnya pelan, matanya sempat menyapu sekitar, sampai akhirnya berhenti pada satu sosok yang berdiri tak jauh dari sana.
Untuk sesaat Anisa hanya berdiri. Ada senyum kecil yang tak bisa ia tahan. Zaki melangkah mendekat.
“Lama?” tanya Anisa.
“Enggak,” jawab Zaki cepat, padahal jelas ia sudah menunggu cukup lama.
Mereka tidak berjabat tangan. Hanya terdiam dan saling pandang, ada semburat senyum yang ditahan dan akhirnya merekah bersamaan.
"Ayo kita ke halte," kata Zaki.
Anisa mengangguk cepat. "Ayo."
Mereka berjalan berdampingan, tidak dekat namun Zaki selalu memastikan gadis itu dalam posisi tersenyum meskipun hanya berjalan Kaki.
"Capek?" tanya Zaki pelan.
"Enggak, malah gak sabar pingin sampe," kata Anis polos.
Lalu keduanya saling tertawa bersamaan, dan tanpa mereka sadari saat baru sampai ke halte ternyata bus yang ia tunggu datang juga.
Di dalam bus suasananya cukup padat. Zaki lebih dulu masuk dan memilih duduk di sisi luar, membiarkan Anisa duduk di dekat jendela. Setiap kali kendaraan berhenti mendadak, refleks tangan Zaki terangkat sedikit, seolah siap menahan pundak Anisa jika perlu.
Saat ada penumpang pria yang berdiri terlalu dekat, Zaki sedikit menggeser posisi duduknya, memberi ruang lebih untuk Anisa. Tidak berlebihan, ia hanya ingin menjaga meskipun dengan jarak dekat sekalipun.
Anisa menyadari akan hal itu ia pun menoleh ke arah Zaki lalu bertanya pelan.
“Kamu kenapa duduknya maju-maju gitu?”
“Biar kamu gak kepentok,” jawab Zaki singkat.
Anisa tersenyum tipis, lalu menatap ke luar jendela. Tapi hatinya menghangat, entah kenapa bersama Zaki ia menemukan sosok ayah yang selama ini jarang ia rasakan, bukan berarti Anisa tidak memiliki keluarga utuh, keluarganya masih lengkap, tapi karena tuntutan kerja sejak usia remaja membuatnya hilang akan figur itu.
Perjalanan mereka tidak banyak bicara. Hanya sesekali saling melirik, lalu pura-pura melihat ke arah lain ketika mata bertemu.
Jakarta pagi itu terasa tidak terlalu bising, karena keduanya tidak terlalu banyak bicara. Dan tanpa mereka sadari Bus sudah terhenti begitu saja, hingga akhirnya mereka turun dan berjalan memasuki kawasan Monas, langkah Anisa sempat melambat.
Melihat dari kejauhan, tugu yang menjulang tinggi. Lidah api emas di puncaknya berkilau terkena matahari pagi.
Anisa berhenti, benar-benar terhenti, langkahnya diam sepersekian detik. Matanya membesar, wajahnya seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat sesuatu yang selama ini hanya ada di televisi.
“Itu… Monas?” tanyanya pelan, meski jelas jawabannya iya.
Zaki tersenyum melihat reaksinya. “Iya.”
Anisa mendongak lebih lama. Angin pagi membuat ujung rambutnya bergerak pelan. Wajahnya terlihat takjub, tulus, tanpa dibuat-buat.
“Bagus banget…” bisiknya.
Untuk sesaat ia lupa kalau ia sedang bersama Zaki. Ia hanya memandangi tugu itu dengan mata berbinar. Lalu perlahan ia menoleh pada Zaki.
“Terima kasih ya.”
Zaki mengernyit kecil.
“Untuk apa?”
“Untuk ngajak aku ke sini.”
Zaki tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Anisa, lalu kembali melihat Monas.
“Kalau suatu hari nanti aku bisa ajak kamu ke tempat yang lebih tinggi dari ini,” ucapnya pelan, “aku tetap ingin lihat wajah kamu yang seperti tadi.”
Anisa terdiam, pipinya sedikit memerah, ada rasa malu tapi bahagia, dan bersama Zaki ia bisa menggapai dunia yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
Bersambung ...
Pagi semua .... Wiiiih Anisa di kehidupan nyata mulai memantau buku ini. Aku jadi deg-degan 🤫🤫🤫