Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – “Ujian Cinta dan Rahasia Masa Lalu”
Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda.
Sakira masuk dengan langkah hati-hati, masih mencoba menenangkan pikirannya setelah minggu-minggu terakhir yang penuh ketegangan. Rafael, seperti biasa, sudah berada di ruangannya, menatap layar laptop. Namun kali ini ada sesuatu yang mengganggu Sakira—tatapannya tajam, serius, seolah memikirkan hal besar yang belum ia bagikan.
Pagi, Sakira,” ucap Rafael, tapi suaranya terdengar berat.
“Pagi, Pak Rafael,” jawab Sakira, mencoba tersenyum, meski hatinya mulai cemas. Ia tahu ada sesuatu yang akan terjadi hari ini.
Rafael menutup laptopnya perlahan. “Sakura… kita harus bicara. Ini penting.”
Sakira menelan ludah. Nada suara Rafael tidak pernah membuatnya merasa santai. “Apa yang terjadi, Pak?”
Rafael menarik napas panjang “Masa lalu… kadang datang untuk menuntut perhatian kita. Dan… aku takut hal itu akan mempengaruhi kita, proyek kita, dan… perasaan kita.”
Sakira terkejut. Ia tahu Rafael menyimpan luka dari masa lalu, tapi ia tidak pernah menyangka masalah itu akan muncul sekarang. “Maksud Pak Rafael…?”
Rafael menatapnya, sorot matanya serius. “Ada seseorang… seseorang yang pernah penting dalam hidupku. Namanya Clara. Dia muncul lagi. Dan kehadirannya bisa mengancam hubungan kita… dan proyek ini.”
Sakira menahan napas. “Clara?” gumamnya pelan. Ia tidak tahu harus merasa cemburu atau takut. Hatinya berdebar, karena nama itu terdengar seperti ancaman yang nyata.
Rafael melanjutkan, suaranya pelan tapi tegas: “Clara bukan hanya mantan… dia pernah menjadi bagian besar dari hidupku, sebelum aku bisa memahami apa artinya mencintai seseorang dengan tulus. Aku tidak ingin menyembunyikan ini darimu, Sakira.
Tapi aku juga harus bersikap hati-hati.
Sakira menatap Rafael, hatinya campur aduk. Ia ingin memeluknya, menenangkan hatinya, tapi juga merasa takut. “Aku… aku mengerti, Pak Rafael. Aku… akan mencoba percaya padamu.”
Rafael tersenyum tipis, meski ada kesedihan yang tersisa di mata hitamnya. “Terima kasih. Aku menghargai kejujuranmu.”
Hari itu, Sakira merasa sulit berkonsentrasi. Setiap gerakan Rafael, setiap panggilan teleponnya, membuatnya merasa cemas. Ia tahu Clara bukan orang biasa—Rafael pernah mengatakan bahwa Clara adalah seseorang yang cerdas, ambisius, dan… berani menghadapi siapa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Siang harinya, Rafael memintanya untuk ikut rapat penting dengan investor besar. Sakira setuju, meski hatinya gelisah. Mereka berdua duduk di ruang rapat, Rafael di satu sisi, Sakira di sisi lain, tetapi ada ketegangan yang tidak terlihat—ketegangan yang berasal dari ketakutan Sakira tentang kemungkinan Clara muncul.
Tidak lama kemudian, pintu rapat terbuka, dan masuklah seorang wanita dengan langkah percaya diri. Rambutnya panjang, mata tajam, senyumnya memikat—dan Sakira langsung mengenali Clara dari deskripsi Rafael sebelumnya.
“Rafael,” sapa Clara dengan nada ceria, seolah tidak ada waktu yang terlewat.
“Senang bertemu lagi setelah sekian lama.”
Sakira menelan ludah, jantungnya berdetak kencang. Tatapan mereka berdua terlalu akrab, terlalu penuh sejarah yang tidak ia pahami. Ia merasa cemburu, tapi Rafael segera berdiri, menatap Clara dengan tegas.
“Clara, ini bukan saatnya untuk membicarakan masa lalu,” kata Rafael, nada tegas. “Aku di sini untuk rapat dengan investor, dan aku berharap kita bisa profesional.”
Clara tersenyum tipis, tapi ada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan. “Tentu, Rafael. Tapi kau tahu aku tidak pernah mudah menyerah. Aku hanya ingin memastikan… tidak ada yang terlewatkan.”
Sakira merasakan kecemasan semakin meningkat. Ia tahu hubungan mereka akan diuji. Clara bukan hanya ancaman profesional, tapi juga emosional. Rafael mencoba tetap tenang, tapi ada garis ketegangan di wajahnya yang membuat Sakira sadar bahwa masa lalu Rafael masih menghantui mereka.
Rapat pun dimulai, tetapi ketegangan tidak bisa dihapus. Clara terus memandang Rafael, seolah ingin membaca setiap gerakannya. Sakira mencoba tetap fokus, tapi hatinya merasa terpojok. Ia sadar, ia harus memperjuangkan posisi dan perasaannya sendiri.
Setelah rapat selesai, Rafael menatap Sakira dengan intens. “Aku minta maaf. Aku tidak ingin kau merasa tersisih karena masa laluku.”
Sakira menggeleng. “Aku… aku ingin percaya padamu, Pak Rafael. Tapi… aku juga takut kehilanganmu.”
Rafael menarik tangan Sakira, menggenggamnya erat. “Kau tidak akan kehilanganku, Sakira. Aku memilihmu. Dan aku ingin kau tahu, apa pun yang terjadi… aku akan menghadapi masa laluku untuk kita.”
Malam itu, Rafael mengantar Sakira pulang. Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam, memikirkan hari yang baru saja mereka lalui. Sakira menatap jalanan yang gelap, hatinya campur aduk antara takut, cemburu, dan bahagia.
Sesampainya di apartemen, Rafael menatap Sakira. “Aku tahu ini sulit. Tapi aku ingin kita menghadapi semua ini bersama. Kau siap?”
Sakira menelan ludah, hatinya berdebar. “Aku… aku siap, Pak Rafael. Aku ingin mencoba, meski takut.”
Rafael tersenyum, lalu mendekat, hampir menyentuh wajahnya. “Kita akan melalui ini, Sakira. Bersama.”
Hari-hari berikutnya terasa seperti ujian. Clara tidak berhenti muncul di sekitar proyek penting, memberikan tekanan pada Rafael dan tim. Sakira harus menghadapi cemburu dan rasa tidak aman yang muncul setiap kali Rafael berbicara atau bertatap mata dengan Clara. Namun di sisi lain, Sakira juga belajar bahwa cinta bukan hanya tentang kenyamanan, tapi juga keberanian untuk menghadapi ketakutan dan konflik bersama.
Suatu malam, ketika bekerja lembur, Rafael memegang tangan Sakira dengan lembut.
“Aku tahu ini berat,” katanya, suaranya lembut tapi tegas. “Tapi aku tidak akan menyerah pada hubungan kita. Kau penting bagiku, Sakira. Lebih dari yang kau pikirkan.”
Sakira menatap tangan mereka yang saling terikat. “Aku… aku percaya padamu, Pak Rafael. Aku hanya takut jika semuanya menjadi terlalu rumit.”
Rafael menundukkan kepala, matanya menatap Sakira dengan intens. “Rumit boleh. Tapi kita akan menemukan jalan kita sendiri. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Sakira. Tidak masa lalu… tidak tekanan… dan tidak siapa pun.”
Beberapa minggu kemudian, Rafael berhasil menyelesaikan masalah dengan Clara. Ia bersikap tegas, profesional, dan menunjukkan bahwa hubungannya dengan Sakira bukan hanya kontrak, tapi pilihan hati yang nyata.
Sakira merasa lega, tapi juga semakin jatuh cinta pada Rafael. Ia menyadari bahwa cinta kontrak mereka telah berubah menjadi cinta yang nyata—penuh perhatian, kejujuran, dan keberanian menghadapi segala rintangan.
Suatu malam, Rafael mengajak Sakira ke atap gedung kantor. Kota di bawah mereka diterangi lampu-lampu yang berkilauan. Rafael menatap Sakira dengan tatapan yang membuat hatinya meleleh.
“Sakira… aku ingin kau tahu sesuatu,” katanya. “Aku tidak hanya menyukaimu karena kontrak. Aku menyukaimu karena kau membuatku percaya pada cinta lagi. Aku ingin kita… menjadi lebih dari sekadar CEO dan rekan kerja.”
Sakira menatap Rafael, air mata bahagia menetes di pipinya. “Aku… aku juga merasakan hal yang sama, Pak Rafael. Aku ingin kita bersama, meski semua ujian dan rahasia masa lalu mencoba menghalangi.”
Rafael tersenyum, lalu menarik Sakira dalam pelukan hangat. “Kita akan menghadapi semua ini, bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita.”
Malam itu, Sakira duduk di apartemennya, menulis di jurnalnya:
“Cinta kontrak ini awalnya hanya formalitas… tapi kini telah menjadi sesuatu yang nyata. Aku tahu perjalanan ini tidak akan mudah.
Ada rahasia, cemburu, dan rintangan. Tapi aku percaya, selama kita bersama… kita bisa menghadapi semua itu. Rafael bukan hanya CEO yang harus aku hormati… tapi seseorang yang hatinya kini milikku.”
Di sisi lain kota, Rafael menatap langit dari jendela kantornya. Ia tersenyum tipis, lalu memutar kembali semua hari yang telah mereka lalui. “Aku harus hati-hati… tapi aku juga tidak bisa menahan perasaanku lagi.
Sakira, aku ingin kita berhasil. Bukan hanya proyek ini… tapi kita.”
Mereka berdua, meski masih menghadapi tantangan, mulai memahami satu hal: cinta bukan hanya tentang kenyamanan, tapi tentang keberanian, kejujuran, dan tekad untuk menjaga hati satu sama lain. Dan mereka sadar, setiap langkah ke depan akan menjadi ujian—tetapi juga kesempatan untuk memperkuat cinta yang telah mereka mulai.
Bersambung..