Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Telinga Bumi Dan Jebakan Lanyau
Kekalahan The Behemoth pertama di pinggiran kota memang memberikan waktu napas bagi Jatmika, namun suara gemuruh mesin uap dari lima tank lainnya yang mulai bergerak dari Semarang adalah ancaman yang nyata. Jatmika tahu bahwa tank-tank itu akan menghindari jalan utama yang telah dipasangi ranjau termit. Mereka akan mencoba menerobos melalui jalur hutan jati yang lebih lunak namun sulit dipantau secara visual.
"Kita tidak bisa menaruh pengintai di setiap pohon, Raden," lapor Suro saat mereka berkumpul di pusat komando. "Hutan terlalu lebat, dan kabut pagi seringkali menutupi pergerakan mereka."
Jatmika menatap sebuah baskom air yang permukaannya bergetar setiap kali ada dentuman meriam di kejauhan. "Jika kita tidak bisa melihat mereka, kita akan mendengarkan mereka. Bukan dengan telinga manusia, tapi dengan Sensor Seismik Akustik."
Jatmika merancang sistem pendeteksi getaran yang sangat sensitif. Ia menggunakan tabung-tabung bambu petung yang ditanam jauh ke dalam tanah. Di dasar tabung tersebut, ia meletakkan sebuah Membran Mika yang dihubungkan dengan jarum tipis di atas tumpukan pasir halus. Setiap kali getaran berat dari tank uap merambat melalui tanah, jarum itu akan menari di atas pasir, menciptakan pola frekuensi yang spesifik.
"Setiap benda memiliki tanda getaran," Jatmika menjelaskan kepada Yusuf. "Langkah kuda berbeda dengan langkah manusia, dan langkah manusia berbeda dengan roda rantai baja seberat dua puluh ton. Dengan menanam tabung ini di berbagai titik dan menghubungkannya dengan kabel telegraf ke sini, kita bisa memetakan posisi tank musuh tanpa perlu melihatnya."
Sementara itu, Kolonel Thorne memimpin konvoi barunya dengan sangat hati-hati. Ia tidak lagi berada di barisan depan. Di sampingnya ada seorang insinyur Inggris bernama Dr. Arkwright, yang membawa alat baru: Pelontar Gas Klorin.
"Jika mereka bersembunyi di lubang-lubang tanah, kita tidak perlu menembaknya," ucap Arkwright dengan senyum licik. "Kita hanya perlu menenggelamkan mereka dalam gas hijau ini. Paru-paru mereka akan mencair sebelum mereka sempat menarik pelatuk."
Thorne mengangguk. "Tujuannya adalah lembah batu kapur. Hancurkan sumber energinya, maka Jatmika hanyalah seorang pemimpi yang tak berdaya."
Konvoi tank Inggris mulai memasuki wilayah hutan Randublatung. Tanah di sana terlihat kokoh, namun Jatmika telah melakukan Modifikasi Geoteknik. Ia mengarahkan aliran sungai bawah tanah untuk mengairi lapisan bawah tanah tertentu, menciptakan Lanyau (Quicksand) Buatan yang ditutupi oleh lapisan tipis tanah kering dan dedaunan.
Di pusat komando, Jatmika melihat jarum pada sensor seismiknya bergerak liar. "Target masuk ke Sektor C-4. Mereka bergerak dalam formasi baji."
"Aktifkan Katup Hidrolik!" perintah Jatmika.
Di tengah hutan, sebuah mekanisme kayu raksasa yang menahan aliran air di bawah tanah dilepaskan. Seketika, tanah yang tadinya terlihat padat di bawah roda rantai tank Inggris berubah menjadi bubur lumpur yang dalam.
Gubrak!
Tank terdepan terperosok hingga separuh badannya. Mesin uapnya meraung-raung, mencoba menarik diri keluar, namun berat bajanya justru membuatnya semakin tenggelam.
"Mundur! Mundur!" teriak kapten tank dari dalam menara.
Namun, saat mereka mencoba mundur, Jatmika memberikan perintah kedua. "Lepaskan Sinyal Ultrasonik."
Jatmika telah memasang serangkaian peluit uap berfrekuensi tinggi yang digerakkan oleh tekanan udara dari pipa-pipa bambu. Suara yang dihasilkan berada di ambang batas pendengaran manusia, namun sangat menyiksa bagi telinga. Para kru di dalam tank yang terbuat dari baja tertutup mengalami disorientasi hebat akibat resonansi suara yang memantul di dalam kabin logam mereka.
"Kepalaku... kepalaku seperti akan pecah!" teriak para awak tank Inggris. Mereka terpaksa keluar dari tank untuk menghindari siksaan suara tersebut, tepat ke arah bidikan penembak jitu Suro yang sudah menunggu.
Dr. Arkwright mencoba melepaskan gas klorinnya, namun Jatmika telah mengantisipasi arah angin menggunakan Anemometer yang terhubung ke sistem alarm. Pasukan Serikat Bayangan segera meledakkan tabung-tabung Oksida Kalsium (Kapur Tohor) ke udara. Bubuk kapur ini bereaksi dengan gas klorin dan kelembapan udara, menetralkan racun tersebut sebelum mencapai parit pertahanan.
Pertempuran di hutan Randublatung berakhir dengan kegagalan total bagi konvoi Thorne. Empat dari lima tank mereka terjebak di lumpur atau ditinggalkan oleh awaknya yang panik.
Thorne yang mundur dengan sisa pasukannya kini benar-benar ketakutan. Ia menyadari bahwa Jatmika tidak hanya menguasai mekanika dan kimia, tapi juga telah menjadikan Seluruh Alam sebagai Senjata.
"Dia bukan manusia," bisik Arkwright sambil gemetar. "Dia adalah perwujudan dari hukum alam yang marah."
Namun, di tengah kemenangan itu, Jatmika menerima laporan dari mata-matanya di Singapura. Inggris baru saja memberangkatkan Kapal Induk Balon Udara pertama mereka. Musuh menyadari bahwa serangan darat dan laut gagal, maka mereka akan menyerang dari satu-satunya tempat yang belum dipasangi ranjau oleh Jatmika: Langit.
Jatmika menatap ke atas, ke arah langit biru yang cerah. "Suro, kita butuh Listrik Statis Skala Besar. Kita akan membangun Menara Tesla."