Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si jenius El-Barack
Cakra bangkit dari lantai gudang dengan mata yang merah padam. Bukan hanya karena tangis, tapi karena dendam yang kini berbalik arah. Tanpa memedulikan tangannya yang lebam, ia masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraan itu seperti orang kesetanan menuju kediaman utama keluarga Ardiwinata
Di ruang tamu yang mewah, Nyonya Inggit dan Jesika sedang bersulang teh sembari tertawa kecil, membicarakan rencana pertunangan yang mereka anggap sudah di depan mata.
"Jesika, setelah ini kau harus segera memberikan Cakra ahli waris. Kita harus pastikan harta keluarga ini tetap di tangan yang tepat," ujar Inggit dengan nada angkuh.
BRAK!
Pintu ganda itu terbuka paksa. Cakra berdiri di sana, napasnya menderu, menatap kedua wanita itu dengan tatapan yang bisa membunuh.
"Cakra? Sayang, kau dari mana saja? Kenapa tanganmu..." Jesika mendekat dengan wajah pura-pura cemas, mencoba menyentuh lengan Cakra.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, Jesika!" sentak Cakra hingga Jesika terjengkang ke belakang.
"Cakra! Apa-apaan kamu? Dia calon istrimu!" Inggit berdiri membela.
Cakra tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Calon istri? Atau rekan kriminal mu, Mah? Aku baru saja bertemu Rico. Dia sudah menceritakan semuanya. Lilin aromaterapi, fitnah keji itu... semuanya adalah rancangan kalian!"
Wajah Inggit memucat seketika, sementara Jesika mulai gemetar hebat.
"Sekarang juga, keluar dari rumahku, Jesika! Jika dalam sepuluh menit kau masih di sini, aku akan memastikan kau menyusul Rico ke balik jeruji besi atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik!" teriak Cakra menggelegar.
"Tapi Cakra, aku melakukan ini karena aku mencintaimu!" tangis Jesika pecah.
"CINTA? Kau menghancurkan wanita yang paling aku cintai dan kau sebut itu cinta? PERGI!"
Jesika lari terbirit-birit meninggalkan rumah itu tanpa sempat membawa tasnya. Kini, tersisa Cakra dan ibunya. Inggit mencoba memasang wajah tegar meski hatinya menciut.
"Ibu melakukan ini demi kebaikanmu, Cakra. Hana itu hanya gadis desa yang..."
"Cukup, Nyonya Inggit," potong Cakra dengan suara dingin yang menusuk tulang. "Mulai detik ini, aku tidak punya ibu seperti mu. Kau tetap bisa tinggal di sini, tapi jangan pernah muncul di hadapanku. Kau akan hidup sebagai orang asing di rumah ini. Hanya Ayah... hanya Ayah yang tersisa untukku."
.
.
Enam tahun kemudian
Waktu seolah berlari di sebuah sudut terpencil Banyuwangi. Di balik rimbunnya pepohonan hijau, El Barack tumbuh melampaui ekspektasi siapapun. Di usianya yang baru genap lima tahun, ia bukan sekadar bocah biasa. Kemampuannya berhitung cepat tanpa bantuan jari, hanya dengan gumaman kecil dan tatapan kosong yang fokus, ia selalu berhasil membuat orang dewasa terpana.
Namun bagi Hana, kecerdasan itu adalah pedang bermata dua. Setiap kali melihat El memecahkan soal atau menatapnya dengan binar mata yang tajam, Hana merasa sedang berhadapan dengan hantu dari masa lalu. Sosok Cakra, mantan suaminya, seolah hidup kembali dalam diri El. Hana seringkali harus memalingkan wajah, berusaha keras menekan sesak di dada agar bayang-bayang pria yang pernah sangat dicintainya itu tidak merusak ketenangan yang ia bangun susah payah di desa ini.
Siang itu, suara cempreng El memecah lamunan Hana.
"Bunda! Aku pergi main layangan dulu ya? Aku sudah janji sama Ghazi di lapangan!" teriak El sembari menyambar sandal jepitnya.
Hana menghentikan kegiatannya, menatap putra kecilnya dengan saksama. "Iya, El. Tapi ingat, begitu adzan Ashar berkumandang, kamu harus sudah di rumah. Jadwal mengaji jangan sampai telat. Kamu mau Ustad Soleh ceramah panjang lebar ke Bunda karena dianggap lalai mendidikmu?"
El memberikan hormat dengan tangan di dahi, cengiran lebarnya sangat mirip dengan ayahnya. "Siap, Bunda! El bukan cuma pintar hitung-hitungan, tapi juga tahu waktu. El Berangkat ya Bun!"
El memang pergi ke arah lapangan bola, tapi target aslinya bukanlah langit biru dan layangan. Bersama Ghazi, teman setianya yang setahun lebih tua darinya, El justru berbelok ke arah bangunan kayu dengan papan kusam bertuliskan "Warnet".
Hanya di tempat pengap penuh kabel inilah, El bisa mencuri akses ke dunia luar. Selama ini, Hana selalu mengunci rapat informasi tentang sosok Ayahnya. Setiap kali El bertanya, jawaban Hana selalu sama: "Ayah sudah tenang di tempat yang jauh." Tapi insting tajam El mengatakan ibunya sedang bersembunyi.
"El, aku benar-benar takut. Kalau Bunda kamu tahu, aku bisa kena masalah besar. Aku merasa berdosa membohongi Tante Hana!" bisik Ghazi dengan wajah pucat saat mereka berdiri di depan pintu warnet.
El menepuk bahu sahabatnya itu dengan gaya sok dewasa. "Tenang saja, Ghazi. Rahasia itu seperti matematika, kalau kita taruh rumusnya yang benar, hasilnya pasti aman. Ibuku tidak akan tahu."
Di dalam, Kak Ros, sang penjaga warnet, hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat dua bocah ingusan itu sudah berdiri di depan mejanya.
"Kalian lagi?" Kak Ros berkacak pinggang sambil menghela napasnya.
"Kecil-kecil sudah jadi pelanggan tetap. Apa kalian tidak takut kalau orang tua kalian datang ke sini membawa rotan, hah?"
El segera memasang wajah paling menggemaskan yang ia punya. "Ayolah Kak Ros, tolonglah kami sekali ini saja. Nanti kalau aku sudah punya uang jajan lebih, aku belikan Kak Ros cokelat Cadbury yang besar! Janji!"
Kak Ros tidak bisa menahan tawa melihat cara El bernegosiasi. Bocah ini punya cara bicara yang sulit ditolak. "Dasar bocah licin! Ya sudah, masuk sana. Tapi Kak Ros ikut mengawasi di belakang ya? Jangan buka situs macam-macam!"
El langsung kegirangan. Ia mengacungkan kedua jempolnya dengan penuh semangat. "Siap, Kak Ros! Terima kasih, Kakak Cantik!"
Dengan cekatan, jemari mungil El mulai menari di atas keyboard. Di kolom pencarian Mbah Google, ia mengetikkan sebuah nama yang pernah ia dengar dari bisikan Eyang Minah dan juga Aunty Rahma saat ibunya tidak ada, "Cakra Ardiwinata".
Cahaya biru dari monitor tua itu memantul di bola mata El yang jernih. Setelah beberapa kali mencoba kombinasi nama, sebuah laman berita bisnis lama terbuka. Di sana, terpampang sebuah foto potret seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Di bawahnya, tertuliskan nama dengan cetak tebal: Cakra Ardiwinata.
Pria di foto itu terlihat gagah, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dalam, tatapan yang sama persis dengan yang dimiliki El saat sedang serius. Kak Ros, yang sedari tadi mengawasi di belakang, seketika mendekatkan wajahnya ke layar. Matanya membulat.
"Eh, El... kau kenal dengan pria di foto ini? Ganteng sekali! Ini pengusaha sukses, ya?" tanya Kak Ros dengan nada terkesima, seolah lupa bahwa yang ia tanya adalah bocah berusia lima tahun.
El tidak langsung menjawab. Ia terdiam, jemari mungilnya menyentuh permukaan monitor yang terasa hangat, tepat di bagian wajah pria itu. Ada getaran aneh di dadanya, sesuatu yang selama ini hilang, kini terasa nyata. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan sekaligus kerinduan.
"El! Ditanya tuh sama Kak Ros. Kau malah senyum-senyum sendiri seperti sedang jatuh cinta saja!" tegur Ghazi sambil menyenggol lengan El.
El menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Kak Ros. "Maaf, Kak Ros. El cuma terkejut melihat foto ini. Ternyata dia lebih keren dari yang El bayangkan."
Kak Ros mulai memicingkan mata. Ia memandangi foto di layar, lalu beralih menatap wajah El secara bergantian. Dari bentuk alis, garis hidung, hingga lekukan bibir saat tersenyum, semuanya tampak seperti pinang dibelah dua.
"Tunggu sebentar..." Kak Ros menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa kau mirip sekali dengan pria ini, El? Jangan-jangan... pria ini ayahmu, ya?"
El langsung membusungkan dada, merasa bangga karena dugaannya selama ini terbukti benar di mata orang lain. Dengan nada meniru gaya karakter kartun favoritnya, ia menjawab mantap, "Betul... betul... betul!"
Sontak, tawa Ghazi dan Kak Ros pecah memenuhi ruangan warnet yang sempit itu. Ketegangan yang tadi sempat menyelimuti Ghazi langsung menguap.
"Aduh, El! Untung kepala kalian berdua tidak botak, ya?" ujar Kak Ros sambil tertawa terpingkal-pingkal. "Kalau kepalamu botak, kalian sudah mirip sekali dengan kartun si kembar yang sangat comel itu!"
Ghazi dan El saling pandang. Membayangkan sosok Cakra Ardiwinata yang gagah di foto itu berubah menjadi karakter kartun lucu dengan rambut satu helai, mereka berdua akhirnya ikut tertawa terbahak-bahak hingga perut mereka sakit.
"Kalau Ayah mirip kartun itu, berarti El juga dong!" seru El di sela tawanya, sejenak melupakan beban rahasia yang ia pikul dari ibunya.
Bersambung...