Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi di Balik Pintu Jati
Malam itu, mansion di Makati terasa lebih dingin dari biasanya. Matthias pulang dengan rahang yang mengeras. Bayangan Sheena yang mempermalukan Celine—dan secara tidak langsung menyindirnya di kafe tadi—terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Bagaimana bisa seorang mahasiswi semester tiga, yang tingginya bahkan tidak sampai ke dagunya, berani menatapnya dengan mata mengantuk yang menghina itu?
Matthias melempar jas mahalnya ke sofa kulit dan melangkah menuju dapur. Di sana, ia melihat Sheena sedang duduk di meja bar, mengenakan kaos kedodoran bergambar band grunge tua, kacamata bulatnya bertengger di hidung, dan tumpukan buku anatomi berserakan di depannya.
"Kita perlu bicara," suara Matthias berat, menggema di ruangan yang sunyi itu.
Sheena tidak menoleh. Jemarinya sibuk memutar pulpen. "Bicara saja. Telingaku tidak sedang tersumbat kawat gigi, Tuan Smith."
Matthias menggeram pelan. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kursi Sheena. Postur tubuhnya yang 204 cm benar-benar menenggelamkan sosok Sheena.
"Apa maksud ucapanmu di kafe tadi? Kau mempermalukan Celine di depan Rei dan kolega bisnisku," desis Matthias tajam.
Sheena akhirnya mendongak. Ia harus mendongak sangat tinggi sampai lehernya terasa pegal hanya untuk menatap mata Matthias. "Mempermalukan? Aku hanya mengatakan fakta. Kalau teman glamormu itu merasa tersinggung, mungkin karena dia sadar kalau otaknya tidak seindah gaun sutranya."
"Dia adalah tamu penting SM Corp, Sheena Katrina!"
"Dan aku adalah istrimu di atas kertas, Matthias Smith!" balas Sheena, suaranya naik satu oktav tapi tetap tenang. "Kalau kau ingin aku diam, jangan bawa wanita-wanita haus perhatian itu ke tempat umum di mana aku bisa melihatnya. Itu merusak selera kopiku."
Matthias terdiam sejenak. Ada percikan kemarahan sekaligus kekaguman yang aneh di matanya. Belum pernah ada yang berani membalas ucapannya secepat ini.
"Kau... kau benar-benar tidak punya rasa hormat, ya?" Matthias membungkuk, menumpukan kedua tangannya di meja bar, mengurung tubuh mungil Sheena di antara kedua lengannya yang kekar. "Kau pikir karena Ayah Tizon menitipkanmu padaku, kau bisa bersikap sesukamu?"
Aroma parfum wood and musk milik Matthias menyerbu indra penciuman Sheena. Jarak mereka sangat dekat, Sheena bahkan bisa melihat betapa halusnya kulit pria yang katanya "dingin" ini.
"Aku menghormati orang yang layak dihormati," bisik Sheena, matanya menatap lurus ke manik mata Matthias tanpa berkedip. "Dan sejauh ini, kau hanya seorang pria sombong yang hobi pamer tinggi badan dan kekayaan. Jadi, mundurlah. Kau menghalangi cahayaku untuk membaca."
Matthias terpaku. Tatapan Sheena yang tanpa kedip itu...
Deg.
Jantung Matthias berdenyut aneh. Ingatannya mendadak terlempar ke halte bus di Calapan belasan tahun lalu. Gadis kecil itu juga menatapnya seperti ini. Berani, lekat, dan tanpa kedip sedikit pun saat dia sedang menangis sesenggukan.
Matthias segera menjauhkan tubuhnya, merasa tidak nyaman dengan sensasi yang baru saja ia rasakan. "Jangan pernah mengulangi perbuatanmu tadi siang. Jaga jarakmu dariku, dan aku akan menjaga jarakku darimu."
"Dengan senang hati," sahut Sheena sambil kembali fokus ke bukunya. "Lagipula, melihatmu terlalu lama membuat mataku sakit."
Matthias melangkah pergi dengan terburu-buru menuju ruang kerjanya. Di dalam sana, ia segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan putih itu. Ia mengusapnya kasar, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak masuk akal.
"Tidak mungkin," gumam Matthias. "Gadis itu pasti lembut. Dia tidak mungkin sekasar dan seberingas Sheena."
Ia kembali menatap sapu tangan itu, mencari perlindungan di balik memori masa lalunya. Sementara itu, di dapur, Sheena menghela napas panjang. Ia menyentuh dadanya yang sedikit berdegup kencang.
"Sialan," gerutu Sheena. "Tiang gapura itu... kenapa harus punya wangi seenak itu?"
Dua orang itu kembali ke sudut masing-masing, tidak menyadari bahwa takdir sedang menertawakan mereka yang sama-sama keras kepala menyembunyikan rasa yang mulai tumbuh.