NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: LATIHAN SOPAN SANTUN DAN HATI YANG BERTANYA

Hari-hari setelah pertemuan dengan Pak Darmawan dan kunjungan ke panti asuhan berlalu dengan cepat, diisi dengan jadwal yang padat dan tekanan yang tidak terlihat namun terasa berat di dada Putri. Dua minggu menuju pernikahan yang ditetapkan Pak Hidayat terasa seperti dua detik saja. Putri tahu dia tidak boleh lengah. Di satu sisi, dia harus mempersiapkan diri menjadi "Istri Muda" keluarga Adinata yang sempurna di mata orang lain; di sisi lain, dia harus terus merawat bukti keadilan bagi orang tuanya dan merencanakan langkah selanjutnya dengan hati-hati, layaknya seorang ahli hukum yang sedang mempersiapkan persidangan besar.

Pagi itu, matahari bersinar terang, namun suasana di sayap timur kediaman Adinata terasa cukup serius. Nina sudah menunggu Putri di ruang tamu kecil yang nyaman, membawa beberapa buku tebal dan catatan kecil.

"Selamat pagi, Putri. Hari ini kita mulai pelatihan intensif," ucap Nina dengan senyum yang sedikit tegang namun penuh dukungan. "Kamu harus ingat, di dunia ini, penampilan dan sikap adalah senjata pertamamu. Jika kamu terlihat lemah atau tidak tahu aturan, orang akan mudah menekanmu. Tapi jika kamu terlalu kaku, kamu akan terlihat mencurigakan."

Putri duduk di hadapan Nina, punggungnya tegak. "Aku siap, Nina. Apa saja yang harus aku pelajari hari ini?"

"Segalanya," jawab Nina singkat. "Mulai dari cara berjalan, cara duduk, cara menatap lawan bicara, hingga etika makan di meja resmi yang dihadiri oleh para 'mitra' bisnis ayah Rizky. Mereka bukan orang biasa, Putri. Mereka bisa menilai seseorang hanya dari cara mereka memegang sendok."

Pelatihan dimulai. Nina mengajarkan Putri cara berjalan dengan anggun namun tetap tegas—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. "Kaki selangkah demi selangkah, bahu rileks tapi tidak melorot. Ingat, kamu adalah calon istri Rizky Adinata, penerus keluarga besar. Kamu harus memancarkan aura kepercayaan diri, meskipun di dalam hati kamu mungkin sedang gemetar."

Putri mengulanginya berkali-kali. Setiap kali dia merasa lelah atau ingin menyerah, bayangan wajah Rara dan suara tembakan di kaset rekaman itu kembali terdengar, memberinya kekuatan baru. Pengetahuannya tentang hukum mengajarkannya bahwa strategi adalah kunci, dan saat ini, "menjadi orang lain" adalah bagian dari strategi itu.

Sesi berikutnya adalah tentang komunikasi. Nina memerankan berbagai karakter: mulai dari tamu yang ramah, tamu yang sinis, hingga orang yang mencoba memancing informasi.

"Jika ada yang bertanya tentang latar belakangmu atau keluargamu, apa yang akan kamu jawab?" tanya Nina tiba-tiba, matanya menatap tajam meniru tatapan orang asing yang curiga.

Putri menarik napas panjang, mengingat apa yang sudah mereka bahas. "Saya akan menjawab dengan sopan namun terbatas. Saya akan mengatakan bahwa orang tua saya telah meninggal dunia karena kecelakaan, dan saya sangat bersyukur diberikan kesempatan oleh Pak Hidayat dan Rizky untuk memulai hidup baru bersama adik saya. Saya tidak akan masuk ke detail yang tidak perlu, dan akan mengalihkan pembicaraan kembali kepada mereka atau topik yang aman, seperti bisnis atau acara sosial."

Nina mengangguk puas. "Bagus. Kamu punya insting yang kuat, Putri. Mungkin karena latar belakangmu yang pernah kuliah hukum, kamu pandai mengukur situasi dan memilih kata-kata dengan hati-hati."

Sore harinya, giliran pelatihan etika makan. Sebuah meja panjang disiapkan dengan berbagai jenis peralatan makan perak dan piring porselen. Nina menjelaskan fungsi setiap sendok, garpu, dan pisau. "Di acara makan malam keluarga Adinata, kamu akan bertemu dengan orang-orang seperti Pak Darmawan dan rekan-rekan ayah Rizky lainnya. Satu kesalahan kecil bisa menjadi bahan gunjingan yang merendahkanmu."

Putri belajar dengan tekun. Namun, di tengah latihan, pikirannya melayang ke Rizky. Dia bertanya-tanya, apakah Rizky tahu betapa rumit dan kaku dunia yang dia tinggali ini? Apakah Rizky juga harus melalui latihan seperti ini? Atau karena dia laki-laki dan penerus, aturannya berbeda?

Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka dan Rizky masuk. Dia baru saja pulang dari entah mana, masih mengenakan kemeja lengan panjang yang lengan atasnya digulung sedikit, memperlihatkan pergelangan tangannya yang kuat. Wajahnya tampak sedikit lelah namun tetap tampan dan tenang.

"Eh, maaf mengganggu," ucap Rizky, menghentikan langkahnya saat melihat meja yang penuh peralatan makan dan Putri yang duduk di sana. "Kalian sedang sibuk?"

Nina segera berdiri, membungkuk sopan. "Tidak, Tuan Rizky. Kami baru saja menyelesaikan sesi latihan hari ini."

Putri juga berdiri, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ada perasaan campur aduk setiap kali melihat Rizky—rasa terima kasih karena sudah menolong Rara, rasa kagum pada kebaikannya pada anak-anak panti, namun juga rasa bersalah dan waspada karena dia adalah anak dari musuh bebuyutannya.

"Tidak perlu berhenti karena saya," kata Rizky, berjalan mendekat dengan senyum lembut. Matanya tertuju pada Putri. "Saya hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Nina, bagaimana perkembangan Putri?"

"Putri sangat cepat belajar, Tuan. Dia memiliki ketenangan yang luar biasa," jawab Nina jujur.

Rizky menatap Putri, tatapannya hangat dan penuh perhatian. "Saya tidak heran. Saya sudah melihat bagaimana dia menangani anak-anak di panti. Dia memiliki kelembutan dan kekuatan yang jarang dimiliki orang lain."

Pujian itu membuat pipi Putri merona sedikit. Dia menundukkan pandangan sejenak, lalu menatap Rizky kembali dengan sopan. "Terima kasih, Rizky. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik agar tidak mempermalukan keluarga."

Rizky tersenyum lebih lebar. "Kamu tidak akan pernah mempermalukan keluarga kami, Putri. Justru, saya yakin kamu akan membawa banyak kebaikan ke dalam rumah ini." Dia berhenti sejenak, seolah ragu untuk melanjutkan, tapi kemudian berkata, "Ngomong-ngomong, besok saya harus pergi ke gudang di pelabuhan untuk memeriksa pengiriman barang kayu—bisnis warisan dari orang tua kamu yang sekarang dikelola ayah saya. Mungkin kamu ingin ikut? Saya pikir, sebagai bagian dari keluarga, kamu berhak melihat bagaimana bisnis itu berjalan. Lagipula, udara di sana mungkin lebih segar daripada di sini yang penuh dengan aturan dan formalitas."

Putri terkejut. Bisnis kayu? Itu adalah bisnis orang tuanya! Bisnis yang menjadi alasan kematian mereka! Kesempatan untuk melihat langsung operasionalnya, mungkin menemukan jejak atau bukti lain tentang kecurangan Pak Hidayat, adalah peluang emas yang tidak boleh dilewatkan. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu betapa pentingnya melihat fakta di lapangan.

Namun, dia harus berhati-hati. Apakah ini tawaran tulus atau jebakan? Dia melirik Nina sekilas, dan Nina memberikan isyarat sangat kecil berupa anggukan kepala, seolah mengatakan 'Ambil kesempatan ini'.

"Saya akan sangat senang bisa ikut, Rizky," jawab Putri dengan tenang, menyembunyikan antusiasme yang meledak di dalam dadanya. "Saya memang ingin tahu lebih banyak tentang bisnis yang dulu dimiliki oleh orang tua saya."

Rizky tampak senang dengan jawabannya. "Bagus. Kita akan berangkat besok pagi pukul delapan. Istirahatlah yang cukup malam ini."

Setelah Rizky pergi, Putri menghela napas panjang, kakinya terasa sedikit lemas. Nina segera mendekat dan memegang bahunya. "Kamu hebat, Putri. Tapi hati-hati besok. Pelabuhan adalah wilayah yang sensitif bagi keluarga Adinata. Banyak hal yang mungkin tidak terlihat jelas di permukaan. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, jangan bertindak nekat. Ingat Rara."

"Aku tahu, Nina," jawab Putri pelan. "Aku tidak akan melakukan hal bodoh. Tapi ini kesempatan bagus untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi dengan bisnis orang tuaku. Aku harus tahu kebenarannya, selengkap mungkin."

Malam itu, Putri tidak bisa tidur nyenyak. Dia memeriksa kembali tempat persembunyian kaset rekaman dan dokumen-dokumen penting di kamarnya, memastikan semuanya aman. Dia juga mengambil buku catatan kecilnya, mencatat rencananya untuk besok ke pelabuhan. Dia harus waspada, mengamati setiap detail, setiap orang yang dia temui, dan setiap percakapan yang terdengar.

Pikirannya kembali melayang pada Rizky. Mengapa dia mengajakku? Apakah dia benar-benar tulus ingin mengenalkanku pada bisnis keluarga, atau dia curiga padaku? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Putri. Namun satu hal yang pasti, dia tidak boleh membiarkan kesempatan ini berlalu. Keadilan bagi orang tuanya mungkin dimulai dari langkah kecil besok pagi.

Saat dia melihat ke arah kamar sebelah di mana Rara tidur nyenyak dengan perawatan medis yang memadai berkat bantuan Rizky, hatinya terasa perih. "Tahan sebentar lagi, Ra. Kakak akan berusaha membuat segalanya menjadi benar. Tapi Kakak butuh waktu," bisiknya pelan.

Keesokan paginya, udara terasa segar namun penuh ketegangan bagi Putri. Dia mengenakan pakaian yang sopan namun praktis, sesuai saran Nina. Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu di depan pintu. Rizky sudah ada di sana, bersandar santai di samping mobil sambil melihat ponselnya. Saat melihat Putri datang, dia menyimpan ponselnya dan membukakan pintu mobil untuknya.

"Selamat pagi, Putri. Kamu terlihat siap," ucapnya ramah.

"Selamat pagi, Rizky. Ya, saya siap," jawab Putri, mencoba menyembunyikan gugupnya.

Perjalanan menuju pelabuhan memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan, mereka banyak berbincang tentang hal-hal ringan—tentang Rara, tentang anak-anak di panti, tentang hobi Rizky yang ternyata suka membaca buku sejarah. Putri menemukan bahwa berbicara dengan Rizky itu mudah dan menyenangkan, sesuatu yang membuatnya semakin bingung dan merasa bersalah karena niat balas dendamnya.

Namun, saat mobil memasuki area pelabuhan yang luas dan sibuk, suasana berubah. Keamanan di sana sangat ketat, dengan pria-pria berjas hitam yang berjaga di beberapa titik. Gudang-gudang besar berjejer rapi, dan truk-truk besar lalu lalang.

"Ini adalah salah satu pusat distribusi utama kami," jelaskan Rizky saat mereka turun dari mobil. "Kayu-kayu dari hutan dikumpulkan di sini sebelum dikirim ke luar negeri atau ke pabrik pengolahan."

Putri mengamati sekeliling dengan mata jeli. Dia melihat tumpukan kayu balok yang besar, namun juga melihat beberapa peti kemas yang tertutup rapat dan tidak diberi label yang jelas. Sebagai orang yang paham hukum, dia tahu bahwa penyembunyian barang ilegal seringkali dilakukan di balik bisnis yang terlihat legal seperti ini.

"Mari, saya tunjukkan kantor administrasi dulu," ajak Rizky.

Di kantor administrasi, Putri diperkenalkan pada beberapa manajer dan staf. Mereka menyambutnya dengan hormat namun Putri bisa merasakan tatapan-tatapan curiga di balik senyum mereka, terutama dari seorang pria paruh baya yang dikenal sebagai kepala gudang, yang ternyata adalah orang kepercayaan Pak Darmawan. Pria itu menatap Putri dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah sedang menilai mangsa.

Saat Rizky sibuk berbicara dengan salah satu manajer tentang laporan pengiriman, Putri dengan santai berjalan mendekati rak-rak berisi dokumen pengiriman. Dia berpura-pura tertarik pada peta rute pengiriman yang tergantung di dinding, namun matanya dengan cepat memindai dokumen-dokumen yang terbuka di meja.

Dia melihat beberapa surat jalan yang mencatat pengiriman kayu, namun ada kode-kode aneh di bagian bawah yang tidak dia mengerti. Dia mencoba mengingatnya dalam ingatannya. Tiba-tiba, seseorang berbicara di belakangnya.

"Nona Putri sepertinya sangat tertarik dengan dokumen kami?"

Putri menoleh dan melihat pria kepala gudang tadi berdiri tidak jauh darinya, senyumnya tipis dan mengintimidasi.

"Saya hanya ingin tahu bagaimana bisnis kakek dan orang tua saya dulu dijalankan di sini," jawab Putri tenang, menggunakan alasan yang sudah dia siapkan. "Sebagai penerus keluarga, saya rasa ini penting."

Pria itu tampak terkejut sedikit, mungkin tidak menyangka Putri berani bicara begitu tegas. "Oh, tentu, Nona. Bisnis ini dulu memang milik keluarga Anda, tapi sekarang sudah diurus dengan sangat baik oleh keluarga Adinata dan Pak Darmawan."

Putri menangkap nama 'Pak Darmawan' disebut lagi. Jadi dia memang memiliki pengaruh di sini.

"Putri?" suara Rizky memanggil, membuat mereka berdua menoleh. Rizky berjalan mendekat, menatap mereka dengan rasa ingin tahu. "Ada masalah?"

"Tidak ada, Tuan Rizky. Saya hanya menjelaskan sedikit tentang operasional gudang pada Nona Putri," jawab pria itu cepat.

Rizky menatap pria itu sebentar, lalu menoleh ke Putri. "Ayo, saya akan tunjukkan area pemuatan. Jangan terlalu lama di sini, udaranya kurang segar."

Putri mengangguk dan mengikuti Rizky meninggalkan ruangan. Saat berjalan menjauh, dia bisa merasakan tatapan pria itu masih tertuju padanya. Dia tahu dia sudah dicatat sebagai orang yang perlu diawasi.

Di area pemuatan, Putri melihat aktivitas yang sibuk. Para buruh bekerja dengan cepat memuat barang ke dalam truk dan kapal. Rizky menjelaskan prosesnya, namun Putri bisa melihat bahwa ada beberapa area yang dijaga lebih ketat dan dilarang untuk orang sembarangan masuk.

"Di sana disimpan apa, Rizky?" tanya Putri, menunjuk ke sebuah gudang tertutup yang dijaga ketat.

Rizky mengikuti arah jarinya, dan ekspresinya sedikit berubah, menjadi lebih serius. "Itu adalah area penyimpanan barang khusus yang akan dikirim segera. Kadang ada barang-barang yang membutuhkan keamanan ekstra karena nilainya yang tinggi atau sifatnya yang mudah rusak."

Jawaban itu terdengar masuk akal, namun insting Putri, yang diasah oleh pelajaran hukum dan pengalaman baru-baru ini, mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Apakah itu barang ilegal? Apakah itu bukti kejahatan Pak Hidayat?

"Apakah saya boleh melihatnya?" tanya Putri memberanikan diri, meskipun dia tahu jawabannya mungkin tidak.

Rizky terdiam sejenak, menatap mata Putri. "Maaf, Putri. Area itu memang dilarang untuk orang yang tidak berkepentingan, demi keamanan juga. Suatu hari nanti, mungkin jika kamu sudah resmi menjadi bagian dari manajemen, kamu bisa melihatnya. Tapi untuk sekarang, biarkan dulu."

Putri mengangguk mengerti, tidak memaksa. "Tentu saja, saya mengerti."

Meskipun dia tidak bisa masuk, kunjungan ini memberinya banyak informasi. Dia melihat struktur keamanan, alur kerja, dan mengetahui bahwa Pak Darmawan memiliki tangan panjang di pelabuhan ini. Ini semua akan berguna untuk rencananya nanti.

Saat mereka bersiap untuk pulang, Rizky berhenti sejenak di dekat mobil, menatap laut yang luas di depan mereka. "Putri," panggilnya pelan.

Putri menoleh. "Ya, Rizky?"

"Saya tahu mungkin dunia ini terasa asing dan menakutkan bagimu," ucap Rizky, suaranya lembut dan tulus. "Tapi saya ingin kamu tahu, saya akan selalu melindungimu dan Rara. Kamu tidak perlu takut pada siapa pun di sini, termasuk pada ayah saya atau orang-orang seperti Pak Darmawan. Selama saya ada, saya akan memastikan kalian berdua aman."

Kata-kata itu menghantam hati Putri dengan keras. Dia bisa melihat ketulusan di mata Rizky. Pria ini benar-benar peduli padanya. Dan di saat yang sama, rasa bersalah dan kebingungan di hati Putri semakin membesar. Bagaimana dia bisa membalas kebaikan ini dengan niat balas dendam yang tersimpan rapat di dadanya? Bagaimana dia bisa menghancurkan ayah dari pria yang berjanji melindunginya dan adiknya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di kepalanya, menciptakan kekacauan emosi yang sulit dijelaskan.

Putri menelan ludah, berusaha menemukan kata-kata yang tepat. "Terima kasih, Rizky," ucapnya akhirnya, suaranya sedikit bergetar. "Kata-katamu sangat berarti bagiku. Aku... aku hanya berharap aku bisa menjadi seperti yang kamu harapkan."

Rizky tersenyum lembut, lalu mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh pipi Putri, namun dia menahannya di udara sejenak sebelum akhirnya menurunkan kembali, menghormati batas mereka yang belum resmi. "Kamu tidak perlu menjadi orang lain, Putri. Jadilah dirimu sendiri. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Momen itu terasa begitu intim, seolah dunia di sekitar mereka menghilang. Angin laut berhembus pelan, menerbangkan rambut Putri, dan untuk sesaat, Putri lupa akan bahaya yang mengintai, lupa akan kaset rekaman, dan lupa akan rencana balas dendamnya. Dia hanya melihat Rizky, pria yang tulus dan baik hati.

Namun, realita segera kembali menyapa. Suara klakson truk yang keras memecah keheningan, mengingatkan mereka di mana mereka berada. Rizky menggeleng pelan, seolah tersadar dari lamunan, lalu membukakan pintu mobil untuk Putri. "Ayo kita pulang. Rara pasti sudah menunggu."

Sepanjang perjalanan pulang, percakapan di antara mereka tidak sebanyak saat berangkat. Putri banyak terdiam, membiarkan pikirannya bekerja keras. Dia mencatat setiap detail yang dia lihat di pelabuhan: tata letak gudang, posisi penjaga, wajah-wajah orang yang dia temui, terutama pria kepala gudang yang terlihat sangat dekat dengan Pak Darmawan. Dia juga mengingat kode-kode aneh di surat jalan yang dia lihat tadi. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu bahwa catatan kecil seperti itu bisa menjadi kunci pembuka rahasia besar di kemudian hari.

Sesampainya di kediaman Adinata, matahari sudah mulai condong ke barat. Rizky mengantar Putri sampai ke teras depan. "Terima kasih sudah mau menemani hari ini, Putri. Aku senang kamu bisa melihat langsung bisnis ini."

"Aku juga berterima kasih, Rizky. Ini pengalaman yang sangat berharga," jawab Putri tulus, meskipun makna 'berharga' itu memiliki arti ganda baginya.

Setelah Rizky pergi ke sayap rumahnya sendiri, Putri segera masuk ke dalam dan bertemu dengan Nina yang sudah menunggu dengan cemas di ruang tamu.

"Bagaimana? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Nina segera, menarik Putri ke sudut ruangan yang lebih sepi dan jauh dari pendengar orang lain.

Putri menceritakan semua yang terjadi, mulai dari interaksinya dengan kepala gudang, kode-kode aneh di dokumen, hingga area gudang tertutup yang dijaga ketat, dan terakhir, percakapan emosionalnya dengan Rizky di tepi pelabuhan.

Nina mendengarkan dengan saksama, wajahnya semakin serius seiring berjalannya cerita. "Jadi Pak Darmawan memang punya orang kepercayaan di sana. Itu berbahaya, Putri. Dan gudang yang tertutup itu... aku juga pernah mendengar desas-desus bahwa di sana sering disimpan barang-barang yang tidak tercatat dalam pembukuan resmi. Tapi tidak ada yang berani menyelidikinya karena keamanannya yang sangat ketat."

"Aku harus tahu apa yang ada di dalam sana, Nina," kata Putri tegas. "Itu mungkin kunci dari semua kejahatan Pak Hidayat. Mungkin di sanalah dia menyembunyikan bukti penyelundupan atau barang ilegal lainnya."

"Tapi itu sangat berisiko," peringatan Nina. "Kamu tidak bisa masuk ke sana sembarangan. Bahkan Rizky pun bilang itu area terlarang."

"Aku tahu. Aku tidak akan bertindak gegabah," jawab Putri. "Tapi aku harus merencanakan sesuatu. Aku butuh waktu, dan aku butuh bantuanmu."

Nina mengangguk mantap. "Tentu saja, Putri. Apapun yang kamu butuhkan, aku akan bantu. Tapi sekarang, kita harus fokus dulu pada persiapan pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi. Kamu harus tampil sempurna di depan semua orang, terutama di depan Pak Hidayat dan Pak Darmawan, agar mereka tidak curiga."

Hari-hari berikutnya kembali diisi dengan latihan intensif. Putri belajar cara berpakaian yang sesuai dengan statusnya, cara merias wajah yang elegan namun tidak berlebihan, dan cara berinteraksi dengan tamu-tamu penting yang akan hadir dalam acara pertunangan yang akan diadakan sebentar lagi.

Suatu sore, saat mereka sedang beristirahat setelah latihan etika berbicara, Putri melihat Rizky berjalan melewati koridor menuju ruang kerjanya. Dia terlihat sibuk, memegang setumpuk berkas di tangannya. Namun, saat melihat Putri, dia berhenti dan tersenyum.

"Putri, boleh aku bicara sebentar?" panggilnya.

Putri dan Nina saling pandang, lalu Putri mengangguk. "Tentu, Rizky."

Rizky mendekat, menatap Putri dengan tatapan lembut. "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sudah mengurus semua persiapan untuk operasi Rara. Dokter terbaik di kota sudah siap, dan semua biaya sudah ditanggung sepenuhnya. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun."

Hati Putri mencelos. Dia tidak pernah menyangka Rizky akan bertindak secepat itu dan dengan begitu dermawan. Air mata hampir menetes dari matanya, tapi dia menahannya dengan kuat. "Rizky... aku tidak tahu harus berkata apa. Kamu sudah melakukan begitu banyak untuk kami. Aku... kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu."

Rizky menggeleng pelan, lalu dengan berani, dia meraih tangan Putri dan menggenggamnya lembut. Sentuhan itu hangat dan menenangkan. "Tidak perlu dibalas, Putri. Melihat Rara sembuh dan melihat kamu tersenyum bahagia, itu sudah menjadi balasan terindah bagiku. Ingatlah, mulai sekarang, kita adalah satu keluarga. Apa yang menjadi milikku, juga menjadi milikmu dan Rara."

Putri menatap mata Rizky, tenggelam dalam ketulusan yang terpancar dari sana. Di saat yang sama, rasa bersalah yang luar biasa menghantamnya. Dia sedang berdiri di samping pria yang sangat baik, pria yang menyelamatkan adiknya, namun di dalam hatinya dia menyimpan rencana untuk menghancurkan ayahnya. Apakah dia melakukan hal yang benar? Atau apakah dia sedang membiarkan dendamnya membutakan hatinya terhadap kebaikan yang ada di depannya?

"Terima kasih, Rizky," bisik Putri, suaranya penuh emosi. "Kamu benar-benar orang yang sangat baik."

Rizky tersenyum, lalu perlahan melepaskan genggamannya. "Istirahatlah yang cukup, Putri. Kita akan punya banyak waktu untuk berbicara nanti. Sampai jumpa besok."

Setelah Rizky pergi, Putri menyandarkan punggungnya ke dinding, napasnya terasa berat. Nina segera menghampiri dan memegang bahunya dengan lembut. "Aku tahu ini berat, Putri. Tapi kamu harus kuat. Ingat tujuanmu, tapi juga jangan biarkan kebaikan Rizky membuatmu lupa pada kenyataan pahit tentang ayahnya. Keadilan tetap harus ditegakkan, tapi caranya ada di tanganmu."

Putri mengangguk pelan, menyeka sudut matanya yang basah. "Kamu benar, Nina. Aku tidak boleh lemah sekarang. Rara butuh aku, dan orang tuaku butuh keadilan. Aku akan melanjutkan rencanaku, tapi aku berjanji, aku akan berusaha sekuat tenaga agar Rizky tidak terluka lebih dari yang seharusnya."

Malam itu, Putri duduk di kamarnya, membuka buku catatan kecilnya. Dia menulis semua informasi yang dia dapatkan dari pelabuhan, dan mulai menyusun strategi untuk langkah selanjutnya. Dia tahu pernikahannya dengan Rizky akan menjadi pintu gerbang baginya untuk masuk lebih dalam ke dalam dunia keluarga Adinata. Di balik kemewahan dan kesopanan, dia akan mencari celah, mencari bukti, dan menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

Dia menatap foto keluarganya di atas meja. "Ayah, Ibu, tunggulah sebentar lagi. Putri akan berjuang. Tapi tolong beri aku kekuatan, karena jalannya ternyata jauh lebih sulit dari yang aku bayangkan," bisiknya lirih.

Di luar jendela, malam semakin larut, dan bayangan-bayangan dunia mafia tampak semakin panjang dan misterius, menyembunyikan banyak rahasia yang belum terungkap. Putri tahu, perjalanannya baru saja dimulai, dan setiap langkah yang dia ambil selanjutnya akan menentukan nasib bukan hanya dirinya dan Rara, tapi juga nasib pria yang perlahan mulai mencuri hatinya, Rizky Adinata.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Di tengah kebaikan Rizky yang semakin terasa dan kewajiban Putri untuk menuntut keadilan bagi orang tuanya, menurutmu bagaimana Putri harus menyikapi perasaannya terhadap Rizky? Apakah dia harus terus menyembunyikan segalanya, atau mulai memberi petunjuk halus agar Rizky siap menghadapi kebenaran?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!