NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - Salah Paham Aura

Mawar menarik nafas dalam, ia tidak terlalu memperdulikan perkataan Zahra. Entah kenapa tiba tiba Zahra berubah dan terasa asing bagi Mawar.

Tidak biasanya Zahra tega berkata seperti itu, apa karena Zahra di pengaruhi oleh Rio? Atau karena Zahra ingin melindungi Aura dan berpikir Mawar akan menyakiti Aura? Pertanyaan terus muncul di dalam kepala Mawar.

Kembali Mawar melangkahkan kakinya menuju ruang ICU, disana terlihat Aura yang sedang terduduk sembari menangis. Mawar pun segera berlari menghampiri, "Aura, kamu kenapa?" tanya Mawar dengan lembut.

Mendengar suara yang bagi Aura tidak asing, seketika Aura menghapus air matanya dan menatap kepada pemilik suara dengan lekat. Ia kembali teringat perkataan Zahra yang mengatakan jika Mawar pacar kesayangan Arfan.

Sebenarnya Aura tidak perduli jika Arfan memiliki kekasih, malahan Aura bahagia. Karena sama sekali Aura tidak memiliki perasaan, perkataan kemarin yang mengatakan akan menikah dengan Arfan, itu hanya perkataan yang sepertinya tidak akan pernah Aura tepati.

​"Kamu pacarnya Kak Arfan? Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku, War? Kenapa... kenapa, War? Kamu anggap aku apa sih selama ini?" tanya Aura dengan suara gemetar, matanya menatap Mawar dengan tatapan terluka yang belum pernah Mawar lihat sebelumnya.

​Mawar membeku di tempatnya. Pertanyaan itu terasa lebih menyakitkan daripada perkataan Zahra tadi. Lidahnya mendadak kelu, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyesakkan dada. Bagaimana bisa Aura berpikir seperti itu? Siapa yang sudah meracuni pikiran sahabatnya?.

​"Ra, aku bisa jelasin. Semuanya nggak seperti yang kamu bayangkan," lirih Mawar, ia mencoba meraih tangan Aura, namun Aura justru menarik tangannya mundur. Penolakan itu membuat hati Mawar mencelos.

​"Jelasin apa lagi? Zahra benar, kan? Kamu selama ini selalu ada di samping Kak Arfan, kalian punya rahasia yang nggak pernah aku tahu! Kalau emang kamu pacarnya, kenapa harus sembunyi-sembunyi? Apa kamu takut aku bakal ngerebut dia dari kamu?!" Aura mulai histeris, rasa sakit karena kegagalan beasiswa dan perasaan dibohongi menyatu menjadi luapan emosi yang tak terbendung.

​"Demi Allah, Ra! Aku sama Kak Arfan nggak ada hubungan apa-apa!" air mata Mawar akhirnya luruh. "Dia cuman aku anggap kakak aku, Ra! Dia tinggal di pesantren Abah. Aku tutup mulut karena aku cuma mau menjaga perasaan kamu dan rahasia Kak Arfan!"

​Namun, di lorong rumah sakit yang dingin itu, kepercayaan Aura sudah terlanjur retak. Bayang-bayang fitnah Zahra jauh lebih kuat daripada kejujuran Mawar saat ini.

​"Rahasia apa yang kamu sembunyikan selama ini? Kamu tahu sejak lama, tapi kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku?!" Aura berdiri, suaranya melengking di koridor sunyi itu, tidak peduli lagi jika suster akan menegurnya. "Asal kamu tahu, War... setiap hari aku ketakutan sama Kak Arfan! Aku merasa diawasi, aku merasa nggak aman, dan kamu... kamu yang paling aku percaya malah diam saja?!"

​Mawar menggeleng cepat, air matanya kian deras membasahi cadar atau pipinya. "Bukan gitu, Ra... aku mau bilang, tapi Kak Arfan mohon-mohon sama aku. Dia bilang dia bakal berubah, dia bilang dia cuma mau jagain kamu—"

​"Jagain atau ngurung aku, War?!" potong Aura cepat. "Zahra bilang Kak Arfan yang sabotase beasiswa London aku. Kamu tau itu juga? Kamu tau kalau dia tega hancurin masa depan aku demi obsesinya?"

​Mawar terdiam seribu bahasa. Dia memang tahu Arfan terobsesi, tapi soal beasiswa... Mawar benar-benar tidak menyangka Arfan akan sejauh itu. Kebisuan Mawar justru dianggap sebagai pembenaran oleh Aura.

​"Cukup, War," lirih Aura, suaranya mendadak dingin dan hampa. "Mulai sekarang, jangan temui aku dulu. Aku nggak tau mana yang benar dan mana yang bohong. Tapi yang aku tau, aku nggak kenal lagi siapa kamu dan siapa Kak Arfan sebenarnya."

​Aura berbalik memunggungi Mawar, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sementara Mawar hanya bisa berdiri mematung, merasakan dunianya runtuh seketika hanya karena satu rahasia yang ia pikir adalah sebuah perlindungan.

​Aura segera mengambil tas sekolahnya lalu pergi begitu saja, meninggalkan Arfan yang masih belum pulih dari komanya. Ia tidak peduli lagi. Persetan dengan hutang nyawa, persetan dengan janji setianya kemarin. Yang terpenting sekarang adalah ia harus menyelamatkan sisa-sisa dirinya yang belum dihancurkan oleh Arfan.

​Langkah kakinya terdengar tegas di lantai rumah sakit, tidak ada lagi keraguan. Setiap langkah yang menjauh dari ruang ICU terasa seperti satu beban yang terangkat dari pundaknya.

​Mawar mencoba mengejar, "Ra! Aura, tunggu! Kamu mau ke mana?"

​Aura berhenti sebentar, namun ia tidak menoleh. "Jangan ikutin aku, War. Urus saja kakak kesayanganmu itu. Kalau dia bangun, bilang sama dia... selamat, dia berhasil bikin aku benci setengah mati, bahkan saat dia nggak bisa buka mata."

​Tanpa menunggu balasan Mawar, Aura melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar. Ia ingin menghirup udara yang tidak berbau obat-obatan, ia ingin pergi sejauh mungkin dari penjara tak kasat mata yang selama ini mengurungnya.

​Di dalam hatinya, Aura sudah mati rasa. Arfan mungkin menyelamatkan fisiknya dari kecelakaan, tapi Arfan juga yang membunuh masa depan dan kepercayaannya. Sekarang, Aura hanya ingin pulang, mengemas mimpinya yang berantakan, dan mencari jalan lain untuk terbang, meskipun tanpa beasiswa ke London itu.

Dari kejauhan Bima baru saja kembali, tentu terkejut melihat Aura yang sedang berjalan dengan menggendong tas sekolahnya dan di kejar oleh Mawar.

"AURA!" panggil Bima, dengan berlari kecil mengejar Aura.

Aura terus berlari, mengabaikan Bima dan Mawar yang memanggilnya. Ia merasa dirinya sangat naif karena gampang di tipu oleh Arfan dan Mawar.

Aura segera masuk ke dalam taksi yang baru saja menepi, menutup pintunya dengan bantingan keras yang seolah memutus ikatannya dengan semua beban di rumah sakit itu. "Jalan, Pak! Cepat!" perintahnya dengan suara serak.

​"Ra! Aura, tunggu! Dengerin aku dulu!"

​Suara Mawar terdengar panik dari luar. Gadis dengan gamis pink itu berlari kecil mengikuti taksi yang mulai bergerak perlahan. Mawar mengetuk-ngetuk jendela kaca taksi dengan ujung jarinya yang gemetar. Terlihat mata Mawar basah oleh air mata, tampak memohon di balik kaca yang mulai berembun.

​Dari dalam taksi, Aura menatap wajah Mawar dengan lekat dari balik jendela. Wajah yang biasanya selalu terlihat tenang dan meneduhkan itu, kini tampak hancur dan penuh keputusasaan. Namun, bagi Aura, ketenangan yang selama ini diperlihatkan Mawar ternyata mampu menjadi topeng yang begitu sempurna untuk menutupi pengkhianatan.

​Mawar terus mengetuk, bibirnya bergerak-gerak mengucapkan kata maaf tanpa suara yang bisa menembus kaca.

​Aura tak bergeming. Ia tidak membuka kaca, tidak juga membalas lambaian tangan sahabatnya. Ia hanya menatap dingin ke arah mata Mawar yang memerah, seolah sedang menonton orang asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

​"Jalan lebih cepat, Pak," lirih Aura tanpa mengalihkan pandangannya dari Mawar yang kini mulai tertinggal jauh di belakang.

​Aura membuang muka saat bayangan Mawar menghilang dari spion. Ternyata benar, pengkhianatan yang paling menyakitkan bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang paling kita percaya dan paling dekat dengan kita.

Bersambung.......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!