Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk
Perjalanan ke peternakan Pak Geld memakan waktu sekitar dua jam berjalan kaki dari Millhaven. Jalan yang keluar dari gerbang barat perlahan-lahan berubah dari batu-batu jalan menjadi tanah yang dipadatkan oleh roda gerobak dan kuku kuda. Di kedua sisi, ladang gandum membentang keemasan dan luas, sesekali diselingi peternakan-peternakan kecil dengan rumah kayu sederhana dan kandang ternak.
Udaranya terasa berbeda dari kota—lebih segar, membawa aroma rumput dan tanah basah dari hujan semalam. Langit cerah, matahari sudah tinggi, melemparkan bayangan pendek dan tajam dari pohon-pohon ek yang berbaris di sepanjang jalan.
Aku berjalan dengan kecepatan yang stabil, mata memindai sekeliling dengan waspada meski wilayah ini relatif aman.
Peternakan Geld terletak di ujung jalan tanah yang bercabang dari jalan utama, ditandai oleh papan kayu usang bertuliskan "Peternakan Domba Geld - Wol Berkualitas Sejak 780 AG". Dari kejauhan aku sudah bisa melihat pagar kayu rendah yang mengelilingi kandang yang luas, beberapa ekor domba berbulu tebal yang merumput di sana-sini, dan sebuah rumah kayu dua lantai dengan asap tipis yang mengepul dari cerobong.
Tapi ada yang terasa janggal.
Aku berhenti di ujung jalan, mata menyipit saat mempelajari peternakan itu. Terlalu sedikit domba—hanya sekitar lima ekor yang terlihat di kandang yang seharusnya menampung puluhan. Dan tidak ada suara—sebuah peternakan yang sehat biasanya riuh dengan suara hewan, tapi ini... terlalu sunyi.
Aku melanjutkan langkah, lebih lambat sekarang, lebih berhati-hati. Tangan tidak jauh dari gagang pedang, siap menariknya kapan saja.
Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk. Seorang pria muncul—sekitar lima puluh tahun, dengan rambut abu-abu yang berantakan, wajah yang berlipat-lipat karena kekhawatiran, dan pakaian yang tampaknya tidak berganti selama beberapa hari. Mata lelahnya bertemu dengan mataku dengan campuran harapan dan skeptisisme.
"Kamu dari Guild?" tanyanya, suara serak seperti terlalu banyak berteriak atau menangis. "Akhirnya mereka mengirim seseorang?"
"Ya," aku menjawab, mengeluarkan Guild Card untuk ditunjukkan. "Kael. Hunter peringkat F. Aku mengambil quest untuk menyelidiki domba yang hilang."
Ekspresinya berubah—harapan itu sedikit memudar, digantikan dengan kekecewaan yang hampir tidak tersembunyi. "Peringkat F? Mereka hanya mengirim hunter peringkat F?" Ia tertawa pahit. "Aku sudah kehilangan dua belas domba dalam tiga hari, dan Guild menganggap ini hanya setara hunter peringkat F?"
"Quest-nya peringkat E," aku mengoreksi, berusaha menjaga suara tetap profesional. "Dan peringkat tidak selalu mencerminkan kemampuan. Aku akan melakukan yang terbaik."
Ia mempelajariku cukup lama—menilai, menimbang, mungkin bertanya-tanya apakah seorang remaja tujuh belas tahun dengan pedang yang sudah usang bisa memecahkan masalah yang hampir membuatnya bangkrut. Akhirnya ia menghela napas, membuka pintu lebih lebar.
"Masuk. Aku akan jelaskan situasinya."
Bagian dalam rumah itu sederhana tapi terawat—furnitur kayu dasar, perapian yang masih menyimpan bara dari api semalam, dapur kecil dengan panci dan wajan yang tergantung di dinding. Di meja makan duduk seorang perempuan dengan cangkir teh di tangan yang gemetar—rupanya istri Pak Geld, dengan mata merah seperti baru saja menangis.
"Ini istriku, Marta," Pak Geld berkata, menunjuk ke arah perempuan itu. "Marta, ini... Kael. Hunter dari Guild."
Marta mengangguk lemah, tidak berbicara. Hanya menatapku dengan pandangan yang penuh keputusasaan.
Pak Geld duduk di meja, memberi isyarat agar aku bergabung. "Tiga hari lalu, pagi-pagi, aku bangun dan memeriksa kandang seperti biasa. Empat domba hilang. Tidak ada bekas—tidak ada darah, tidak ada wol yang tercabut, pagar masih utuh. Seperti mereka menguap begitu saja."
Aku mengeluarkan buku catatan kecil yang kubeli dari toko serba ada sebelum berangkat—Kakek selalu bilang hunter yang baik mencatat. "Empat domba. Hari pertama. Lanjut."
"Hari kedua, lima domba hilang. Sama—tidak ada jejak sama sekali. Aku panik, bertanya ke petani tetangga apakah mereka melihat atau mendengar sesuatu. Tidak ada. Aku lapor ke penjaga kota, mereka bilang akan menyelidiki, tapi tidak ada yang datang."
"Dan hari ketiga?"
"Tiga ekor lagi." Suaranya sedikit pecah. "Dua belas total dalam tiga hari. Aku punya tiga puluh domba sebelum ini dimulai—itu hampir setengah ternakku, setengah penghasilanku untuk setahun. Kalau ini terus berlanjut, aku akan bangkrut dalam seminggu."
Aku mencatat semua detail, pikiran sudah mulai menganalisis. "Selalu hilang di malam hari?"
"Ya. Selalu antara tengah malam dan fajar. Aku coba berjaga, tapi... aku hanya seorang diri. Kalau aku jaga kandang timur, mereka hilang dari barat. Seperti apa pun yang mengambil mereka tahu di mana aku berada."
Predator yang cerdas. Atau kebetulan yang beruntung. Perlu diselidiki lebih lanjut.
"Boleh aku lihat kandangnya?" tanyaku, menutup buku catatan.
"Tentu saja." Pak Geld bangkit, menuntunku keluar melalui pintu belakang.
Kandang itu lebih besar dari yang terlihat dari depan—dibagi menjadi tiga bagian dengan pagar kayu rendah, masing-masing sekitar lima puluh kali lima puluh meter. Bagian timur dan barat masih ada beberapa domba yang merumput dengan gelisah—seolah mereka pun tahu ada yang tidak beres. Bagian tengah berdiri kosong sama sekali.
"Yang tengah itu dulunya yang paling penuh," Pak Geld berkata, menunjuk ke kandang yang kosong. "Dua puluh domba. Sekarang semuanya sudah pergi."
Aku berjalan perlahan ke tengah kandang, mata memindai tanah dengan cermat. Rumput yang terinjak normal oleh kuku domba, beberapa kotoran di sana-sini, tapi tidak ada yang tidak biasa—
Tunggu.
Aku berlutut, memeriksa tanah lebih dekat. Ada... pola. Halus, hampir tidak terlihat kecuali kamu tahu apa yang harus dicari. Rumput di area tertentu tampak sedikit lebih rata, seperti sesuatu telah melintas tapi tidak cukup berat untuk meninggalkan jejak yang jelas.
Penglihatan berubah—sebuah lapisan. Aku masih melihat tanah di depanku, tapi sekarang ada sorotan-sorotan halus yang menunjukkan pola yang sebelumnya tidak bisa kulihat. Pola pergerakan, lintasan, arah.
Sesuatu yang besar telah melintas di sini. Berkali-kali. Menuju utara. Ke arah hutan di balik kandang.
"Azure Codex," aku berbisik pada batu di dadaku. "Kamu menunjukkan polanya. Kemampuan analisis."
Batu itu berdenyut lagi—konfirmasi, mungkin. Atau hanya kebetulan.
Aku bangkit, mengikuti pola yang tersorot dengan mata, berjalan perlahan ke tepian utara kandang. Pak Geld mengikuti dari belakang dengan penasaran.
"Kamu menemukan sesuatu?" tanyanya, suara penuh harapan.
"Mungkin." Aku berhenti di pagar utara, menatap hutan lebat di balik kandang. Pepohonan tumbuh rapat, menciptakan kegelapan bahkan di siang hari bolong. "Hutan ini milikmu?"
"Tidak. Itu Hutan Silverwood—perluasan selatan. Tidak ada yang memilikinya. Kadang monster keluar dari sana, tapi biasanya yang kecil-kecil—Kelinci Bertanduk, sesekali Fangwolf kalau lagi sial."
Fangwolf bisa membawa domba, tapi tidak tanpa meninggalkan jejak darah atau wol yang tercabut. Dan Fangwolf berburu dalam kawanan, membuat suara. Ini sesuatu yang lain.
Aku melompati pagar rendah itu, mendarat di sisi hutan. Pak Geld berseru dari belakang.
"Hei! Berbahaya masuk sendirian!"
"Aku akan hati-hati!" aku membalas tanpa menoleh, sudah melangkah masuk ke antara pepohonan.
Bagian dalam hutan itu lebih gelap dari yang diperkirakan—kanopi begitu tebal hingga sinar matahari hampir tidak menembus, menciptakan senja yang abadi. Udaranya terasa lebih dingin, berbau tanah basah dan daun-daun yang membusuk. Suara burung dan serangga menciptakan suara latar yang entah mengapa justru mempersulit pendeteksian bahaya.
Azure Codex berdenyut stabil, ritmenya selaras dengan detak jantungku. Sorotan pola tetap ada—garis-garis halus di tanah, di rumput yang tertekuk, di ranting-ranting rendah yang patah dari sudut tertentu.
Aku mengikuti jejak itu lebih dalam ke hutan, pedang sudah terhunus, setiap indra dalam kondisi siaga tinggi.
Lima menit kemudian, jejak itu membawa ke sebuah padang kecil.
Dan di sana, aku menemukannya.
Tulang-tulang.
Banyak sekali tulang. Tulang domba berserakan di seluruh tanah, masih ada potongan daging dan wol yang menempel—segar, mungkin satu atau dua hari. Beberapa tengkorak retak terbuka, seperti predator yang mengambil otak atau sumsum. Noda-noda darah di rumput yang sudah berubah cokelat tua.
Tapi yang membuat bulu kudukku berdiri adalah cara tulang-tulang itu tersebar. Bukan acak—hampir tersusun. Sebuah lingkaran besar dengan tulang-tulang membentuk garisnya, dan di tengah-tengahnya terdapat...
Sebuah sarang.
Bukan sarang burung biasa. Terlalu besar—sekitar dua meter diameternya, terbuat dari ranting-ranting, dedaunan, dan... wol. Wol dari domba-domba yang hilang, dianyam kasar namun dengan sengaja ke dalam strukturnya.
"Apa yang membuat sarang seperti ini?" aku bergumam pada diri sendiri.
Azure Codex berdenyut keras—peringatan yang jelas.
Kemudian aku mendengarnya.
Suara dari atas. Kepakan sayap. Yang besar.
Aku mendongak cepat—dan melihat sesuatu yang menukik dari kanopi, sosok masif dengan rentang sayap yang mudah tiga meter, cakar berkilat seperti logam dalam cahaya yang redup, dan mata yang bersinar merah dengan kecerdasan predator.
Razorclaw Harpy.
Monster Tier 2. Predator terbang, sangat cerdas. Amat berbahaya.
"SIAL!"
Aku melemparkan diri ke samping tepat ketika cakar-cakar itu mencukur udara di tempat aku berdiri sedetik lalu, membuat guratan di tanah seperti bilah yang memotong mentega. Monster itu terbang naik lagi dengan satu kepakan sayap yang kuat, berputar di atas padang sembari mengeluarkan jeritan yang membuat telingaku berdenging.
Aku bangkit dengan tergesa, pedang terangkat dalam kuda-kuda bertahan, mata terkunci pada Harpy yang berputar di atas.
Ini bukan Fangwolf. Ini jauh lebih berbahaya.
Penglihatan berubah. Garis-garis lintasan muncul, menunjukkan kemungkinan pola serangan, titik-titik lemah di sayap dan tubuh, timing untuk menghindar atau membalas.
Harpy itu menukik lagi—lebih cepat kali ini, cakar mengincar kepalaku.
Tubuhku bergerak mengikuti petunjuk itu, membungkuk di bawah cakar yang melayang, mengguling ke depan, bangkit dengan pedang mengayun ke atas. Bilah mengenai membran sayap—tidak cukup dalam untuk melumpuhkan, tapi cukup untuk membuat Harpy itu menjerit kesakitan dan melenceng dari jalurnya, menghantam pohon dengan benturan keras.
Aku tidak memberinya waktu untuk pulih. Men突突突—menyerbu ke depan, pedang mengayun horizontal ke arah tubuhnya.
Tapi Harpy itu lebih cepat dari yang kuperkirakan—ia berputar di tengah jatuhnya, cakar-cakar menendang keluar dan menangkap pedangku, hampir merenggutnya dari genggaman. Kekuatannya luar biasa—aku terpental tiga meter ke belakang, punggung menghantam pohon dengan benturan yang memeras habis napas dari paru-paruku.
Pandangan berkedip hitam sesaat. Aku terbatuk-batuk, berusaha bernapas, pedang masih tergenggam tapi dengan lemah.
Harpy itu bangkit, sayap-sayapnya terkembang lebar meski satu sisi berdarah. Ia tidak terbang lagi—mungkin sayap yang terluka tidak bisa menopang bobotnya. Tapi ia tetap berbahaya di tanah, cakar dan paruh setajam bilah-bilah pedang.
Kami saling menatap di seberang padang—predator dan mangsa, meski aku tidak yakin mana yang mana.
Azure Codex berdenyut keras, dan tiba-tiba aku memahami.
Harpy ini tidak berburu domba hanya untuk makanan. Ia sedang membangun sarang. Musim kawin. Yang berarti—
Gerakan dari sarang. Sesuatu yang kecil, tertutup bulu, menjulurkan kepalanya keluar dengan cicitan yang penasaran.
Anak Harpy. Bayi.
"Oh, tidak," aku bergumam. "Kamu sedang melindungi anakmu."
Harpy itu menjerit lagi—lebih keras, lebih putus asa. Tidak peduli dengan luka, tidak peduli dengan rasa sakit. Yang ia pedulikan hanya satu: melindungi anaknya.
Dan itu membuatnya jauh lebih berbahaya.
Ia men突突突—menyerbu, cakar dan paruh mengincar untuk membunuh. Tidak ada lagi ujicoba, tidak ada lagi berputar-putar. Ini serangan habis-habisan dari seekor induk yang melindungi sarangnya.
Azure Codex berdenyut cepat beruntun—menunjukkan pola, lintasan, timing, titik lemah—
Aku bergerak.
Menghindar ke kanan saat tebasan cakar melintas, berputar di tumit untuk mengalihkan momentum, pedang menusuk ke depan dengan seluruh kekuatan yang tersisa, mengincar titik di antara tulang rusuk yang disorot Azure Codex.
Bilah menembus masuk.
Dalam. Menembus bulu, daging, tulang rusuk, langsung ke jantung.
Harpy itu menjerit—suara yang memilukan, mencampurkan kesakitan, kemarahan, dan kesedihan. Ia ambruk, sayap-sayap terkembang lebar, darah menggenang di bawah tubuhnya.
Aku menarik pedang keluar dengan sentakan tajam, mundur dengan napas yang tersengal. Lengan gemetar dari adrenalin dan kelelahan.
Harpy itu masih hidup—tapi hampir tidak. Mata-mata merah itu menatapku, tidak lagi penuh amarah melainkan memohon. Ia berusaha merangkak kembali ke sarang, ke anaknya, tapi tubuhnya tidak lagi merespons.
Kemudian bayi Harpy itu keluar dari sarang—makhluk kecil, sayap-sayapnya belum berkembang sempurna, bulu-bulunya masih seperti bulu kapas. Ia berjalan dengan langkah yang goyah menuju induknya, bercicit kebingungan.
Dadaku terasa sesak.
Aku baru saja membunuh seekor induk yang melindungi anaknya.
"Aku tidak punya pilihan," aku berbisik, suara retak. "Kamu... kamu membunuhi domba-domba itu. Aku harus—"
Harpy itu sudah mati. Mata-matanya memandang kosong ke atas, sayap-sayap mengendur, darah berhenti mengalir.
Bayi itu terus bercicit, mendorong-dorong induknya dengan paruh kecilnya, tidak mengerti mengapa sang induk tidak mau bangun.
Aku berdiri di sana, pedang masih tergenggam dengan darah yang menetes darinya, menatap pemandangan itu dengan perasaan yang rumit.
Sebuah kemenangan yang tidak terasa seperti kemenangan.
Azure Codex berdenyut pelan—entah bagaimana terasa seperti berbela sungkawa. Seperti batu itu pun ikut berduka.
Aku menghabiskan sepuluh menit menguburkan Harpy itu—menggali lubang dengan pedangku, memindahkan tubuhnya dengan susah payah, menutupinya dengan tanah dan dedaunan. Tidak sempurna, tapi lebih baik dari membiarkannya tergeletak begitu saja.
Bayi Harpy itu tetap di sarang, mengawasi dengan mata yang bingung.
"Maaf," aku berkata pada makhluk kecil itu. "Aku... aku harus bertahan hidup. Dan petani itu pun harus bertahan hidup. Tapi kamu... kamu tidak bersalah dalam semua ini."
Aku tidak bisa membawa bayi itu bersamaku—terlalu berbahaya, dan aku tidak tahu cara merawatnya. Tapi meninggalkannya sendirian pada dasarnya adalah hukuman mati.
Setelah perdebatan batin yang menyakitkan, aku membuat keputusan.
Aku akan melaporkan ke Pak Geld bahwa ancamannya sudah diberantas. Mengambil hadiahnya. Dan kemudian aku akan memberitahu seorang ranger atau druid di Millhaven tentang bayi Harpy yang sebatang kara ini. Mungkin mereka bisa merehabilitasi atau memindahkannya.
Bukan solusi yang sempurna. Tapi lebih baik dari tidak melakukan apa-apa.
Aku kembali ke peternakan Pak Geld dengan hati yang berat, membawa beberapa tulang sebagai bukti. Pak Geld menatap tulang-tulang itu, lalu menatapku dengan rasa lega yang luar biasa.
"Harpy," aku berkata singkat. "Varian Razorclaw. Tier 2. Sudah diberantas. Domba-domba kamu aman sekarang."
"Terima kasih!" Ia hampir memelukku, tapi berhenti ketika melihat darah di baju zirahku. "Apakah kamu terluka?"
"Tidak parah," aku berbohong. Sebenarnya ada beberapa goresan dari cakar-cakar tadi, tapi tidak fatal. "Quest selesai. Aku akan melapor ke Guild."
Ia mengangguk-angguk, masuk ke rumah dan kembali dengan kantong koin. "Ini lima belas perak seperti yang disepakati, dan ini bonus." Ia menambahkan lima perak lagi. "Kamu menyelamatkan peternakanku. Terima kasih."
Aku mengambil koin-koin itu, menyimpannya ke dalam kantongku. "Satu hal lagi—ada bayi Harpy di sarangnya. Sekarang sudah sebatang kara. Aku akan memberitahu seorang ranger untuk menanganinya, tapi pastikan domba-dombamu dijaga sampai bayi itu dipindahkan."
Ekspresinya berubah dari lega menjadi khawatir. "Bayi? Apakah itu berbahaya?"
"Belum sekarang. Tapi akan jadi berbahaya jika dibiarkan tumbuh di sana." Aku berbalik untuk pergi. "Selamat tinggal, Pak Geld."
"Tunggu!" Ia berlari kembali ke rumah, kembali dengan sesuatu yang dibungkus kain. "Ini. Salep penyembuhan—buatan istriku. Kualitas tinggi. Untuk lukamu."
Aku menerimanya dengan anggukan yang penuh rasa terima kasih. "Terima kasih."
Perjalanan kembali ke Millhaven lebih lambat—tubuh kelelahan, keruntuhan adrenalin membuat setiap langkah terasa berat. Tapi ada rasa pencapaian yang menghangatkan dari dalam.
Quest pertama: selesai.
Tapi ada juga sesuatu yang lain. Perasaan yang rumit tentang membunuh induk Harpy itu, tentang bayi yang ditinggal sebatang kara, tentang wilayah abu-abu moral yang tidak pernah sepenuhnya dibahas dalam pelatihan Kakek.
Azure Codex berdenyut pelan di dadaku—entah bagaimana terasa menenangkan. Seperti batu itu mengerti.
"Kamu membantuku menang," aku bergumam padanya. "Tapi kemenangan ini tidak terasa sebaik yang kubayangkan."
Tidak ada jawaban.
Mungkin Azure Codex bukan sekadar alat untuk bertarung. Mungkin ia sesuatu yang lebih—seorang teman, sebuah panduan, atau bahkan sahabat.
Pikiran yang aneh tentang sebuah batu ajaib. Tapi setelah semua yang terjadi, aku sudah berhenti mempertanyakan keanehan situasiku.
Aku hanya fokus pada langkah berikutnya—melaporkan quest, mengambil hadiah, beristirahat, dan mempersiapkan diri untuk apa pun yang datang selanjutnya.