Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
"Jadi bagaimana pemeriksaannya?" tanya Lorenzo ketika mereka berjalan keluar dari ruangan dokter.
"Baik. Dokternya memberi beberapa resep untuk mual dan sakit kepala. Sisanya normal," jawab Arabelle.
"Kita beli obatnya dulu, baru ke bioskop."
Arabelle mengangguk dengan senyum kecil.
Mereka singgah di apotek rumah sakit. Lorenzo yang membayar tanpa diminta, seperti biasa. Arabelle sudah berhenti memprotes hal-hal semacam itu.
Di perjalanan kembali ke mobil, ponsel Lorenzo berdering. Ia menjawab, mendengarkan sebentar, lalu berkata, "Sekarang bukan waktu yang baik. Aku hubungi kembali sebentar lagi." Kemudian menutup telepon.
"Semuanya baik?" tanya Arabelle.
"Ada urusan pekerjaan yang harus aku tangani." Lorenzo menoleh sebentar, ekspresinya sedikit tertahan. "Kita tidak bisa ke bioskop hari ini. Maaf."
Arabelle menarik napas diam-diam. Kekecewaannya nyata, tapi ia tidak mengatakannya. "Tidak apa-apa. Kita pulang saja."
Di dalam mobil, Lorenzo meletakkan tangannya di atas tangan Arabelle. "Kamu kecewa."
"Aku baik-baik saja."
Lorenzo menatapnya sebentar, lalu kembali ke jalan.
**
Sesampainya di vila, Arabelle naik ke kamar. Lorenzo mengikutinya.
"Kamu pulang malam?" tanya Arabelle, berdiri di tengah kamar sementara Lorenzo bergerak ke arah meja.
"Kemungkinan iya. Kenapa?"
"Karena aku khawatir." Arabelle menatapnya langsung. "Luka-lukamu belum sembuh dari operasi kemarin, dan sekarang kamu pergi lagi."
Lorenzo menghampirinya. "Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir tentang aku, fokus jaga dirimu dan bayi kita." Tangannya turun ke perut Arabelle, diletakkan di sana dengan pelan.
"Aku mencintaimu," kata Arabelle. "Sangat."
Lorenzo mengangkatnya, kaki Arabelle melingkar di pinggangnya dan mencium bibirnya panjang, dalam, seperti orang yang tahu ia akan pergi cukup lama.
Ketika mereka terpisah, Arabelle merasakan matanya memanas.
"Berjanji padaku," katanya pelan. "Pulang tanpa luka."
Lorenzo menatap matanya. "Aku berjanji."
Ia menurunkan Arabelle perlahan, membuka laci meja, dan mengambil pistol hitam dari dalamnya. Arabelle melihatnya dan instingnya langsung menegang.
"Itu--"
"Pengaman," kata Lorenzo singkat.
Arabelle memberikan satu ciuman panjang lagi, lalu melepaskannya pergi.
**
Malam terasa lebih panjang dari biasanya tanpa Lorenzo.
Arabelle menghubungi Hana lewat pesan Hana berjanji akan hadir di pernikahan mereka, dan Arabelle langsung mencatat dalam kepala bahwa ia butuh seseorang sebagai pendamping pernikahan. Hana adalah pilihan pertama dan satu-satunya.
Setelah itu, ia berkeliling vila sendirian. Lorong-lorong panjang, pintu-pintu yang belum pernah ia buka, tangga yang berakhir di lantai-lantai yang belum ia jelajahi. Vila ini besar luar biasa, bahkan ada beberapa kamar yang tampaknya dialokasikan khusus untuk para asisten yang tinggal di sini.
Salah satu asisten tiba-tiba muncul dari salah satu kamar dan hampir bertabrakan dengannya.
"Oh, Nyonya! Maaf. Ada yang bisa dibantu?"
"Tidak, tidak. Aku hanya jalan-jalan. Rumah ini besar sekali," kata Arabelle sambil tertawa kecil.
Asisten itu mengangguk dengan senyum hangat. "Kalau butuh sesuatu, saya selalu ada."
"Terima kasih. Sampai nanti."
Setelah lebih dari satu jam berjalan tanpa tujuan, Arabelle kembali ke kamar. Ia mengganti pakaiannya dengan piyama, menggelung rambutnya asal-asalan, membersihkan riasan, dan merebahkan diri di kasur dengan remote Netflix di tangan.
Sebuah film dipilih, ditonton setengahnya, lalu matanya mulai berat.
Ia tertidur dengan televisi masih menyala.
**
Arabelle terbangun tiba-tiba. Kamar gelap kecuali cahaya biru dari layar televisi yang masih hidup.
Ia meraih ponselnya.
04.07 pagi.
Lorenzo belum ada di sisi kasurnya.
Arabelle duduk dan menekan nomor Lorenzo. Nada tunggu. Lagi. Nada tunggu.
Ia meletakkan ponsel di pangkuannya dan menunggu.
Lalu suara pintu terbuka.
Lorenzo masuk. Kemejanya ada noda merah gelap, darah.
Arabelle langsung berdiri. "Apa yang terjadi?!"
"Aku baik-baik saja. Itu bukan darahku," kata Lorenzo, sedikit terkekeh melihat ekspresi Arabelle.
Arabelle menghembuskan napas panjang dan duduk kembali. "Kamu membuatku hampir serangan jantung."
"Kamu masih terjaga?"
"Aku terbangun tadi. Baru seperempat jam yang lalu." Arabelle menatapnya dari atas ke bawah, memastikan tidak ada yang terlewat. "Kamu yakin tidak apa-apa?"
"Yakin." Lorenzo menciumnya di kepala. "Aku mandi dulu, lalu tidur."
Arabelle mengangguk dan kembali berbaring, memilih-milih serial di Netflix sementara Lorenzo masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian suara air mengalir terdengar dari balik pintu.
Arabelle membuka The Originals, serial yang sudah lama ia ingin mulai tonton tapi tidak pernah sempat. Baru beberapa menit berjalan ketika Lorenzo keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya, berjalan ke lemari pakaian.
"Mau nonton bersama?" tanya Arabelle.
"Aku sangat lelah, Kecilku. Tidurlah, kamu akan kelelahan besok pagi." Lorenzo keluar dari lemari pakaian sudah berpakaian, lalu naik ke kasur di sebelah Arabelle.
Arabelle menutup Netflix dan meletakkan ponsel di meja. Lorenzo menariknya lebih dekat hingga punggung Arabelle menempel di dadanya.
"Aku mencintaimu," bisiknya di telinganya.
Arabelle tersenyum dalam gelap. "Aku juga."
Tangannya memainkan ujung rambut Arabelle dengan pelan, dan tidak butuh lama sebelum mata Arabelle kembali berat, kali ini lebih nyaman dari sebelumnya, dengan detak jantung Lorenzo terdengar samar di balik dadanya.
**
Pagi datang dengan cahaya lembut.
Arabelle membuka mata dan mendengar suara air keran dari kamar mandi. Lorenzo sudah bangun lebih dulu, berdiri di depan wastafel mencuci muka sambil menyikat gigi.
Arabelle bangkit, menggosok mata, dan berjalan masuk. Lorenzo meliriknya dari cermin.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi," balas Arabelle dengan suara yang masih serak.
Ia mengambil sikat giginya dan mulai menyikat gigi di sebelah Lorenzo. Untuk beberapa menit tidak ada yang berbicara hanya suara air dan rutinitas pagi yang sederhana.
Lorenzo selesai lebih dulu. Ia menciumi kepala Arabelle dan keluar untuk berpakaian.
Arabelle meludah, membilas mulutnya, lalu melepas ikatan rambutnya dan mulai menyisirnya. Pikirannya kembali ke pertanyaan yang tadi malam sempat ia pendam.
"Lorenzo," panggilnya dari kamar mandi.
Tidak ada jawaban.
Arabelle keluar. Kamar kosong, Lorenzo tidak ada di sana. Ia memeriksa balkon. Tidak ada. Ia keluar dari kamar dan menyusuri lorong, membuka beberapa pintu yang ia lewati, hingga sampai di depan sebuah pintu di ujung sayap kanan.
Ruang kerja, besar, rapi, dengan dinding yang penuh rak buku dan sebuah meja kayu gelap di tengahnya. Lorenzo duduk di sana, matanya pada sebuah dokumen.
Ia mengangkat kepala ketika Arabelle masuk.
"Kita bisa bicara?"
Lorenzo mengangguk.
Arabelle duduk di kursi di depan meja. "Kenapa tadi kamu mengabaikanku?"
Lorenzo meletakkan penanya. "Karena semalam tidak berjalan seperti yang aku harapkan. Kami berhasil, tapi aku kehilangan dua orang yang penting bagiku."
Arabelle terdiam. Matanya melemah sedikit.
"Kenapa kamu tidak bilang tadi malam?"
"Karena aku tidak mau membuatmu khawatir." Lorenzo bersandar ke kursinya. "Kamu hamil. Aku tidak mau ada tekanan atau tangisan atau hal-hal yang bisa memengaruhi kondisimu, kondisi kalian berdua." Tangannya bergerak seolah hendak menyentuh perut Arabelle meski jaraknya tidak memungkinkan. "Aku ingin kamu dan bayi kita aman."
Arabelle menatapnya lama. "Maaf untuk teman-temanmu."
Lorenzo hanya mengangguk pelan.
Ia bangkit dari kursinya dan memeluk Arabelle erat, melingkarkan kedua lengannya di sekeliling tubuh kecilnya. Arabelle tenggelam di dalam pelukannya, kepalanya hanya sampai di dadanya.
"Kamu masih mau ke bioskop?" tanyanya.
Arabelle mengangkat kepala. "Kamu ingat?"
"Aku bilang kemarin kita tidak bisa. Bukan berarti tidak pernah."
Arabelle tersenyum. "Ya. Aku mau."
"Kalau begitu bersiaplah."
Mereka keluar dari ruang kerja bersama dan kembali ke kamar. Arabelle memilih sweater berbulu tebal, jins pendek dengan ikat pinggang, dan sepatu tertutup, nyaman tapi tetap rapi. Rambutnya disisir dan diatur sederhana. Riasan ringan seperti biasa, lalu tas selempang hitam.
Lorenzo keluar dari lemari pakaian dengan kemeja putih berkerah, jins hitam agak ketat, dan sneakers putih.
Arabelle memandangnya sebentar. Ia selalu tampak seperti itu, tanpa usaha yang terlihat, tapi hasilnya selalu menyita perhatian.
"Kamu kelihatan bagus," kata Lorenzo, matanya menyapu Arabelle dari atas ke bawah.
"Kamu juga," balas Arabelle, dan merasakan pipinya sedikit memanas.
Mereka keluar dari kamar berdampingan, Lorenzo melingkarkan tangannya di pinggang Arabelle ketika mereka menuruni tangga menuju garasi.
Di dalam mobil, setelah beberapa menit berjalan dalam diam dengan musik mengisi ruang di antara mereka, Arabelle menatap keluar jendela.
"Kapan kita pulang ke rumah?" tanyanya.
"Setelah pernikahan."
Arabelle mengangguk pelan. Lalu, tanpa benar-benar merencanakan untuk mengatakannya, kata-kata itu keluar juga.
"Kamu tidak merasa semua ini terlalu cepat?"
Lorenzo meliriknya sebentar. Mereka berhenti di lampu merah. "Maksudmu apa?"
"Semuanya. Secara keseluruhan."
"Aku tidak mengerti yang kamu maksud, Arabelle," katanya, dan ada nada yang mulai menajam di ujung kalimatnya.
"Tidak apa-apa. Lupa saja," jawab Arabelle pelan, membalikkan pandangannya ke jendela.
Ia tidak menyesal dengan apa pun. Bukan dengan cintanya, bukan dengan kehamilan ini, bukan dengan keputusan yang sudah ia buat. Hanya saja semua ini masih terasa baru, seperti sepatu yang belum benar-benar pas di kaki, tapi tidak juga ingin dilepas.
Lampu hijau. Lorenzo memacu mobil lebih cepat dari sebelumnya.
"Kamu menyesal dengan semua yang ada di antara kita?" tanya Lorenzo tiba-tiba.
"Tidak." Arabelle menjawab tanpa ragu. "Sama sekali tidak."
"Lalu apa yang kamu maksud dengan terlalu cepat?"
"Bukan terlalu cepat." Arabelle mencari kata yang tepat. "Hanya... belum terbiasa. Aku belum terbiasa dengan semua ini. Tapi aku tidak menyesal satu hal pun, Lorenzo. Jangan berpikir ke arah sana."
Keheningan sebentar. Rahang Lorenzo yang sempat mengeras mulai melunak.
"Baik," katanya akhirnya.
Arabelle menoleh ke arahnya. Ia masih menatap jalan, tapi ketegangan di bahunya sudah turun sedikit.
Arabelle kembali memandang ke depan, membiarkan musik yang mengalir pelan mengisi sisa perjalanan.