"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - HANTU DARI MASA LALU
Dara tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas, tidak bisa berpikir.
Salma...
Sahabatnya, pengkhianatnya, pembunuhnya. Berdiri di hadapannya, hidup dan nyata.
"Kamu... kamu tidak mungkin..." suara Dara serak.
Salma tertawa, tawa yang sama persis dengan yang Dara ingat. Tawa yang dulu terdengar hangat, sekarang terdengar seperti kaca pecah.
"Tidak mungkin tahu kamu ada di sini? Oh, Dara. Aku selalu lebih pintar dari yang kamu kira."
"Bagaimana..."
"Bagaimana aku tahu kamu reinkarnasi di tubuh Kiara Adisaputra?" Salma berjalan mendekat, sepatunya menginjak rumput dengan suara lembut. "Karena aku mengikutimu, sejak awal."
Dara mundur selangkah. "Itu tidak mungkin, aku baru terbangun di tubuh ini seminggu yang lalu..."
"Dua minggu," koreksi Salma. "Kamu terbangun dua minggu yang lalu, tepatnya saat Kiara yang asli hampir mati dipukuli Arkan. Jiwanya meninggalkan tubuh dan entah bagaimana, jiwamu masuk."
Dua minggu?
Dara mengingat-ingat, memang ada kekaburan di ingatan awal. Mungkin beberapa hari pertama dia tidak sepenuhnya sadar, masih shock, masih mencoba memahami situasi.
"Kamu mengawasiku... sejak saat itu?"
"Sejak sebelum itu, sebenarnya." Salma tersenyum. "Aku punya orang dalam di rumah ini. Orang yang memberi tahu tentang Kiara yang teraniaya, tentang Lenna yang manipulatif, tentang keluarga Adisaputra yang disfungsional. Dan aku berpikir, ini tempat yang sempurna."
"Sempurna untuk apa?"
"Untuk eksperimen."
Dara merasa dingin menjalar di punggungnya.
"Eksperimen?"
Salma berjalan melingkari Dara seperti predator mengitari mangsa. "Setelah aku membunuhmu, aku mulai tertarik pada fenomena kematian dan reinkarnasi. Aku bertemu orang-orang... yang punya pengetahuan tentang hal-hal di luar nalar. Dukun, paranormal, praktisi gelap."
"Kamu gila..."
"Aku ilmuwan, Dara. Sama sepertimu. Bedanya, aku tidak takut mengeksplorasi yang tidak bisa dijelaskan sains." Salma berhenti, menatapnya. "Dan kemudian aku menemukan ada cara untuk memindahkan jiwa. Dengan ritual tertentu, dengan korban tertentu."
Dara merasakan mual merayap. "Kamu... kamu yang membuat Kiara hampir mati?"
"Tidak langsung, tapi aku yang membisikkan ide pada Lenna bahwa Kiara harus disingkirkan. Aku yang memberi Lenna kontak dukun untuk ramuan keguguran. Aku yang..." Salma tersenyum lebar, "...mengatur semuanya supaya Kiara berada di titik paling lemah. Yakni di ambang kematian."
"Kenapa?!"
"Karena aku ingin tahu, apakah jiwamu yang ku bunuh di kehidupan lama, bisa menemukan tubuh baru. Dan ternyata..." Salma bertepuk tangan pelan, "...aku benar. Kamu memang reinkarnasi, di tubuh yang ku sediakan."
Dara merasa seluruh dunianya runtuh. Ini bukan kebetulan, ini bukan takdir, ini... Manipulasi.
"Jadi semua ini... adalah percobaanmu?"
"Percobaanku yang berhasil!" Salma tertawa. "Kamu tidak tahu betapa senangnya aku saat melihat 'Kiara' tiba-tiba berubah. Cara bicaranya, cara bergeraknya, tatapannya semuanya Dara. Dan aku tahu, eksperimenku berhasil."
Dara mengepalkan tangannya, amarah meledak. "KAMU PSIKOPAT!"
"Aku ilmuwan yang visioner. Dara, kamu tidak mengerti dengan ini, kita bisa mengalahkan kematian! Kita bisa hidup selamanya dengan pindah dari tubuh ke tubuh!"
"DENGAN MEMBUNUH ORANG LAIN?!"
"Semua penemuan besar butuh pengorbanan." Salma menatapnya dingin. "Kamu dulu juga membedah orang hidup atas perintah bos mafia, jangan munafik sekarang."
Dara tersentak ditusuk oleh kebenarannya sendiri.
"Aku... aku terpaksa..."
"Semua orang bilang begitu. Tapi pada akhirnya, kita sama, Dara. Kita berdua sudah kehilangan kemanusiaan sejak lama."
"TIDAK!" Dara melangkah maju, menatap Salma dengan mata berapi. "Aku berbeda denganmu! Aku tidak pernah sengaja membunuh orang tidak bersalah!"
"Oh ya? Lalu anak dalam kandunganmu itu apa? Anak Kiara yang asli? Anak yang kamu klaim sebagai 'tanggung jawabmu'?" Salma menyeringai. "Kamu hidup dalam tubuh wanita yang kamu biarkan mati, kamu mencuri hidupnya. Itu tidak beda dengan pembunuhan, Dara."
Rasa bersalah menghantam Dara seperti palu, karena sebagian dari itu benar.
Dia memang mengambil alih tubuh Kiara, dia tidak tahu apa yang terjadi pada jiwa Kiara yang asli. Mungkin Kiara mati, mungkin terhapus dan Dara yang mendapat kesempatan kedua.
Atas pengorbanan orang lain.
"Aku lihat kamu mulai mengerti," kata Salma lembut, terlalu lembut. "Kita sama, Dara. Makanya aku di sini, aku mau mengajakmu... bekerja sama."
"Apa?!"
"Bekerja sama, kamu dan aku seperti dulu." Salma mengulurkan tangannya. "Kita bisa sempurnakan teknik ini. Menemukan lebih banyak 'kandidat' orang-orang yang hampir mati, yang tubuhnya bisa kita gunakan. Bayangkan, Dara kita bisa hidup abadi!"
Dara menatap tangan yang terulur itu, tangan yang dulu pernah dia pegang dengan penuh kepercayaan. Tangan yang meracuninya...
"Kamu gila kalau pikir aku akan bekerja sama denganmu."
Salma menurunkan tangannya, ekspresinya berubah dingin. "Aku harap kamu tidak bilang begitu."
"Kenapa? Kamu mau bunuh aku lagi?"
"Tidak, aku tidak akan bunuh kamu." Salma mengeluarkan ponselnya, menunjukkan layar. "Tapi aku akan menghancurkan hidupmu lagi."
Di layar foto-foto Dara di kehidupan lama, dokumen identitas, rekam jejak kerja di kelompok mafia. Bahkan video Dara sedang membedah korban luka tembak.
"Aku akan kirim semua ini ke polisi, ke Arkan, ke keluarga Adisaputra, ke media." Salma tersenyum. "Mereka akan tahu, istri Arkan adalah mantan dokter mafia yang kabur. Yang dicari Bos Rendra, yang mungkin terlibat dalam puluhan kasus kriminal."
"Aku di tubuh yang berbeda sekarang..."
"Tapi sidik jarimu sama, DNA-mu sama. Polisi forensik bisa membuktikan 'Kiara' dan 'Dara' adalah orang yang sama, meskipun dengan tubuh yang berbeda tapi... katakanlah, 'jiwa yang sama'. Meski mereka tidak percaya reinkarnasi, bukti forensik akan cukup untuk membuatmu jadi tersangka."
Dara terdiam, Salma benar. Secara biologis, tubuh Kiara sekarang membawa DNA Dara. Tapi kalau Salma punya bukti bahwa "Kiara yang berubah" adalah Dara dengan video, foto, testimoni...
Hidupnya akan hancur.
"Jadi..." Salma menyimpan ponselnya, "...kamu punya dua pilihan. Bekerja sama denganku, atau aku bongkar semuanya dan kamu akan kehilangan segalanya lagi."
Dara merasakan cengkeraman panik di dadanya. Tapi kemudian... Dia ingat sesuatu.
Regan... Regan bersembunyi di sekitar sini, merekam percakapan ini.
Kalau Dara bisa membuat Salma mengaku lebih banyak tentang keterlibatannya dengan Lenna, tentang manipulasinya itu bisa jadi senjata.
"Baiklah," kata Dara pelan. "Aku akan pertimbangkan tawaranmu."
Salma tersenyum lebar. "Bagus! Aku tahu kamu akan mengerti!"
"Tapi aku butuh tahu satu hal dulu, siapa orang dalammu di rumah ini?"
"Kenapa kamu perlu tahu?"
"Karena kalau kita bekerja sama, aku perlu tahu siapa yang bisa kupercaya. Dan siapa yang musuh."
Salma menatapnya, mempertimbangkan. "Masuk akal."
"Jadi... siapa?"
Salma berjalan lebih dekat, berbisik seperti berbagi rahasia antara sahabat lama.
"Sari."
Dara merasa dunia berputar.
"Sari? Pembantu itu?"
"Dia bukan cuma pembantu, dia adik sepupuku. Aku yang menempatkannya di rumah ini sepuluh tahun lalu, jauh sebelum Kiara menikah dengan Arkan. Untuk mengawasi, untuk memberi informasi." Salma tersenyum. "Sari yang memberi tahu tentang Kiara, Sari yang melaporkan setiap gerak-gerikmu. Sari yang menaruh ramuan tambahan di susu yang disiapkan Lenna, supaya efeknya lebih kuat."
Sari... Wanita yang selama ini Dara pikir sekutu, ternyata mata-mata Salma.
"Dan sekarang..." Salma menatap jam tangannya, "...Sari sedang memasukkan sesuatu ke makananmu besok pagi. Sesuatu yang tidak akan membunuhmu, tapi akan membuatmu... lebih kooperatif."
"Kamu..."
Tiba-tiba...
KLIK
Suara pistol di-cock, Salma dan Dara menoleh. Regan keluar dari balik pohon, memegang pistol, mengarahkannya ke Salma.
"Lepaskan kakak iparku. Sekarang."
Salma tertawa. "Oh, adik ipar yang setia. Touching."
"Aku tidak main-main, aku akan tembak kamu."
"Tidak, kamu tidak akan." Salma tersenyum. "Karena kalau kamu tembak aku, semua data tentang Dara akan otomatis terkirim ke polisi. Aku sudah set timer, kalau dalam dua jam aku tidak memasukkan kode pembatalan semua bukti terkirim."
Regan terlihat ragu.
"Regan, jangan... Jangan gegabah!" Dara mulai bicara.
Tapi Salma lebih cepat. Dia mencabut suntikan dari sakunya, menusukkannya ke leher Dara...
Dunia berputar.
Pandangan kabur.
Tubuh merosot.
Dara mendengar Regan berteriak, mendengar tembakan...
Lalu...
Gelap.
lupita namanya siapa ya