Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Ponsel Kirana berbunyi menandakan pesan masuk. Dia pun mencuci tangannya yang kotor oleh bumbu masakan. Alisnya mengkerut ketika melihat pengirim pesan itu nomor asing.
“Pesan video. Kira-kira isi video ini apa, ya?”
Kirana ragu sejenak untuk membuka pesan itu. Akhirnya dengan memberanikan diri dia putar video.
Jantungnya berdegup tak karuan saat layar menyala. Suara napas terengah, desahan tertahan, dan potongan tubuh yang terlalu familiar. Wajah Rafka, jelas terlihat, keringat membasahi pelipisnya, matanya terpejam menikmati sesuatu yang seharusnya hanya menjadi milik istri sahnya.
Di bawahnya, Kinanti. Kakaknya sendiri.
Tubuh wanita itu bergerak liar, suaranya pecah oleh gairah yang tidak disembunyikan. Ia memanggil nama Rafka dengan nada manja sekaligus lapar, seolah dunia hanya berisi mereka berdua.
“Mas… cepat…” Suara itu terdengar parau, penuh tuntutan.
Kirana menjatuhkan ponselnya. Dia shock, tubuh dan tangannya gemetar hebat. Napasnya tersendat, seakan udara di ruangan itu mendadak habis. Dadanya sakit, bukan seperti tertusuk, melainkan seperti diremas perlahan, dipelintir, lalu ditinggalkan kosong.
Lalu, Kirana mengambil ponsel itu lagi, bodohnya berharap apa yang dilihatnya berubah. Namun tidak. Video terus berjalan, menampilkan kebersamaan suami dan kakaknya yang begitu intim, begitu menikmati dosa yang mereka lakukan. Mereka tertawa kecil di sela napas memburu.
Kinanti terlihat begitu hidup, begitu dipuja. Rafka begitu tenggelam. Pria yang selama ini pulang ke rumah dengan wajah lelah dan alasan basi.
Air mata Kirana jatuh satu per satu, tanpa isak. Tubuhnya kaku. Hatinya mati rasa.
“Tanpa perlu aku cari tahu kelakuan kalian dibelakangku, video ini sudah menunjukan kebusukan kelakuan kalian," batin Kirana.
“Aku tidak tahu siapa yang sudah mengirim video ini. Akan, aku jadikan sebagai barang bukti nanti di pengadilan,” ucap Kirana geram.
Kini semuanya jelas. Bukan hanya perselingkuhan. Ini pengkhianatan yang dirayakan.
Kirana menutup video itu. Menekan layar ponsel hingga gelap. Gambar-gambar itu sudah terlanjur terpatri di benaknya, lebih menyakitkan daripada tamparan mana pun. Ia mengusap wajahnya, menarik napas panjang yang bergetar.
Rafka berdiri di lantai produksi dengan helm proyek terpasang miring. Tangannya memegang clipboard, tetapi matanya kosong. Angka-angka target harian yang biasanya dia hafal di luar kepala kini terasa kabur.
Sebagai mandor, Rafka seharusnya menjadi orang yang paling sigap, paling tegas, paling paham alur kerja. Selama ini memang begitu. Namanya disegani, suaranya didengar, dan keputusannya jarang salah.
Namun, beberapa minggu terakhir, semuanya berubah. Rafka sering datang terlambat. Dia sering izin mendadak. Sering salah memberi instruksi. Bahkan hari ini, satu jalur produksi nyaris berhenti karena kesalahannya membaca jadwal.
“Pak Rafka, manajer minta Mas ke ruangannya,” ujar satpam pabrik dengan nada hati-hati.
Jantung Rafka berdegup tidak karuan. Di dalam ruangan berpendingin itu, manajer menatapnya lama.
“Kamu mandor, Rafka. Gajimu tidaklah kecil, makanya tanggung jawabmu besar,” ucap pria itu dingin.
“Kami mulai menerima keluhan dari anak buahmu. Fokusmu ke mana, sebenarnya?”
Rafka menunduk. Tidak menjawab. Dia tahu jawabannya, tetapi terlalu pengecut untuk mengaku. Pikirannya tidak pernah benar-benar ada di pabrik lagi. Selalu terpecah. Selalu terjerat oleh pesan-pesan manja, tuntutan, dan permintaan yang tidak pernah ada habisnya.
“Ini peringatan. Jangan sampai kami keluarkan surat resmi,” lanjut manajer tegas.
Itu ancaman. Jelas dan untuk pertama kalinya, Rafka takut kehilangan pekerjaan.
Keluar dari ruangan itu, kakinya terasa lemas. Rafka duduk di bangku panjang, menunduk, menatap sepatu kerjanya yang sudah mulai usang. Pikirannya berputar kacau. Kalau ia kehilangan pekerjaan, apa yang tersisa?
***
Beberapa hari kemudian, sebuah amplop cokelat sampai ke rumah. Rafka membukanya dengan tangan gemetar. Surat panggilan sidang cerai.
Kepalanya berdengung, napasnya memburu. Dunia terasa miring. Ia membaca nama Kirana tertulis jelas sebagai penggugat.
“Berani sekali kamu, Kirana,” desis Rafka.
Amarah membuncah, bercampur panik. Ia tidak siap kehilangan status, keluarga, apalagi citra baik yang selama ini dibanggakan. Tanpa pikir panjang, ia pulang lebih awal hari itu.
Kirana sedang di dapur, menyiapkan makan malam, makanan favorit Gita. Sekarang dia selalu berusaha membuat bahagia dirinya dan putrinya.
“Kamu benar-benar mau menghancurkan rumah tangga ini?” hardik Rafka begitu masuk dapur.
Kirana menoleh tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru digugat emosinya.
“Aku hanya mengakhiri pengkhianatan, Mas.”
“Kamu pikir cerai itu mainan? Kamu tidak mikir Gita?” Suara Rafka meninggi.
Justru itulah yang membuat Kirana berdiri tegak. “Aku memikirkan Gita setiap hari. Karena itu aku tidak mau Gita tumbuh melihat ayahnya membohongi ibunya.”
Rafka terdiam. Namun, sebelum sempat membalas, bel rumah berbunyi berkali-kali.
Dengan menahan rasa amarah, Rafka membukakan pintu. Dia terkejut karena keluarganya datang tanpa dia duga.
“Ada apa ini?” tanya Pak Andi. “Kenapa kalian bertengkar sampai kedengaran ke depan?”
Bu Ratih, Pak Andi, dan Rembulan memenuhi ruang tamu dengan wajah tegang. Rafka dan Kinanti duduk berhadapan.
“Kirana melayangkan gugatan cerai, Ayah,” jawab Rafka.
“Apa?!” Ketiga orang itu terkejut.
“Kamu ini tidak tahu diri, Kirana!” bentak Bu Ratih, ibu mertuanya. “Punya suami seperti Rafka masih berani menggugat cerai!”
“Rafka itu pekerja keras! Bertanggung jawab dan memberi nafkah keluarga!” sambung Pak Andi.
“Mbak Kirana, kamu terlalu manja. Tidak bersyukur,” tambah Rembulan yang ikut kesal.
Kirana berdiri di tengah ruangan, dikelilingi tudingan. Jantungnya berdebar, tetapi suaranya tetap stabil.
“Sebelum Bapak dan Ibu menyalahkan saya,” kata Kirana pelan namun tegas, “tolong lihat ini.”
Kirana mengambil ponsel dari tasnya. Semua orang penasaran apa yang akan ditunjukan olehnya.
“Apa lagi itu, Kirana?” tanya Bu Ratih ketus.
Tanpa menjawab, Kirana menekan layar. Video itu diputar panas Rafka bersama Kinanti di hadapan semua orang. Cukup jelas untuk menunjukkan siapa, di mana, dan apa yang sedang dilakukan. Pengkhianatan yang nyata, tanpa bisa diputarbalikkan.
Wajah-wajah yang tadi merah oleh amarah kini memucat. Bu Ratih menutup mulutnya. Pak Andi duduk terhuyung seolah kehilangan sandaran. Tidak ada satu pun yang bersuara. Rafka sendiri seperti tersambar petir.
“Video ini? “Kamu dapat dari mana?” tanya Rafka, suaranya parau.
“Pastinya dari orang yang paling kamu percaya,” jawab Kirana lirih.
Ruangan itu sunyi. Keadaan yang menyakitkan. Rafka menunduk. Seluruh kebohongan runtuh bersamaan. Ia sadar tidak ada lagi celah untuk berkelit.
“Kirana ....” ucap Rafka lirih. “Aku bisa jelaskan.”
“Sudah cukup,” potong Kirana. Matanya berkaca-kaca, tetapi punggungnya tetap tegak. “Aku bisa melaporkan ini. Perselingkuhan. Rekaman. Bukti.”
Semua menahan napas.
“Aku bisa saja memenjarakan kalian,” lanjut Kirana, suaranya bergetar namun penuh kendali. “Tapi aku ratusan kali berpikir, bagaimana masa depan Gita dan Ara jika orang tua mereka mantan narapidana.”
Air mata akhirnya jatuh di pipi Kirana. “Aku tidak mau masa depan anak-anak hancur karena dosa orang dewasa.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada teriakan mana pun. Bu Ratih menangis, Pak Andi menunduk dalam-dalam, dan Rembulan berkaca-kaca.
Rafka terduduk lemas. Dia benar-benar melihat kerusakan yang ia sebabkan.
Di dalam kamar, Gita berdiri di balik pintu. Ia tidak menangis sambil memeluk bonekanya erat.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏