Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 : Gui Ning
Bai Hua masih mematung di tepian bak kayu. Uap air yang mengepul seolah berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Kata “Shower” yang tidak sengaja ia ucapkan tadi terasa seperti peluru yang salah sasaran.
Ia melirik Wan Long dari sudut matanya. Pangeran itu kini sedang asyik memercikkan air ke udara, tertawa lebar hingga matanya menyipit.
"Sow-wer? Apa itu mantra? Mantra biar bisa terbang ke awan?" serunya kekanak-kanakan.
Bai Hua menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya. "Hanya bualan orang pasar, Pangeran. Sudahlah."
Tangan kurus Wan Long kembali menyentuh punggung Bai Hua. Dengan sangat hati-hati, ia membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di sekitar luka cambukan. Bai Hua terenyak. Meski tubuh pria di hadapannya ini terlihat sangat tipis dan kurang gizi, tekanan jarinya saat membersihkan luka terasa sangat mantap. Ia tahu persis titik mana yang sensitif dan bagaimana cara mengusapnya agar tidak memicu rasa sakit yang lebih hebat.
Insting ini, ini bukan gerakan seorang pria yang tidak mengerti apa-apa, pikir Bai Hua. Sebagai mantan agen, ia tahu bahwa teknik menangani luka seperti ini membutuhkan pelatihan khusus.
Setelah selesai mandi, Wan Long mengambil kain handuk kering yang kasar. Bukannya memberikan kain itu pada Bai Hua, ia justru menyelimuti tubuh Bai Hua dengan sangat rapi sebelum mengangkatnya kembali. Saat wajah mereka berdekatan, Bai Hua bisa melihat pori-pori wajah Wan Long yang tirus. Ada sedikit jejak minyak atau kotoran disana.
Wan Long meletakkan Bai Hua di atas ranjang dengan perlahan. Ia tidak langsung menjauh, melainkan membungkuk untuk merapikan selimut di bagian kaki Bai Hua yang lumpuh.
Ia lalu melempar hanfu putih polos ke arah Bai Hua agar gadis memakai nya.
"Istri... kakinya diam saja ya? Malas ya?" tanya Wan Long sambil menepuk pelan kaki Bai Hua.
Bai Hua menepis tangan itu dengan ketus. "Kakiku sakit. Berhenti menyentuhnya."
Wan Long mengerucutkan bibirnya, lalu ia duduk di lantai di samping ranjang. "Kalau sakit, harus makan yang banyak. Bibi Pong bawa makanan enak!"
Pintu kamar diketuk dan Bai Hua mengizinkan masuk. Disana, Bibi Pong dan Choi masuk dengan membawa baki kayu berisi bubur sumsum hangat, sup ayam, dan beberapa bakpao. Choi, pelayan baru itu, tampak sangat cekatan menata piring di atas meja kecil.
"Nona, silakan dinikmati. Pangeran, ini bakpao kesukaan Anda," ucap Choi sambil membungkuk dalam.
Wan Long langsung menyambar bakpao itu. Ia memakannya dengan rakus, hingga remah-remahnya berjatuhan ke jubah pengantinnya yang belum ia ganti. "Enak! Panas! Hahaha!"
Bai Hua menatap suaminya yang sedang belepotan itu dengan perasaan campur aduk. Namun, perhatiannya teralih saat ia melihat tangan Wan Long yang sedang memegang bakpao. Pria itu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja kayu dengan irama yang sangat spesifik.
Satu... dua, tiga. Berhenti. Satu... dua, tiga.
Mata Bai Hua membelalak. Itu bukan ketukan sembarangan. Itu adalah kode morse yang sering digunakan untuk menyatakan, "Keadaan aman, lanjutkan pengintaian."
Darah Bai Hua mendesir. Ia hampir saja mengeluarkan suaranya jika tidak segera menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Wan Long dengan tajam, namun pria itu justru sedang asyik berbicara dengan bakpaonya seolah benda itu adalah teman mengobrol.
"Kenapa kau menatapku begitu, Istri? Mau bakpao juga?" Wan Long menyodorkan bakpao yang sudah digigitnya ke depan wajah Bai Hua.
Bai Hua memalingkan wajah. "Tidak. Makan saja sendiri."
"Nona Muda," panggil Bibi Pong yang berdiri di antara Bai Hua dan Wan Long. "Tiga hari dari sekarang, tradisi Gui Ning akan dilaksanakan. Nona Muda dan Pangeran harus pergi ke kediaman Menteri Bai. Namun, jika Nona dan Pangeran keberatan, sebaiknya tidak perlu melakukan nya. " saran Bibi Pong. Ia takut terjadi penghinaan besar-besaran pada majikan nya.
"Bibi Pong," panggil Bai Hua kemudian. "Siapkan pakaian yang paling bagus untuk hari itu. Dan carikan aku minyak gosok yang paling panas. Kita akan pulang ke kediaman Menteri Bai, dan aku ingin tubuhku dalam kondisi terbaik untuk... menyapa mereka. Tiga hari kan? Bagus! Ada waktu untuk memulihkan tenaga."
Bibi Pong mengangguk cemas. "Baik, Nona. Tapi hamba mohon, jangan memaksakan diri."
"Kau bisa mengandalkan ku bi, tidak usah khawatir." Seru Bai Hua dengan senyuman.
***
Gui Ning : Tradisi kunjungan balasan pengantin wanita ke rumah orang tuanya setelah pernikahan dalam adat Tionghoa.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa