NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Di Antara Doa dan Dosa

"Berjanjilah tak akan melihat wajahnya, apalagi menyentuhnya."

Reza mengangguk. "Aku janji. Hanya kau satu-satunya wanitaku."

Sudut bibir Zahra akhirnya terangkat. Tangannya menyentuh rahang Reza, lalu turun menyusuri lehernya. Reza memejamkan mata.

“Malam ini,” bisik Zahra, napasnya menyapu kulit Reza. “Temani aku…”

Jemari Zahra mulai membuka kancing kemeja Reza.

Reza menangkap tangannya. Dadanya naik turun.

“Ini nggak benar.”

Zahra mendongak menatapnya. “Aku ingin, sebelum aku pergi, kita punya kenangan yang tak terlupakan.”

“Tapi ini—”

“Kalau kau tak mau,” potong Zahra pelan, “ini pertemuan terakhir kita.”

Reza terdiam. Ia tahu ini salah. Namun kehilangan Zahra, ia tak sanggup.

Zahra mengecup leher Reza, menyusuri leher Reza dengan bibirnya yang setelah terbuka.

Reza memejamkan mata. Ketakutannya kehilangan Zahra lebih besar daripada keberaniannya untuk berhenti. Tangannya terangkat memeluk pinggang Zahra. Napasnya terasa panas dan makin cepat. Bibir mereka bertemu, saling menempel saling membelit.

Tatapan Zahra berkabut. "Aku mencintaimu," bisiknya, suara itu menjadi alasan sekaligus jerat.

Reza menyentuh rahang Zahra. "Aku takut kehilanganmu," ia menunduk, bibir mereka kembali bertemu.

Tangan Zahra menyusuri dada Reza yang kemejanya telah terbuka. Tangan Reza menyusup di balik gaun Zahra.

"Rezzz..."

Reza mengangkat tubuh Zahra ke dalam kamar. Helai demi helai kain bertebaran di lantai, ranjang bergoyang, suara desahan bersahutan.

Reza menatap Zahra dengan wajah basah oleh peluh.

Malam itu, Reza melangkah terlalu jauh. Bukan karena ia tak tahu mana yang benar, melainkan karena ia memilih mengabaikannya.

Sesuatu yang tak seharusnya terjadi… telah terjadi.

Demi cinta, Reza membenarkan yang salah dan melupakan kebenaran.

Di rumahnya, ada yang halal baginya. Namun ia justru menyentuh yang belum halal.

Reza memejamkan mata saat napasnya tercekat. Ada suara yang berteriak di kepalanya, ayat yang ia hafal sejak kecil, namun ia menenggelamkannya, memilih suara lain yang lebih lirih, lebih memabukkan.

Pagi nanti, ia tahu, dada ini tak akan pernah benar-benar lapang lagi.

 

Di rumah lain, Ayza duduk bersila di ruang tamu. Jarinya mengikuti baris ayat dengan sabar, meski pandangannya berkali-kali melayang ke pintu. Setiap kali ia salah membaca, ia mengulang dari awal, seolah ingin menenangkan hatinya sendiri.

Di tempat berbeda, suaminya tenggelam dalam dosa, yang suatu hari akan ia sesali, bahkan hingga mati.

***

Pagi menyapa. Ayza hanya menyiapkan roti bakar untuk sarapan.

"Aku gak mau makanan yang kumasak mubazir lagi," gumamnya.

Ia melirik ke luar rumah. Pak Darto, satu-satunya orang yang ada di rumah ini selain dirinya. Orang yang bertugas mengurus kebun dan menjaga rumah.

Ayza keluar dan menghampirinya.

"Pak Darto." panggilnya.

Pak Darto menoleh. "Iya, Neng?" ia bergegas menghampiri Ayza. "Ada apa, Neng?"

"Bapak sudah sarapan?" tanya Ayza.

Pak Darto mengangguk. "Sudah, Neng."

"Boleh saya bertanya?"

"Silakan, Neng."

Ayza menoleh ke kursi di teras. "Kita duduk di sana, Pak," ujarnya seraya menunjuk.

Pak Darto mengangguk mengikuti Ayza. Ayza duduk dan Pak Darto berdiri dengan tangan saling bertaut di depan perut.

Ayza menatapnya. "Duduk saja, Pak."

"Ah, baju saya kotor, Neng. Nanti kursinya ikut kotor."

Ayza melirik baju pak Darto yang memang sedikit kotor. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma sedikit. Lagian kursinya juga kursi kayu, nanti kalau kotor tinggal dilap. Mungkin saya bakal tanya banyak hal. Nanti Bapak capek kalau berdiri terus," ujarnya lembut, tapi tegas.

Dan entah mengapa Pak Darto tak bisa menolaknya. Pria tua itu akhirnya duduk meski canggung. "Silakan tanya, Neng. Jangan sungkan. Saya jawab sebisa saya."

Ayza menghela napas pelan. "Yang tinggal di rumah ini..siapa saja, Pak?"

Pak Darto terdiam sejenak sebelum menjawab. "Pak Rahman dan istrinya, Bu Siti. Lalu anak mereka, Nak Reza dan Nak Fahri. Tapi Nak Fahri sekarang masih di pondok."

Ayza mengangguk. "Yang kerja di rumah ini cuma Bapak?"

Pak Darto menggeleng pelan. "Awalnya bukan cuma saya, Neng. Ada bibi yang masak dan bersih-bersih rumah. Tapi pas Neng masuk ke rumah ini kemarin, si bibi pulang kampung karena ibunya sakit."

"Lalu," tanya Ayza lagi. "apa Kak Reza.. punya pacar?"

Pak Darto tersenyum canggung, menggaruk dahinya yang tak gatal.

Ayza tersenyum tipis di balik cadarnya. "Pak, saya dan Kak Reza menikah tanpa saling mengenal lebih jauh. Saya hanya ingin tahu tentang suami saya, agar saya bisa jadi istri yang baik."

Kata-kata Ayza tak memaksa, tapi membuat Pak Darto sungkan jika tak menjawabnya. "Itu...setahu saya memang punya, Neng. Tapi jarang dibawa ke sini. Dan.."

"Dan apa?" tanya Ayza. Punggungnya sedikit tegak.

"Setahu saya, Pak Rahman dan Bu Siti gak terlalu suka sama pacar Nak Reza."

"Apa mereka masih berhubungan?"

Pak Darto tersenyum, tapi matanya bergerak tak tenang. "Saya kurang tahu soal itu, Neng. Saya jarang masuk ke rumah. Paling sesekali bantu ngepel kalau si bibi lagi repot dan saya gak ada kerjaan di kebon."

***

Mentari telah tenggelam, gelap mulai merayap, lampu-lampu mulai menyala. Ayza duduk di ruang tamu sambil membaca buku. Ia melirik jam. Tepat pukul tujuh.

Ia menunggu beberapa detik, entah berharap suara mobil atau langkah kaki.

Tapi tak ada. Halaman tetap gelap. Rumah tetap sunyi.

“Apa dia… tidak pulang?” gumamnya lirih.

Jam menunjukkan pukul delapan saat deru mesin mobil memasuki halaman. Ayza menoleh.

"Akhirnya dia pulang juga," batinnya. Ia meletakkan bukunya lalu beranjak berdiri.

Tak lama Reza masuk dengan wajah lesu, dasi longgar dan tas kerja di tangan. Ia hanya melirik Ayza yang menghampirinya.

"Bukankah lebih baik mengucapkan salam saat masuk ke rumah meski tak ada orang di dalam?" ujar Ayza membuat Reza berhenti.

"Kau mengaturku?" tanyanya, raut wajahnya jelas tak suka.

"Aku hanya mengingatkan. Jika tak dianggap istri, setidaknya sebagai sesama muslim." jawab Ayza tentang, lembut, mengulurkan tangannya.

Reza menatapnya. "Mau apa?"

Ayza menatapnya. "Suamiku pulang. Aku ingin menyalimi, menghargai tangan yang menafkahiku."

Tanpa menunggu persetujuan Reza, Ayza menarik tangan itu dan mengecupnya. Lembut.

Entah mengapa ada rasa hangat yang bergetar di dada Reza. Namun ia menepisnya dengan menarik tangannya.

"Aku lelah. Mau istirahat," ucapnya datar, berlalu pergi begitu saja.

"Aku siapkan air hangat?" tanya Ayza mengekor dari belakang.

"Gak perlu."

"Kalau begitu aku siapkan makan malam."

Reza berhenti melangkah, lalu menoleh tanpa berbalik. "Kita menikah bukan karena saling suka apalagi cinta. Kau tak perlu sok perhatian. Aku tak akan tersentuh." Ia menjeda sejenak. "Atau kau memang menyukaiku sejak dulu?"

Ayza terkekeh kecil tanpa humor. Reza berbalik menatapnya.

"Dari dulu kau cuek sama aku. Mana mungkin aku suka padamu? Atau kau berharap aku jatuh cinta pada pandangan pertama?"

Ayza menggeleng pelan. “Hatiku bukan hadiah akad. Ia tumbuh dari adab,” ucap Ayza tenang. “Ia tak tumbuh hanya karena cincin.”

Reza mengepalkan tangannya. Ia teringat tatapan-tatapan yang biasa ia terima. Senyum tertahan, suara yang tiba-tiba melembut, perhatian yang datang tanpa diminta.

Dan sekarang wanita yang telah menjadi istrinya berkata sangat percaya diri tak akan mencintainya?

Ia melangkah mendekat. "Oh, ya? Yakin tak jatuh cinta padaku?" tanyanya dengan suara berat, sedikit menunduk.

Dekat. Terlalu dekat dengan wajah Ayza. Tapi anehnya Ayza tak merasakan apapun. Tidak gugup. Degup jantungnya pun stabil.

"Apa kau pikir semua wanita jatuh cinta hanya karena melihat wajah tampan? Dan ingat, versi tampan atau cantik bagi seseorang itu tak sama. Dan.. maaf. Kau bukan tampan menurut versi aku."

BRUK!

Tanpa aba-aba Reza mendorong Ayza ke dinding. Kedua tangan Reza bertumpu di dinding di kedua sisi tubuh Ayza.

 

...🔸🔸🔸...

...“Tak semua yang dirindukan layak diperjuangkan. Ada yang justru harus dilepaskan agar iman tetap utuh.”...

...“Ia tahu itu salah. Tapi rasa takut kehilangan sering kali lebih nyaring dari suara kebenaran.”...

...“Ada doa yang dibaca dengan sabar, sementara di tempat lain dosa dipeluk dengan yakin.”...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
teman" nya tidak tahu apa yang sejatinya Fahri jaga dan sembunyikan, karena bisa jadi itu akan membuka aib keluarganya sendiri
Sugiharti Rusli
dia sangat tahu kalo ketidak jelasan siapa orang yang akan membuatnya bisa masuk, bukan itu yang dia tuju karena baginya kejujuran adalah prinsip yang suatu saat malah bisa menekannya bila dia berhasil
Sugiharti Rusli
sepertinya Fahri memang sangat keras memegang prinsip yang diyakininya sih
Sugiharti Rusli
Fahri ga mungkin melarang teman" memasuki jalur pintas dari orang yang sudah dia ga respek karena prinsipnya itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!