NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Waktu seolah berlari dengan cepat di kediaman Giovano. Tak terasa, sudah berminggu-minggu berlalu sejak kunjungan emosional mereka ke desa. Kini, usia kehamilan Ashley telah memasuki bulan ketiga—sebuah fase yang secara medis disebut sebagai masa transisi hormon yang paling menantang. Selain perubahan suasana hati yang kini lebih stabil, Ashley mulai memasuki fase "ngidam" yang aneh dan sering kali berada di luar nalar manusia normal.

​Setelah melalui sesi negosiasi yang alot dan panjang dengan Kevin, akhirnya Ashley mendapatkan kembali haknya untuk menginjakkan kaki di kantor Giotech C&T. Kevin memberikan izin dengan syarat yang ketat: jam kerja yang dikurangi drastis dan pengawasan medis yang rutin.

​Suasana lobi perusahaan pagi itu mendadak hening seketika saat pintu kaca besar terbuka. Ashley melangkah masuk dengan penuh percaya diri, memancarkan aura otoritas yang sempat hilang selama hampir dua bulan. Ia mengenakan one-piece dress formal berwarna biru gelap yang cukup longgar untuk menyembunyikan perutnya yang mulai sedikit membuncit. Selama ini, Ashley hanya memberikan keterangan singkat bahwa ia sedang menjalani masa istirahat total, yang membuat Sarah—sekretaris setianya—salah paham dan mengira sang Ratu sedang mengidap penyakit parah yang dirahasiakan.

​"Nona! Anda kembali!" Sarah menyambutnya dengan wajah yang antara lega dan cemas di depan pintu lift pribadi. "Saya pikir... saya pikir kondisi Anda sangat buruk sampai harus absen selama itu."

​Ashley hanya memberikan senyum tipis yang penuh rahasia. "Aku hanya butuh waktu untuk menata ulang strategi, Sarah. Jangan berlebihan."

​Sepanjang hari, Ashley bekerja dengan kecepatan yang mengagumkan. Ia menyelesaikan semua dokumen yang tertunda. Jumlahnya ternyata tidak sebanyak yang ia bayangkan, karena Sarah telah melakukan pekerjaan luar biasa dengan menyaring dan mengerjakan sebagian besar urusan administratif. Meskipun gairah kerjanya kembali membara, Ashley harus mematuhi kesepakatan: tepat jam tiga sore, ia harus sudah meninggalkan kantor. Itu adalah hasil negosiasi mutlak dengan Kevin; melanggar satu menit saja berarti Ashley harus kembali terkurung di mansion hingga hari persalinan tiba.

​Sementara itu di mansion, Kevin duduk di gazebo taman yang asri. Laptop di depannya menampilkan grafik-grafik rumit tentang manajemen risiko. Ia tampak sangat fokus, meski lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa beratnya ia membagi waktu antara kuliah dan menjaga "Singa Betina" yang sedang hamil.

​Saat deru mesin mobil Ashley terdengar melewati gerbang depan, Kevin langsung menutup laptopnya. Ia bergegas menghampiri istrinya yang baru saja turun dari mobil.

​"Kau pulang tepat waktu, Ash. Bagus sekali," sapa Kevin sambil memeriksa jam tangannya, lalu beralih mengambil alih tas kerja Ashley.

​Ashley menghela napas panjang, merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin. "Tentu saja. Mau tidak mau aku harus menurutimu, atau aku tidak akan bisa melihat meja kantorku lagi sampai sembilan bulan ke depan."

​Kevin hanya terkekeh, ia merangkul pinggang Ashley dengan posesif dan membawanya masuk ke dalam kesejukan mansion. "Itu karena aku peduli padamu dan calon anak kita. Sekarang, istirahatlah sebentar."

​Di sisi lain kediaman, tepatnya di sayap utara bagian belakang yang berfungsi sebagai asrama para pelayan, suasana tampak sibuk namun teratur. Neena, sang kepala pelayan senior yang sudah mengabdi selama puluhan tahun, sedang melakukan inspeksi terhadap para pelayan baru yang masuk hari ini.

Kediaman Giovano memang memiliki aturan ketat, termasuk rotasi pelayan setiap lima tahun sekali untuk menjaga profesionalitas, kecuali bagi mereka yang memiliki kinerja luar biasa dan ingin memperpanjang kontrak.

​Di antara barisan wanita muda yang berdiri tegap dengan seragam pelayan baru mereka, terselip satu wajah yang tidak asing: Maria.

​Gadis desa itu tampak sangat gugup namun juga terpukau dengan kemegahan mansion yang jauh melampaui imajinasinya. Neena, dengan suaranya yang tegas dan berwibawa, mulai memberikan instruksi serta daftar larangan yang tidak boleh dilanggar jika mereka ingin tetap bekerja di sana.

​"Dengarkan baik-baik," ujar Neena sambil berjalan mondar-mandir di depan mereka. "Di sini, kedisiplinan adalah napas kita. Ada beberapa aturan dasar yang harus kalian tanamkan di kepala kalian:

• ​Pertama, jangan pernah memanggil Tuan dan Nyonya dengan nama asli mereka. Selalu gunakan sebutan hormat.

• ​Kedua, jangan pernah memulai interaksi atau percakapan dengan mereka kecuali diperintah. Kalian adalah bayangan di rumah ini.

• ​Ketiga, jangan pernah memasuki sayap kiri kediaman, terutama saat malam hari. Itu adalah area pribadi Tuan dan Nyonya.

• ​Dan terakhir, Nyonya sangat sensitif terhadap suara sekecil apa pun karena kondisinya saat ini. Pastikan kalian selalu memakai sepatu tanpa hak dan bergerak tanpa menimbulkan suara."

​Maria menelan ludah, ia merasa aturan ini sangat berat, namun demi gajinya yang besar, ia mengangguk patuh bersama pelayan lainnya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa "Tuan" yang dimaksud Neena adalah pria yang baru saja ia ajak bicara di desa beberapa minggu lalu.

​Malam harinya, suasana di kamar utama terasa sangat tenang. Ashley berbaring di pangkuan Kevin, memeluk salah satu kaki suaminya itu seolah sedang memeluk guling. Sementara itu, Kevin masih berkutat dengan tugas kuliahnya di laptop, menyeimbangkan perangkat itu di bantal di sampingnya agar tidak mengganggu posisi Ashley.

​"Kevin..." panggil Ashley tiba-tiba, suaranya terdengar manja namun ada nada perintah di dalamnya.

​"Ya, Ash? Ada apa? Perutmu sakit?" Kevin langsung waspada.

​"Aku ingin sushi stroberi," ujar Ashley singkat.

​Kevin menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Ia menunduk, menatap Ashley dengan dahi berkerut. "Sushi... stroberi? Ash, ini sudah ketiga kalinya kau meminta hal yang sama dalam seminggu. Apa kau serius?"

​Permintaan ngidam Ashley belakangan ini memang terdengar seperti mimpi buruk bagi koki mana pun. Mulai dari nanas yang dimakan dengan saus tomat, spageti yang dicampur dengan kopi susu pahit, hingga acar mentimun yang direndam dalam sirup maple.

​"Aku sangat menginginkannya, Kevin. Sekarang," Ashley menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca—sebuah senjata rahasia yang ia pelajari sangat efektif untuk meluluhkan Kevin.

​Kevin menghela napas panjang, ia memijat pangkal hidungnya. "Ash, koki kita sudah tidur jam segini. Dan menurutku, rasa sushi stroberi itu benar-benar tidak masuk akal."

​"Jadi kau tidak mau mencarikannya untukku?" suara Ashley mulai bergetar. "Kau sudah tidak mencintaiku lagi, ya? Kau hanya peduli pada tugas kuliahmu dan membiarkan istrimu yang malang ini kelaparan?"

​Kevin menutup laptopnya dengan pasrah. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini jika ia menolak. Ashley akan murung sepanjang malam, menangis diam-diam, dan pada akhirnya Kevin juga yang tidak akan bisa tidur karena merasa bersalah.

​"Baiklah, baiklah. Aku akan pergi ke dapur dan mencoba membuatnya sendiri. Sushi stroberi, kan?" Kevin menyerah kalah.

​Wajah Ashley langsung berubah cerah seketika. "Tambahkan sedikit keju krim di atasnya jika ada."

​Kevin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia bangkit dari ranjang, memberikan kecupan singkat di kening Ashley sebelum melangkah keluar kamar. Di lorong yang sepi, ia bergumam pada diri sendiri, "Sushi stroberi... anak ini benar-benar akan menjadi bos yang jauh lebih aneh dari ibunya."

​Tanpa ia sadari, di lantai bawah, Maria sedang melakukan tugas malam pertamanya—membersihkan ruang tengah—dan takdir sedang menunggu momen yang tepat untuk mempertemukan mereka kembali di bawah atap yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!