NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Jejak Kekuatan dan Gerakan Menari

Sari mengajak Heras berkeliling markas Pasukan Pemusnah Monster di kota itu. Bangunan markas ini tampak kokoh dan fungsional, dengan dinding-dinding beton yang tebal dan desain yang mengutamakan keamanan serta efisiensi. Sambil mendorong kursi roda Heras dengan lembut namun pasti, Sari menjelaskan dengan nada tenang namun penuh kebanggaan, "Setiap kota memiliki markas seperti ini, Heras. Struktur ini dirancang untuk menjadi pusat pertahanan dan operasi lokal. Dan di setiap negara, terdapat satu pusat markas utama yang lebih besar dan canggih, menjadi pengendali utama seluruh operasi pemusnahan monster dan koordinasi pertahanan nasional."

Langkah mereka membawa mereka melewati berbagai fasilitas yang tertata rapi. Pertama, mereka melewati tempat latihan fisik yang luas dan terbuka, di mana udara dipenuhi dengan aroma keringat dan semangat. Berbagai alat kebugaran modern dan tradisional berjejer rapi—dari barbel berukuran raksasa hingga tali temali yang digantung tinggi, dan ban-ban besar yang digunakan untuk latihan kekuatan. Anggota-anggota di sana tampak bersemangat, mengangkat beban berat, berlari di treadmill yang berjalan cepat, atau melakukan latihan ketahanan tubuh yang menguras tenaga, setiap otot mereka tampak tegang dan terlatih.

Selanjutnya, mereka tiba di area latihan tempur yang luasnya sebesar lapangan sepak bola. Dinding-dindingnya dilapisi bahan penyerap benturan, dan di sana-sini tersebar sasaran-sasaran latihan yang terbuat dari bahan elastis namun keras, serta peralatan simulasi pertarungan yang canggih—beberapa di antaranya berbentuk seperti boneka mekanik yang bisa bergerak dan menyerang, meniru gerakan monster. Suara pukulan dan tendangan yang menghantam sasaran terdengar berulang-ulang, menciptakan irama yang tegas dan penuh disiplin.

Terakhir, mereka melewati lapangan latihan tembak yang tertutup dan kedap suara. Di sana, deretan target-target jarak jauh dengan berbagai bentuk dan ukuran—beberapa bergerak secara acak, beberapa lagi muncul dan hilang tiba-tiba—terletak di ujung lapangan. Anggota-anggota pasukan berdiri dalam barisan, memegang senjata api dengan cekatan, mata mereka terfokus tajam pada target, dan suara tembakan yang terdengar beruntun namun terkontrol memenuhi ruangan, disertai dengan asap tipis yang mengepul dari laras senjata.

Akhirnya, mereka tiba di ruang penelitian—sebuah laboratorium yang bersih, terang, dan penuh dengan peralatan canggih yang berkilauan di bawah lampu neon putih. Ini adalah tempat di mana senjata-senjata baru dikembangkan, diuji coba, dan dimodifikasi, serta tempat di mana para ilmuwan melakukan studi mendalam tentang anatomi, perilaku, dan kelemahan monster. Di meja-meja kaca dan rak-rak besi, berbagai komponen senjata, spesimen, dan data penelitian tersusun rapi.

Di ruang penelitian itu, mata Heras tertuju pada deretan senjata yang didesain khusus untuk serangan jarak jauh. Ada senapan laras panjang dengan sistem penargetan laser, peluncur roket berukuran kompak namun mematikan, hingga senjata energi yang memancarkan cahaya samar dari intinya. Tiba-tiba, pandangannya berhenti mendadak pada satu senjata yang diletakkan di meja tampilan khusus. Bentuknya sangat familiar—badan senjata yang kokoh dengan pola ukiran yang unik, laras yang sedikit melengkung, dan pegangan yang terlihat ergonomis. Itu sangat mirip dengan senjata yang pernah digunakan untuk menyerangnya dulu, senjata yang pernah membuatnya terbaring lemah dan hampir kehilangan nyawanya.

Refleksnya, Heras menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering seketika. Punggungnya yang sudah sembuh pun tiba-tiba terasa gatal, bukan gatal biasa, melainkan rasa gatal yang menusuk dan samar-samar menyakitkan, seolah kulit dan otot di sana masih mengingat dengan jelas rasa sakit akibat luka yang pernah ditimbulkan oleh senjata serupa itu. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya, dan tubuhnya terasa kaku sesaat.

Sari, yang selalu waspada terhadap perubahan pada Heras, segera menyadari gelagat aneh itu—wajahnya yang sedikit pucat, matanya yang terfokus tajam namun penuh ketakutan pada senjata itu, dan gerakannya yang tiba-tiba terhenti. "Heras, apa kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas, tangannya terulur untuk menyentuh bahu Heras dengan lembut, matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

Heras menggeleng cepat, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya dan mengusir bayangan buruk yang tiba-tiba muncul. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu. "Tidak apa-apa, Sari. Aku baik-baik saja," jawabnya dengan senyum tipis yang terlihat sedikit dipaksakan, namun cukup meyakinkan. Ia dengan paksa mengalihkan pandangannya dari senjata itu dan menatap Sari dengan tatapan yang berusaha terlihat tenang. "Bisakah kita kembali ke tempat latihan tempur? Aku ingin melihat bagaimana para profesional bertarung di sana, melihat teknik dan keterampilan mereka secara langsung."

Sari mengangguk mengerti, meski tatapannya masih menyisakan sedikit kekhawatiran yang terselip di sudut matanya. Ia tidak memaksa Heras untuk berbicara, namun ia memastikan dirinya siap membantu jika Heras membutuhkannya. Mereka pun bergegas kembali ke area latihan tempur, meninggalkan ruang penelitian yang penuh dengan ingatan buruk itu.

Di area latihan tempur, suasana masih sangat hidup dan penuh energi. Suara teriakan latihan, benturan tubuh, dan napas berat para anggota memenuhi udara. Setiap anggota memiliki pasangan bertarungnya masing-masing, saling beradu kekuatan dan keterampilan dalam pertarungan simulasi. Mereka menggunakan teknik pukulan—pukulan lurus yang cepat, pukulan hook yang kuat, pukulan atas yang mematikan—serta tendangan—tendangan depan yang tajam, tendangan samping yang lebar, tendangan melingkar yang dahsyat—dan hindaran yang lincah, baik menghindar ke samping, ke belakang, maupun menunduk. Gerakan-gerakan itu sebenarnya terlihat seperti teknik bela diri yang umum, namun cukup mengesankan karena kuda-kuda mereka yang sangat terampil dan kokoh. Kaki mereka tertanam kuat di lantai, tubuh mereka seimbang, dan setiap gerakan terukur dengan presisi, penuh dengan disiplin dan kekuatan yang terkendali.

Namun, fokus Heras segera teralihkan sepenuhnya pada sosok di sudut lapangan yang agak terpisah dari yang lain. Itu adalah Rian, yang saat itu sedang melawan dua anggota sekaligus, keduanya tampak berpengalaman dan kuat. Apa yang membuat Heras terpana dan tak bisa mengalihkan pandangan adalah cara Rian bertarung—ia tidak bergerak seperti orang yang sedang bertarung mematikan, melainkan seolah sedang menari di atas panggung yang luas.

Gerakan kaki Rian sangat lincah dan luwes, berkelit ke sana kemari dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, seolah ia memiliki sayap di kakinya. Ia berputar, melangkah maju dan mundur dengan ritme yang indah namun mematikan, membingungkan kedua lawannya yang tampak kesulitan mengikuti pergerakannya. Saat lawan-lawannya masih kebingungan mencari celah untuk menyerang, bahkan saat mereka baru saja mengayunkan pukulan yang meleset karena Rian sudah berpindah tempat, Rian seketika melancarkan tendangan memutar yang luar biasa kuat dan tepat. Tubuhnya berputar cepat di udara, kakinya melayang dengan kekuatan yang luar biasa, menghantam dada salah satu lawannya dengan suara dentum yang keras, membuat lawan itu terjatuh ke lantai dengan keras dan terguling beberapa meter.

Kuda-kudanya yang selalu membungkuk sedikit ke depan, dengan lutut yang selalu sedikit ditekuk dan tubuh yang lincah, membuatnya sulit sekali terkena serangan. Ia seolah memiliki intuisi yang tajam terhadap setiap gerakan musuh, bisa memprediksi serangan sebelum musuh bahkan menyadarinya, dan menghindar dengan mudah seolah ia tahu arah serangan itu akan datang.

Heras terpesona melihatnya, matanya berbinar-binar dengan kekaguman yang tak terhingga. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram pegangan roda kursi roda dengan erat, dan dengan semangat yang meluap-luap, ia mendorong roda itu dengan kekuatan yang ia miliki. Kursi roda itu bergerak maju, melintasi lantai lapangan yang luas, bergerak menghampiri Rian yang masih berada di kejauhan, di mana Rian baru saja bangkit kembali setelah melancarkan tendangan memutarnya yang memukau.

Sari terkejut melihat Heras yang tiba-tiba bergerak sendiri dengan semangat yang begitu besar. Ia sempat terhenti sejenak sebelum segera mengejar. "Heras, hendak pergi kemana?" serunya, suaranya terdengar bercampur kaget dan rasa ingin tahu.

Heras tidak menoleh ke belakang, matanya tetap tertuju tajam pada sosok Rian yang kini sedang berbicara singkat dengan lawan-lawannya yang terjatuh, seolah memberi semangat atau koreksi. Suaranya penuh semangat dan tegas saat menjawab, hanya satu kata yang keluar dari mulutnya: "Rian."

Melihat antusiasme yang begitu besar terpancar dari diri Heras, melihat sorot matanya yang penuh kekaguman dan keinginan untuk tahu lebih banyak, Sari tersenyum kecil, senyum yang hangat dan tulus. Ia segera bergegas mendekat dan membantu mendorong kursi roda itu, mengiringi langkah Heras menuju sosok yang baru saja memukau hatinya dengan gerakan menarinya yang indah namun mematikan di tengah arena pertarungan itu.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!