NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOMPRES HANGAT DAN CIUMAN PENYEMBUH KLONINGAN

Operasi Penyelamatan Aset Bangsa dimulai dengan Aruna yang mematikan mesin motornya sekitar lima puluh meter dari gerbang kosan Griya Widya. Dia tidak mau suara mesin motor matic-nya yang mirip suara mesin parut kelapa itu memancing keluar Mbak Widya yang kabarnya sudah siuman dan sekarang sedang berjaga di teras dengan teropong binokular.

"Turun, Jang. Pelan-pelan," bisik Aruna.

Javi turun dari boncengan dengan gerakan kaku. Dia masih memegang satu es mambo stroberi yang sudah mencair setengah.

"Majikan, kenapa kita harus mengendap-endap? Apakah kita sedang melakukan misi infiltrasi ke markas musuh untuk mencuri rahasia daster terbaru?"

"Bukan! Kita lagi menghindari kejaran emak-emak dan Mbak Widya yang mau jadiin kamu konten TikTok!"

Aruna menarik tangan Javi, menuntunnya melewati semak-semak di samping gerbang.

Javi merunduk, mengikuti gerakan Aruna. Namun, karena kakinya yang sepanjang galah itu, dia berkali-kali tersangkut di dahan pohon kamboja.

"Aruna, pohon ini mencoba memeluk saya. Sepertinya pesona saya sudah merambah ke dunia flora."

"Ssst! Diem atau aku jejelin es mambo itu ke lubang hidung kamu!"

Mereka akhirnya sampai di depan pintu kamar, Aruna menoleh ke kiri dan ke kanan. Lorong sepi. Dia segera memutar kunci, mendorong Javi masuk, dan menutup pintu dengan bunyi klik yang sangat pelan.

Begitu lampu kamar dinyalakan, Aruna bisa melihat dengan jelas luka di rahang Javi. Ada memar kebiruan dan sedikit darah kering di sudut bibirnya. Wajah yang biasanya mulus seperti porselen itu kini memiliki noda perang.

"Duduk di kasur," perintah Aruna.

Dia segera mengambil kotak P3K tua yang isinya cuma ada minyak kayu putih, plester motif dinosaurus, dan kapas yang sudah agak menguning.

Javi duduk dengan patuh. Dia menatap Aruna yang sedang sibuk membasahi kapas dengan alkohol.

"Aruna, apakah wajah saya akan meledak? Saya merasa ada denyutan ritmis di rahang saya, seperti ada konser mini yang sedang berlangsung di bawah kulit."

"Itu namanya senut-senut, Bego! Makanya jangan sok jagoan pake nunggu dipukul segala," gerutu Aruna.

Dia mendekat, lalu mulai menempelkan kapas alkohol itu ke luka Javi.

"SSSSShhh...ADUH! MAJIKAN! INI CAIRAN APA?!"

Javi menjauhkan kepalanya dengan drastis.

"Apakah ini cairan asam yang digunakan untuk menghapus nomor seri kloningan?!"

"Ini alkohol! Biar nggak infeksi! Sini, jangan gerak!"

Aruna menarik kerah kemeja Javi agar pria itu mendekat lagi.

Javi meringis, matanya terpejam rapat saat Aruna menekan kapas itu pelan-pelan.

"Sakit, Aruna... Saya rasa sistem pertahanan tubuh saya sedang mengalami error."

"Tahan dikit! Salah siapa coba jadi pahlawan kesiangan?" Aruna bergumam, tapi tangannya bergerak sangat lembut.

Dia meniup-niup luka itu agar rasa perihnya berkurang.

Javi perlahan membuka matanya. Dalam jarak sedekat itu, dia bisa melihat bulu mata Aruna yang lentik dan kerutan di dahi Aruna yang menunjukkan rasa khawatir. Javi terpaku. Rasa perih di rahangnya mendadak kalah oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya.

"Kenapa kamu mukul dia tadi?" tanya Aruna tanpa menatap mata Javi, sibuk mengoleskan salep.

"Karena dia menghina Anda," jawab Javi pendek.

"Dan dia menghina tempat ini. Padahal di sini, saya belajar cara makan mi instan tanpa tersedak."

Aruna berhenti sejenak, menatap Javi.

"Tapi kamu tau kan risikonya? Kalau foto kamu tadi viral, orang-orang bakal tau kalau kamu itu Javier LUMINOUS. Kamu bakal dibawa pergi dari sini."

Javi meraih tangan Aruna yang sedang memegang plester.

"Jika saya dibawa pergi, apakah Aruna akan ikut?"

"Ya nggak lah! Aku kan harus kuliah, Jang!"

"Kalau begitu saya tidak mau pergi," ucap Javi tegas.

"Saya lebih baik menjadi Ujang yang memar daripada menjadi Javier yang tidak punya Majikan galak seperti Anda."

Aruna merasakan wajahnya memanas. Dia segera menempelkan plester motif T-Rex tepat di rahang Javi dengan sedikit kasar untuk menutupi rasa groginya.

"Udah! Jangan ngomong gombal terus! Itu plesternya udah kepasang."

Javi meraba plesternya.

"Dinosaurus? Apakah ini tanda bahwa saya adalah kloningan dari zaman purba?"

"Bukan! Itu karena cuma itu plester yang aku punya!"

Aruna berdiri hendak merapikan kotak P3K, tapi Javi menarik ujung dasternya lagi.

"Aruna... bibir saya juga sakit," ucap Javi pelan, menunjuk sudut bibirnya yang sedikit pecah.

Aruna menghela napas, kembali duduk di depan Javi.

"Mana? Sini aku liat."

Aruna mendekatkan wajahnya, memeriksa sudut bibir Javi. Posisi mereka sangat dekat. Javi bisa merasakan napas Aruna di pipinya. Keheningan kamar kos yang biasanya diisi suara kipas angin mendadak terasa begitu intim.

"Ini cuma luka kecil, Jang. Dikasih salep dikit juga..."

Ucapan Aruna terhenti saat dia menyadari Javi tidak menatap salep di tangannya, melainkan menatap langsung ke bibirnya.

"Aruna," bisik Javi.

"Di dalam potongan ingatan saya yang tadi muncul... saya melihat banyak orang ingin mencium saya. Tapi saya selalu merasa takut. Namun sekarang... dengan Anda... saya merasa sistem keamanan saya justru menyuruh saya untuk mendekat."

"J-jang... jangan ngaco..."

Javi perlahan memajukan wajahnya. Aruna seharusnya menghindar, seharusnya dia memukul Javi dengan penggaris besi seperti biasanya. Tapi tubuhnya seperti terpaku magnet.

Detik berikutnya, bibir Javi menyentuh bibir Aruna dengan sangat lembut. Bukan ciuman yang agresif ala drama Korea, melainkan ciuman yang ragu-ragu, manis, dan sedikit terasa rasa es mambo stroberi yang tadi Javi makan.

Aruna memejamkan matanya, tangannya yang tadi memegang kapas kini meremas kemeja flanel Javi. Rasanya seperti kembang api meledak di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu.

Tiba-tiba...

TOK TOK TOK!

"ARUNA! UJANG! BUKA PINTUNYA! MBAK TAU KALIAN DI DALEM! MBAK BAWA BUBUR AYAM BUAT SI UJANG YANG ABIS BERANTEM!"

Suara megafon Mbak Widya di depan pintu menghancurkan suasana romantis itu seperti palu godam menghancurkan kaca.

Aruna dan Javi meloncat kaget hingga kepala mereka beradu.

DUAK!

"ADUH!" Aruna memegangi jidatnya.

"Sistem saya mengalami benturan keras lagi!" rintih Javi sambil memegangi kepalanya yang sudah pakai plester dinosaurus.

"ARUNA?! SIAPA YANG TERIAK?! UJANG YA?! BUKA NGGAK, ATAU MBAK PAKE KUNCI CADANGAN?!"

"CEPET SEMBUNYI DI KOLONG KASUR!" bisik

Aruna panik, mendorong Javi.

"Aruna, kita baru saja melakukan sinkronisasi bibir! Kenapa sekarang saya harus kembali ke tempat debu ini?!" protes Javi.

"CEPETAN ATAU AKU KASIH TAU MBAK WIDYA KALAU KAMU YANG PAKE DASTERNYA KEMAREN!"

Mendengar ancaman itu, Javi langsung meluncur ke bawah kasur dengan kecepatan cahaya. Aruna merapikan rambutnya yang berantakan, mengelap bibirnya yang masih terasa tersengat, lalu membuka pintu dengan wajah sok mengantuk.

"Mbak... ada apa sih? Aruna lagi ngerjain tugas..."

Mbak Widya masuk dengan heboh, membawa mangkuk bubur.

"Mana si Ujang? Mbak liat di grup WA, dia jago bener berantemnya! Mbak mau minta dia jadi pelatih bela diri buat ibu-ibu PKK! Lumayan Ar, buat jaga-jaga kalau ada suami yang telat kasih uang belanja!"

Aruna tertawa hambar.

"Ujang... Ujang lagi... lagi mandi, Mbak! Mandi besar! Katanya badannya kotor abis kena debu kampus!"

"Lama bener mandinya?"

Mbak Widya duduk di pinggir kasur tepat di atas tempat Javi bersembunyi.

KREEEEK...

Suara kasur yang terbebani berat badan Mbak Widya membuat Javi di bawah sana hampir gepeng.

"Aduh, kok kasurnya agak keras ya Ar? Kamu taruh kayu di bawah?"

Mbak Widya mulai meraba-raba sprei.

"Nggak ada! Itu... itu buku sketsa Aruna banyak di bawah sana! Mbak, mending buburnya taruh meja aja, nanti Aruna kasih ke Ujang kalau dia udah beres mandi air kembangnya!"

Mbak Widya akhirnya berdiri.

Setelah Mbak Widya keluar, Aruna langsung mengunci pintu dan menarik Javi keluar. Javi merangkak keluar dengan wajah penuh debu dan ekspresi yang sangat tertekan.

"Aruna," ucap Javi sambil membersihkan bajunya.

"Saya memutuskan. Saya tidak suka Mbak Widya. Dia hampir menghancurkan integritas tulang rusuk saya."

Aruna duduk di lantai, menatap Javi yang masih memakai plester dinosaurus. Dia teringat ciuman tadi dan wajahnya kembali merah.

"Jang... soal yang tadi..."

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!