NovelToon NovelToon
Selamat, Dan Selamat Tinggal

Selamat, Dan Selamat Tinggal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Awanbulan

Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Sudut Pandang Dito

​Aku punya empat orang yang bisa kusebut sebagai sahabat terbaik. Dua di antaranya sudah berteman denganku sejak tahun pertama SMA, tapi salah satunya... akhir-akhir ini bertingkah sangat ajaib.

​“...Rian... kamu kenapa, sih?” tanyaku ragu.

​“Hmm? Memangnya kenapa?” jawabnya kalem.

​“Yah, akhir-akhir ini kamu mengabaikan Sari, dan sikapmu ke cewek lain mendadak jadi dingin begitu.”

​Rian menatapku dalam, lalu menghela napas puitis. “Fuh... Kamu benar-benar orang baik, Dito. Khawatir padaku sampai seperti itu...”

​JIJIK SEKALI!! Aku merinding sampai ke tulang belakang. Ada apa dengan sahabatku tersayang ini?!

​“Hei, sadar! Ini aku, Dito! Orang yang biasanya kamu remehkan dan kamu ajak bercanda kasar! Ayo, hina aku seperti yang selalu kamu lakukan!” seruku frustrasi.

​Rian malah mendekat. “Kalau kulihat lebih dekat, bulu matamu ternyata seksi juga ya? Boleh aku sentuh?”

​“ADUHHH!! JANGAN MENDEKAT!!” aku berteriak sambil melompat mundur.

​“Kamu baik-baik saja? Apa kamu merasa tidak enak badan? Aku sangat mengkhawatirkanmu, lho,” ucapnya dengan nada super lembut yang sama sekali bukan gayanya.

​“Kamu bukan Rian yang kukenal...!!”

​“Sejak kapan kamu beranggapan bahwa aku adalah 'Rian' yang itu?” balasnya misterius.

​Aku terdiam. Dia benar-benar gila. “Apa... yang barusan kamu katakan?”

​Kami saling menatap dalam keheningan yang canggung, sampai akhirnya Rian memecah suasana. “...Baiklah, lupakan. Ngomong-ngomong, aku memutuskan pergi karaoke bareng Andi hari ini. Kamu ada kerja paruh waktu, kan? Jadi maaf ya, kami pergi berdua saja.”

​“Emosimu benar-benar tidak stabil, ya?! Dan sejak kapan kamu jadi sedekat itu sama Andi?”

​“...Memangnya tidak boleh?”

​“Mama?!” seruku spontan karena saking bingungnya dengan perubahan suasananya.

​“Sudah kubilang jangan bahas soal ibumu di depanku!!” Rian mendadak membentak.

​“Waduh?! Galak sekali! Maaf, maaf!”

​Dia benar-benar sensitif kalau topik soal "Ibu" muncul. Sudah begitu sejak pertama kali kami bertemu. Kupikir itu cuma fase pemberontakan remaja biasa, tapi ini sudah berlangsung setahun lebih.

​Pelajaran dimulai, dan aku kembali ke tempat dudukku. Aku terus mengamati Rian dari kejauhan. Caranya berinteraksi dengan orang lain—terutama cewek—benar-benar berubah 180 derajat. Dia jadi kaku dan dingin. Sayang sekali, padahal dia tampan. Kalau terus begini, dia tidak akan populer.

​Saat jam makan siang tiba, aku langsung menuju meja Rian. Tapi di tengah jalan, aku mendengar dua cewek sedang bergosip. Namanya Ayu (si rambut cokelat) dan Mila (si pendek yang matanya sering terpejam).

​“Hei, bukankah Rian jadi sangat keren akhir-akhir ini?” bisik Ayu.

​“Hah? Masa? Menurutku dia malah jadi agak menakutkan,” balas Mila.

​Lihat, Rian! Bahkan teman sekelasmu bilang kamu aneh! pikirku. Tapi sebagai sahabat sejati, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina Rian selain aku.

​“Rian jadi terlihat sangat jantan dengan sikap kakunya itu!” seru Ayu antusias. “Lagipula, dia tampan!”

​“Pada akhirnya memang soal tampang, ya... Tapi aku tetap setia pada Dika, jadi aku tidak peduli,” sahut Mila.

​Tunggu, bukankah Dika itu sahabatku yang satu lagi? Dunia ini sempit sekali! Apa jangan-jangan pusat tata surya ini sebenarnya aku?

​“Dulu kepribadiannya yang ceria memang tidak buruk, tapi Rian yang sekarang jauh lebih oke!” Ayu bersikeras. “Sepertinya dia sedang bertengkar dengan Sari. Ini kesempatanku!”

​Mendengar mereka memperebutkan teman-temanku, rasa cemburuku meledak. Aku tidak tahan lagi.

​“--Tunggu sebentar, kalian berdua!!” aku menyela pembicaraan mereka.

​“Dito?!”

​“Hah? Menguping itu menjijikkan, tahu!” protes Ayu.

​“Tidak peduli! Bagaimanapun, Rian yang dulu jauh lebih baik!” seruku membela "Rian lama".

​“Apa-apaan?! Rian yang sekarang bakal jadi lebih hebat ke depannya!” balas Ayu tidak mau kalah.

​“Maju, maju, maju! Rian lama tetap juara!”

​“Nanti dulu! Rian yang sekarang lebih estetik!”

​“Dulu!”

​“Sekarang!”

​Mila hanya bisa menonton perdebatan absurd kami dengan wajah tercengang. Di tengah perdebatan itu, seorang cowok tampan tiba-tiba muncul. Andi.

​“--Kalian... sedang membicarakan Rian, ya?” tanya Andi dengan suara beratnya.

​Kami bertiga menoleh serentak.

​“Izinkan aku ikut bergabung,” ucap Andi tenang tapi penuh intimidasi.

​“Oh, bagus! Aku ini sahabat terbaik Rian! Aku tidak akan membiarkanmu 'memilikinya' sendirian!” tantangku.

​“Aku juga! Selain Dito, aku tidak akan kalah darimu, orang baru!” Ayu ikut menantang Andi.

​Andi hanya menyeringai kecil. “Hmm... Menarik. Mari kita lihat seberapa jauh kalian bisa mengenal Rian.”

​“NUUUUUHHH!!!”

​“HAAAAAHHH!!!”

​“YAAAAAHHH!!!”

​Mila menggelengkan kepala melihat kegilaan ini. Dia menghilang dari tempat kejadian tanpa suara, meninggalkan dua cowok dan satu cewek yang sekarang malah makin bersemangat membedah setiap sisi Rian. Diskusi itu bukannya mereda, malah semakin memanas.

1
Awanbulan
bintang 5
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!