NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Cilok, Boba, dan Orbit yang Beradu

Sore itu parkiran kampus lagi padat-padatnya. Zea celingukan kayak agen rahasia, nunggu Tesla hitam Antares lewat di titik jemputan biasa—agak jauh dari gerbang utama biar nggak mencolok. Begitu mobil itu berhenti, Zea langsung melesat masuk secepat kilat.

"Huh... aman!" Zea buang napas lega sambil naruh tasnya di bawah kaki.

Tapi Zea nggak sadar, di balik pilar parkiran, ada Sarah—temen sekelompok maketnya—lagi bengong megang kunci motor. Sarah ngerutin kening, matanya nggak lepas dari mobil mewah yang baru aja ngebawa Zea pergi.

"Bukannya itu mobil Dr. Antares, ya? Ah, masa sih? Mungkin Zea nebeng karena ada urusan asisten dosen kali ya. Kan mereka lagi ngerjain proyek satelit," batin Sarah, mencoba berpikir positif meskipun hatinya agak curiga karena Zea kelihatan buru-buru banget.

Di dalam mobil, suasana awalnya hening dan berwibawa. Antares fokus nyetir dengan kemeja yang rapi banget, sementara Zea mulai gelisah. Matanya ngelihat ke luar jendela, dan tiba-tiba matanya berbinar pas ngelihat gerobak biru di pinggir jalan.

"Mas! Mas Antar! Berhenti, Mas! Berhenti!" Zea heboh sendiri sambil megangin lengan Antares.

Antares kaget, refleks ngerem pelan. "Ada apa? Ada yang ketinggalan di kampus?"

"Bukan! Itu loh, Cilok Mang Ujang! Itu cilok paling legendaris se-kecamatan, Mas. Bumbunya pedas nampol, terus ciloknya kenyal-kenyal gimana gitu. Aku mau beli! Plis... plis... plis..." Zea masang muka memelas, tangannya dikatupin di depan dada.

Antares ngerutin kening, ngelihat gerobak pinggir jalan yang dikerubutin asap sama debu jalanan itu dengan tatapan horor. "Zea, itu nggak sehat. Kamu tahu nggak berapa banyak penyedap rasa dan debu timbal di sana? Saya sudah siapkan salmon panggang dan salad di rumah."

"Duh, Mas! Salmon mah tiap hari juga bisa. Ini Cilok Mang Ujang kalau sore dikit udah habis. Ayolah, Mas... sekali aja. Terus nanti berhenti di depan sana ya, ada Boba Brown Sugar yang lagi viral. Aku butuh asupan gula biar nggak stres mikirin maket."

Antares mijit pelipisnya. Sebagai pria yang tiap pagi minum green smoothie dan sangat menjaga asupan nutrisi, permintaan Zea ini bener-bener penghinaan buat gaya hidup sehatnya.

"Nggak, Zea. Itu karbohidrat kosong dan pemanis buatan."

"Mas Antaaaaar... pelit banget sih sama istri sendiri," Zea mulai mode manja, dia narik-narik ujung kemeja Antares. "Tadi pagi kan aku udah nurut sama 'hukuman' Mas. Sekarang masa beli cilok aja nggak boleh? Tega ya..."

Antares ngehela napas kalah. Gravitasi manja Zea emang nggak ada tandingannya. Dia akhirnya markirin mobil mahalnya di deket trotoar, narik perhatian orang-orang karena Tesla kinclong itu kelihatan sangat "salah parkir" di depan tukang cilok.

"Tunggu di sini. Jangan turun, nanti kena debu," perintah Antares kaku.

Zea melongo. "Mas mau yang beliin?"

"Iya. Kalau kamu yang turun nanti malah jajan yang lain lagi."

Antares turun dengan muka temboknya. Bayangin aja, seorang Dr. Antares Bagaskara, ilmuwan antariksa yang biasanya bahas koordinat galaksi, sekarang berdiri kaku di depan gerobak cilok.

"Bang, ciloknya satu plastik. Pedasnya sedang, jangan pakai micin terlalu banyak," ucap Antares, bikin Mang Ujang tukang cilok bingung.

"Micin mah udah ada di bumbunya, Mas Ganteng! Nggak afdol kalau nggak pakai micin!" seru si Abang.

Antares cuma bisa pasrah. Setelah dapet cilok dan boba jumbo ukuran extra sugar, dia balik ke mobil. Zea langsung nyamber plastik itu kayak anak kecil dapet mainan.

"Makasih Mas Antar ganteng! Nih, Mas mau coba?" Zea nyodorin satu tusuk cilok yang belepotan saus kacang ke depan mulut Antares.

Antares ngejauh dikiit. "Nggak. Kamu makan sendiri aja."

"Cobain dulu! Satu aja! Enak tau, ini tuh rasanya kayak surga dunia," paksa Zea.

Karena males denger rengekan Zea lagi, Antares akhirnya ngebuka mulut dan gigit cilok itu. Matanya langsung membelalak pas ngerasain ledakan rasa gurih (micin) dan pedas di lidahnya.

"Gimana? Enak kan?" Zea nyengir puas.

"Terlalu banyak bahan kimia tambahan," gumam Antares, tapi dia nggak nolak pas Zea nyuapin cilok kedua. "Tapi... lumayan. Hanya untuk kali ini saja, Zea."

"Halah, bilang aja ketagihan!" Zea ketawa sambil nyeruput bobanya kenceng-kenceng sampe bunyi srrrttt.

Antares geleng-geleng kepala, tapi tangannya terulur buat ngusap sisa saus kacang di sudut bibir Zea pakai ibu jarinya. Tatapannya yang tadi dingin pas bahas micin, mendadak berubah jadi hangat dan intens.

"Habiskan itu. Setelah ini, 'gula' kamu harus dibakar di rumah. Kamu tahu kan saya nggak suka istri saya terlalu banyak energi tapi nggak disalurkan?" bisik Antares rendah.

Zea hampir tersedak boba. Dia tahu persis apa arti "penyaluran energi" versi Antares.

"Mas... kita kan baru sampai rumah..."

"Justru itu. Ciloknya buat tenaga, bobanya buat semangat. Ayo pulang," Antares langsung tancap gas, ninggalin area kampus menuju apartemen mereka, sementara Zea cuma bisa ngebatin kalau malam ini dia bakal "olahraga" lebih berat lagi gara-gara cilok ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!