NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Komedi / Action / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi / Enemy to Lovers
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Benio tersenyum sinis. “Alecio, akhirnya kau datang sendiri ke kuburanmu.”

Angin malam bertiup semakin kencang. Suara debur ombak yang menghantam batu karang, membuat suasana di sana semakin mencekam.

Alecio melangkah maju perlahan, suaranya rendah tetapi menggetarkan. “Aku tidak datang untuk mati, tapi aku datang untuk menutup dosamu.”

Ombak menghantam batu karang dengan keras, seolah menyetujui kata-katanya. Di sekeliling mereka, pertempuran masih membara, api kecil menyala di beberapa titik, percikan cahaya memantul di air laut, bayangan orang-orang bergerak cepat di antara kegelapan.

Malam itu bukan sekadar bentrokan antar kelompok mafia. Malam itu adalah waktu yang pas untuk balas dendam. Batas antara masa lalu dan masa depan Alecio.

DOR!

Baik Alecio dan Benio, melancarkan serangan, secara bersamaan.

Malam itu, suasana pantai benar-benar membara. Suara tembakan saling beradu, melebur dengan suara teriakan kesakitan.

Di ujung pantai itu masih terjadi pertempuran anggota kelompok Serigala Abu-abu dan Serigala Hitam. Asap tipis melayang rendah di antara batu karang. Bau mesiu bercampur dengan asin air laut. Ombak terus menghantam tebing seolah tidak peduli bahwa di atasnya manusia sedang saling memburu nyawa.

Alecio berdiri tegak di mulut gua laut pertama, jas hitamnya sudah robek di beberapa bagian, basah oleh air laut dan bercak darah, entah darah musuh atau darahnya sendiri.

Di hadapannya, Benio juga tidak dalam kondisi lebih baik. Wajahnya memar, sudut bibirnya pecah, dan napasnya memburu. Namun, tatapannya tetap liar, penuh kebencian.

Mereka saling menatap seperti dua predator yang menolak mundur.

“Dua puluh tahun, Alecio,” ucap Benio dengan suara serak. “Dua puluh tahun kau membawa dendam ini seperti anjing yang menggenggam tulang.”

Alecio tidak berkedip. “Dan malam ini tulang itu akan hancur.”

Tiba-tiba, suasana berubah sunyi yang mencekam, seperti sebelum badai. Lalu, dalam hitungan detik, semuanya meledak. Baku tembak pun terjadi. Cahaya kilatan tembakan menyambar kegelapan malam, memantul di permukaan air laut dan dinding gua. Suara dentuman menggema di antara tebing, memekakkan telinga.

Patrick berteriak dari balik batu karang, memberi aba-aba kepada anak buah mereka, tetapi suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk pertempuran.

Alecio bergerak cepat, lincah, dingin, dan mematikan. Setiap langkahnya terukur, setiap tarikan pelatuknya tidak pernah sia-sia.

Benio membalas dengan brutal. Ia tidak peduli dengan keselamatan anak buahnya yang ada di pikirannya hanya satu, bertahan hidup.

Dalam kepanikan yang makin memuncak, Benio berteriak lantang kepada orang-orangnya.

“Lindungi aku! Hadang dia!”

Beberapa anak buah Serigala Abu-abu langsung berlari maju, menempatkan diri di antara Benio dan Alecio. Bukan karena setia, melainkan karena takut dibunuh bos mereka sendiri jika menolak.

Alecio menggeram pelan. Dia tahu apa yang sedang terjadi. Benio menggunakan anak buahnya sebagai tameng hidup.

Di tengah kekacauan itu, Benio perlahan mundur, langkah demi langkah, menuju salah satu kapal kecil yang masih menyala mesinnya di dalam gua kedua.

Alecio melihatnya. Tatapannya menyala penuh amarah. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju menembus hujan peluru, mengabaikan rasa sakit yang mulai menjalar di tubuhnya. Satu tembakan mengenai bahunya. Alecio tersentak, tubuhnya sedikit oleng, tetapi ia tidak jatuh.

Patrick berteriak panik, “Bos!”

Benio melihat celah itu. Ia tersenyum licik. Dengan cepat, ia melompat ke atas kapal kecilnya. Anak buahnya yang tersisa segera memutus tali tambatan. Mesin kapal meraung.

Alecio berusaha melangkah lagi, tetapi kali ini rasa sakit menjalar lebih kuat. Darah mengalir dari luka di lengan dan sisi tubuhnya.

Benio berdiri di atas kapal yang mulai bergerak menjauh, menatap Alecio dengan tatapan penuh ejekan.

“Ini belum selesai, Alecio Serigala Hitam!” teriaknya di tengah deru ombak. “Kita akan bertemu lagi dan saat itu, salah satu dari kita akan mati!”

Kapal itu melaju cepat, menghilang ke dalam kegelapan laut malam.

Alecio mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.

Benio berhasil kabur.

“Sial!”

Pertempuran malam ini, harga yang dibayar Serigala Abu-abu sangat mahal. Banyak anak buahnya tumbang di antara batu karang, tergeletak tak bernyawa atau terluka parah. Barang-barang datang milik mereka hancur semua.

Patrick berlari mendekat ke arah Alecio.

“Bos, kita harus segera pergi! Banyak yang terluka!”

Alecio menunduk melihat tubuhnya sendiri, baru sekarang ia benar-benar merasakan betapa banyak luka yang ia terima. Jaketnya basah oleh darah, napasnya berat, tetapi tatapannya masih setajam pisau.

“Bawa semua yang masih hidup,” perintah Alecio dingin.

Malam itu, pantai akhirnya perlahan kembali sunyi. Tempat itu berubah dipenuhi jejak darah dan bara dendam.

Beberapa jam kemudian, iring-iringan mobil Serigala Hitam memasuki gerbang kastil dengan tergesa-gesa. Lampu-lampu kastil langsung menyala terang, para pelayan dan pengawal berhamburan panik.

Sandrina yang sedang mondar-mandir di ruang tamu besar, langsung menoleh saat pintu utama terbuka dengan keras. Dan saat itulah jantungnya seperti berhenti.

Alecio masuk dengan langkah tertatih, ditopang oleh Patrick dan Max di kedua sisinya. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit membiru, dan pakaiannya penuh darah.

Sandrina spontan melangkah maju tanpa sadar.

“Astaghfirullah! Siapa yang melukai kamu sampai seperti ini?” tanyanya dengan suara tercekat.

Alecio nyaris ambruk, tetapi Patrick menahannya tepat waktu.

Francisco langsung berlari datang bersama tim medis kecilnya. “Bawa dia ke ruang rawat sekarang!” perintah Francisco tegas.

Sandrina berdiri mematung di tempatnya, menatap lantai yang kini meninggalkan jejak tetesan darah Alecio. Dia merasa dadanya sesak. Padahal pria itu tadi hendak memperkosanya, menawannya, bahkan nyaris membunuhnya.

Namun, melihatnya dalam keadaan seperti ini, Sandrina tidak bisa diam. Tanpa diminta, ia mengikuti mereka menuju ruang rawat.

Francisco menoleh sekilas saat melihat Sandrina ikut masuk. “Keluar, ini bukan tempatmu,” katanya tegas.

Namun, sebelum Sandrina sempat membalas, Alecio yang terbaring setengah sadar bergumam lirih, hampir tak terdengar.

“Biarkan saja dia di sini.”

Francisco terdiam. Ia menatap Sandrina sejenak, lalu menghela napas.

“Baik. Tapi jangan mengganggu.”

Sandrina mengangguk cepat, meski tangannya gemetar.

Alecio dibaringkan di ranjang besar di ruang rawat pribadi. Lampu-lampu medis menyala terang. Francisco mulai memeriksa luka-lukanya satu per satu.

Sandrina berdiri di sudut ruangan, menggigit bibirnya sendiri, gelisah. Ia melihat perban, kain kasa, alat-alat medis dan tubuh Alecio yang penuh luka tembak di beberapa bagian.

“Apa dia masih bisa bertahan hidup?” tanya Sandrina pelan, suaranya bergetar.

Francisco tidak menoleh. “Jika beruntung, iya.”

Kata itu membuat jantung Sandrina makin berdegup kencang.

Tanpa sadar, Sandrina mengepalkan tangannya.

Dalam hatinya, ia berdoa lagi, kali ini bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk pria yang dulu ingin menembaknya.

“Ya Allah, semoga Engkau memberi umur yang panjang untuk Alecio.”

Beberapa jam setelah operasi, Alecio masih belum sadar.

Sandrina duduk di kursi di samping ranjang, kepalanya tertunduk. Ia menghela napas panjang, lalu berbisik pelan.

“Dasar mafia gila, tapi jangan mati dulu. Aku belum sempat maki kamu puas-puas.”

Di ranjang, jari Alecio bergerak sedikit.

1
Nar Sih
sdh bisa di pasti kan nih alecio bnr ,,udah jatuh cinta
Cindy
lanjut
Sugiharti Rusli
dan apakah cinta Alecio bisa terbalas dengan tingginya tembok yang akan menghalangi mereka bersatu dalam ikatan
Sugiharti Rusli
apa nanti Alecio akan memenuhi janjinya mengurus dokumen Sandrina dan membiarkan dia pulang ke Indonesia,,,
Sugiharti Rusli
terkadang pertengkaran bukan jadi sesuatu yang meresahkan, tapi sesuatu yang bahkan dirindukab di kala salah satu jauh atau sakit,,,
Sugiharti Rusli
meski Sandrina awalnya adalah gadis biasa yang tersesat di sarang mafia, dan Alecio yang sudah lama ga pernah kenal kata cinta sama perempuan manapun bisa saling tertarik sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang yah istilah Jawa, 'witing tresno soko kulino' itu memang benar adanya yah
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
kenapa Alecio tidak coba untuk ikut sandrina pulang ke indo
Lilis Yuanita
👍
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya bakalan nikah yah 🤭
ken darsihk
Fix lah kalean jadian ajaaa , dan di resmikan di Indonesia 👏👏👏
Naufal Affiq
nikah aja sama alicio sandrina,biar kau bisa mudik,sebentar lagi kita lebaran lho
🌸Santi Suki🌸: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
ken darsihk
Alecio kebanyakan drama inti nya ya Alecio ngajak maried Sandrina 😂😂😂
Sugiharti Rusli
padahal kan bisa saja kalo si Alecio mau, si Sandrina diantarkan ke kedutaan Indonesia di Italia,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan tentang dokumen si Sandrina yang hilang juga bisa dia manfaatkan dengan sangat baik sih yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang belum Sandrina ketahui adalah kenyataan kalo seorang Alecio bisa jatuh cinta padanya karena tingkahnya yang unik dan cerewetnya😝😝😝
Sugiharti Rusli
bahkan mana ada dalam pikirannya kalo dia jadi tawanan seorang mafia di negara asing yah😅😅😅
Sugiharti Rusli
memang ajaib sih yah apa yang terjadi sama si Sandrina sekarang😅😅😅
gaby
Kasih lah mudik si Sandrina, tp kawal sampai tujuan. Lamar di dpn ortunya. Emang sampai kapan Alecio sanggup menahan sesak di dada & di celana stiap berdekatan dgn Sandrina. Segera halalkan biar lega dr rasa sesak itu😄😄
Aditya hp/ bunda Lia
kesempatan dalam kesempatan 🤭
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!