Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi itu seharusnya seperti biasa: Xiao Han sudah siap dengan seragam supir, mobil Mercedes menunggu di mulut gang, dan Lin Qing seharusnya sudah dalam perjalanan ke bandara untuk penerbangan pagi ke Singapura. Tapi ponsel Xiao Han berdering tepat pukul 05:45—nomor Xiao Mei.
“Kak… Ibu… Ibu sesak napas banget. Dadanya sakit, Kak! Dia nggak bisa bicara!”
Xiao Han merasa dunia berhenti. Dia berlari masuk ke kontrakan, melihat ibunya terbaring di kasur tipis, wajah pucat, tangan memegang dada, napas pendek-pendek seperti orang kehabisan udara. Xiao Mei sudah menangis di sampingnya, tangannya gemetar memegang ponsel.
“Kak… cepat! Aku takut!”
Xiao Han langsung menggendong ibunya dengan hati-hati, tubuh lumpuh itu terasa ringan tapi berat di dadanya. “Mei, ambil tas obat! Kita ke RS Harapan Jiwa sekarang!”
Mereka berlari ke jalan raya. Taksi online tidak cepat datang, jadi Xiao Han melambai mobil pertama yang lewat—sebuah sedan tua yang berhenti karena melihat keadaan darurat. Sopirnya langsung mengerti dan mengemudikan secepat mungkin ke rumah sakit.
Di perjalanan, Xiao Han memegang tangan ibunya erat-erat, berbisik berulang-ulang, “Tahan ya, Bu. Kita hampir sampai.”
Sampai di UGD RS Harapan Jiwa, dokter langsung menangani. Serangan jantung akut. Ibu dibawa ke ruang ICU, dipasang oksigen, monitor jantung berbunyi cepat dan tidak stabil. Xiao Han dan Xiao Mei duduk di ruang tunggu, tangan saling menggenggam, mata merah karena menahan tangis.
Tak lama kemudian, Hua Ling’er datang berlari dari pintu masuk. Seragam SMA-nya masih dipakai, tas sekolah tergantung di bahu. Dia langsung memeluk Xiao Han dari belakang.
“Aku langsung ke sini begitu Xiao Mei chat. Ibu gimana, Kak?”
Xiao Han menoleh, matanya berkaca-kaca. “Masih di ICU. Dokter bilang serangan jantung. Mereka lagi stabilin dulu.”
Hua Ling’er duduk di sebelahnya, memeluk Xiao Mei juga. “Kalian nggak sendirian. Aku di sini sampai Ibu sadar.”
Mereka bertiga duduk dalam diam yang berat. Xiao Mei bersandar di bahu Hua Ling’er, Hua Ling’er memegang tangan Xiao Han erat-erat. Untuk sesaat, dunia di luar ruang tunggu itu hilang—hanya ada mereka bertiga, menunggu kabar dari dokter.
Tiba-tiba pintu ruang tunggu terbuka. Langkah sepatu hak tinggi terdengar jelas. Lin Qing muncul di ambang pintu, masih mengenakan blazer putih rapi dan rok pensil, tapi riasannya sedikit berantakan—seolah dia bergegas datang langsung dari mobil.
Xiao Han terkejut. “Qing… kamu nggak ke Singapura?”
Lin Qing menggeleng pelan, matanya langsung tertuju pada Hua Ling’er yang sedang memegang tangan Xiao Han. Ada sesuatu yang berubah di ekspresinya—dadanya seperti ditusuk, tapi dia cepat menyembunyikannya dengan senyum tipis.
“Aku batalin penerbangan begitu dapat pesan dari kamu tadi pagi. Aku langsung ke sini.”
Dia mendekat, menatap Xiao Han dengan tatapan penuh perhatian. “Ibu gimana? Dokter bilang apa?”
“Serangan jantung. Masih di ICU. Belum tahu hasilnya.”
Lin Qing mengangguk, lalu menoleh ke Hua Ling’er dan Xiao Mei. Dia mengulurkan tangan sopan ke Hua Ling’er.
“Saya Lin Qing. Bosnya Xiao Han.”
Hua Ling’er berdiri, menjabat tangan itu dengan ragu. “Hua Ling’er… kekasihnya Kak Han.”
Lin Qing tersenyum, tapi senyum itu terasa kaku. Dadanya terasa sakit—bukan karena iri, tapi karena menyadari betapa Xiao Han punya kehidupan lain di luar dia, kehidupan yang sederhana, tulus, dan tidak melibatkan uang atau status. Tapi dia tidak menunjukkannya.
“Senang bertemu. Terima kasih sudah nemenin Xiao Han dan keluarganya.”
Hua Ling’er mengangguk pelan. “Sama-sama. Ibu lagi kritis, jadi… kami semua di sini.”
Lin Qing duduk di sebelah Xiao Han, tangannya menyentuh punggung pria itu lembut. “Kamu nggak perlu khawatir biaya. Aku sudah bicara sama dokter kepala. Semua biaya perawatan, operasi kalau perlu, aku tanggung. Kamu fokus nemenin Ibu aja.”
Xiao Han menatapnya, mata berkaca-kaca. “Qing… terima kasih.”
Lin Qing menggeleng pelan. “Ini bukan amal. Ini bagian dari tanggung jawabku sebagai bosmu. Dan… sebagai orang yang peduli sama kamu.”
Hua Ling’er memandang mereka berdua, ada pertanyaan di matanya, tapi dia tidak bertanya apa-apa. Xiao Mei hanya diam, memeluk lututnya, mata masih merah.
Dokter keluar dari ruang ICU setelah hampir dua jam. “Kondisi sudah stabil. Serangan jantung ringan, tapi karena riwayat paru-parunya lemah, kita harus observasi 48 jam. Kalau besok stabil, bisa pindah ke ruang rawat biasa.”
Xiao Han menghela napas lega, hampir menangis. Hua Ling’er memeluknya erat, Lin Qing hanya tersenyum tipis sambil menepuk bahu pria itu.
Malam itu, mereka bertiga—Xiao Han, Hua Ling’er, dan Xiao Mei—bergantian menjaga di depan kaca ruang ICU. Lin Qing duduk di kursi tunggu yang agak jauh, memandang dari kejauhan. Dia tidak ikut campur terlalu dalam, tapi kehadirannya terasa—seperti bayangan yang melindungi tanpa meminta imbalan.
Di dalam hatinya, sakit itu masih ada. Melihat Hua Ling’er memeluk Xiao Han, melihat cara gadis itu menenangkan Xiao Mei, membuatnya sadar: ada bagian dari Xiao Han yang tidak akan pernah menjadi miliknya.
Tapi dia tetap diam.
Karena dia sudah bilang: ini hanya mitra kerja.
Dan dia akan menepati janji itu, meski dadanya terasa seperti ditusuk setiap kali melihat mereka bertiga bersama.